
Sesampainya di sekolah seperti biasa ia pun langsung menuju kelas. Sesampainya di kelas iapun segera duduk santai di bangkunya.
"Ga loh udah belajar?" tanya Putri teman kelasnya itu lebih tepatnya ketua kelasnya
"Dikit" jawa Angga singkat
Tak lama tibalah saatnya ia melaksanakan ujian di hari itu. Setelah berkutat dengan soal yang menentukan kelulusannya iapun segera meninggalkan sekolah tersebut. Di tengah perjalanan ia mendapatkan sebuah telepon.
"Kring kring" bunyi handphone Angga dengan segera ia angkat
"Halo ada apa?" ucap Angga kemudian ia mendapatkan informasi baik dan buruk
"Ya sudah yang tadi kita hold dulu saya akan mencari jalan keluarnya" ucap Angga memberi perintah
"Baik tuan" ucap seseorang di seberang sana
"Oh ya satu lagi tolong perketat penjagaan terhadap istri saya" ucap Angga tegas yang membuat orang tersebut tidak berani untuk membantah
"Ya sudah kalau begitu saya tunggu laporan dari kamu" ucap Angga lalu mengucapkan salam dan menutup komunikasi tersebut
Akhirnya ia pun mempercepat laju mobil yang ia kendarai sebab sang istri sudah menunggunya di kampus. Sesampainya di kampus ia langsung menemui sang istri yang menunggunya di lobby kampus tersebut. Dengan sikap manis iapun menghampiri sang istri dan membukakan pintu. Melihat perlakuan manis tersebut alangkah bahagianya Mita.
"Mas kita mau kemana?" tanya sang istri yang terlihat sedikit bingung karena jalan yang mereka lalui bukan menuju ke rumah papa Rafa tetapi ntah menuju kemana
"Kamu lupa sayang kalau kita akan pindahan hari ini?" tanya Angga menatap lekat sang istri yang berada di sampingnya itu
"Ingat, kirain adek kita ke rumah papa dulu buat ambil barang bukan langsung" jawab sang istri membuat Angga tersenyum
"Mas sudah menyuruh orang-orang mas untuk melakukan itu semua sayang jadu kita langsung ke rumah kita sementara sebelum rumah kita jadi" jelas Angga membuat sang istri sedikit berfikir dengan perkataan yang keluar dari mulut sang suami
"Orang-orang?" tanyanya dalam hati
"Siapa sebenarnya mas Angga?" lanjutnya bertanya dalam hati yang belum menemukan jawabannya
Setelah berjalan sekian lama akhirnya mereka pun tiba di rumah sementara mereka yang Angga beli untuk mereka. Alangkah kagetnya Sasmita melihat rumah mereka yang bak istana melebihi rumah papa dan ayah sekarang.
"Mas ini benar rumah kita?" tanya sang istri tidak percaya melihat rumah yang begitu mewah
"Iya sayang" jawab Angga tersenyum melihat tingkah sang istri
"Gimana kamu suka?" tanya Angga mendekat ke sang istri yang sudah tidak sabar untuk melihat keseluruhan rumah tersebut
"Suka mas suka banget" ucap sang istri bersemangat
"Makasih ya mas" lanjut Mita dan mencium pipi sang suami karena bahagia
"Sama-sama sayang" ucap Angga tersenyum bahagia melihat sang istri bahagia seperti itu
__ADS_1
"Kita masuk yuk yang lain sudah menunggu di dalam sayang" ajak Angga menggandeng sang istri untuk masuk
Setelah mengucapkan salam pintupun di buka tampaklah pelayan rumah tersebut yang menyambut.
"Selamat datang tuan dan nyonya" ucap para pelayan yang menyambut mereka
"Yang lain ada di mana bi?" tanya Sasmita
"Ada di ruang keluarga nya" jawab salah satu pelayan
Setelah beberapa langkah sampailah mereka di ruang keluarga tersebut.
"Kakak" teriak Sara melihat kakak iparnya itu
"Jangan teriak-teriak dek kakak iparmu tidak budek tau" ucap Angga pada adiknya yang bawel itu hingga membuatnya cemberut seketika
"Maklumin aja mas kangen kali dia sama adek" ucap sang istri sembari menarik adik iparnya itu untuk di peluknya
"Kapan sampai bunda?" tanya Sasmita sembari mencium tangan orang tua mereka
"Bunda datangny bareng sayang sama mamamu" ucap bunda Anggia tersenyum
"Ayah sama papa gak datang?" tanya Sasmita
"Biasa nak semenjak sudah jadi besanan papa sama ayahmu itu ibarat prangko" ucap mama Sela membuat semua tertawa
"Kak jadi ini akan jadi rumah kalian sekarang?" tanya Sara pada kakak iparnya itu
"Bang jawab dong" ucap Sara dan yang lain hanya menyimak pembicaraan mereka
"Ini akan menjadi rumah kita sementara sebelum rumah yang abang bangun buat keluarga kecil abang jadi" jawab Angga datar
"Kamu dapat uang dari mana nak bisa beli rumah sebagus ini apalagi ini daerah elite di kota ini" tanya mama Sela
"Angga ti" belum sempat ia menyelesaikan omongannya datanglah papa dan ayahnya itu
"Assalamu'alaikum semua maaf ya telat habis nungguin besan satu ini rapat lama banget" ucap ayah Barra dengan gaya anak muda jaman now membuat semua tertawa dan senyum
"Idih padahal die yang telat malah kite yang di bilang telat emang besan gak ada akhlak" jawab papa Rafa dengan gaya yang gak mau kalah dati besannya tersebut tapi malah membuat suasana kala itu menjadi hidup
"Wah fix ini mah masa muda belum kelar" ucap Angga menimpali yang membuat semua tertawa dan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka
"Oh ya ngomong-ngomong ni Ga kenapa rumah mu lebih begus dari rumah ayah dan papamu ya?" tanya mama Sela
Sebenarnya pertanyaan itu sangat tidak ia harapkan saat ini karena ia tidak ingin semua orang tau siapa ia sebenarnya saat ini termasuk keluarga besarnya. Sejenak ia berfikir keras apakah sudah waktunya mengungkapkan siapa dia sebenarnya kepada keluarga besarnya itu. Alhirnya iapun memutuskan untuk memberitahu sedikit tentangnya kepada mereka semua.
