DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Segel Drucless


__ADS_3

Elleanor memetik beberapa bunga di taman. Wanita itu memasukkan bunga-bunga tersebut ke keranjang ditangannya. Tanpa dia sadari, seseorang tengah menatapnya dari kejauhan. Pria itu adalah Raefal bersama Geross.


Elleanor menoleh, seketika tubuhnya membeku melihat putra yang sangat dia rindukan selama ini. Buliran bening itu lolos menetes membasahi pipinya. Dengan cepat, Raefal berpindah tempat. Pria itu berada di depan Elleanor. Tangannya mengusap pipi sang ibu.


Elleanor tersenyum bahagia sambil menyentuh tangan besar putranya. Raefal memeluk Elleanor. Wanita itu juga membalas pelukan pangeran Raefal. Geross yang salah tingkah membungkukkan badannya kepada Elleanor. Wanita itu mengangguk.


Geross mengilang di susul pergerakan rerumputan yang tertiup angin.


Elleanor membawa Raefal ke dalam rumah sederhana itu. Mereka berbicara untuk melepaskan kerinduan seorang ibu pada seorang anak.


Raefal tidak melihat keberadaan ayahnya, sehingga dia bertanya, "Ayah dimana, Bu?"


"Semenjak tinggal di tempat ini, ayahmu sering mendatangi kuil. Dia berubah menjadi lebih baik."


Raefal mengangguk paham.


"Kamu sakit?" Tanya Elleanor sambil menangkup wajah putranya. Raefal tesenyum sambil menggeleng pelan, "Aku gapapa, Bu."


"Wajah kamu keliatan pucat. Daeriel ngusir kamu dari istana?" Tanya Elleanor. Raefal menggeleng, "Aku pergi dari istana, karena kemauan aku sendiri. Dia gak ngusir, tapi aku gak bakalan nyaman juga tinggal sama dia."


Elleanor terlihat sedih, "Ibu sudah tahu semuanya, Raefal. Para prajurit yang datang menceritakan apa yang mereka tahu pada kami."


Raefal menatap ibunya. Wanita itu tersenyum, "Raefal, Ibu akan mendukung kamu. Keputusan ada di tangan kamu."


Raefal menggenggam tangan ibunya, "Ibu."


Setelah hari mulai malam, Raefal memilih untuk kembali ke tempat Geross. Dia berpamitan pada ibunya.


"Setidaknya tunggu ayah kamu kembali," kata Elleanor. Raefal menjawab, "Sampaikan salamku ke ayah."


Setelah mendapatkan anggukkan dari ibunya, Raefal menghilang. Rambut panjang Elleanor yang mulai memutih itu bergerak.


Setibanya di tempat Geross, Raefal berjalan pelan dan baru beberapa langkah, tubuhnya terhuyung dan jatuh. Beberapa tabib pria yang sedang berada di luar gubuk terkejut melihat Raefal yang datang lalu jatuh. Mereka menghampirinya dan membawa tubuh lemah itu ke dalam gubuk.


Salah satu dari mereka memanggil Geross dari kuil. Pria tua itu segera kembali ke gubuk dan melihat keadaan Raefal.


"Air suci!" Teriak Geross. Mereka segera membawa satu wadah besar yang isinya air suci.


"Tabib pria di dalam. Tabib wanita buat ramuan," perintah Geross. Semua melaksanakan sesuai instruksi.


Geross membuka seluruh pakaian Raefal. Para tabib pria membasuh tubuh Raefal dengan air suci.


"Tidak ada gunanya, sepertinya tubuh pangeran Raefal sudah tidak bisa menerima air suci."


Geross mulai cemas. Namun, pria tua itu teringat pada sesuatu, "Natrissya!"


Dengan gegas, pria tua itu keluar dari gubuk da menghampiri para tabib wanita yang sedang meramu tanaman obat.


"Kamu, sini." Geross menggerakkan tangannya. Salah satu dari mereka menghampirinya.


"Bawa Natrissya kemari, katakan ini serius dan bilang saja, Raefal sangat membutuhkan dia."


Wanita itu mengangguk. Temannya yang sedang memetik dedaunan menoleh, "Waktu aku mendatangi gadis itu, dia menolak mentah-mentah."


Geross membuang napas kasar, "Kali ini harus bisa."


~


Di dunia manusia.


Setelah tidak ada lagi kasus pemerkosaan dan pembunuhan, Trissya kembali ke rumahnya. Dia beraktivitas seperti biasanya di rumah itu.


