
"Ayah baru pulang??"
"Iya tadi ada meeting dengan beberapa staf dan kepala rumah sakit."
"Ayah udah makan kan??"
"Iya tadi ayah makan di luar,
Oya kamu pulang cepet ya hari ini?"
"Iya yah, selese praktek tadi sore langsung pulang.
Yah,wahyu minta waktu bentar ada yang mau wahyu bicarakan..."
"Oh tentu saja ayo kita bicara sambil minum di ruang makan."
Aku mengikuti langkah kaki ayah angkat ku menuju ruang makan,
aku mengambilkan 2 gelas air minum.
"Apa yang mau kamu bicarakan, ayah gak pernah lihat kamu seserius ini??"
"Iya yah, gini tadi aku kan pergi ke rumah Nona Egga untuk memastikan apa kondisinya sudah baikan, karena malamnya Nona Egga telpon aku minta resep obat sakit perut."
"Lalu gimana, apa udah baik??"
"Udah yah, makanya aku mau buru buru pulang tadi Nona Ega malah mengajak ku sarapan bareng."
Kataku sambil menahan senyum bahagia mengenang kejadian pagi tadi.
"Lalu apa yang terjadi dengan kamu dan Nona Egga sepertinya sangat penting??"
"Tiba tiba ada peluru nyasar tepat mengenai gelas coklatku yah.."
"Apa???"
Ayah terlihat sangat kaget.
"Selama ini kamu gak ada musuh kan??"
"Engga yah, tapi aku jadi khawatir Nona Egga kan tinggal sendiri di rumahnya, takut terjadi hal buruk lagi padanya."
"Oke ayah tau arah pembicaraanmu,
tapi ayah gak bisa menampung Nona Egga di rumah ini karena ayah kan gak menikah ayah gak mau ada rumor tidak baik yang beredar karena telah mengijinkan seorang wanita tinggal di rumah ini."
"Lalu yah, aku harus gimana??"
"Emmm...."
Ayah terlihat berpikir keras.
"Gini aja, gimana kalau kamu yang menemani Nona Egga di rumahnya."
"Apa yah?? bukankah ayah bilang bisa berpotensi menimbulkan rumor tidak baik kalau seorang pria bujangan tinggal satu rumah dengan seorang wanita??"
"Tapi kamu berbeda wahyu. Kamu kan masih muda, Kalau ada berita miring tentang kamu, kamu bisa bilang kalau Nona Egga itu calon istrimu,
tapi tunggu dulu! Nona Egga yang kamu maksud polisi wanita detectiv itukan??"
"Iya yah, yang pernah datang ke rumah kita makan malam bersama Inspektur bambang."
"Oh ya sudah, saran ayah sih begitu."
"Baiklah aku tanyakan dulu sama orangnya apa dia mau di temani?"
"Oh tentu saja, harus kamu bicarakan dulu sama Nona Egga.
Kalau gak ada lagi yang mau di bicarakan, ayah pergi mandi dulu, gerah banget."
__ADS_1
"Baiklah yah, makasih atas waktunya."
Kemudian ayah pergi ke kamarnya sementara aku mengambil ponsel untuk menelpon Nona Egga.
"Hallo dokter selamat malam."
Terdengar suara polisi wanita itu dari sebrang sana.
"Iya Hallo Nona, apa Nona Baik baik saja??"
"Iya saya baik baik saja."
"Nona atas kejadian tadi pagi saya sangat khawatir dengan kondisi Nona,
kalau Nona kasih ijin biar saya nginep di rumah nona untuk menemani Nona
malam ini."
"Dengan senang hati dokter, tapi apa tidak merepotkan??"
"Sama sekali tidak Nona."
"Baiklah kalau begitu, saya tunggu di rumah."
Klik,telpon di tutup.
"Yah aku pergi ya??!!!"
Aku berteriak memberi tau ayah, sambil bergegas keluar rumah tanpa memastikan apa ayah dengar teriakanku atau tidak.
Jam menunjukan pukul 22:00 aku telah sampai di rumah Nona Egga, aku membunyikan klakson mobil dengan seketika yang punya rumah datang membuka kan pintu gerbang.
Rumah ini cukup besar tapi Nona Egga hanya tinggal sendiri di rumah ini tapi biarpun segala hal di kerjakan sendiri rumah ini terlihat rapi pertanda yang punya rumah telaten menjaganya.
"Silahkan masuk Dokter."
"Terima kasih Nona."
Suara tembakan itulagi, tapi kali ini dengan suara tembakan yang berbeda, terdengar lebih kencang tapi tidak di targetkan kemanapun,
membuatku dan Nona Egga merapatkan diri ke tembok secara spontan.
"Sial, mereka meneror kita."
