
setelah dokter Sarah bilang keadaan Tasya mulai membaik, Sekarang Tasya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap hanya tinggal menunggu sadar saja.
"Sayang cepat bangun aku kangen?" ucap El duduk di samping hospital bed dan menggenggam tangan Tasya.
Perlahan-lahan Tasya mulai membuka matanya melihat sekelilingnya Tasya mengingat apa yang terjadi sebelumnya, "Kak El?"
"Sayang kamu udah bangun?" mencium kening Tasya.
"Gimana keadaan anak kita kak?" dengan suara yang lemah.
"Anak kita baik-baik saja, dan dokter bilang ibunya kuat makanya anak kita juga kuat.?" ucap El menciumi tangan Tasya.
"Maafin aku kak, gak bisa jaga anak kita." ucap Tasya dengan air matanya yang perlahan mengalir.
"Sssttt ini bukan salah kamu sayang, salah kakak yang gak bisa jaga kamu." menghapus air mata Tasya.
ckleekk...
Ersan masuk, "Kak, kakak ipar udah bangun ya?"
Tasya hanya tersenyum untuk membalas pertanyaan adik iparnya.
"Kak, aku udah kasih mereka pelajaran." berdiri di samping El.
"Siapa yang di kasih pelajaran san?" tanya Tasya bingung.
"Sayang, gak perlu tahu siapa mereka yang dimaksud Ersan yang penting kamu fokus sama kesembuhan kamu ya sayang?" mengelus kepala Tasya.
Derttttt...
"Aku pergi dulu ya kak, kakak ipar cepat sembuh ya aku harus kembali ke kantor." pamit Ersan keluar dari ruangan Tasya.
"Kak aku laper?" tanya Tasya.
"Kakak suapin ya?" mengambil bubur yang sudah disiapkan perawat tadi.
Setelah menyuapi Tasya El menyuruh Tasya untuk tidur lagi, karena dokter bilang Tasya perlu istirahat total.
"Kak El gak beritahu keluarga aku kan?" tanya Tasya takut kalau keluarganya tahu keadaannya.
"Maaf ya sayang soalnya kakak takut dengan keadaan kamu, makanya kakak langsung kabarin keluarga kita." sambil mengusap lembut pipi Tasya.
"Terus mereka dimana kak?" tanya Tasya karena tidak melihat keberadaan keluarganya.
"Mereka udah pulang, nanti mereka datang lagi kesini." ucap El.
"Kak kapan aku boleh pulang?" tanya Tasya dengan suara sedikit takut.
"Kakak juga gak tahu soalnya dokter Sarah yang menangani kamu sayang."
Tasya mengangguk kecil, Setelah berbincang-bincang dengan El pamit keluar untuk memeriksa pasiennya sebelum keluar El mengembalikan HP Tasya.
__ADS_1
Tasya membuka HP-nya banyak panggilan tak terjawab dari anggotanya termasuk pesan dari Dito untung saja El mematikan HP-nya.
Tasya menelpon kembali Dito, "Hallo ada apa?"
"queen akhirnya telpon juga, tadi pagi aku telpon tapi yang angkat suami queen untung saja aku langsung matiin."
"Iya tadi pagi kita tukeran HP, kenapa telpon?"
"Queen ada pesan masuk entah dari siapa yang pasti mereka ingin mencelakakan keluarga queen."
"Kamu udah cari lokasi mereka?"
"Udah queen tapi mereka ada di luar negeri, mereka mengirim pesan ke Nomor yang biasa digunakan orang untuk meminta bantuan Black Lion queen."
"Kirim nomernya aku akan tanya langsung ke mereka, o ya apa mereka semua udah sampai?"
"Sudah queen mereka semua selamat dan juga ada hadiah dari tim khusus untuk queen, nanti saya kirim nomernya dan hadiahnya bagaimana queen?"
"Taruh saja di meja kerja ku, seharusnya senjata yang aku pesan sudah tiba kan?"
"Sudah queen, masih di gudang senjata masih tersegel queen."
"Baguslah, nanti aku sendiri yang akan membukanya nanti malam suruh semua berkumpul aku akan mengirim makanan untuk kalian sebagai pesta penyambutan."
"Baik queen."
Tasya mematikan panggilannya bertepatan dengan kedatangan keluarganya.
