![DRUCLESS [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/drucless--sudah-terbit-.webp)
~Kau akan mengerti setelah mengalami (merasakan) hal yang sama denganku.~
(Ucu Irna Marhamah)
♥♥♥
Rasanya tubuhku begitu ringan seperti mengambang di dalam air. Ah, tidak. Ini seperti melayang di udara. Aku ingin sekali membuka mataku. Namun, ini sulit. Tunggu, sepertinya aku memang sudah membuka mataku. Hanya saja... tempat ini sangat gelap.
Cahaya itu membuat Trissya merasa silau. Wanita itu mengerjap dan memilih untuk menutup mata sejenak. Setelah beberapa saat, dia membuka matanya lagi untuk menyesuaikan diri dengan cahaya di tempat itu.
Trissya mendapati dirinya sedang terlelap di atas rumput yang hijau. Dia berada di perbukitan. Dengan kesadaran yang sudah berkumpul, Trissya bangkit berdiri dan melihat ke sekeliling.
Aku di dunia manusia? Tapi, dimana ini?
Wanita itu mengerutkan keningnya. Dia tidak mengenali tempat itu. Tempat yang asing menurutnya. Gaun biru muda yang dia kenakan bergerak-gerak tertiup angin.
Trissya mengedarkan pandangannya. Di depannya hanya ada hamparan rumput dan lekuk perbukitan. Trissya melangkahkan kakinya untuk menemukan sesuatu yang bisa menjawab pertanyaannya. Trissya menuruni bukit.
Setelah berjalan cukup jauh, Trissya menemukan seekor kambing. Wanita itu mendekat dan melihat kambing yang sedang makan rumput itu.
Trissya merasa mengenali kambing itu, "Ah? Kamu kambing yang suka kabur itu, kan? Ta-tapi... bukannya bibi Lisna udah memasak kamu, kan?"
Trissya memegang kambing tersebut. Namun, kambing itu malah menghilang menjadi butiran debu. Trissya tekejut dan melihat butiran debu itu berputar di udara dan menghilang terbawa angin.
Trissya mulai merasa khawatir.
"Sepertinya... ini bukan dunia manusia. Tapi, ini juga bukan dunia drucless..." Trissya menyentuh tengkuknya yang merinding, "... mungkin... ini di perbatasan dunia manusia dengan dunia roh."
Trissya menyentuh perutnya. Dia ingat ketika pisau yang dia pegang ditusukkan ke perutnya. Trissya tidak merasakan ada bekas luka disana. Itu artinya, dia memang sudah mati.
Merasakan kehadiran seseorang, Trissya menoleh. Kedua matanya melebar. Manik coklat tua itu bergetar melihat pria itu di depannya. Tanpa reaksi lain, wanita itu berdiri terpaku.
Langkah gontai itu mendekat. Pria di depannya memasukkan tangan ke dalam saku celana. Manik abu-abu itu menatapnya penuh makna. Trissya tidak bisa menahan air matanya.
Raefal, pria itu berdiri di depannya. Pria itu berkemeja yang berwarna senada dengan gaunnya.
Dia tersenyum tampan.
"Kenapa kamu kemari?" Tanya Raefal. Trissya mengusap air matanya, "Aku mau ketemu sama kamu."
Raefal mengalihkan pandangannya, "Kamu masih harus hidup, Trissya."
Wanita itu menggeleng cepat, "Aku gak mau hidup sama Daeriel. Aku mau mati aja."
Raefal melangkah memeluk Trissya, "Aku seneng kamu disini. Tapi, aku lebih seneng ngeliat kamu bernapas dan jantung kamu berdetak."
Trissya membalas pelukan Raefal. Dia menangis sejadi-jadinya dalam dekapan pria itu.
"Kalo kamu suatu hari terlahir kembali, apa kamu bakalan inget sama aku?" Tanya Trissya. Raefal tidak segera menjawab. Namun, beberapa saat kemudian, dia bertanya,"Memangnya kamu percaya dengan reinkarnasi?"
