DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Daeriel Zeroun VS Raefal Zeroun


__ADS_3

~Kita adalah iblis dalam hidup beberapa orang, tapi tidak apa-apa.~


♥♥♥


Trissya sedang menyiram bunga di depan rumah. Tiga orang wanita dan dua orang pria melewati rumah tersebut. Mereka semua menoleh heran pada Trissya. Gadis itu tersenyum ramah sambil mengangguk hormat. Mereka juga melakukan hal yang sama.


"Istrinya abang ganteng itu, ya?" Tanya salah satu dari mereka. Trissya tampak berpikir, dia tidak mungkin menjawab iya, karena dia memang bukan istrinya Raefal. Tapi, jika dia menjawab tidak, warga pasti akan mengira mereka berdua itu kumpul kebo.


"Selamat pagi, Mas, Mbak." Raefal tiba-tiba keluar dari dalam rumah dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku boxer putih. Dia mengenakan kemeja putih yang tiga kancing teratasnya terbuka. Trissya menoleh. Orang-orang itu merasa canggung melihat penampilan Raefal yang terbilang... seksi.


Pria itu merangkul Trissya, "Sayang, kamu gak nyapa mereka?"


Trissya terkejut dan mendongkak menatap Raefal. Pria itu pertama kali memanggilnya dengan sebutan sayang. Trissya bisa merasakan kedua telinganya memanas. Raefal juga menatapnya sambil menaik turunkan alisnya. Seketika Trissya berkedip dan mengangguk.


"Udah, Raef... Sa-sayang." Trissya jadi gugup.


"Ah, romantis sekali."


Mereka berlalu. Raefal tidak berniat menyingkirkan tangannya dari Trissya, "Ah, pagi yang cerah."


Pria itu berlalu sambil menepuk bokong Trissya. Gadis itu terkejut dan maju beberapa langkah. Dia menodongkan selang air pada Raefal. Pria itu segera menjauh.


Trissya mendengus kesal.


"Siap-siap berangkat kerja!" Seru Raefal dari kejauhan. Trissya hanya menggelengkan kepalanya.


~


Di mini market, para karyawan bekerja dengan baik. Trissya tidak melihat keberadaan Adry. Pria itu entah pergi kemana. Hari ini, bu Tari yang memperhatikan kinerja mereka.


Sepulang dari mini market, Raefal yang mengayuh sepeda. Trissya duduk di belakangnya.


"Mbak-mbak yang tadi lewat rumah kamu sempet dateng ke toko. Mereka nyapa aku dan kayaknya mereka bingung karena kamu kerja jadi pegawai mini market, sementara kamu punya rumah yang besar," kata Trissya. Raefal tertawa, "Aku kerja di mini market itu karena kamu, kan?"


Trissya tampak sedih, "Emm, aku gak enak sama kamu. Pangeran yang biasanya hidup mewah di dalam istana malah menjadi suruhan pemilik mini market."


"Gapapa kali, ini emang kemauan aku. Selain itu, aku seneng-seneng aja sama kamu."


Trissya tersenyum kecil mendengar pengakuan Raefal. Trissya bertanya, "Kamu gini juga sama Qwella?"


Ekspresi wajah Raefal berubah ketika nama itu disebut Trissya. Ada kemarahan yang muncul di hati Raefal. Bukan untuk Trissya, tapi untuk Qwella. Kenapa dia telat menyadari, jika Qwella mengendalikan pikiran Raefal agar mencintai wanita itu.


Muncul pertanyaan di benaknya, kenapa Qwella memilih Raefal?


Dia memang tampan, tapi Daeriel berpotensi lebih menguntungkan bagi Qwella. Daeriel lebih kuat, seorang pangeran mahkota, lebih berkharisma. Anehnya, wanita itu tetap ingin bersama Raefal meskipun dengan mudah dia sudah mendapatkan Daeriel.


Raefal tidak yakin wanita seperti Qwella mencintainya dengan tulus. Pasti ada sesuatu dibalik itu semua.


