Di Santet Tetangga Ku

Di Santet Tetangga Ku
Labirin yang Memiliki Jalan Keluar


__ADS_3

Sore menjelang malam, aku mengerjakan sholat maghrib dengan tenang. Tak seperti biasanya aku ketakutan. Aku harus bersyukur dengan semua perubahan yang aku alami. Bagaimana tidak, badanku sudah jauh lebih sehat. Mimpi buruk ku sudah sangat jarang sekali aku alami. Kepalaku yang biasanya pusing sudah tak pernah kurasakan lagi.


Dan satu lagi, keberadaan perempuan di pintu kamar sebelah. Biasanya aku merasakan auranya sangat kuat dan menakutkan, sekarang aku masih bisa merasakannya namun hanya samar-samar. Kenapa? aku pun tidak dapat menjelaskan sesuatu yang tak dapat kulihat tersebut.


Hanya saja perasaanku menjadi lebih tenang dan damai. Aku merasakan seakan sesuatu yang mengerikan itu seakan tenggelam perlahan.


"Mas, si mbah sering banget berantem suami istri."


"Biarin aja, kamu nggak usah kepo, bukan urusan kamu!" sahut mas Jain ketus.


"Parah mas, sampai banting barang-barang di rumahnya."


"Suaminya si mbah katanya mau pulang pulau Jawa, kampung halamannya. Katanya udah beli tiket, tapi nggak jadi berangkat."


"Darimana kamu tahu mas? kamu hobi gosip juga mas??"


Mas Jain menepis tuduhan ku dengan tatapannya, "sembarangan kamu, suaminya si Mbah yang cerita sendiri."

__ADS_1


"Masa sih mas??"


"Katanya istrinya juga sudah di talak."


"Masa sih mas? tiap hari masih ada aja aku lihat suaminya bolak balik pulang pergi kerja?"


"Sudahlah dek, mana kopi ku?"


Hari itu kehidupan kami seakan kembali normal, sepertinya.


"Nih, mas!" aku menyuguhkan segelas kopi panas dan sepiring pisang goreng.


Tak ada yang membuatku menjadi perempuan paling bahagia selain rumah tangga yang tentram dan rumah yang nyaman. Aku merasakan seperti bisa menghirup udara baru.


Aku terus memutar lantunan ayat Al-Qur'an setiap siang dan malam tiada henti dan bosan. Rasa takutku juga perlahan menghilang.


Malam hari, aku tak menyangka akan kembali memimpikan labirin. Labirin yang selalu membuat adrenalin ku terpacu kuat. Labirin tersebut agak berbeda dari biasanya. biasanya ruangan mnta tersusun rapi layaknya sebuah labirin. Sekarang ruangannya terlihat lebih acak.

__ADS_1


Hanya saja kali ini labirin tersebut seperti memiliki jalan keluar. Aku terus berjalan maju menemukan jalan keluar, namun yang aku dapati adalah toilet, toilet, dan lagi lagi toilet. Ketakutan yang hebat mulai kurasakan lagi. Aku merasakan si Kunti akan segera datang.


Aku berusaha lari sejauh mungkin. Membuka ruangan demi ruangan dan terus berlari. Dan tak kusangka dan belum pernah terjadi sebelumnya, aku berhasil keluar dari labirin. Dan aku terbangun.


Sudah hampir 3 bulan lamanya aku memimpikan labirin tersebut dan baru malam ini aku berhasil menemukan jalan keluarnya. Aku benar-benar tidak menyangka. Apakah yang sebenarnya terjadi??


Apakah ruqyah mandiri ku berhasil?? hanya satu jawabannya, selalu bersyukur pada Tuhan yang mengizinkan aku sembuh dan keluar dari lingkaran setan yang tiada henti.


Siang hari, aku tanpa henti mendengarkan do'a dari ustad yang selalu menyembuhkan pasiennya melalui youtube. Kali ini aku tersadar dan lebih konsentrasi mendengarkan do'a nya. Kesemutan mulai menjalar di seluruh kepalaku dan seperti biasa terpusat di satu titik kemudian terasa seperti ada yang keluar dari dalam kepala ku.


Aku merasa pengobatan ini benar-benar ampuh. Aku bahkan sudah tak merasakan dada berdebar sama sekali ketika dibawa sholat.


Einy ceria seperti biasa dan kubiarkan dia bermain sepeda di halaman rumah. Meskipun begitu, si mbah dan anaknya beserta menantunya masih membuang muka kepada ku. Aku tak menghiraukan mereka, sekali lagi ku tegaskan dalam hati aku menganggap mereka tak ada.


Aku juga memotong rumput yang sudah tinggi sekali, aku kewalahan membersihkan rumput-rumput itu. Sejak aku sakit mas Jain juga tak pernah membersihkan halaman dari rumput, ia hanya sekedar membakar sampah plastik saja.


Kulihat pasien si Mbah juga berdatangan hingga membuat rumahnya menjadi penuh. Aku tak tahu sakit apa mereka, di rumah si Mbah tak pernah terdengar keributan meskipun ia sedang mengobati pasiennya.

__ADS_1


Aku tak perduli, hanya mengajak Einy masuk ke dalam rumah dan menghabiskan waktu menonton televisi seharian.


__ADS_2