
Setelah pulang dari rumah orang tuaku, kami bertiga bersantai di depan televisi. Aku ingin mengungkapkan perasaan takut ku pada mas Jain. Akan tetapi aku mengurungkan niat ku, karena jawaban yang keluar dari mas Jain bisa ku tebak, iya akan akan mengatakan aku lebay.
Aku menghembuskan nafas kasar. Hingga pukul 11 malam kami pindah ke kamar karena Einy juga sudah tertidur. Kami tak pernah tidur menggunakan kelambu, karena hawa nya yang sangat gerah di dalam rumah ini. Bagi kami, setiap malam rumah ini selalu panas. Meskipun di luar sedang hujan badai, di dalam rumah pasti selalu hangat. Suhu nya terasa sangat berbeda.
Setiap malam kami tidur dengan kipas yang menyala sepanjang malam. Seringkali kami bertiga tidur tanpa pakaian, hanya menggunakan celana tanpa baju.
Aku tak bisa mengerti kenapa malam ini sudah sekali untuk ku tidur menutup mata. Pikiran ku melayang kesana dan kemari. Terkadang aku memikirkan yang sebenarnya sama sekali tak perlu.
Aku mencoba menutup mata saja agar tertidur, dan jam sudah menunjukkan pukul 00.01 dini hari. Mata ku sama sekali tidak mengantuk.
Mungkin sekitar pukul 00.02 barulah aku bisa tertidur lelap. Namun aku mengalami mimpi yang tak menyenangkan. Mimpi yang sebenarnya bukan berasal dari pikiranku.
Aku melihat mas Jain sedang bermesraan dengan perempuan lain. Mereka berdua sedang bercumbu bahkan tanpa mengenakan busana. Aku terkejut melihat pemandangan itu, dan aku sama sekali tidak memarahi mereka berdua. Aku hanya beranjak pergi meninggalkan mereka.
Aku merasa sedih dan terpukul dengan mimpi itu. Hingga aku terbangun, aku bersyukur semua itu hanyalah mimpi belaka.
Aku bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk mas Jain. Aku juga membuatkan nya segelas kopi hitam.
"Dek?" tanya mas Jain sambil duduk menyeruput kopinya.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku tadi malam mimpi aneh."
"Mimpi apa mas?"
Mas Jain terlihat serba salah ingin menceritakan mimpinya itu kepadaku.
"Aku tadi malam mimpi kamu sama laki-laki lain."
Aku terkejut mendengarnya. Kenapa bisa sama?
"Memangnya cuma kamu mas yang mimpi begitu? aku juga mimpi tadi malam kamu selingkuh sama perempuan lain. Tapi, anehnya aku bukannya marah, tapi malah pergi gitu aja."
Mungkin mas Jain berpikir bahwa aku hanya mengada-ngada saja untuk membalas perkataannya. Entahlah apa yang dia pikirkan, tapi setelah itu kami berdua tak melanjutkan membahasnya. Karena bagi kami mimpi itu hanyalah bunga tidur tak berguna yang sama sekali tak ada kaitannya dengan perasaan kami masing-masing.
"Mbah, ma'af ya mbah... tanaman Mbah di cakar-cakar lagi sama ku."
"Ya itu ndok, Mbah juga kayagimana ngelihat nya. Nanti jaringnya di tinggikan lagi ya ndok."
"Iya mbak, aku sudah bolak balik ngomong sama mas Jain untuk pasang jaring lebih tinggi. Tapi, dia malah ngomong ini lah dan itu lah, bikin aku jengkel sekali."
"Tanaman mbah rusak eh ndok.. piye ki(gimana ini)?" ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku merasa semakin tidak enak, tapi di sisi lain mas Jain juga sangat keras kepala. Untungnya hari ini mas Jain gajian. Aku merasa sedikit lega karena akan membeli jaring. Aku menunggunya sangat tak sabar.
Mas Jain pulang dan mengeluarkan uang gaji nya dan memberikannya padaku. Karena kami harus membayar kontrakan, jadi uang belanja kami berdua hanya tersisa 400 ribu saja.
"Mas, aku mau beli jaring buat ayam. Kira-kira berapa meter yang kita perlukan?"
"15 meter."
"Yang bener kamu mas?"
"Kamu hitung aja sendiri, di samping itu 3 meter. Di belakang sana kiri kanan masing-masing 6 meter, jadi 12 meter. Total 15 meter."
"15 meter kali 6000, berarti 90.000." Aku berpikir sejenak, "kamu 150 ribu cukup nggak mas beli rokok sama bensin untuk 1 minggu?"
"Cukup, tapi nggak jajan."
Aku terdiam mendengarnya, "ayo mas, kita beli beras dulu."
Kami belanja di warung depan, warung yang terbilang murah. Aku membeli beras 5 kg, bawang merah dan putih, susu Einy dan token listrik. Lalu kami pulang ke rumah.
Aku terkejut melihat sisa uang belanja hanya tersisa 100 ribu. Kalau aku belikan jaring ayam seharga 90.000 itu tidak akan mungkin, karena hanya tersisa 10.000. Aku merasa sangat sedih memikir nya.
__ADS_1
"Mas, si mbah mengeluh lagi soal ayam yang mencakar tanamannya." Aku menunjukkan wajah sedih ku.
"Kalau si mbah ngomong lagi, sini suruh dia ngomong langsung sama aku!" Ucap suami ku kesal.