"Hemm?" Trissya bersuara karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Lamunan Raefal buyar seketika. Pria itu menggeleng, "Gadis kecil gak perlu tahu."


Trissya cemberut kesal.


"Malam ini aku mau ketemu sama kakek Geross," kata Raefal. Trissya mengerutkan keningnya, "Kamu mau ke perbatasan? Ikut, ikut, ikut."


"Ya iyalah, aku gak mau ninggali kamu lagi," kata Raefal. Trissya tertawa senang sambil memeluk perut Raefal dengan erat, "Aku bakalan ketemu benda bulat itu lagi! Aaahhh, mereka lucu bageeettt!"


Pria itu melihat tangan Trissya yang melingkar di perutnya. Dia tersenyum sambil menggenggam tangan Trissya.


"Itu hewan, bukan benda."


~


Perbatasan dua dunia,


Raefal dan Trissya sudah sampai. Beberapa hewan di tempat itu menghampiri mereka berdua. Bahkan, kini mereka sudah tidak takut lagi pada Trissya. Mereka mendekati Trissya dan senang berada dalam pelukan gadis itu. Melihat Trissya yang asyik dengan hewan-hewan itu, Raefal menghampiri Geross dan mengajak pria tua itu berbicara.


"... jadi, begitu? Pantas saja kamu berani ngambil resiko demi Qwella. Aku gak nyangka, wanita yang terlihat baik seperti Qwella bisa melakukan hal serendah itu." Geross menggelengkan kepalanya.


Raefal mengusap rambutnya yang bergerak karena terpaan angin. Dia bergumam, "Aku juga baru menyadari kalau aku dikendalikan sama dia."


Geross tampak berpikir, "Tapi, kenapa bisa kamu melepaskan diri dari pengendalian Qwella? Bukankah itu adalah hal yang sulit?"


Raefal tampak berpikir, "Aku juga gak tahu."


"Kayaknya, pengendalian perasaan oleh Qwella bisa hilang dengan sendirinya karena ada cinta sesungguhnya di hati kamu," ucap Geross. Raefal menoleh pada pria tua itu, "Bisa begitu?"


"Iya, tentu saja. Memangnya kekuatan apa yang bisa mengalahkan cinta sejati?" Tanya Geross. Raefal tertawa, "Aku pikir, itu cuma dongeng."


"Terserah kamu. Kamu cinta sama gadis dari dunia manusia itu?" Tanya Geross dengan pandangan tertuju pada Trissya di kejauhan. Raefal menatap Trissya. Gadis itu menoleh padanya sambil melambaikan tangan. Raefal tersenyum, dia juga melambaikan tangannya.


"Dia hanya gadis kecil yang polos. Usianya baru 22 tahunan," ujar Raefal. Geross tertawa, "Jadi, menurut kamu wanita dewasa itu adalah wanita yang tahu tentang ranjang?"


Mendengar pertanyaan sarkas Geross, Raefal juga tertawa, "Aku masih bingung, apa tujuan Qwella mengendalikan pikiran aku?"


Hening.


Geross sedang berpikir, "Apa kamu tahu lambang kehidupan dan lambang keabadian bangsa drucless?"


Raefal mengangguk cepat, "Pohon?"


"Pohon di dunia drucless terdiri dari apa?" Tanya Geross. "Air dan kepulihan?" Raefal menjawab dengan nada bertanya.


"Selain pengendali pikiran, wanita itu juga bisa mengendalikan air. Kamu memiliki kemampuan memulihkan dan menyembuhkan. Mungkin Qwella ingin memanfaatkanmu untuk keabadiannya."


Raefal tertegun mendengar penjelasan Geross.


"Aku mengerti sekarang."


Geross menepuk bahu Raefal, pangeran yang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri. Pria tua itu bangkit sambil menyentuh pinggangnya, "Baiklah, aku harus ke gubuk untuk melihat kinerja karyawan-karyawan baruku."


"Karyawan?" Tanya Raefal. Geross tertawa, "Itu sebutan untuk orang yang bekerja di dunia manusia, kan? Kedengarannya keren, aku juga mau menggunakannya."