Pagi ini, Trissya memasak orek tempe untuk sarapan. Setelah orek tempenya matang, dia teringat dengan sambel terasi kaleng di lemari dapur. Gadis itu membuka lemari dapurnya. Dia tidak menemukan apa yang dicarinya.


Gadis itu menghela napas panjang  lalu menutup pintu lemari dapur. Dia tersentak karena keberadaan wanita muda dibalik pintu lemari.


"Aaa! Kamu siapa!" Teriak Trissya yang terkejut. Wanita itu tersenyum hangat.


Trissya mendengus kesal, "Kamu pasti temennya tabib perempuan yang kemaren, kan? Pokoknya aku gak mau ketemu Raefal lagi."


"Maaf aku ganggu kamu. Aku kemari atas permintaan pangeran Raefal. Ini serius, dia benar-benar membutuhkan kamu. Aku harus membawa kamu kepada pangeran Raefal."


Ekspresi Trissya berubah menyendu kala mendengar nama itu. Ada rasa rindu yang menggelitik hatinya.


"Aku..."


Belum sempat Trissya menyelesaikan kalimatnya, Lisna datang dengan ekspresi panik.


"Trissya, neng Rahma meninggal pagi ini."


Trissya dan tabib wanita itu menoleh. Lisna yang melihat keberadaan tabib itu kebingungan.


"Siapa atuh, neng geulis ini?" Tanya Lisna sambil mengusap lengan wanita itu. Yang mendapat reaksi menoleh pada Trissya. Gadis itu kelabakan, "Ah? Itu, Bi... temen Trissya dari Jakarta."


"Oh, kapan dateng?" Tanya Lisna. Wanita itu tersenyum, "Baru aja, Tante."


"Ah, jangan manggil tante, atuh. Bibi mah geus kolot, panggil Bibi aja kayak Trissya."


Wanita itu mengangguk santun.


Lisna memakai kembali sendal jepitnya, "Ya udah, Bibi mau ke rumah neng Rahma, ya."


"Bibi, Trissya ikut, ya."


"Jangan atuh, masa kamu mau ninggalin temen kamu."


Wanita itu segera menimpali, "Gapapa, Bi. Aku ikut juga, deh."


Trissya menoleh pada wanita itu. Mereka bertiga mendatangi rumah Rahma. Terlihat orang tua Rahma begitu sedih karena putri semata wayang mereka meninggal dunia.


"Nama kamu siapa?" Bisik Trissya. Wanita itu menoleh sebentar, "Dharaa."


Trissya menarik tangan Dharaa untuk masuk ke ruang pemandian, "Kita mandiin jenazahnya, ya."


Dharaa mengangguk. Ada 4 orang di ruangan tersebut. Ketika kain putih dibuka, Dharaa terkejut melihat segel kepemilikan yang tercetak jelas di leher Jenazah Rahma.


Tanpa sadar, wanita itu bergumam pelan, "segel Drucless."


Ketiga pasang mata menoleh padanya. Dharaa tersenyum kaku. Trissya mengerutkan keningnya.


Setelah jenazah disemayamkan, Trissya dan Dharaa kembali ke rumah.


"Kamu tadi bilang segel drucless, setelah melihat jenazah Rahma, maksudnya?" Tanya Trissya.


"Ada drucless yang memperkosa gadis itu. Sebelumnya, drucless itu memberikan tanda kepemilikannya dengan segel di leher."


Trissya mencerna kata-kata Dharaa, "Segel?"


Dharaa mengangguk cepat, "Di dunia drucless, segel kepemilikan diberikan oleh pria drucless pada wanitanya atau istrinya sebagai tanda perkawinan yang sah. Caranya adalah menggigit leher wanitanya dengan taring yang tersembunyi. Akan ada segel yang muncul dari bekas gigitan itu. Fungsi segel tersebut adalah untuk berjaga-jaga agar wanitanya tidak bersentuhan dengan drucless lain (tidak selingkuh). Jika wanita drucless yang sudah memiliki segel kemudian sedikit saja bersentuhan tangan dengan pria lain, maka akan ada perlawanan seperti magnet yang saling menolak untuk bersentuhan."


"Jadi, itu juga berlaku pada manusia?" Tanya Trissya.


Dharaa tampak berpikir, "Aku rasa, iya. Ada hukumnya jika drucless berhubungan intim dengan manusia, maka tidak berselang lama setelah berhubungan, tubuh si manusia akan kembali seperti semula, alias gak ada bekas telah melakukan hubungan itu. Tapi, kalo drucless memberikan segel kepemilikan pada si manusia lalu melakukan hubungan itu, maka manusia tersebut tidak akan kembali seperti semula karena segel tersebut."