"Gak ada kok ma aku udah sehat, cuma masih lemes aja dikit." melepaskan pelukannya.
"El mana sayang kok gak nemenin kamu?" tanya mami El.
"Kak El sedang mengecek pasiennya mi, baru beberapa menit dia keluar dari sini." melihat kearah keluarga El.
Tasya senang karena kedua keluarganya datang menjenguknya.
•
•
•
Setelah kepulangan keluarganya, Tasya memesan makanan untuk dikirim ke markas El sibuk mengupas buah apel yang ingin dimakan Tasya.
El menemani Tasya hingga tidur lalu El pindah tidur di sofa, sebenarnya Tasya belum tidur dia hanya pura-pura.
Tasya keluar ruangan menuju rooftop atas rumah sakit, Tasya menelepon seseorang.
"Bagaimana udah tahu siapa sebenarnya mereka?" dengan tatapan tajamnya.
"Maaf nona sepertinya mereka menggunakan nomer sekali pakai."
__ADS_1
"Cih, cepat cari tahu siapa mereka jangan sampai mereka melukai orang-orang terdekat gue." ucap tegas Tasya.
"Tapi nona apa ada orang yang dulu benci sama nona bisa saja orang itu yang mengancam nona?"
"Seingat gue cuma ada dua kelompok tikus yang dulu tidak terima bokap gue jadi pewaris keluarga Alexander."
"Dimana mereka sekarang nona?"
"Gue gak tahu dimana mereka yang pasti kakek mengirim mereka ke luar negeri, cuma mereka musuh yang ingin gue basmi tapi dilarang kakek."
"Apa nona punya biodata mereka, biar bisa saya lacak lokasi mereka?"
"Tidak perlu terburu-buru gue akan layani mereka dengan senang hati." Tasya mengakhiri panggilan sambil tersenyum licik.
Tasya masih menikmati pemandangan malam hari tanpa mempedulikan suaminya yang mencari keberadaannya.
Derttttt....
satu panggilan masuk dari El membuat Tasya kehilangan moodnya, "Hallo kak?"
"Dimana kamu kenapa keluar tidak bilang?"
"Aku ingin sendiri dulu kak, beri aku waktu sepuluh menit nanti aku kembali." ucap Tasya mengakhiri panggilannya.
Rasanya Tasya ingin berteriak untuk menghilangkan pikirannya yang bingung harus bagaimana menghadapi semua ujian hidup ini, ditambah anak yang ada di rahimnya membuat tidak bisa bertindak langsung.
"AKU CAPEEKKKK KAKEEEEKKK..... hiks hiks hiks." teriak Tasya dengan suara tangisannya.
"Apa yang harus aku lakukan, jika benar mereka yang ingin menghancurkan keluarga ku apa yang harus aku lakukan kek pasti papa tidak setuju jika aku membunuhnya." Tasya terduduk lemas dilantai menggunakan dinding pembatas sebagai sandaran.
Hp Tasya berbunyi kembali, "Kak." Dengan suara serak karena menangis.
El yang mendengar suara Tasya tidak jadi marah, "Sya dimana kamu kakak akan kesana sekarang?" dengan nada cemas.
"Di atas." setelah menjawab pertanyaan El Tasya melempar HP-nya ke lantai.
El yang mendengar jawaban Tasya langsung menuju lantai atas, "Berapa lama dia menangis?" gerutu El didalam lift.
Sampai atas El melihat sekelilingnya, El menghampiri Tasya memeluk tubuh Tasya yang masih sesenggukan karena menangis.
"Kak El, lepasin." karena pelukan El yang erat.
El melepaskan pelukannya melihat wajah Tasya, "Udah nangisnya?"
Tasya mengangguk kecil sambil mengucek matanya seperti anak kecil, "Hoaammm."
El menggendong tubuh Tasya ala koala, "Jangan dikucek terus matanya nanti iritasi."
Mungkin karena terlalu lama menangis Tasya ketiduran di gendongan El, "Sya kenapa aku merasa ada yang kamu sembunyikan dari aku, siapa sebenarnya kamu sya?" batin El didalam lift.
...@@...
__ADS_1
Terimakasih jangan lupa like dan subscribenya ya kalau bisa komen juga ya ☺️☺️