Raefal terkekeh, "Iya, itu benar."


"Aku sudah tua, aku membutuhkan karyawan muda yang bisa membantuku dalam bekerja," ujar Geross. Raefal tersenyum sambil mengangguk.


"Nikmati harimu," kata Geross kemudian berlalu.


Trissya berlari mengampirinya karena dikejar hewan berbulu ungu yang besar. Gadis itu bersembunyi di belakang Raefal, "Raefal, yang besar itu mengejarku terus, aku takut."


Treteaa raksasa itu memeluk Raefal dan Trissya. Dia menjilati mereka berdua.


"Sepertinya dia suka padamu," kata Raefal dengan suara tersendat karena pelukan kencang makhluk itu. Trissya menggeleng, "Dia lucu, tapi kalo segede gini, aku takut."


"Masalahnya, dia suka sama kamu. Tapi, kenapa dia jadi meluk aku juga?"


♥♥♥


Hari berlalu dan terus berlalu. Trissya dan Raefal menjalani aktivitas bersama dengan ceria. Mereka menyukai kehidupan yang sekarang.


Pagi ini, Trissya memasak makanan untuk Raefal. Dia terlihat seperti seorang ibu rumah tangga dengan celemek yang terpasang di tubuhnya.


Sepasang tangan melingkar ke perutnya. Trissya mendongkak menatap Raefal yang juga menatapnya.


"Kamu masak apa?" Tanya Raefal.

__ADS_1


"Sop ayam."


Sunyi.


Raefal masih menatapnya lalu mengecup leher Trissya, "Aku mencintai kamu. Kamu harus jadi milikku."


Trissya membeku mendengar pengakuan Raefal yang mendadak itu. Trissya merasa itu adalah mimpi. Mana mungkin Raefal akan berterus terang?


Sekali lagi Raefal mengecup leher Trissya kemudian berlalu. Trissya tersenyum sambil mematikan kompor. Dia menuangkan sop itu ke mangkuk. Senyumannya tidak pudar.


Raefal yang membawa dua kotak makanan memasuki dapur. Pria itu melihat Trissya sedang menyajikan makanan ke meja. Raefal tersenyum sambil menghampiri gadis itu. Kecupan hangat mendarat di pipinya.


"Kamu masak? Masak apa?" Mendengar pertanyaan Raefal, Trissya mengernyit heran. Bukankah sebelumnya dia menanyakan hal yang sama?


"Sop ayam," jawab Trissya ragu. Raefal mengangguk mengerti.


"Kalo aku tahu kamu masak, aku gak bakalan pesen makanan."


Pria itu melihat ekspresi kebingungan yang tercetak jelas di wajah Trissya.


"Kamu kenapa?" Tanya Raefal.


"Perasaan, tadi kamu udah nanya, deh."


"Tadi? Kapan? Aku baru aja turun dari kamar ke depan ngambil pesanan makanan," ujar Raefal.


Trissya membatin, lalu, yang tadi itu siapa? Bahkan Raefal yang tadi menyatakan perasaannya. Jangan-jangan itu...


Raefal mengibaskan tangannya di depan wajah Trissya. Itu tidak berefek sama sekali. Raefal menjentikkan jarinya. Trissya menoleh padanya.


"Trissya, gimana kalo malam ini kita pergi makan di luar. Udah lama kita gak makan di tempat bagus," kata Raefal. Trissya mengangguk, "Oke, aku setuju."


~


Ketika malam tiba, mereka berdua memilih restoran outdoor yang nyaman. Ada banyak pasangan kekasih yang mengunjungi tempat tersebut. Mereka menikmati hidangan ditemani alunan musik yang romantis di bawah langit malam yang bertabur bintang.


Trissya tidak mengira, drucless konyol seperti Raefal bisa romantis juga.


Raefal bingung harus bicara apa. Dia ingin sekali mengungkapkan perasaannya pada Trissya. Namun, di sisi lain, dia harus mempertimbangkan mengenai asal-muasal dirinya, yaitu bangsa drucless yang terlarang berhubungan dengan manusia.