"Baiklah semuanya duduk terlebih dahulu setelah itu Angga akan bicara" ucap Angga menyuruh semuanya untuk duduk dan sang istri tentunya berada di sampingnya
__ADS_1
"Angga hanya akan memberitahu satu nama dan Angga tidak akan menjelaskan dan kalian cari tahu sendiri apa nama itu ok" ucap Angga dan karena mereka tau seperti apa Angga kalau sudah berbicara alhasil mereka hanya bisa mengiyakan saja
"Baiklah katakan apa itu nak nanti kami akan mencari tahunya" ucap bunda Anggia
"ANG GROUP" ucap Angga lantang namun ayah dan papa yang mengetahui apa itu ANG GROUP langsung berkata
"Apakah kamu pemilik group itu?" tanya papa memastikan hingga mereka mengetahui maksud perkataan papa tersebut yang membuat mereka begitu terkejut akan hal itu namun Angga hanya bisa tersenyum
Dalam fikiran papa dan ayahnya itu akhirnya mereka mengetahui kenapa pada waktu itu Angga dan Sasmita tidak mendapatkan saham sama sekali. Itu karena merekalah penegang saham sesungguhnya.
"Jadi perusahaan yang ayah dan papamu pegang itu milik kamu sekarang nak?" tanya ayah Barra
"Kurang lebih begitu" jawab Angga singkat namun sang istri sedikit kecewa kenapa ia tidak di beritahu akan hal itu
"Kenapa mas gak kasih tau adek soal ini?" tanya sang istri dengan wajah cemberutnya yang membuat Angga begitu gemas terhadap sang istri
Ia mengetahui sang istri begitu manja kepadanya dan ia sangat menyukai itu.
"Bukannya mas gak mau kasih tau cuma menurut mas belum saatnya aja sayang" ucap Angga sembari menangkup wajah sang istri lalu mencium kening sang istri dengan lembut namun mereka yang melihat hal itu merasa geli terutama sang adik yang memang masih jomblo
"Ehem kalau mau begituan jangan di sini dong hargai yang jomblo" ucap Sara yang membuat semuanya tertawa ngakak karena merasa lucu
"Makanya cepat nikah" ucap Angga membuat sang adik cemberut dan mengadu ke kakak iparnya itu
"Kak tengok abang tu masak adek di suruh nikah kan gak bener" rengek Sara pada kakak iparnya itu
"Sudah-sudah gak akan ada habisnya kalau begitu kalian tu" sergah bunda Anggia yang sangat hafal kelakuan abang dan adik itu kalau sudah berdebat akan panjang
"Tapi ngemeng-ngemeng ni bang thanks ya sudah sudi memberi adek abang yang cantik ni saham" ucap Sara dengan pedenya alias kepedean
"Ia deh kamu cantik, puas?" tanya Angga pada adik yang selalu isenginnya itu
"Heheheheh makasih" jawab Sara dengan senyum lebarnya
"Kalau soal saham dan perusahaan Angga sudah ada planning kedepannya seperti apa jadi Angga minta semua bekerja sama untuk memajukan perusahaan" ucap Angga
"Pasti, mas juga berterima kasih sudah di beri saham di kasih jabatan pula" ucap mas Fajar yang sedari tadi tidak banyak bicara
"Dan satu lagi tolong rahasiakan siapa Angga yang sebenarnya" ultimatum Angga pada semua
"Kenapa gak di sebarin aja?" tanya mas Adit
"Karena Angga mau hidup tenang tanpa adanya embel-embel ini itu mas jadi Angga mohon kalian faham" ucap Angga menjelaskan keinginannya yang membuat semua yang mendengar mengengguk setuju karena melihat selama ini ia pintar menyembunyikan jati dirinya di khalayak ramai
"Ya sudah kalau soal perusahaan dll kita bahas di lain hari saja sekarang kita sholat dulu baru makan soalnya sudah ashar juga ni" ucap Angga sembari melihat jam tangan yang sederhana itu dibanding dengan kekayaannya saat ini
Setelah melaksanakan sholat akhirnya merekapun makan karena sedari tadi siang mereka belum makan besar sama sekali hanya makan makanan kecil saja. Setelah makan mereka pada pulang kerumah masing-masing sedangkan Angga sibuk membantu sang istri berberes barang-barang mereka yang di bantu para pelayan rumah tersebut. Malam pun mereka lewati dengan tidur saling berpelukan karena bagi mereka pelukan masing-masing adalah tempat ternyaman untuk melewati malam yang indah.
__ADS_1
...Maaf ya kalau alur ceritanya kurang menarik author sudah berusaha sekuat tenaga. Apabila ada koreksian silahkan tulis di kolom komentar....
...Terima kasih :)...