
Setiap hari aku tak pernah bosan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran dan do'a dari ustad yang biasa aku dengar. Kemajuan semakin aku rasakan. Ketakutan juga sudah tak lagi menghantuiku. Sakit yang sering aku derita, atau tidur di waktu maghrib sudah tak pernah aku alami lagi.
Mimpi yang aku alami akhir-akhir ini aku yakin berhubungan erat dengan kesembuhan ku. Labirin yang sudah tidak ada kuntilanak lagi dan memiliki jalan keluar. Atau rumah kayu bertingkat yang biasanya ada genderuwonya juga sudah tidak ada lagi. Rumah kayu itu nampak tak seseram 2,5 bulan yang lalu.
Atau rumah gedong yang ditunggu oleh perempuan cantik bergaun merah, aku juga sudah tidak dapat pergi ke lantai atas lagi. Seakan sudah tertutup.
Akan tetapi, aku memiliki mimpi baru yang membuat kekhawatiran baru untukku. Aku bermimpi ada di dua dunia sekaligus. Dua dunia itu terhubung melalui pintu.
Aku selalu berada di dunia makhluk halus dan berusaha menggapai pintu menuju dunia ku sendiri. Anehnya setiap kali aku menemukan pintu tersebut aku selalu terbangun dari tidurku. Aku belum sempat keluar dari dunia makhluk halus ke dunia ku sendiri.
Mimpi apa ini? untuk pertama kali aku memimpikan hal seperti ini. Sebelumnya aku pernah mimpi pintu tersebut, apakah mimpi ini juga pertanda?
Dulu ketika aku masih remaja aku pernah bekerja di toko buku, pemiliknya adalah orang cina yang baik hati. Setiap karyawan memiliki waktu istirahat masing-masing 1 jam.
Toko itu bertingkat 3, hanya tingkat paling bawah yang digunakan untuk berjualan. 2 tingkat lainnya digunakan untuk menyimpan segala jenis barang.
__ADS_1
Di tingkat 2 ada temanku bernama Hasan yang bertugas menurunkan barang dari atas ke bawah menggunakan tali. Dia tak pernah turun ke lantai bawah, kecuali jika waktu pulang sudah tiba pukul 5 sore.
Karena waktu istirahat yang sangat singkat hanya 1 jam saja dan jarak kost ku yang jauh. Aku lebih memilih tidur di lantai 3 paling atas. Karena jika aku tidur di lantai 2 tempat Hasan biasa berada, dia sangat berisik ketika menurunkan barang-barang. Jadi, aku tidak bisa tidur.
Singkat cerita aku sering tidur di lantai atas menghabiskan waktu istirahatku. Banyak teman yang selalu memperingatkan ku untuk tidak tidur di sana. Mereka bilang di lantai atas ada penunggunya.
Aku tak percaya dengan perkataan mereka. Karena bagiku, mereka hanyalah pembohong dan pembully sesama teman. Aku bukan penakut yang akan takut tidur di lantai atas pada saat siang bolong.
Siang itu aku tidur dengan nyenyak, sesekali Hasan naik ke lantai atas untuk mengambil barang. Ia juga terkadang usil padaku menakut-nakuti ku.
Meskipun dalam mimpi, pintu selalu tertutup. Anehnya aku selalu merasakan ketakutan yang hebat terhadap pintu itu. Seakan di balik pintu itu ada sesuatu yang bisa menakuti dan mencelakai ku.
Seringkali aku memimpikan pintu tersebut, namun aku tak mengindahkannya dan masih tidur di lantai atas.
Suatu hari, aku memimpikan pintu tersebut terbuka. Akan tetapi di sana sangat gelap. Aku merinding dan mengalami ketakutan yang hebat hingga aku terbangun dari tidurku.
__ADS_1
Keesokan pagi aku demam dan tak dapat pergi kerja. Apa yang sebenarnya aku alami? apakah mimpi itu berhubungan dengan sakit ku? mungkin aku terlalu mengait-ngaitkan nya dengan mimpi.
Akan tetapi, selama aku sakit aku selalu memimpikan pintu tersebut, pintu amat sangat gelap sudah terbuka!
Sejak saat itu aku tak berani lagi tidur di lantai 3. Hampir 1 bulan lamanya aku mimpi pintu itu terbuka, hingga pintu kembali tertutup dan tak pernah lagi menghantuiku seiring dengan aku tak pernah tidur di lantai atas.
Dan sekarang pintu yang sama aku mimpikan kembali di latar belakang dan kejadian yang berbeda. Apa maksudnya ini? dan kenapa mimpiku selalu berawal dari aku yang berada di dunia makhluk halus dan berusaha kembali ke dunia manusia?
Mimpi itu menjadi frustasi ku yang baru. Aku tak menceritakan perihal mimpiku tersebut pada mas Jain. Karena mengingatnya saja membuatku merinding dan merasa akan kembali stres.
Aku hanya bisa terus berdo'a agar aku dan keluargaku diberikan keselamatan. Aku tak dapat mengendalikan sesuatu di luar akal sehatku, karena itu aku hanya bisa pasrah dan terus berikhtiar.
Hari itu aku dan mas Jain merencanakan untuk pindah dari kontrakan ku tersebut. Kami merencanakan pindah ke lokasi tanah yang kami cicil dekat dengan rumah orang tua mas Jain.
Akan tetapi di sana masih tak ada listrik, dan rumah yang kami bangun bukan rumah rumah sungguhan. Kami berencana mendirikan rumah tipe low budget dengan dana seadanya. Karena cepat atau lambat kami pasti akan pindah ke sana juga suatu saat nanti.
__ADS_1