"Pertama kalinya aku makan malam sama cowok kayak gini," kata Trissya sambil tersenyum senang. Raefal mengernyit, "Emangnya kamu gak pernah jalan-jalan sama mantan pacar kamu sebelumnya?"


"Aku gak pernah pacaran," jawab Trissya sambil *** ujung roknya karena malu. Raefal tersenyum geli melihat tingkah Trissya, "Kenapa? Kamu, kan, cantik."


Trissya memasang wajah dengan ekspresi berpikir, "Emm, mungkin karena aku galak."


"Ah, iya. Kayaknya itu alasan yang tepat," gumam Raefal.


"Ah? Kamu bilang apa?" Tanya Trissya dengan ekspresi kesal. Raefal segera menggeleng, "Enggak, aku gak bilang apa-apa."


Trissya cemberut.


Gimana ngomongnya, ya? Batin Raefal.


"Raefal," panggil Trissya. Pria itu memusatkan perhatiannya pada Trissya. Gadis itu tersenyum manis, "Waktu itu, kamu pernah bilang kalau drucless itu gak ada yang baik. Tapi, aku ngerasa kalo kamu adalah satu-satunya drucless yang baik."


Raefal merasa tersentuh dengan ucapan Trissya. Dia tersenyum dan akan mengeluarkan suaranya. Tapi, tiba-tiba semua lampu di tempat itu mati. Para pengujung mulai berisik. Yang terlihat hanyalah bintang-bintang di langit. Tidak ada bulan yang biasanya membantu penerangan malam.


"Trissya?"


Ketika lampu menyala, Raefal tidak menemukan gadis itu. Dia mulai panik dan segera mencari Trissya.


~


Di tepi danau yang tidak jauh dari restoran outdoor, Trissya sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria berjubah merah. Tidak lain pria itu adalah Daeriel.


Lagi-lagi Trissya menggeleng, "Bisakah kamu gak gangguin aku lagi?"


"Aku cuma mau ngomong sama kamu."


"Ngomong apa?"


Daeriel melangkah mendekati Trissya, "Kamu harus memilih, menjadi istriku atau aku yang menjadi suami kamu."


Tidak ada respon.


"Trissya, jawab sekarang."


"Aku tidak mau," jawab Trissya. Daeriel mengepalkan tangannya. Dia melangkah mendekati gadis itu. Namun, sambaran petir di depannya membuat pria itu mundur.


Trissya sedikit terkejut. Daeriel dan Trissya menoleh. Ternyata Raefal. Pria itu berteleportasi menghalangi Trissya dari Daeriel.


"Ngapain lu! Pergi!" Bentak Raefal. Daeriel tersenyum sinis, "Gua mau ngejemput calon istri gue."


Raefal memundurkan wajahnya. Dia menoleh pada Trissya dan Daeriel bergantian.


"Lu, kan, punya Qwella?!"


"Ah, wanita itu. Dia gak cinta sama gua. Qwella cuma pengen lu, Raefal. Dia pengen balik lagi sama lo."


Raefal mengepalkan tangannya. Entah kenapa, Trissya merasa sakit mendengar itu. Dia menatap punggung Raefal. Daeriel memiringkan kepalanya melihat Trissya. Gadis itu menyembunyikan diri di belakang Raefal.


"Trissya, kamu pikir Raefal itu cowok baik? Dia gak jauh beda sama gua. Gak keitung berapa banyak perempuan yang udah dia dapetin, kamu pasti ngerti maksud aku, kan?"


Trissya mencerna ucapan Daeriel. Raefal tidak bergeming, meskipun Daeriel sedang menjelek-jelekkan dirinya.


Daeriel melipat kedua tangannya di depan dada, "Ingat Trissya, cowok baik itu akan mengungkapkan perasaannya dan menikahi perempuannya. Apa Raefal melakukan itu? Enggak, kan? Dan aku sudah berapa kali datang untuk menikahimu."