Trissya tampak berpikir tanpa berniat menjawab.
"Terlahir kembali dengan tubuh baru dan ingatan yang baru. Aku tidak akan mengingat kamu. Tapi, aku akan mencintai kamu dengan perasaan yang baru." Raefal menjawab pertanyaan Trissya yang sempat terabaikan. Kedengarannya ambigu.
Trissya melepaskan pelukannya. Dia menatap Raefal.
"Aku mau ikut sama kamu," kata Trissya. Raefal menggeleng, "Belum saatnya."
Raefal mendekatkan wajahnya. Kedua mata Trissya tertutup. Ketika kecupan hangat itu mendarat di bibirnya, Raefal perlahan berubah menjadi butiran debu dan terbang tertiup angin.
"Hem... hemm... hemmm."
"Trissya, bangun."
Trissya tersentak membuka matanya. Dia menatap ke sekeliling. Wanita itu mendapati dirinya sedang terbaring lemah diatas tempat tidur. Dia berada di kamarnya Daeriel, istana Zeroun.
Kecupan itu terasa nyata. Trissya menyentuh bibirnya. Setidaknya dia merasa sedikit tenang setelah bertemu Raefal dalam mimpi. Ketika Trissya bergerak untuk bangkit, perutnya terasa sakit, sehingga dia meringis pelan.
Dharaa masuk kamar. Dia terkejut melihat Trissya sudah bangun.
"Ah? Trissya! Syukurlah." Dharaa membantu Trissya untuk duduk. Dharaa mengambilkan air dan memberikannya pada Trissya. Wanita itu meminumnya. Tenggorokannya terasa lebih segar.
"Aku harus bilang sama raja," kata Dharaa sambil beranjak. Namun, Trissya menarik tangan Dharaa. Wanita itu menggerutu, "Jangan bikin aku mau mati lagi."
Dharaa memundurkan wajahnya, "Tapi, aku harus bilang sama raja...."
"Kamu ninggalin aku, pas balik lagi aku udah mati, mau?" Ancam Trissya. Dharaa segera menggeleng, "Kamu jadi ngancem gitu, sih?"
"Biarin."
Hening.
Dharaa bingung harus mengatakan apa. Sementara Trissya masih menetralisir rasa sakit di perutnya.
"Aku seneng kamu baik-baik aja. Ini berkat diamond milik pangeran Raefal yang ditanam ke dalam tubuh kamu," kata Dharaa. Trissya terkejut, serta-merta dia menatap tabib perempuan itu.
"Raja Daeriel dan putri Laureen sangat panik dan cemas. Mereka tidak tidur selama beberapa hari," ucap Dharaa lagi.
Trissya mengernyit, "Memangnya aku tidak bangun berapa lama?"
"Satu minggu," jawab Dharaa. Trissya terbelalak, "Apa?!"
"Iya, satu minggu di dunia drucless."
Trissya menghela napas berat. Dia memilih untuk kembali membaringkan tubuhnya ke tempat tidur sembari meringis pelan.
Dharaa kembali bersuara, "Putri Laureen mengira jika kamu bunuh diri karena kamu gak suka sama dia. Setiap hari dia datang kesini dan membangunkan kamu. Kemaren jari tangan kamu gerak. Putri Laureen segera sembunyi. Dia gak mau pas kamu bangun ngeliat dia."
Trissya merasa jengah dengan ucapan Dharaa. Dia memberikan tanggapan, "Kenapa dia begitu? Apa maksudnya? Dia mau mendapatkan perhatian dari aku? Ah, tidak mungkin."
Dharaa membuang napas pelan, "Setiap hari putri Laureen pergi ke kuil bersama raja Daeriel. Mereka berdoa agar kamu kembali bangun."
Trissya menutup telinganya. Dharaa menggeleng pelan melihat tingkah Trissya.
