
Malam itu sekitar pukul 9, pintu rumah kami masih terbuka lebar dengan televisi yang menyala. Kami bertiga sedang asyik menonton televisi. Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya datang bertamu. Kami mempersilakannya masuk.
Dengan bahasa Jawa halus ia mengobrol dengan suamiku, sedangkan aku membuatkan kopi untuk mereka. Aku tak pandai berbahasa Jawa, namun aku mengerti dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
"Biasanya di rumah sebelah ada anak perempuan muda ya mas?" Tanya bapak itu dengan hati-hati.
"Kulit putih, kurus tinggi ya pak?"
"Nggeh mas, betul. Itu anak saya."
Aku dan mas Jain terperanjat mendengar ucapannya.
"Saya ini adik suaminya si mbah, jadi anak saya itu keponakannya. Tapi malah suka sama anak nya dia."
Pernyataan bapak itu membuat kami lebih terperanjat lagi, sebab si anak perempuan ternyata keponakannya suaminya si Mbah.
"Apa kalian tahu di mana kontrakan si Dadang?"
Kami berdua menggeleng.
"Anak saya minggat sudah beberapa hari, dia masih sekolah. Tapi malah kabur bersama si Dadang. Saya sama ibu nya sudah bercerai lama, ibunya tinggal di pulau Jawa. Saya sudah menelpon ibunya untuk menyuruhnya menasihati si Ratih. Tapi si Ratih berani membangkang saya dan ibunya. Padahal sebelumnya dia anaknya penurut dan lemah lembut."
Kami hanya bisa terdiam mendengarkan si bapak curahan isi hatinya. Orang tua mana yang tak patah hati, melihat putri semata wayangnya minggat bersama seorang lelaki dan berani membangkangnya.
Si bapak juga meminta tolong apabila melihat Ratih anaknya, si bapak minta segera dihubungi melalui telpon. Setelah memberikan nomor telpon, si bapak berpamitan pulang dengan raut wajah yang sedih. Si bapak sangat berharap bisa segera bertemu dengan puterinya dan mengajaknya pulang.
__ADS_1
Setelah kepergian si bapak, aku dan mas Jain jadi merasa serba salah. Di sisi lain, kami harus membantu, di sisi lain kami sebenarnya tak ingin mencampuri kehidupan orang lain. Kami berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi.
Hingga hari-hari berikutnya, aku tak pernah melihat melihat kedatangan Ratih dan anak si Mbah. Rupanya mereka sudah mengetahui kalau mereka sedang di cari oleh ayah Ratih. Entah dari mana mereka mengetahuinya.
Sore itu, aku menyirami tanaman-tanaman cabai ku di depan rumah. Begitu juga dengan si embah. Seperti biasa, ia menyapaku dengan sangat ramah dan lemah lembut dengan logat jawa nya yang kental. Aku tak ingin menanyakan perihal Ratih, karena aku bukan detektif yang dibayar atau sukarela. Aku lebih memilih diam untuk urusan pribadi orang lain.
Tapi, lagi-lagi si ayam berterbangan keluar dari jaring. Membuatku sangat kesal, aku mengejar ayam agar ia kembali masuk ke pekarangan belakang rumah.
"Ndok, jaring nya di tambahin ndok... biar ayam nya nggak keluar-keluar terus." Ucap si mbah.
"Iya mbah, saya sudah minta mas Jain untuk menambah jaringnya. Tapi, dia bilang nanti, nanti dan nanti..." Aku mengeluarkan ekspresi kesal ku.
"Iya ndok, biar ayam nya nggak keluar-keluar terus."
Sepulangnya mas Jain bekerja, aku menyampaikan lagi perkataan ku tempo hari.
Aku pergi ke dapur membuatkannya segelas kopi.
"Mas, ayam-ayam kita nakal sekali mas... besok hari jum'at belikan jaring lagi mas, jaringnya di tambahin biar tinggi. Itu kayak punya si mbah di sebelah kan jaring nya dobel."
"Uang nya mana? kamu suruh beli jaring, uang aja nggak punya."
"Kalau di paksain kan ada saja mas."
Aku menghela nafas panjang mendengar jawaban dari suamiku yang selalu membuatku jengkel. Mas Jain memang bekerja setiap hari, sangat jarang ia memiliki waktu libur. Tapi, tuntutan ekonomi membuat kami tercekik setiap hari.
__ADS_1
Minggu ini bayar cicilan sepeda motor, minggu depan kontrakan, Minggu depan bayar cicilan tanah. Hampir tak ada waktu uang kami untuk bernafas. Sisa uang nya hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Aku tak berniat memperpanjang persoalan bersama mas Jain, meskipun perkataannya membuatku jengkel aku hanya diam untuk menghindari keributan. Aku mengerti dia lelah setiap hari bekerja.
Keesokan hari, mas Jain libur bekerja. Kami berniat membersihkan tanah yang kami cicil. Jaraknya yang lumayan jauh, sekitar 30 km membuat kami harus berangkat pagi pulang malam. Untung saja, di lokasi tanah yang kami cicil berdekatan dengan mertuaku. Jadi setelah membersihkan kebun, kami bisa bersantai setelahnya di sana.
Pukul 19.00 kami baru tiba di rumah dengan pakaian kotor dan badan yang letih. Sesampainya di rumah mas Jain langsung memasukkan ayam ke dalam kandang. Karena, ada beberapa ayam yang kalau tidak dibantu tidak bisa masuk ke kandang sendiri.
Namun apa yang ditemukan mas Jain sungguh mengejutkan, seekor ayam dengan kaki nya yang sudah patah.
"Astagfirulloh mas, itu ayam nya kenapa??" tanya ku sangat terkejut.
"Kaki ayam nya patah, tapi kayaknya bukan karena binatang buas. Kalau binatang buas, biasanya luka-luka di badannya. Tapi ini cuma kakinya yang patah, dan lagi kakinya yang patah bukan di sendi nya, tapi di tengah-tengah nya. Kayak nya kaki ayam ini sengaja di patahkan."
"Apa mungkin mbah sebelah pelaku nya mas??"
"Siapa lagi kalau bukan mereka?!"
"Tapi mas, mbah nggak mungkin ngelakuin itu!" Ucapku setengah berbisik.
"Nggak mungkin apanya?! orang lain aja dia sakiti, apalagi ayam!"
Aku terkejut mendengar perkataan mas Jain, dia tidak pernah su'udzon kepada orang lain sebelumnya. Aku masih terdiam membisu melihat kaki ayam yang mengerikan itu.
Karena kaki ayam sudah patah, mas Jain menyembelihnya sekalian. Malam itu jadi malam yang tidak menyenangkan bagi kami.
__ADS_1