Raefal sedikit menoleh pada Trissya, "Jangan dengerin dia. Dia cuma mau memanipulasi kamu. Kalo dia beneran cowok baik, Qwella pasti ngerasa nyaman jadi istrinya dia."


Daeriel kembali bersuara, "Trissya, aku udah pernah menghabiskan malam sama kamu dua kali..." Trissya mengalihkan pandangannya mengingat kejadian itu, hatinya sakit sekali, "... aku bisa merasakan kebaikan dalam dirimu. Aku telah mengenalmu."


"Bagaimana bisa lu kenal orang cuma karena dua kali menghabiskan malam?" Tanya Raefal. Daeriel menyeringai, "Selain mengendalikan pikiran, gua juga bisa membaca pikiran dengan sentuhan."


Raefal menautkan alisnya, dia bergerak cepat ke depan Daeriel dan memukul wajah pria itu. Daeriel menghindar. Raefal melemparkan petir pada Daeriel, sementara pria itu melompat dan melemparkan bola-bola api.


Trissya melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada manusia yang melihat perkelahian itu.


Raefal dan Daeriel masih saling menyerang dengan kekuatan masing-masing. Petir melawan api yang menyebabkan ledakkan terdengar di tempat itu. Air danau pun sampai terciprat melawan gravitasi.


Raefal berhasil membuat Daeriel terlempar ke air. Api milik pria itu padam, alhasil asap mengepul membumbung tinggi. Trissya menelan saliva. Gadis itu melihat Raefal yang berjalan kearahnya. Trissya tersenyum sendu.


Daeriel bangkit dari dalam air. Dia tidak bisa menyalakan api dari tangannya, karena tubuhnya yang basah.


Beberapa meter lagi, Raefal akan mencapai Trissya. Tiba-tiba, rantai berselimut api melilit lehernya. Trissya menggeleng.


"Raefal!"


Daeriel melompat dari air menuju daratan. Tubuhnya terhuyung. Ada rantai yang muncul dari punggungnya bersama api. Jadi, rantai miliknya yang mengikat Raefal.


"Daeriel! Lepaskan Raefal!" Teriak Trissya yang panik melihat Raefal kesusahan bernapas karena rantai berapi itu tidak hanya melilit lehernya, tapi juga tubuhnya.


Daeriel tertawa melihat adiknya yang tidak bisa apa-apa. Rantai itu menarik Raefal ke dalam air.


"Tidaaak!!" Trissya jatuh tertekuk.

__ADS_1


Raefal yang tenggelam mengejang, karena tubuhnya yang memiliki kekuatan petir menolak air.


"Raefal!!" Trissya berlari dan berdiri di tepi danau melihat keadaan Raefal. Beberapa ikan mati bermunculan ke permukaan air. Mereka pasti mati karena kesetrum.


"Raefal!" Gadis itu mengusap air matanya yang terus mengalir menyesali dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat itu, Daeriel sangat kesal.


"Daeriel! Lepaskan Raefal! Lepaskan dia!" Teriak Trissya dengan tatapan tertuju padanya. Pria itu menggeleng sambil menyeringai dingin.


Trissya menyentuh air itu. Namun, dia segera menjauh karena merasakan sengatan listrik dari air tersebut.


"Aku harus lompat," gumam Trissya. Ketika gadis itu akan menjatuhkan diri ke dalam air, tanpa di duga, Daeriel berteleportasi ke dekat Trissya dan menangkap tubuh mungilnya. Pandangan mereka bertemu. Pria itu melempar tubuh Trissya ke tanah dengan kasar.


Gadis itu berguling-guling di tanah sampai-sampai pakaiannya robek. Daeriel menarik rantai yang mengikat tubuh Raefal dan melemparkan tubuh Raefal yang sudah tak sadarkan diri itu ke daratan.


Dengan tubuh sempoyongan, Trissya berusaha berlari menghampiri pria itu. Namun, dia tersungkur jatuh. Gadis itu mengusap air matanya kemudian berusaha bangkit dan berjalan lalu jatuh lagi.