Pintu kamar dibuka. Kedua wanita itu menoleh. Daeriel yang masuk. Dia melihat Trissya yang sudah sadar. Pria itu menyembunyikan raut keterkejutannya. Trissya memperlihatkan ekspresi normal.
Dharaa beranjak lalu membungkuk dan pergi dari ruangan tersebut. Daeriel mendekat. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Trissya.
"Seharusnya pisau itu kamu arahkan ke perut aku," ucap Daeriel. Trissya menautkan alisnya. Itu memang rencana awalnya. Namun, entah kenapa dia malah berpikir untuk menusuk dirinya sendiri.
"Tapi, aku gak akan mati cuma karena pisau kecil itu," ujar Daeriel. Trissya mendecih, "Untuk apa aku membunuh kamu? Aku mau mati karena aku ingin bertemu Raefal di surga."
Daeriel mengepalkan tangannya. Dia benar-benar kesal dengan nama itu. Daeriel menarik lengan Trissya. Wanita itu meringis sesaat. Daeriel merasa tidak tega juga. Dia melepaskan Trissya.
"Setelah kamu sembuh, jangan salahkan aku kalo aku lebih kasar sama kamu," ancam Daeriel. Trissya membuang muka, "Siapa yang bisa nyaman sama kamu, kalo kamu kayak gitu."
"Aku kayak gini karena kamu yang kayak gitu."
Terdengar lari dari luar kamar. Trissya dan Daeriel menoleh ketika pintu terbuka. Ternyata Laureen. Gadis kecil itu terkejut melihat Trissya yang menatap ke arahnya. Laureen kembali menutup pintu. Dia berlalu menuju kamarnya. Daeriel menghela napas panjang. Dia beranjak dan berlalu ke kamar putrinya.
Trissya menghela napas berat.
~
Daeriel sedang mengadakan pertemuan dengan para raja. Selain membicarakan tentang kerja sama kerajaan, mereka juga turut bahagia, karena Ratu Natrissya telah kembali sehat.
Setelah hari mulai gelap, para raja berpamitan untuk kembali ke kerajaan masing-masing.
Daeriel melangkah menuju kamarnya. Pintu besar itu dia buka. Dia terkejut karena tidak melihat keberadaan Trissya.
__ADS_1
Pria itu mulai panik.
Bisa jadi Trissya berniat membunuh Laureen. Ah, bagaimana ini? Daeriel bergegas mencari Trissya ke kamar putrinya.
Pria itu membuka paksa pintu kamar Laureen. Dan benar saja, Daeriel terbelalak melihat Trissya sedang bersama Laureen di kamar itu.
Kedua perempuan yang sedang duduk di lantai itu menoleh padanya.
Laureen dan Trissya sepertinya sedang berbicara. Tapi....
Kapan mereka akur? Batin Daeriel.
Laureen menggerakkan tangannya pada Daeriel agar ikut bergabung. Pria itu masih berdiri terpaku di depan pintu.
"Ngapain kamu di kamar Laureen? Balik lagi ke kamar, sana!" Ucap Daeriel pada Trissya. Wanita itu berdiri. Namun, Laureen menggenggam tangan Trissya.
"Ayah tidul sendili aja, Ibu Icca mau tidul di kamal Laueen," gerutu Laureen. Daeriel mendengus pelan, "Gimana kalo nanti tiba-tiba dia memakan kamu? Dia itu manusia yang suka makan drucless."
Laureen melirik Daeriel dan Trissya bergantian. Gadis kecil itu menyipitkan matanya menandakan dia sedang curiga pada ayahnya.
"Ayah bohong lagi, ya? Tadi Ibu Icca sama Laueen makan makanan, kok."
Daeriel melangkah masuk. Dia tidur di sofa lalu menutup matanya. Dengan mata tertutup, Daeriel berkata, "Ayah gak akan kemana-mana."