Umpat Nona Egga.
"Sebenarnya siapa mereka??"
"Aku juga gak tau".
"Nona ini sangat bahaya, sebaiknya Nona pindah rumah saja."
"Aku sudah memikirkan hal itu tapi...."
"Tapi kenapa Nona??"
"Rumah ini warisan satu satunya dari orang tua saya dokter, gak mungkin saya meninggalkan rumah ini."
Aku hanya bisa menghela nafas panjang.
"Oya Nona,kenapa Nona memilih tinggal sendiri??"
"Seperti yg dokter sudah tau, orang tua ku sudah gak ada sedari aku kecil, sementara aku cuma di kasi warisan rumah ini dan uang tunai 100 juta, uang itu yg aku pakai biaya pendidikan hingga aku bisa jadi polisi wanita seperti sekarang."
"Maksudku, kenapa Nona gak membayar Asisten rumah tangga biar nona gak sendiri??"
"Aku menyukai kesendirianku,
biar jika ada klien yang datang untuk berkonsultasi, rahasia terjaga rapat."
__ADS_1
Aku mengangguk angguk mendengar penjelasannya, sepertinya wanita polisi ini membuka jasa konsultasi detectiv juga, dan dia ingin rahasia kliennya tidak di ketahui orang lain."
"Apa sebelum hari ini pernah ada teror seperti tembakan juga??"
"Tidak, bisa di bilang baru ada hari ini."
"Apa kemaren Nona kedatangan seorang klein??"
"Iya, Dia suami Aisyah tersangka pembunuhan Mr,Jhon.
Aisyah orang Malaysia tapi suaminya Orang Indonesia, dia sangat yakin Istrinya tak mungkin membunuh Mr.Jhon yang ternyata keturunan bangsawan."
"Menurutku Teror pada Nona ada kaitan dg kasus yang Nona tangani."
"Ku rasa begitu tapi aku gak ingin terlalu memikirkan teror itu,
Kasus Mr.Jhon lebih menarik daripada teror terhadapku hari ini."
Aku cuma bisa tersenyum melihat keberanian wanita ini.
"Oya apa dokter sudah makan malam??"
"Sudah Nona, Silahkan kalau Nona mau istirahat sudah larut malam."
"Baiklah dokter, saya mau istirahat. Kalau dokter mau tidur silahkan tidur di kamar tamu, kalau belum ngantuk dokter bisa nonton Tv di sana."
Nona Egga Menunjuk kamar dan ruangan yang ada TV nya sebelum akhirnya pergi menuju kamarnya.
Malam ini Aku dan Nona Egga tidur dengan nyenyak karena tidak ada teror apapun lagi sampai paginya.
Pagi pagi sekali Nona Egga sudah bangun dan menyiapkan sarapan kali ini Nona Egga masak Nasi goreng dan minumnya Teh manis,
belum lama setelah kami selesai sarapan tiba tiba bel berbunyi kencang.
"Itu pasti klienku, biar aku saja yang buka pintu."
Sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Selamat pagi pak yadi silahkan masuk,
perkenalkan ini Dokter wahyu teman saya. Dokter wahyu ini pak ferdi suami Aisyah."
"Selamat pagi Nona, selamat pagi dokter".
Pria berusia sekitar 40 Tahun masuk ke dalam dan menyalami aku dan Nona Egga.
"Ayo kita bicara di ruang kerjaku, ayo dokter !"
Kami pun pergi ke ruang kerja Nona Egga,
ada beberapa kursi dan lemari dengan beberapa buku tersusun rapi di raknya, sepertinya di ruang ini klein Nona Egga biasanya berkonsultasi.
"Nona saya punya bukti SS Sosial media milik istri saya Aisyah, di sana istri saya memposting kalo ada orang luar Negeri yang menjanjikannya jadi artis bahkan dia berjanji akan mentraktir teman temannya jika dia sudah jadi artis."
Pria itu tak sabar untuk mengutarakan temuannya.
"Artinya istri anda hanya di manfaatkan oleh orang lain untuk menyemprotkan racun agen saraf vx."
"Tepat sekali dokter !!
Bukti ini sesuai dengan pengakuan Aisyah di Persidangan, bahwa dia di suruh beberapa orang pria untuk menyemprotkan racun dg dalih ngeprank dalam acara Talkshow,dan dia di janjikan untuk jadi artis."
"Nona, Tolong !! kasihan sekali istri saya dia terlalu polos, gampang di bodohi."
Pria itu berkata penuh harap.
"Silahkan pak Ferdi pulang dulu, biar saya, Dokter wahyu dan pihak kepolisian yang urus."
"Baik Nona saya permisi."
__ADS_1
Aku mengantar pria itu sampai pintu gerbang.