
Setelah selesai menyuapi tante Sela makan Angga pun segera membereskannya.
"Tan ku keluar bentar ya mau lihat om Rafa dulu" ucap Angga
Namun ucapan yang Angga keluarkan itu membuat mereka berdua menitikkan air mata.
"Suami tante kenapa nak?" tanya tante Sela yang khawatir terhadap kondisi suaminya tersebut
"Om Rafa gak kenapa-kenapa kok tan" jawab Angga mencoba untuk menguatkan
"Tante tenang ya jangan banyak fikiran yang penting tante sehat mbak juga sehat" lanjut Angga
Sebelum ia pergi melihat om Rafa, Angga pun memperhatikan mbak Sasmita yang terlihat sendu karena pernikahan yang di impikannya lenyap dalam sekejap mata. Dan Angga pun berjalan meninggalkan mereka. Setelah Angga sampai di ruangan om Rafa ia terkejut melihat om Rafa sudah sadar.
"Om sudah bangun dari tadi?" tanya Angga pada om Rafa
"Baru kok om sadar" jawab om Rafa
"Kalau gitu Angga panggilin dokter dulu ya om buat cek om" ucap Angga
"Tidak usah ga" jawab om Rafa
"Kamu duduk dulu sini ada yang mau om sampaikan ke kamu" suruh om Rafa
Dan Angga pun segera duduk di kursi samping ranjang om Rafa.
"Ada apa om, om jangan berfikir keras dulu tidak baik buat kesehatan om" Angga mengingatkan
"Om cuma mau ngomong serius dengan kamu ga" ucap om Rafa
"Om mau bicara apa insyaa allah saya siap mendengarkan" timpal Angga
"Om mau memberikan amanat yang sangat berat buat kamu ga" ucap om Rafa
"Om mau menikahkan kamu dengan anak om Sasmita apakah kamu bersedia?" tanya om Rafa mendadak membuat Angga terkejut
"Maksud om, om mau nikahkan saya dengan putri om?" tanya Angga meyakinkan diri
__ADS_1
"Ia Angga, kamu mau kan nikah sama anak om?" tanya om Rafa lagi
Angga pun diam sejenak untuk berfikir dan ia pun sudah memutuskan.
"Bismillahirrahmanirrahim insyaa allah saya bersedia om" jawab Angga tegas mantap tanpa ada sedikitpun keraguan
"Baiklah hari ini juga kamu om nikahkan dengan anak om itu" ucap om Rafa yang membuat Angga kaget
"Apa tidak sebaiknya setelah om sembuh?" tanya Angga
"Tidak kita harus melakukannya sekarang" ucap om Rafa
"Baik lah om untuk mas kawin mahar dan lain-lainnya gimana om" tanya Angga
"Apakah om dan mbak Sasmita memiliki permintaan khusus?" lanjut Angga bertanya
"Om hanya minta maharnya surat Ar-Rahman dan seperangkat alat sholat saja Ga" jawab om Rafa
"Baik om saya akan siapkan segera" jawab Angga
Angga pun segera menelpon sekretarisnya segera mempersiapkan segalanya. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya semuanya telah siap. Semua anggota keluarganya dan keluarga om Rafa, saksi dan penghulu berada di ruangan rumah sakit tersebut. Dan mereka pun mengikhlaskan apa yang akan terjadi.
"Insyaa allah siap pak" jawab Angga mantap dan tegas
"Baiklah silahkan pak" suruh pak penghulu pada om Rafa menyalami Angga
"Saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau ananda Angga Yuda Pratama bin Barra Pratama dengan anak kandung saya Rafa Adea Sasmita binti Rafa Fahreza dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan hafalan surah Ar-Rahman di bayar tunai" ucap om Barra
"Saya terima nikah dan kawinnya Rafa Adea Sasmita binti Rafa Fahreza dengan maskawin tersebut tunai" Angga mengucapkan ijab dengan sekali nafas
"Bagaimana saksi sah?" tanya penghulu pada saksi
"Sah" dua saksi menjawab serentak
Setelah semua selesai mulai dari pemasangan cincin nikah Sasmita pun mencium tangan suaminya tersebut dan Angga mencium kening istrinya itu lalu Anggapun membaca surah Ar-Rahman dengan sangat merdunya hingga tetesan air mata tak terasa mengalir deras di pipinya. Tetesan air mata kebahagiaan yang sangat ia dambakan.
"Kalau begitu kami permisi bapak ibu" ucap penghulu dan saksi pamit pulang
__ADS_1
"Silahkan pak terima kasih atas semuanya" jawab ayah Barra mengantarkan mereka keluar ruangan
"Nak Angga papa titip anak papa ya bimbing dia tegur dia kalau dia salah" papa Rafa memberi wejangan kepada Angga
Yang lain pun tidak luput memberikan wejangan walau sepatah dua patah kata. Setelah beberapa saat dokter pun masuk untuk memeriksa kondisi papa Rafa.
"Bagaimana dok kondisi saya?" tanya papa Rafa pada dokter tersebut
"Alhamdulillah kondisi bapak saat ini sudah mulai membaik jangan capek-capek dulu pak ya jaga kondisinya" jawab dokter
"Kalau begitu saya permisi dulu ya" ucap dokter tersebut
"Silahkan dok" jawab papa Rafa
Akhirnya merekapun berbincang-bincang. Di sela perbincangan Angga melihat istrinya itu duduk termenung dengan wajah sendunya di sofa ruang rumah sakit tersebut.
"Boleh saya duduk" ucap Angga pada istrinya
"Duduk aja tidak ada yang larang kok" jawab Sasmita ketus
"Kamu lagi ngelamunin apa?" Angga mencoba membuka pembicaraan
"Bukan urusanmu" jawab Sasmita ketus pada Angga dan hanya di balas senyum oleh Angga
"Kalau gitu kita makan yah kamu kan belum makan malam" ajak Angga pada istrinya itu
"Kamu saja makan sendiri aku gak lapar" jawab Sasmita masih dengan ketusnya
"Ok ku makan ya ni nasi cuman ada satu loh, yakin gak mau makan?" tanya Angga sedikit mencari celah agar istrinya tersebut mau makan
"Yakin lah" jawab Sasmita
Angga pun memakan nasi tersebut perlahan untuk melihat ekspresi wajah istrinya tersebut. Benar saja setelah beberapa suapan wajah istrinya itu berubah masam karena ia tidak bisa makan padahal perut sudah lapar.
"Kita makan sama-sama ya sini biar aku yang suapin" ucap Angga seraya membenarkan posisi duduk istrinya untuk menghadapnya
"Hem dunia ini milik berdua saja kayaknya yang lain ngontrak" canda Sara karena geli melihat abangnya mesra-mesraan dengan istrinya
__ADS_1
"Biarin" jawab Angga tak perduli
Mereka pun makan bersama saling menyuapi. Walau di dalam hati Sasmita ada perasaan tidak percaya ia bisa menjadi istri padahal pernikahan impiannya batal karena lelaki bajingan itu.