Laureen tersenyum geli. Trissya menatap Laureen sembari memiringkan kepalanya.
"Ayah memang galak, tapi... ayah itu kesepian. Makanya dia sepelti itu," kata Laureen. Trissya menyahut, "Iya, dia memang seperti itu."
Menjijikan, batin Trissya.
Laureen mengguncangkan tangan Trissya, "Ibu, besok aku mau ke kuil. Ibu temani aku, ya."
Trissya tampak berpikir, "Emm, baiklah."
Laureen tersenyum semangat. Trissya menyentuh wajah Laureen. Gadis kecil itu menutup matanya, merasakan sentuhan ibunya.
Trissya berujar, "Kamu cantik, sangat mirip sama ibu."
Bagi Laureen, ucapan Trissya terdengar ambigu. Dia membuka matanya. Tersirat kesedihan di wajah itu.
"Ibu Qwella tidak anggap Laueen. Ibu Qwella benci sama Laueen. Tapi, sekalang Laueen seneng, Ibu Icca telnyata gak malah sama Laueen," kata gadis kecil itu dengan semangat.
Trissya merasa sedih mendengar ucapan Laureen. Refleks dia menarik tubuh Laureen dan memeluk gadis kecil itu dengan erat. Laureen malah tertawa sambil membalas pelukan Trissya.
"Ibu Icca sayang sama Laueen?"
Trissya tidak tahu harus menjawab apa. Namun....
"Iya."
Laureen semakin mengeratkan pelukannya, "Laueen seneng banget, Laueen jadi gak mau tidul."
"Kenapa?" Tanya Trissya.
"Laueen takut kalo pas bangun, Ibu Icca gak ada disini."
Trissya menggeleng sembari mengecup puncak kepala Laureen, "Ibu tidak akan pergi. Kamu harus tidur. Katanya besok mau ke kuil."
"Ibu mau nyanyiin lagu tidul?"
Trissya mengangguk. Dia menggumamkan sebuah nada yang sering terdengar dari bibir Raefal, "Hem... hemm... hemmm."
Perlahan kedua mata Laureen tertutup dan dia mulai berpetualang di dunia mimpinya.
Trissya menangis tanpa suara sambil memeluk Laureen. Jika dia melahirkan Aerilyn, mungkin putrinya itu juga manja seperti Laureen.
Tanpa Trissya sadari, Daeriel sedang memperhatikannya. Pria itu berpura-pura tidur.
~
Daeriel bangun sambil meregangkan otot-ototnya. Pria itu bangkit sambil meringis memegangi pinggangnya. Semalaman dia tidur disana demi mengantisipasi kemungkinan Trissya menyakiti putrinya.
Daeriel melihat kedua perempuan yang sangat dia cintai itu masih tertidur.
"Yang mau ke kuil masih tidur." Daeriel bergumam sendiri. Dia mengingat kejadian semalam.
Daeriel melihat Trissya yang menangis tanpa suara sambil memeluk Laureen. Daeriel menatapnya tanpa ekspresi. Trissya mulai tertidur dalam keadaan duduk memeluk Laureen.
Daeriel tidak tega melihat itu. Dia bangkit menghampiri mereka. Pria itu memindahkan Laureen ke tempat tidur. Kemudian dia mengangkat tubuh Trissya dan menidurkannya ke samping Laureen.
Daeriel menarik selimut untuk menyelimuti kedua perempuan itu. Pria itu tersenyum lalu mengecup kening putrinya. Pandangannya beralih pada Trissya. Pria itu mengusap sisa air mata di pipi Trissya.
Dengan lembut, dia mengecup bibir Trissya yang sedikit terbuka.
Tanpa berniat mengganggu Trissya dan Laureen, Daeriel berlalu keluar dari kamar tersebut.
Setelah hari semakin terik, Trissya dan Laureen bangun. Mereka berdua pergi ke kuil sesuai rencana awal. Daeriel memutuskan untuk ikut. Dia masih mencurigai Trissya yang bisa melukai Laureen kapan saja.
