Di Santet Tetangga Ku

Di Santet Tetangga Ku
Anak ku yang Dirasuki Kuntilanak


__ADS_3

Hari yang cerah, secerah perasaan ku yang kian membaik. Aku memandangi bunga-bungaku yang bermekaran. Satu pemandangan menghalangi mataku, astagfirullohalladzim ...


Aku terpaku dengan pemandangan di depan ku. Rambut si embah berwarna merah marun, karena dia bleaching rambutnya, warna itu semakin terang. Poni nya dipotong pendek menutupi jidatnya. Dan yang lebih menggangguku adalah tangtop nya dan celana hotpant yang dia kenakan sangat seksi. Seolah dia sedang berada di pusat kebugaran hendak aerobik.


Cek cek cek cek!


Sudahlah, lebih baik aku memasak daripada melihatnya seperti ini, pikirku.


Aku masih memasak siang itu, dan sesuatu yang berisik mengusik ku. Si embah bertengkar lagi dengan suaminya. Aku hanya mengejeknya dalam hati, mungkin ini hasil perbuatan nya sendiri.


Sekarang, tiap aku memutar aplikasi surah Yasin menggunakan speaker kecil ku. Meskipun aku juga merinding mendengarkannya bagi tak masalah, yang penting aura di rumah bisa berubah.


Hanya saja aku masih kesulitan untuk mengerjakan sholat. Dafa ku yang berdebar dan panas tak kunjung kembali seperti normal.


Sore hari, aku dan mas Jain berkeliling komplek untuk mengusir rasa bosan. Baru hari ini aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Meskipun terkadang pusing berputar masing sering kambuh sebentar-sebentar dan juga sakit di lututku.

__ADS_1


Malam hari, aku memutar aplikasi surah Al-Qur'an lagi. Aku merasa sekarang jam tidur ku lebih menjadi lebih maju, sekitar pukul 11 atau 12 malam.


Aku tertidur dan bermimpi biasa saja, aku bahkan tidak bisa mengingat mimpi apa itu. Aku terbangun sebentar, dan mengetahui aplikasi pemutar surah Al-Qur'an itu sudah berhenti, aku tak mengulang untuk memutarnya. Dan... mimpi itu kembali lagi.


Malam ini aku melihat Einy ingin masuk ke dalam rumah gedong. Aku mengejar dan menarik tubuh Einy, akan tetapi aku melihat wajah Einy sudah berubah menjadi wajah kuntilanak. Aku merinding sampai ke seluruh tubuhku.


Di rumah gedong itu juga ada banyak sekali kuntilanak yang berkeliaran. Mereka berlalu lalang menghalangi jalanku menuju Einy.


Aku terus mengejar Einy, akan tetapi Einy yang berwajah kuntilanak menyerang ku. Ia berusaha mencekik dan mencakarku. Aku terus berusaha melawan, akan tetapi aku juga berusaha menariknya keluar kalau memang dia Einy. Meskipun dia berwajah kuntilanak aku akan terus menyeret keluar.


Dengan susah payah aku berhasil mengeluarkan Einy yang berwajah kuntilanak dari dalam rumah itu, kemudian aku terbangun dari mimpiku. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Ku pandangi wajah Einy yang masih tidur, mimpi itu benar-benar meninggalkan bekas ketakutan ku. Akan tetapi pada Einy?


Aku menceritakan perihal mimpi ku itu kepada mbak Surti. Mbak Surti menyarankan agar kami tidur menggunakan kelambu.


"Tapi mbak, di rumah itu gerah sekali. Aku dan Einy nggak tahan kalau tidur pakai kelambu, apalagi mas Jain. Dia lebih memilih tidur di depan televisi."

__ADS_1


Mbak Surti berpikir sejenak. "Benar juga yang kamu katakan, anak-anakku saja malah sering tidur di lantai plesteran ini daripada di kasur saking kepanasannya."


Hari ini mbak Surti bertamu di rumahku, aku merasa lebih baik memiliki teman mengobrol. Apalagi mbak Surti mempercayai apa yang aku ceritakan.


"Kamu harus lebih berhati-hati. Di kampung tempat tinggalku, ada banyak orang yang tiba-tiba menjadi gila karena di kirim guna-guna. Lebih baik kamu siram sekeliling rumahmu pakai air kencing, atau suruh mas Jain yang kencing di samping samping rumah mu. Kalau ada sesuatu yang dia tanam di dekat rumah mu itu nggak akan berpengaruh kalau kena air kencingku atau mas Jain. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang dia tanam." Ucap mbak Surti sangat antusias sekali.


Aku hanya mengiyakan apa yang dia katakan saja. Aku sama sekali tak berniat untuk melakukan hal seperti itu. Aku takut itu juga musyrik. Lalu aku harus bagaimana?


Hingga malam hari tiba, aku kembali memutar aplikasi surah Al-Qur'an sebelum aku tidur. Dan aku kembali bermimpi seperti biasa, tetapi aku selalu lupa mimpi apa itu. Dan aku terbangun karena Einy mengigau, Einy menangis dalam tidurnya.


Dengan cepat aku mengguncang-guncang tubuh Einy agar dia terbangun. Einy terbangun dan masih menangis. Aku menepuk-nepuk pantatnya agar dia kembali tidur. Karena aku masih mengantuk, aku tak memutar kembali aplikasi itu. Sehingga membuatku bermimpi buruk lagi.


Aku memimpikan Einy ada di rumah kayu yang bertingkat. Aku mengejarnya dan menarik tubuhnya, namun yang kulihat wajah Einy berubah menjadi wajah kuntilanak lagi. Dan ia berontak kepadaku sehingga pegangan ku terlepas. Ia berlari ke lantai atas.


Aku menyusulnya meskipun ada banyak makhluk halus yang menghalangi jalanku. Dan seperti biasa, genderuwo muncul dan ingin mencabik-cabik ku. Aku membacakan ayat kursi padanya dan balas melawannya.

__ADS_1


Hingga aku berhasil meloloskan diri dari si genderuwo. Aku berlari menuju lantai atas dan kulihat Einy yang kerasukan bersiap melompat dari ketinggian yang di bawahnya ada sungai deras.


Einy melompat dan aku juga melompat. Aku berusaha keras meraih tubuh atau kakinya di dalam deras nya air. Hingga aku mendapatkannya, meskipun dalam wujud yang lain. Aku tak dapat menjelaskan wujudnya.


__ADS_2