
Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan mas Jain hari ini, sesuatu yang tak terduga terjadi hari ini. Ayam kami mati mendadak. Bahkan ayam yang mati yang bertubuh besar, ayam jago yang beratnya mencapai 3,5 kg.
Mas Jain menemukan 2 ayam jago telah kaku di pagi hari. Menyusul kemudian tengah hari ada 1, dan sore hari ada 1 ekor lagi.
Mas Jain menguburnya segera. Ayam yang akan mati sebelumnya nampak loyo kemudian mati secara tiba-tiba dalam hitungan jam.
Kami sempat menyembelih 2 ekor ketika masih sakit. Aku dan mas Jain membersihkan bulunya.
"Mas, ayam kita sekarang sudah habis.. tinggal yang kecil-kecil saja. Untung saja yang masih kecil nggak ketularan penyakit." Ungkap ku.
Mas Jain hanya diam tak menanggapi ucapan ku. Kami terus membersihkan dua ekor ayam di depan kami. Ayam itu nampak biasa, warnanya pun tak ada yang mencurigakan seperti ayam sakit, hanya saja ketika mereka mati kepalanya akan berwarna biru kehitaman.
Ketika mas Jain membelah dada ayam, dan akan ku bersihkan. Aku mengambil hati dan ampela ayam. Ku rasakan organ jeroan ayam itu sangat panas.
"Mas, coba kamu pegang... ini ayam hati dan ampela nya panas sekali!"
Mas Jain memegang nya dan hanya terdiam.
"Mas, ayam ini pasti diracuni! lagian, ayam jago bapak sama ibu selalu pergi ke sini setiap hari, tapi ayam mereka nggak kenapa-kenapa mas!"
Mas Jain masih diam saja. Ia enggan berbicara, karena merasa sangat marah saat itu. Dari wajah nya terpancar jelas kemarahannya.
Bahkan ayam yang sudah ku bersihkan bumbunya juga siap, tapi untuk memasaknya membuatku ragu. Karena merasa mubasir, kami tetap memasaknya. Aku memasaknya sampai benar-benar matang.
Aku dan mas Jain mencoba untuk memakannya, berharap semoga saja tak terjadi apa-apa pada kami berdua. Sementara Einy tak kubiarkan memakannya.
__ADS_1
"Mamah.. mau ayam kayak punya mamah."
Aku terkejut mendengar permintaan Einy, aku harus memikirkan cara untuk mengalihkan perhatiannya.
"Einy ayamnya belum mateng, masih darahnya. Einy mamah gorengkan ayam Upin Ipin di kulkas saja ya??" tanyaku berusaha membujuk.
"Iya mamah, mau ayam Upin Ipin."
Beruntung, aku selalu membeli ayam potong setiap minggu nya untuk Einy. Jadi aku bisa lega karena Einy tidak ikut makan daging ayam yang sakit itu.
Hingga sore hari, mas Jain membiarkan ayam mati dengan sendirinya. Ia tak berniat menyembelihnya lagi. Total ayam yang mati sekarang menjadi 5 ekor, hingga malam hari masih saja ada ayam mati menyusul.
Sore ini, karena terlalu sibuk aku jadi tidak mengantuk. Biasanya aku sudah tidur maghrib-maghrib begini. Tapi aku akan sholat maghrib malam ini.
Aku menggelar sajadah ku, dan memulai takbir. Akan tetapi seperti biasa, dada ku berdebar sangat kencang. Aku membatalkan sholat ku karena tidak tahan dan mengambil kipas angin.
Aku berpikir mungkin siang hari dada ku berdebar dikarenakan panas dan gerah yang aku rasakan. Tetapi ini sudah maghrib, tidak mungkin maghrib begini aku merasa kepanasan. Dan hal itu aku rasakan setiap hari. Aku hanya bisa konsentrasi sholat apabila aku menyalakan kipas angin. Kipas angin membantuku merasa lebih sejuk dan nyaman.
Malam hari, aku mulai cemas. Apakah aku akan bermimpi buruk lagi? aku merasa sangat tidak nyaman ketika akan tidur, meskipun aku selalu membaca surah Al-fatihah dan ayat kursi. Perasaan ini sungguh menyiksaku.
Tengah malam pikiranku masih saja melayang, dan terus bolak balik buang air kecil ke kamar mandi. Tapi sebelumnya aku pasti membangunkan mas Jain.
"Mas... mas... bangun!"
"Apaan sih dek?!"
__ADS_1
"Bangun, aku mau pipis!"
"Pipis aja minta temenin, kayak Einy saja kamu!"
"Aku nggak minta temenin pipis mas, aku cuma mau kamu bangun, kamu sadar. Aku takut...."
"Badan kamu tok, yang gede!"
Aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Aku selalu menyalakan lampu kamar sebelah apabila aku ketakutan, tapi tetap saja bagi ku dia masih berdiri di sana.
Aku buang air kecil kecil cepat-cepat dan kembali ke kamar. Ku pandangi mas Jain yang sudah mengorok kembali.
Setiap malam inilah yang aku rasakan, siang tak pernah tidur, dan malam aku tidur pukul 02.00 dini hari. Aku merasa frustasi dengan apa yang aku rasakan.
Setelah jam menunjukkan pukul 1 lewat, barulah aku bisa bisa terlelap.
Mimpi ku malam ini tidak lebih baik dari yang kemarin. Malam ini aku mimpi ada di sebuah rumah besar yang sangat mewah bertingkat 2. Aku sangat senang dengan rumah itu, aku memandangi dan mengelilingi rumah itu. Tak ada siapapun di sana, hanya aku. Tiba-tiba beberapa orang mendatangiku, aku bermain dengan mereka.
Kemudian mereka berlari ke lantai atas. Aku mengikuti mereka hingga ke lantai atas. Akan tetapi di sana mereka malah menghilang. Dan di sana ruangan besar dan mewah, akan tetapi remang-remang dan sebagian besar lainnya gelap, tak ada lampu penerangnya.
Aku berjalan mendekat, tetapi ku lihat di sana ada seorang wanita cantik, sangat cantik sekali duduk di sofa dengan menyilangkan kedua kakinya. Wanita itu bergaun panjang berwarna merah. Wanita itu sama sekali tak memperhatikanku, ia hanya memuntir-muntir ujung rambutnya.
Aku merasa sangat ketakutan, jadi aku mencari tangga untuk turun ke lantai bawah. Aku menemukan tangga dan menuruni nya. Namun yang terjadi, aku hanya berputar-putar di lantai 2 itu saja dan terus bertemu dengan wanita bergaun merah. Meskipun ia tak mengganggu ku, tetapi aku sangat ketakutan.
Aku terus berusaha lari turun ke bawah, hingga aku melompat dari lantai atas dan berhasil pergi dari rumah itu. Ketika aku berhasil keluar, aku terbangun dari mimpiku.
__ADS_1