Laureen dan Trissya melihat bagunam kuil yang indah di depan mereka. Daeriel tidak ikut masuk. Dia membiarkan Trissya dan Laureen yang masuk.
Trissya terpukau dengan ukiran-ukiran indah yang terpahat sempurna di dinding kuil. Wanita itu tidak berhenti berdecak kagum. Tangannya lembutnya bergerak menyentuh ukiran tersebut.
Laureen yang sedari tadi menggenggam tangan Trissya, menariknya ke dekat sebuah patung perempuan cantik yang sedang berdiri dengan hewan bersayap bertengger di tangannya.
"Dewi Amiless adalah satu-satunya Dewi pala ducless," kata Laureen. Gadis kecil itu membungkukkan badannya ke patung tersebut.
"Ayah bilang, Dewi Amiless itu sangat kuat dan melambangkan ibu pala ducless. Apapun yang kita minta, akan dibelikannya. Aku meminta kesembuhan ibu. Dan Dewi Amiless membelikannya. Ibu telah sembuh," kata Laureen.
"Kamu mau meminta sesuatu lagi?" Tanya Trissya. Laureen menggeleng, "Aku mau bilang telima kasih. Kalena Dewi Amiless telah membelikan semua yang aku mau."
Gadis kecil itu menatap patung Dewi Amiless kemudian tersenyum, "Telima kasih telah mengilimkan ibu yang baik."
Trissya memperhatikan apa yang dilakukan Laureen. Gadis kecil itu menoleh menatap ibunya.
"Ibu tidak ingin meminta sesuatu?" Tanya Laureen. Trissya terhenyak lalu mengibaskan tangannya, "Tidak, tidak, kamu saja."
"Kenapa?" Laureen menatap Trissya dengan penuh tanya. Trissya mengedikkan kepalanya, "Emm, lain kali saja."
Mereka berdua berlalu keluar.
"Ayah bilang, Dewi Amiless itu sangat besal," kata Laureen. Trissya menoleh tanpa menghentikan langkahnya, "Sebesar apa?"
"Ibu pelnah lihat bulan melah?" Tanya Laureen yang menatap serius pada ibunya. Trissya mengangguk, "Iya."
"Itu adalah matanya."
~
Bulan merah menerangi dunia drucless dengan sinarnya yang redup. Trissya duduk di jendela kamar. Seperti biasanya, dia menatap keluar. Namun, kali ini dia sedikit merinding melihat bulan merah itu.
Laureen bilang, itu adalah matanya Dewi Amiless. Matanya sebesar itu? Bagaimana dengan tubuhnya? Trissya bergidik merinding membayangkannya.
Sebuah tangan menyentuh bahunya. Trissya tersentak dan hampir jatuh ke bawah. Namun, tangan itu meraih pinggangnya.
Trissya menoleh, tenyata Daeriel.
"Kamu terkejut? Makanya, jangan duduk disini." Daeriel mengangkat tubuh Trissya lalu menutup jendela. Wanita itu memperhatikan punggung suaminya.
Apa dia akan memaksaku lagi? Aku bahkan benar-benar belum bisa bergerak dengan baik. Tapi, percuma... dia pasti akan menyiksaku lagi dengan segel kutukan ini, batin Trissya sambil mengusap perutnya yang masih sakit bekas tusukan pisau.
Daeriel berbalik. Trissya sampai terhenyak dan mundur beberapa langkah. Daeriel menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa lagi?" Tanya Daeriel sambil mendekat. Trissya menggeleng cepat.
__ADS_1
Daeriel tersenyum sembari mendekati Trissya, "Kamu takut aku menyentuh kamu?"
