
Malam itu aku tidur dengan tenang. Akan tetapi Einy menangis dalam tidur nya. Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya agar dia terbangun.
"Einy.... Einy.... bangun!"
Berulang kali aku membangunkannya hingga dia tersadar dari tidurnya. Einy tersadar sesaat. Setelah itu, aku menepuk-nepuk punggungnya hingga ia tertidur kembali.
Malam itu aku merasakan mereka sungguh mengganggu Einy. Hampir setiap malam Einy menangis dalam tidurnya. Tak ada yang dapat ku lakukan selain berdoa agar makhluk-makhluk tersebut tak menggangu nya.
Hingga siang hari, Einy tiba-tiba saja demam. Aku menjadi semakin khawatir. Jadi aku berinisiatif untuk terus memutar aplikasi surah yasin, ayat-ayat ruqyah dan do'a ustad yang biasa aku dengar, aku memutarnya secara bergilir.
Mas Jain yang pulang kerja juga heran dengan Einy yang tiba-tiba saja menjadi demam.
"Bukannya tadi baik-baik saja dek, kenapa kok tiba-tiba demam?" tanya mas Jain yang memegang jidat Einy dengan telapak tangannya.
"Aku nggak tahu mas, dia juga tiap malam mengigau. Menangis dalam tidurnya, kamu juga dengar kan?" tanyaku pada mas Jain.
"Masa sih dek? kok aku nggak dengar."
"Mas, kamu tahu nggak... akhir-akhir ini aku sering sekali mimpi aneh tentang Einy. Aku mimpi Einy masuk ke rumah banyak makhluk halusnya, dan Einy di rasuki mas. Apa Einy juga mulai mengalami gangguan seperti aku mas?"
__ADS_1
Mas Jain terdiam mendengarnya.
"Mas, kalau si mbah marah sama aku nggak papa. Tapi, masa Einy juga diganggu sih mas? ini udah nggak bener."
"Mau gimana lagi dek, sihir itu kan tak terlihat... kalaupun kita tuduh mereka, kita nggak punya bukti."
"Tapi, mas percaya kan sama aku??"
"Aku percaya dek, selama kita tinggal di sini nyaman-nyaman aja, aman-aman aja. Sejak mereka pindah dari sini suasana nya jadi berbeda."
"Kamu juga merasakannya mas? seperti apa? berbeda bagaimana?"
"Aku nggak bisa menjelaskannya dek, tapi memang berbeda dek... aura rumah ini juga."
"Syukurlah mas kalau kamu percaya sama aku, aku pikir aku yang sudah gila."
Aku menutup percakapan dengan menyuguhkannya menu makan siangnya dan air es dari kulkas.
Sesekali ku tengok Einy yang berada di depan televisi tertidur pulas.
__ADS_1
********
Malam hari sebelum tidur aku mendengarkan lagi do'a dari ustad yang sering aku lihat. Kali ini pasien si ustad mengalami gejala yang sama persis denganku.
Ustad tersebut kemudian membacakan do'a dan dengan khusuk aku mendengarkannya. Anehnya kali ini aku tidak mengantuk seperti biasa, akan tetapi aku merasakan kesemutan di kepalaku. Seluruh kepalaku terasa kesemutan dan semakin intens, terasa berjalan-jalan seperti semut-semut.
Kesemutan yang kurasakan semakin menjadi dan berpusat di satu titik. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang keluar dari atas kepala ku. Aku terus merasakannya, lebih tepatnya seperti ada sesuatu yang di cabut dari kepalaku.
Lambat laun rasa kesemutan itu perlahan menghilang seiring perasaan seperti sesuatu yang dicabut itu juga terasa lebih ringan. Dan do'a ustad juga hampir selesai. Tepat do'a ustad selesai, aku merasakan kepalaku menjadi lebih ringan. Seakan seperti tadinya membawa beban, sekarang beban itu sudah keluar. Aku merasa aneh, akan tetapi itu sesuatu yang sangat nyata bagiku.
Hingga keesokan hari, demam Einy sudah turun dan keadaannya sudah benar-benar pulih. Aku mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat dzuhur.
Seperti biasa aku menarik kipas angin supaya membuatku lebih adem dan tak merasakan panas di dada. Ketika aku mengangkat takbir, aku merasa dada ku menjadi lebih ringan. Dada ku yang panas sudah terasa jauh lebih baik, 70% rasa panas dan berdebar di dadaku sudah hilang.
Aku merasa penasaran, apakah aku harus mencoba sholat ashar tanpa menggunakan kipas? baik, aku akan mencobanya nanti. Pikirku.
3 jam berlalu, waktu sholat ashar telah tiba. Aku mengambil air wudhu dan menggelar sajadahku. Aku tak menggunakan bantuan kipas angin kali ini.
Aku mengangkat takbir dan kurasakan aku baik-baik saja. Tak ada rasa panas, meskipun cuaca sedang panas di luar. Tak ada dada berdebar, biasanya waktu ini akan semakin terasa. Tapi kali ini aku tak merasakannya, memang masih ada sedikit rasa berdebar. Tetapi sama sekali tak mengganggu ibadah sholatku. Aku menjalankan sholat ashar tanpa hambatan sama sekali.
__ADS_1
Hari semakin sore, mas Jain pulang dari tempat kerjanya. Ku dengar si mbah juga sedang bertengkar hebat dengan suaminya. Mereka saling adu mulut dan membanting barang.
Mas jain masuk ke dalam rumah dan kami hanya meledek mereka saja. Aku hanya mengganggap mereka semua tak ada.