
“ cie yang abis jalan.” Tiba-tiba choi na mo muncul dari belakang pintu.
“ apaan sih kak bikin kaget aja, jalan apanya tadi diundang tante park untuk makan malam.”
“ trus kok kamu bisa dianterin dia, mobil kamu mana ?”
“ lagi dibengkel kak, besok tolong dong diambilin kak.”
“ ambil sendiri lah, besok kakak mesti ke museum ada tamu penting yang harus kakak temani disuruh papa.”
“ siapa emang ???”
“ klien dari luar negri kayaknya.”
“ yah terus siapa dong yang ngambil mobil aku dibengkel.”
“ lah kamu sendiri emang besok kemana ?”
“ itu si yoo in hwa ngajak jalan.”
“ apa ??? semenjak kapan kamu bisa sedekat itu, apa kamu sekarang sudah jinak sama yoo in hwa.”
__ADS_1
“ jinak apaan sih kak, kamu kira aku anak anjing. Gak tau tiba-tiba aja dia tadi ngajak jalan. Tapi aku beneran males kak jalan bareng dia.
“ ya sudah, kamu coba aja dulu jalan bareng dia.”
“ liat besok aja deh kak, aku kekamar dulu mau bersih-bersihin badan dulu. Mau istirahat juga capek banget.
“ bagaimana kalau kita keluar minum soju.”
“ setuju, ayuk kak. Tapi kalau mama marah kamu yang tanggung jawab.” Choi ji ae membalik ke arah kakaknya , padahal dia sudah didepan pintu kamarnya mendengar ajakkan kakaknya dia bersemangat.
“ kamu memang ya kalau diajak minum langsung bersemangat, padahal gak kuat minum. kamu yang bayar ok.”
“ yang ngajak siapa, kok jadi aku yang bayar. Ya udah ayuk kita keluar.”
“ ji ae kalau seandainya yoo in hwa benar-benar menyukai kamu bagaimana ?”
“ gak tau kak, aku sama sekali gak punya rasa sama dia.”
“ ya sudah pelan-pelan saja, kita nggak pernah tau kedepannya.” Sambil menuangkan soju ke gelas choi ji ae.
“ oh iya kak, kakak ingat gak anak laki-laki yang waktu itu nemenin pas aku ketinggalan di dream land gak ?”
__ADS_1
“ iya memang kenapa?”
“ ingat namanya atau apa gitu.”
“ namanya sih kakak gak ingat, mungkin wajahnya sedikit ingat. Ada apa tiba-tiba kamu membahas itu ?”
“ akhir-akhir ini aku merasa seolah dekat sama dia kak.”
“ dekat gimana, kamu aja gak tau namanya atau pun ingat wajahnya.”
“ nah maka dari itu aku heran kak.”
“ kamu jangan aneh-aneh , ingat kamu sudah tunangan sama yoo in hwa. Jangan bikin keluarga kita malu.”
“ iya-iya paham aku kak, kita pulang yuk ngantuk aku.”
“ ya sudah lagian kayaknya kamu juga sudah mulai mabuk.”
“ bi, boleh minta bill nya.” Choi ji ae memanggil bibi penjual untuk membayar tagihan pesanannya.
Bibi tersebut datang kemeja choi ji ae sembari membawa bill ditangannya. Setelah choi ji ae membayar dia dan kakaknya kembali pulang, sampainya dirumah choi ji ae masuk kekamar dan merebahkan diri dikasur karena terlalu pusing dia langsung tidur.
__ADS_1
Sementara ditempat yoo in hwa, dia yang tidak bisa tidur mengambil kalung yang terletak diatas lemari kecil yang ada disebelah tempat tidurnya. Dipandang-pandangnya kalung tersebut dan penasaran dengan pemilik kalung itu apa mungkin benar dia gadis kecil yang ditemaninya dulu atau punya orang lain yang kebetulan mirip.
Diambilnya handphone dan mencoba menghubungi choi ji ae, beberapa kali dia mencoba menghubungi choi ji ae tetap saja tidak diangkat. Beberapa saat kemudian dia tersadar kenapa tiba-tiba dia menelpon choi ji ae karena sekarang dia mulai memikirkan choi ji ae.