Di Santet Tetangga Ku

Di Santet Tetangga Ku
Ketakutan yang Mulai Menghantui


__ADS_3

Alhamdulillah setelah 2 hari tak bisa berjalan, hari ini aku bisa beraktivitas seperti biasa. Aku mencuci pakaian yang sudah menumpuk sangat banyak.


Aku juga menyirami tanaman cabai ku di depan rumah. Kulihat di kontrakan sebelah si mbah sudah berdandan sangat cantik beserta dengan suami, anak dan calon mantunya.


Si calon mantu dan anaknya pergi terlebih dahulu menggunakan mobil, sedangkan si mbah menggunakan sepeda motor. Ia tersenyum ramah padaku.


"Mau kemana mbah? pagi-pagi sudah cantik sekali?"


"Mau anu ndok... selamatan ijab kabul si Ratih sama Dadang."


Aku terkejut mendengarnya. "Benarkah mbah? dimana selamatan nya mbah?"


"Selamatannya di kontrakan mereka ndok."


Kontrakan mereka? jadi, selama ini mereka kumpul kebo?


Batinku berbicara.


"Mbah berangkat dulu," ucapnya tersenyum.


Aku tak ingin ambil pusing, aku terus mengerjakan cucian pakaian ku lalu menjemurnya.


Setelah semua selesai, aku hendak berjalan-jalan ke rumah temanku di dekat sana. Aku berjalan-jalan sambil melatih kaki ku bersama dengan Einy.

__ADS_1


Lama aku berada di rumah temanku hingga tengah hari. Aku berpamitan mengatakan harus pulang karena mas Jain pasti bingung mencari kami berdua.


Sesampainya di rumah, darah ku seakan naik lagi. Ku lihat tanaman si Mbah sudah habis di cakar oleh ayam-ayam ku. Aku menghela nafas panjang. Aku masuk ke dalam rumah dengan kesal. Ku lihat mas Jain sudah selesai makan siang.


"Dari mana kalian?" mas Jain bertanya.


"Dari tempat mbak Surti." Jawabku ketus.


"Judes banget sih jawabannya." Ucap mas Jain yang tak terima dengan ucapan judes ku.


"Mas, kamu nggak lihat apa itu ayam cakar-cakar tanaman ya si Mbah? kenapa kamu biarin aja??"


"Aku lagi makan dek, mana aku tahu ayam itu lagi cakar-cakar tanaman nya si mbah."


Aku masuk ke dalam kamar menyalakan kipas dan tidur. Mas Jain tak menjawab perkataan ku kali ini. Einy yang melihatku tertidur mengambil dodot nya dan meminta ayah nya untuk membuatkan susu.


Hingga malam tiba, si mbah tak nampak berada di rumah. Ia pasti menginap di kontrakan anaknya.


Dan malam itu, apa yang terjadi sama dengan yang ku alami dengan malam sebelumnya. Ketika malam mulai gelap, diriku pun juga mulai ketakutan. Ketakutan yang luar biasa, yang tak pernah aku alami sebelumnya. Dan lebih parahnya lagi, aku punya kebiasaan buruk. Akhir-akhir ini aku sering tidur diwaktu magrib.


"Dek! dek! magrib-magrib kok tidur..? pamali, ayo bangun!" mas Jain berusaha membangunkan ku.


"Mas, jangan ganggu.. aku ngantuk banget!"

__ADS_1


Mas Jain sampai menepuk-nepuk wajahku, dan itu membuatku jengkel. Aku malah marah kepadanya. Setelah itu aku melanjutkan tidur ku lagi.


Dan tanpa kusadari aku terbangun, tanpa Wing dan mas Jain di samping ku. Aku merasa sangat ketakutan.


"Mas... mas...!"


Tak ada jawaban.


"Mas... kamu di mana?"


Aku merasa ada seseorang yang berdiri di pintu kamar sebelah. Aku yakin sekali dia berdiri di sana, tapi meskipun aku yakin ia berada di sana mata kasat ku tak dapat melihatnya. Sekujur tubuh ku merinding, tiba-tiba air mata ku mengalir. Aku bahkan tidak tahu kenapa air mataku mengalir.


Aku menelpon mas Jain, tapi ia meninggalkan ponselnya. Aku bergegas berjalan kaki menuju rumah orang tuaku. Anehnya, aku masih menangis ketakutan. Seakan ada 2 pribadiku yang sedang sadar. Yang satu lagi sedang ketakutan, dan yang satu lagi heran kenapa aku ketakutan?


Sampai tiba di rumah orang tua ku, aku melihat mas Jain dan Einy di sana. Aku memasang wajah marah pada suamiku. Namun, jangan sampai orang tuaku tahu kalau aku sedang marah saat itu.


"Kamu kenapa?" bisik mas Jain.


"Kamu kenapa ninggalin aku sendirian?!" bisik ku lagi.


Mas Jain kebingungan melihat mata ku berkaca-kaca.


"Kayak nggak pernah sendirian saja kamu."

__ADS_1


Meskipun dijelaskan bagaimana pun, aku sendiri sama sekali tak memahami apa yang sebenarnya terjadi padaku.


__ADS_2