Melihat kepedulian Trissya pada Raefal, Daeriel benar-benar cemburu. Pria itu berpindah dengan cepat ke depan Trissya membuat rambut panjang gadis itu bergerak. Trissya terhuyung, namun Daeriel memegang kedua lengan gadis itu.


"Lepaskan aku, aku harus melihat Raefal!" Teriak Trissya sambil memberontak ingin melepaskan diri dari Daeriel. Pria itu tidak bergeming dan tetap menatap gadis itu dengan ekpresi dingin. Trissya masih menangis.


"Kamu cinta sama Raefal?"


"Iya! Minggir!" Trissya mendorong dada Daeriel dengan kasar. Daeriel terkejut dengan jawaban Trissya. Dia mengalah dan membiarkan Trissya menghampiri Raefal. Trissya melihat Raefal yang terbaring dengan tubuh pucat. Gadis itu terduduk lemas. Ketika Trissya menyentuh rambut Raefal, sengatan listrik mengejutkan tangannya.


Daeriel tersenyum sambil memiringkan kepalanya. Dia bergumam pelan, "Ingat Trissya, apa pun yang terjadi, kamu akan menjadi milikku."


Setelah mengatakan itu, Daeriel menghilang.


Trissya melihat ada kain berwarna hijau di dekat dermaga. Dia mengambilnya dan mengelap tubuh Raefal dengan kain tersebut. Gadis itu mendekatkan telinganya ke dada Raefal. Pria itu masih bernapas dan detak jantungnya juga masih ada.


"Raefal." Trissya mengguncangkan tubuh pria itu. Tidak ada respon. Gadis itu memeluk tubuh Raefal dengan erat sambil menangis, "Raefal, kamu gak mati, kan?"


Trissya menangis.


Pelukan Trissya membuat energi manusia dari tubuhnya berpindah sedikit demi sedikit ke tubuh Raefal. Perlahan pria itu membuka matanya. Dia tersenyum karena Trissya memeluknya. Pria itu mengusap rambut Trissya. Gadis itu terkejut dan menatap Raefal yang sudah sadar.


"Raefal!" Trissya memeluknya lagi. Raefal tertawa, "Kamu khawatir?"


Trissya memukul lengan pria itu, "Tentu saja!" Raefal meringis sambil menyentuh lengannya.


"Ah? Ma-maafkan aku."


Raefal mengangguk.


~


Trissya membantu Raefal memasuki kamar mandi. Gadis itu mencari wadah yang isinya air suci yang diambil Geross dari dunia drucless.


"Raefal? Kamu nyimpen air suci dimana?" Tanya Trissya. Raefal menunjuk salah satu wadah. Gadis itu segera mengambilnya dan melihat isinya.


"Yakin yang ini?" Tanya Trissya. Raefal mengangguk. Gadis itu membopong tubuh Raefal dan mendudukkannya ke toilet duduk. Trissya melihat banyak sekali luka bakar di tubuh Raefal.


Dengan hati-hati, Trissya menyiramkan air tersebut ke tubuh Raefal. Pria itu meringis tertahan.


"Baju aku menyerap air danau. Sepertinya, ini membuat air suci menjadi air kotor dan membuat tubuhnya bereaksi," kata Raefal.


Trissya kebingungan harus bagaimana. Gadis itu dengan ragu melepaskan kancing baju Raefal. Pria itu menatap Trissya dengan tatapan tidak percaya. Kedua pipi gadis itu sudah memerah seperti kepiting rebus. Pipi Raefal juga memerah.


Trissya memandikan tubuh Raefal dengan telaten. Pria itu merasa sedikit canggung karena Trissya bisa melihat tubuhnya. Ya, meskipun bukan pertama kalinya mereka berhadapan sambil bertelanjang bulat.


Setelah selesai memandikan Raefal, Trissya mengobati luka-luka di tubuh Raefal dengan lembut. Raefal memperhatikan Trissya.


"Nanti bisa sembuh sendiri, kok. Kamu juga tahu, kan?"


"Tapi, lama banget kalo nunggu sembuh sendiri."