Wanita itu menahan dada suaminya. Daeriel mengusap lembut rambut Trissya, "Aku tidak akan menyentuh kamu, kok. Luka di perut kamu pasti masih belum sembuh. Tapi, jangan senang dulu. Kalau kamu sudah sembuh, aku akan melakukannya lagi dan lagi."
Daeriel semakin mendekat dan memperlihatkan sosok lembutnya. Bukannya merasa nyaman dengan kelembutan Daeriel, Trissya malah mundur menjauh.
"Aku ingin memelukmu," kata Daeriel. Trissya menggeleng. Namun, Daeriel tidak membutuhkan persetujuan wanita itu. Dia melangkah dan mendekap Trissya. Wanita itu tidak menolak, tidak juga membalas pelukannya.
"Terima kasih telah mau menghibur putriku. Aku tidak tahu, apakah kamu benar-benar menyayanginya, atau kamu punya maksud dan tujuan lain," gumam Daeriel.
"Jika kau berani melukai putriku, aku tidak akan memaafkanmu. Aku akan membuatmu menyesal." Ucapan Daeriel terdengar lembut, namun penuh ancaman.
"Seharusnya kamu bisa membaca pikiranku sekarang," jawab Trissya. Daeriel tersenyum, "Kamu benar, aku bisa membaca pikiranmu ketika aku bersentuhan langsung dengan tubuhmu."
Hening.
"Trissya, aku mencintaimu. Aku tidak berbohong. Aku mengatakan yang sebenarnya," Daeriel berhenti sejenak, "apa yang bisa aku lakukan agar kamu cinta sama aku?"
Tidak ada jawaban. Sepertinya Trissya memang tidak ingin menjawab Daeriel.
Pria itu melepaskan pelukannya dan memilih untuk tidur. Dia membelakangi Trissya sambil berkata, "Kalau begitu, tidurlah. Tidak perlu memikirkan apa yang aku katakan barusan."
~
Hari berlalu dengan cepat di dunia drucless.
Laureen dan Trissya semakin dekat. Mereka tampak seperti ibu dan anak sungguhan. Trissya seolah telah melupakan kejadian buruk yang pernah menimpanya. Itu berkat Laureen yang selalu bersamanya. Laureen telah membuat Trissya merasakan berartinya hidup.
Tidak ada lagi keinginan kematian dalam diri Trissya. Dia cukup senang bersama Laureen.
"Waktunya pergi ke sungai suci, Laureen harus membersihkan diri di sana," gumam Trissya sambil berlalu mencari putrinya. Dia memasuki kamar Laureen.
"Laureen sayang? Kamu dimana?" Tanya Trissya sembari mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
Laureen masih tertidur dengan ekspresi menggemaskan. Trissya menghampirinya sambil terkekeh pelan melihat Laureen.
Wanita itu memainkan pipi Laureen yang bulat, "Laureen, saatnya pergi ke sungai suci."
Gadis kecil itu membuka matanya. Masih setengah sadar, Laureen bangkit sembari mengucek kedua matanya. Trissya memperhatikan apa yang dilakukan Laureen.
Gadis kecil itu menatap ibunya sambil merentangkan kedua tangan. Trissya mengerti. Dia memeluk tubuh mungil itu dan menggendongnya keluar.
Trissya bertanya pada pelayannya, "Daeriel mana? Dia harus mengantar Laureen ke sungai suci."
"Yang mulia Daeriel sedang melakukan pertemuan dengan para raja," jawab pelayan.
Trissya dan Laureen saling pandang.
"Ya udah, kita aja yang kesana," ucap Laureen. Trissya tampak berpikir, "Berdua?"
Laureen mengangguk.
Dengan beberapa pertimbangan, Trissya dan Laureen pergi ke sungai suci bersama beberapa pasukan berkuda untuk mengantar mereka. Trissya telah menitipkan pesan pada salah satu pelayan, untuk bilang pada Daeriel, kalau mereka berdua pergi ke sungai suci.
Di sungai suci,
Trissya membasuh tubuh Laureen yang tidak mau melepaskan bajunya.
