
Hari ini aku kembali sakit. Meskipun dibilang sakit, tubuhku biasa-biasa saja. Yang ku rasakan hanya perutku yang mual, jadi aku muntah-muntah. Kemudian kepalaku berputar sangat hebat. Aku sama sekali mampu bangkit. Meskipun aku berbaring, rumah dan sekelilingku tetap saja berputar, seakan andai aku bisa memilih mati, mungkin lebih baik mati saja dari pada tersiksa seperti ini.
Hari ini aku tidak mengurus mas Jain dan Einy sama sekali. Mas Jain memasak di dapur kemudian berangkat kerja. Sedangkan Einy, aku hanya dapat memantaunya dari suaranya saja. Apa aku sudah tak dapat mendengar suaranya ataupun permainan yang dilakukannya seorang diri, aku akan memanggil nya sampai ia menyahut.
Untung saja mas Jain sudah melakukan semua perintahku. Aku memintanya untuk menyiapkan susu dalam botol, jadi apabila Einy meminta susu ia tinggal memberikannya air saja. Dan juga meletakkan toples susu di tempat yang mudah di jangkau Einy.
"Einy.... sayang, kamu lagi main apa?"
"Aku lagi main masak-masakan mah..." sahutnya dari ruang tengah.
Mas Jain juga sudah menghidupkan televisi agar Einy bisa menonton televisi. Untung saja Einy anak yang penurut dan mandiri.
"Einy, jangan memegang saklar listrik... oke?"
"Iya mamah...."
"Mamah lagi sakit, kamu main sendirian ya?"
"Iya mah...." sahut nya lagi.
Seharian aku hanya bisa terbaring, aku sudah meminum obat pereda nyeri namun percuma saja. Meskipun aku meminumnya 2 tablet sekaligus sama sekali tak mengurangi apa yang aku rasakan.
Aku bersyukur hanya aku yang sakit, untung saja mas jain dan Einy masih sehat wal afiat. Hari ini aku tidak mengerjakan sholat, karena aku sudah tak dapat bangkit berdiri.
Dan meskipun aku terbaring seharian, aku tak dapat tidur. Sungguh sakit yang ku rasakan ini benar-benar janggal. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? aku ingin sekali memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan, akan tetapi aku tak memiliki uang lebih. Bisa makan enak saja sudah syukur.
Malam hari pun tiba, seperti biasa aku ketiduran di waktu maghrib. Dan mas Jain dengan sabar membersihkan rumah dan memasak.
__ADS_1
"Kami sudah minum obat belum?" tanya mas Jain padaku.
"Aku sudah minum obat beberapa kali mas, bahkan aku minum 2 tablet sekaligus. Tapi nggak ada perubahan. Aku nggak kuat mas..."
Mas Jain terdiam mendengar keluh kesah ku. Tak ada yang bisa kami lakukan. Ingin meminjam uang kepada bapak dan ibu ku kami merasa sangat malu, bahkan hutang kami masih ada 5,5 juta pada mereka.
Aku hanya bisa merasakan sakit yang sangat menyiksa ini. Terkadang aku menitikkan air mata ketika merasakan kepala ku yang pusing dan berputar sangat hebat. Seakan ada gempa bumi yang hebat.
Bahkan untuk berbicara pada mas Jain dan Einy aku pasti menutup mataku, karena bila aku membuka mata dan berbicara aku akan muntah-muntah.
Hingga malam hari tiba, aku tidur di jam seperti biasa, pukul 02.00 dini hari. Bahkan terkadang hampir pukul 03.00 dini hari.
Malam ini bermimpi yang tak menyenangkan lagi. Malam ini aku bermimpi ada di sebuah labirin, setiap lorong di labirin ada ruangan. Dan ruangan itu ternyata adalah toilet, lengkap dengan kloset duduknya.
Di dalam lorong labirin itu remang-remang bahkan ada beberapa sisi yang gelap gulita. Aku berjalan menyusuri labirin namun semuanya sama. Aku sangat ketakutan, dan aku membuka salah satu ruangan toilet di sana, gelap dan basah. Sungguh membuatku bergidik.
Setelah keduanya muncul, seorang kuntilanak muncul lagi di sisi kiri kiriku. Mereka bertiga kini tepat di hadapanku. Aku membuka pintu ruangan dan lari dari sana.
Aku terus berlari menyusuri lorong labirin yang gelap. Semua hanya ada ruangan toilet, aku membuka ruangan lainnya berharap menemukan jalan keluar, tetapi yang kutemukan adalah seorang kuntilanak lagi.
Aku berlari ke sisi lain dan membuka ruangan toilet lagi, dan percuma saja. 2-3 orang kuntilanak tepat di hadapan ku lagi.
Ini bukan film, bukan! ini mimpiku!
mimpiku adalah pikiranku! dan pikiran ku hanya aku yang bisa mengendalikan pikiran ku!
Bangun!
__ADS_1
Bangun!
Bangun!
Ini hanya mimpi!
Kumohon bangun lah!
Tetapi sekeras apapun aku mencoba aku masih ada di sana. Aku terus berlari mencari jalan keluar. Meskipun aku menangis!
Dan.... aku terbangun dengan nafas terhengal-hengal.
Astagfirullohalladzim..... aku ketakutan, aku memandangi sekelilingku, pukul 06.30. Aku berdiri dan mencuci muka.
Aku tahu di kamar sebelah ada sosok seorang perempuan tak kasat mata yang selalu menghantui ku. Tetapi mimpi tadi malam membuatku trauma berada di kamar mandi terlalu lama.
Kenapa rumah ini menjadi sangat mengerikan?
Tidak!
Bukan rumah ini, tapi pikiran ku lah yang sudah tidak beres!
Sudah 3 hari aku bermimpi makhluk halus yang menyeramkan. Kapan ini akan berakhir??
Aku mencoba berpikir waras dan memasak di dapur. Aku yakin seseorang sedang mengawasi ku di belakang ku. Aku tak dapat melihatnya, tapi aku merasakan nya.
Apa aku sudah gila?
__ADS_1