"Makasih," kata Raefal. Trissya mengangguk sambil tersenyum tulus.


Raefal mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Trissya. Gadis itu sedikit terkejut. Mata mereka bertemu. Trissya memundurkan wajahnya, ciuman mereka terlepas.


Trissya bangkit dan berlalu. Sebelum menutup pintu, gadis itu berbalik tanpa melihat wajah Raefal, "Selamat malam."


Raefal tersenyum sendu.


~


Qwella melihat Daeriel yang sedang duduk sambil menatap lurus. Wanita itu menghampirinya dan bertanya, "Kenapa semalam kamu mau ngebunuh Raefal?"


Pria itu menoleh, "Kamu tahu dari mana?"


Daeriel bangkit dari dalam air. Dia tidak bisa menyalakan api dari tangannya, karena tubuhnya yang basah. Tanpa mereka sadari, Qwella berdiri tidak jauh dari tempat itu. Dia menyaksikan semuanya dari awal.


Raefal berbalik menatap Trissya. Beberapa meter lagi, pria itu akan mencapai Trissya. Tiba-tiba, rantai berselimut api melilit lehernya. Trissya menggeleng. Qwella terbelalak, wanita itu melangkah untuk menyelamatkan Raefal.


"Raefal!" Teriak Trissya. Langkah Qwella terhenti karena melihat Trissya berlari kearah Raefal.


Daeriel melompat dari air menuju daratan. Tubuhnya terhuyung. Ada rantai yang muncul dari punggungnya bersama api. Jadi, rantai miliknya yang mengikat Raefal. Qwella mengepalkan tangannya geram. Ingin sekali dia datang untuk menyelamatkan Raefal. Namun, mana mungkin dia menunjukkan dirinya di depan Trissya.


"Daeriel! Lepaskan Raefal!" Teriak Trissya yang panik melihat Raefal kesusahan bernapas karena rantai berapi itu tidak hanya melilit lehernya, tapi juga tubuhnya.


Daeriel tertawa melihat adiknya yang tidak bisa apa-apa. Rantai itu menarik Raefal ke dalam air. Qwella menggeleng, "Tidak."


"Tidaaak!!" Trissya jatuh tertekuk.


Raefal yang tenggelam mengejang, karena tubuhnya yang memiliki kekuatan petir menolak air. Qwella mengangkat kedua tangannya mengendalikan air agar tidak menyentuh tubuh Raefal. Di dalam danau, terbentuk sebuah gelembung yang melindungi Raefal dari sentuhan air. Pria itu tidak sadarkan diri.


Qwella menggeleng cepat.


"Lagian dia gak mati, kok," sanggah Daeriel.


"Dia mati. Dia udah mati," sambar Qwella. Daeriel menoleh pada wanita itu dengan tatapan heran.


Qwella mengingat kejadian itu, "Saat kamu angkat tubuh dia, aku gak bisa denger detak jantungnya. Dia berhenti bernapas..." Daeriel mencerna ucapan Qwella, "... tapi, saat perempuan itu menyentuh tubuh Raefal, detak jantungnya kembali berdetak."


Daeriel tampak berpikir keras, "Sepertinya sumber energi Raefal yang sekarang adalah Trissya. Tubuh Raefal sudah terbiasa dengan Trissya. Itu artinya, dia udah gak butuh air suci lagi. Dia bisa hidup di dunia manusia selama Trissya bersamanya."


"Aku gak mau tahu. Kamu harus ambil Trissya dari hidup Raefal. Kamu juga harus menarik kembali segel kamu!" Kata Qwella sambil menunjuk lehernya.


"Memangnya kamu tahu, cara melepaskan segel drucless? Segel itu permanen dan gak bisa dihilangkan begitu saja."


"Aku tahu caranya."


♥♥♥


13.13 : 23 September 2019


By Ucu Irna Marhamah


Follow Instagram dan Wattpad aku\, yaaaa... @ucu_irna_marhamah


Beli Ebook aku juga, yaaaa...



__ADS_1


 


 


__ADS_2