"Laueen malu, kalo halus buka baju."
Trissya menghela napas panjang, dia membawa Laureen ke tepi sungai dan membiarkannya bermain air bersamanya.
Beberapa ikan melompat-lompat di sekitar mereka. Laureen tertawa senang.
Cuaca yang bagus di sekitar sana. Banyak hewan-hewan yang bermain di tepi sungai. Suara nyanyian burung menenangkan siapa pun yang mendengarnya. Trissya jadi teringat pada Raefal.
Lamunan wanita itu memudar. Trissya melihat langit yang cepat sekali berubah warna. Dia mengangkat tubuh Laureen dan berkata, "Laureen, kita pulang, ya."
Kedua kaki Laureen malah meronta-ronta, "Gak mau, Laueen masih pengen main."
Trissya menurut. Dia menurunkan kembali gadis kecil itu ke air.
Tampaknya malam akan segera tiba. Trissya membawa Laureen ke daratan. Mereka bersiap akan kembali.
Para prajurit yang berada cukup jauh dari mereka mendengar suara aneh. Mereka saling pandang.
Trissya dan Laureen berjalan menuju tempat dimana para prajurit berada. Namun, hari semakin gelap. Matahari di dunia drucless perlahan tenggelam. Keindahan di dekat sungai suci mendadak berubah menjadi menakutkan.
Semua hewan berlarian bersembunyi sebelum mentari benar-benar tenggelam. Ikan-ikan di sungai juga sudah tidak tampak lagi. Mereka berhenti melompat-lompat. Sungai menjadi mendadak sepi seolah tidak ada makhluk hidup yang tinggal di sana.
Suara burung yang indah juga mendadak hilang. Laureen melihat ke sekeliling dengan ekspresi ketakutan.
Pohon-pohon itu berubah bentuk menjadi mengerikan. Rerumputan yang terhampar di tanah menjadi lebih tinggi sebahu manusia dewasa.
Bunga-bunga cantik mengatup kembali dan bersembunyi di sela-sela daun dan batang.
Trissya memeluk Laureen dengan erat.
"Ibu, Laueen takut," bisik Laureen. Trissya mengeratkan pelukannya, "Ada ibu disini."
Mereka berdua melanjutkan melangkah. Matahari benar-benar sudah tenggelam.
Gelap.
Namun, Trissya dan Laureen masih berjalan walau tanpa penerangan. Trissya mengangkat tubuh putrinya dan dia berjalan lebih cepat.
Bulan merah muncul, membuat Trissya semakin takut. Dia berusaha berjalan lebih cepat.
Terdengar suara seperti geraman dari belakang mereka. Trissya yang sangat ketakutan tidak berniat berhenti. Dia juga tidak ingin menoleh ke belakang.
Laureen memeluk erat leher Trissya.
Suara geraman itu terdengar begitu dekat. Laureen menggerakkan kepalanya melihat siapa yang berada di belakang mereka.
Kedua mata kecilnya terbelalak melihat sesuatu itu. Dia menutup matanya.
Trissya mendongkak menatap bulan merah yang sempurna seperti mata seseorang yang begitu besar.
"Ibu jangan dilihat, Dewi Amiless sedang mengawasi kita." Mendengar ucapan Laureen, Trissya semakin takut. Beberapa langkah lagi dia menuruni bukit, dia akan sampai pada para prajuritnya.
Namun, bayangan hitam itu melesat cepat ke depan Trissya dan Laureen. Kedua perempuan itu membelalak ketakutan melihat wujud makhluk asing di depannya.
Tubuh Trissya gemetar menahan rasa takutnya. Dia jatuh terduduk ke tanah. Laureen juga ketakutan. Dia memeluk lengan ibunya.
Aura negatif mengelilingi mereka.
"Datang sendiri padaku."
♥♥♥

10.12 : 02 Oktober 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1