
Hari demi hari kami lalui hingga tak terasa rumah kami sudah siap untuk di huni. Hanya tinggal menunggu kesiapan kami mengangkut barang-barang. Dan juga melihat kondisi cuaca yang sering turun hujan membuat mobil tak berani masuk ke lokasi depan rumah kami. Jadi, masih menunggu waktu yang tepat.
Beberapa hari hujan turun membuat banjir di halaman kontrakan kami. Si mbah terlihat sedang membersihkan terasnya dari laron-laron mati yang berserakan.
Suatu pemandangan kembali mengusik ku. Hari ini rambut si mbah berganti warna menjadi pirang terang. Poni nya yang sudah panjang di tata ke samping. Seperti biasa ia menggunakan tangtop dengan celana pendek hotpant. Sungguh si nenek ini lupa dengan umurnya sudah 60 tahunan.
Aku kembali masuk ke dalam rumah setelah menyapu. Beberapa binatang nampak sibuk mengangkut diri dan telur-telur nya ke dalam kamar. Ada juga anak kelabang yang merayap di dinding. Dengan cepat aku mengambil semprotan baygon dan membasmi mereka semua.
Masih untung aku belum pernah melihat sejak tinggal di sini. Karena orang lain sering sekali katanya melihat ular kobra di samping rumah kami. Maklum, kontrakan ku dan si mbah jauh dari tetangga. Di samping masih rumput tinggi-tinggi sekali.
Cuaca yang dingin membuatku dan Einy hanya berbaring saja di depan televisi menggelar ambal dan memakai selimut. Ku pandangi pintu kamar sebelah yang biasanya kurasakan ada penunggunya, hari ini auranya lebih samar lagi daripada kemarin.
Aku biasamembayangkan dia berpakaian putih, berambut panjang dan sedang menunduk. Akan tetapi hari ini aku hampir tak bisa merasakan keberadaanya. Mungkinkah dia sudah pergi? entahlah.
Mataku mengantuk sekali, jadi aku tidur sambil memeluk Einy. Sedangkan Einy masih menonton kartun kesukaannya.
"Mamah... mau susu."
"Mamah ngantuk, kamu bikin sendiri ya? Dodot nya sudah mamah cuci di rak piring, tinggal Einy ambil saja dan isi susu, oke?"
"Iya mah..."
Samar-samar aku mendengar Einy membuat susunya sendiri. Einy sudah semakin pintar dan mandiri, dia mengerti dengan perintah dan perkataan ku kemudian mengerjakannya dengan sistematis.
Ku dengar Einy sudah selesai membuat susu dan kembali berbaring di sampingku. Mas Jain juga sudah pulang dari pekerjaannya, jadi aku bisa tidur nyenyak siang ini.
__ADS_1
Hujan mulai kembali turun dengan derasnya, seiring mengantarkan ku pada mimpi di dunia gaib yang sering ku alami.
Kota mati, makhluk halus berwujud manusia yang berjalan tanpa arah dan selalu menunduk. Wajah nya pucat seperti mayat, hanya putih tanpa warna.
Di sini lagi? meskipun tidak terlalu menyeramkan tetapi ini bukanlah duniaku, aku harus kembali. Aku terus berjalan di kota mati tersebut mencari jalan keluar. Aku melihat pintu, ya! itu dia pintu keluar dari sini!
Aku berlari kearah pintu dan.... kulihat Einy sedang berlari bermain bersama makhluk halus. Dia seperti teman baginya, akan tetapi aku berusaha mengatakan pada Einy kalau dia bukan manusia. Aku mendekati Einy, tetapi Einy berlari menjauh.
Aku terus mencarinya, dan setelah menemukannya aku menggendong Einy. Einy begitu agresif ingin minta lepaskan dari gendonganku. Tetapi aku terus mendekapnya dengan erat.
Sesuatu yang mengejutkan terjadi, seorang anak kecil mendekati Einy, ia seperti mengajak Einy bermain. Anak itu adalah anak laki-laki yang lebih kecil di bawah Einy, kira-kira 1 tahun lebih kecil.
Aku merasa anak ini adalah anak manusia, dia sepertinya lemah layaknya anak manusia. Aku bisa merasakan aura anak ini. Aku berusaha mengajaknya ikut denganku sebelum teman gaib Einy kembali menemui nya. Aku menggendong Einy dan anak laki-laki tersebut menuju pintu, akan tetapi belum sempat kami sampai ke dunia manusia aku sudah terbangun dari mimpi ku.
Siapa anak kecil yang tiba-tiba muncul di dalam mimpi ku? sebelumnya aku belum pernah mimpi anak kecil seperti ini.
Mas Jain yang melihatku melamun menegurku.
"Dek, bangun tidur melamun aja." Ucapnya duduk di dekatku dengan membawa segelas kopi.
"Aku mimpi lagi mas..."
Mas Jain menghela nafas panjang mendengarnya.
"Jangan kamu pikirin terus dek, semakin sering kamu pikirin setannya semakin senang... karena berhasil membuat kamu merasa tidak karuan. Mending kamu sholat dzuhur sana."
__ADS_1
Betul juga yang dikatakan mas Jain, aku beristighfar dan bangkit berdiri.
"Aku sholat dulu mas."
"Mamah.... aku juga mau ikut sholat."
"Iya sayang, ayo kita wudhu bareng."
Aku dan Einy mengambil air wudhu bersama, ia mengikuti setiap gerakan wudhu ku. Setelah itu kami sholat bersama. Einy sudah kubelikan mukena nya sendiri, jadi dia selalu antusias apabila melihatku sholat. Kalau dia tidak ketiduran, karena biasanya dia pasti mengantuk di jam ini.
Sedangkan mas Jain jarang sekali sholat, akan tetapi dia sering mengingatkan ku. Aku tak keberatan dengan perintah sholatnya, aku malah senang. Dia bagaikan alarm sholat buatku.
Selesai sholat, aku sama sekali tidak merasakan dada berdebar seperti sebelum-sebelumnya. Apa aku sudah sembuh? Alhamdulillah, hanya kalimat itu yang dapat mewakili perasaanku.
*********
Malam hari, aku terus memutar surah-surah Al-Qur'an melalui ponselku. Akan tetapi aku kembali bermimpi berada di kota mati. Dan lagi-lagi mimpi tadi siang terulang kembali, ini seperti lingkaran de ja vu. Kapan aku bisa keluar dari lingkaran ini?
Aku memaksa Einy dan menarik tangan anak laki-laki yang bersama dengan Einy. Aku berusaha membawa mereka berdua keluar dari dunia makhluk halus tersebut. Anak laki-laki itu nampak penurut saja padaku, dan anehnya lagi aku merasakan anak laki-laki itu adalah anakku. Meskipun aku sadar, Einy adalah anakku satu-satunya.
Siapa anak ini? kenapa dia selalu hadir di mimpiku sebagai anak yang sangat aku sayangi layaknya aku sayang pada Einy?
Aku kembali terbangun dan tertekan atas mimpi tersebut. Padahal hari jam masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Aku mengambil ponsel dan memutar aplikasi lagi, dan berusaha tidur. Dan Alhamdulillah mimpiku selanjutnya biasa saja, seperti layaknya bunga tidur biasa. Hingga pagi menjelang aku terbangun dari tidurku.
__ADS_1