
Dan akhirnya choi ji ae menunggu badai salju berhenti dirumah yoo in hwa, mereka berdua duduk diruang tamu sambil menikmati secangkir coklat panas yang dibuat oleh yoo in hwa.
“ kenapa kamu diam saja.” Tanya yoo in hwa kepada choi ji ae yang diam menatap keluar berharap badai salju itu reda.
“ oh tidak apa-apa, hanya melihat salju yang turun.”
“ kamu suka salju ?”
“ siapa sih yang tidak suka salju, tapi kalau turunnya keroyokan kayak gini kan gak ada bagus-bagusnya. Eh iya kamu tau gak mitos tentang salju pertama ?”
“ kayaknya pernah tapi lupa .” sambil mengingat.
“ kalau sepasang kekasih pergi bersama saat turun salju pertama maka mereka akan bahagia dan cintanya akan abadi .”
“ kamu sudah pernah ngebuktiin nya ?”
“ hahaha mau cobain bagaimana aku tidak pernah pacaran .”
“ tidak pernah pacaran ( yoo in hwa kaget mendengar kalau ji ae tidak pernah berpacaran ) ah tidak mungkin, Wanita seperti kamu tidak pernah pacaran .”
__ADS_1
“ ya buat apa pacaran kalau belum tau kedepannya bagaimana, apa mungkin menikah dengan orang yang kita pacari itu atau tidaknya, contoh saja sekarang seandainya aku punya pasangan ujung-ujungnya tetap tunangan sama kamu .”
“ benar juga sih .”
“ hoammm” choi ji ae menguap dan sambil menutup mulutnya, tak lama berselang ia pun tertidur di sofa .
Yoo in hwa yang melihat choi ji ae tertidur menggendongnya dan memindahkan choi ji ae kekamar yoo in hwa, karena kamar tamu berantakkan. Karena selama yoo in hwa pindah tidak ada tamu yang menginap dirumahnya.
Yoo in hwa meletakkan choi ji ae diatas kasur, dan yoo in hwa memandangi wajah choi ji ae yang sedang tidur. Bahkan ketika tidurpun choi ji ae masih tetap cantik, tanpa sadar yoo in hwa pun ikut tertidur disamping choi ji ae.
Badai salju semalam sudah berhenti matahari mulai memancarkan sinarnya dari celah-celah gorden, itu membuat choi ji ae terbangun, Dia kaget melihat yoo in hwa tidur disampingnya.
Choi ji ae melihat yoo in hwa yang tertidur, dan segera berpura-pura tidur lagi karena yoo in hwa sepertinya akan bangun. Yoo in hwa melihat jam yang ada di dinding kamarnya hari sudah menunjukkan pukul Sembilan. Dia mengambil handphone nya dan menghubungi sekretaris lee memberi tahu bahwa dia akan telat datang kekantor.
“ baik tuan , tapi sebelum jam tiga anda sudah ada dikantor karena ada rapat dengan direktur dari perusahaan DN Group tuan cha mu won .”
“ ok baik.”
Yoo in hwa bangun dari tempat tidurnya dan langsung kekamar mandi yang ada didalam kamar.
__ADS_1
Choi ji ae yang berpura-pura tidur tadi akhirnya duduk ditempat tidur, dia pun juga melihat handphone nya.
“ astaga benar jam Sembilan sekarang , bagaimana ini kok bisa ketiduran sampai bablas gini.”
Choi ji ae mengirimkan pesan kepada sekretarisnya han young rim memberitahu bahwa dia telat masuk kekantor.
Beberapa saat kemudian yoo in hwa keluar dari kamar mandi sambil mengusap-ngusap rambutnya dengan handuk kecil. Dia melihat choi ji ae yang sudah bangun dan menyapa choi ji ae.
“ pagi, kamu sudah bangun ? , kamu mau mandi atau cuci muka ke kamar mandi aja. Aku turun kebawah mau bikin sarapan.”
“ aku kan gak ada baju ganti, aku cuci muka saja.”
“ ya sudah, kamu ambil sikat gigi dilemari sebelah westafel dan ada handuk kecil juga disana.”
“ baiklah.”
Choi ji ae turun dari tempat tidur dan berjalan kekamar mandi, sementara itu yoo in hwa berjalan keluar dan menuju dapur untuk membuat sarapan.
Yoo in hwa tengah asik bergelut dengan masakannya pagi itu , choi ji ae yang sudah selesai mencuci muka menunggu yoo in hwa di meja makan. Yoo in hwa datang dengan dua piring pancake ditangannya, dia meletakkan dimeja makan dan duduk dikursinya.
__ADS_1
“ ini kamu sarapan dulu.”
“ oh iya semalam kenapa kamu bawa aku kekamar kamu ? kamu tidak macam-macam kan?”