Trissya menelan saliva karena cemas. Dharaa menatap Trissya dengan serius, "Waktu aku megang tubuh Rahma, aku bisa tahu siapa drucless yang udah nyentuh dia."


Trissya menatap Dharaa tak kalah serius. Dia menunggu jawaban dari wanita itu.


"Daeriel Amzar Zeroun."


Seketika bulu kuduk Trissya merinding mendengar nama itu. Dharaa menyentuh pipi Trissya.


"Ada bekas tangannya disini."


Trissya terkejut.

__ADS_1


"Aku bisa melihat ada banyak jejaknya di rumah kamu. Apa kamu gak menyadari keberadaannya?" Tanya Dharaa. Trissya menggeleng cepat.


"Mungkin dia lagi ngawasin kamu. Tapi, apa tujuannya?"


"Aku gak tahu. Jadi, kamu bisa melihat jejak drucless juga?"


"Semua drucless bisa."


"Jejak Daeriel yang paling jelas dan paling banyak dimana?"


"Kamar kamu."


♥♥♥


Sampai hari di dunia drucless menjelang pagi, Geross belum melihat tabib perempuan suruhannya kembali. Pria tua itu berdiri di depan gubuk dengan ekspresi was-was.


Ketika Geross berbalik, dia mendengar suara Dharaa.


"Kakek Tabib!"


Geross menoleh. Ternyata Dharaa kembali bersama Trissya. Wanita itu melambaikan tangannya. Geross menghela napas lega.


Tanpa ba-bi-bu, Geross menyuruh Trissya masuk ke dalam gubuk. Beberapa tabib pria keluar dari dalam sana untuk memberikan waktu kepada Trissya dan Raefal.


Trissya melihat tubuh pria itu terbaring lemah di atas tempat tidur sederhana. Bagian bawah tubuh telanjangnya yang kekar itu tertutup kain putih. Trissya menyentuh dadanya, jantungnya berdegup kencang melihat pria itu. Pria yang sangat dia rindukan, meskipun Trissya tidak ingin mengakuinya.


"Selamatkan dia, nak," ucap Geross. Trissya menoleh pada pria tua itu, "Ba-bagaimana caranya? Aku hanya manusia biasa."


"Berikan dia energi kehidupan dari kamu. Dia sudah ketergantungan dengan diri kamu. Kamu pasti mengerti maksud Kakek, kan?"


Trissya menelan saliva.


Geross mengangguk hormat kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua. Trissya menghela napas berat. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


Trissya melangkahkan kakinya mendekati Raefal. Tangannya bergerak menyentuh wajah tampan pria itu. Trissya merasakan betapa dinginnya tubuh Raefal. Gadis itu menyentuh dada Raefal. Dia masih bisa merasakan detak jantung Raefal yang melemah.


Trissya mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Raefal. Air matanya menetes ke wajah Raefal.


Gadis itu sangat mencemaskan Raefal. Trissya tidak merasakan ada perubahan dari suhu tubuh Raefal. Dia melepaskan tautan bibirnya. Gadis itu mengusap leher Raefal sambil menangis tertahan.


"Raefal, please jangan kayak gini. Aku mau kamu bangun dan membuat kekonyolan lagi." Trissya mengguncangkan tubuh Raefal. Tidak ada reaksi.


Gadis itu menarik tubuh Raefal agar bangkit duduk. Trissya menarik tubuh Raefal ke pelukannya.


Gadis itu menyenandungkan sesuatu, "Hem... hemm... hemmm..." Senandung yang biasa didengarnya dari bibir Raefal.


Tiba-tiba Raefal membuka matanya. Pria itu terkejut karena berada dalam pelukan Trissya. Energi dari tubuh gadis itu berpindah ke Raefal, sehingga dia terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Raefal segera memeluk gadis itu.


"Natrissya," bisik Raefal di telinga Trissya.


Raefal memegang kedua lengan Trissya dan melihat wajah tenang itu. Pria itu tampak bahagia melihat gadis yang beberapa tahun (di dunia drucless) ini dia rindukan. Raefal tersenyum sendu.


"Makasih udah dateng. Aku bahagia ngeliat kamu disini. Ternyata kamu masih sayang sama aku." Raefal memeluk kembali tubuh lunglai itu.


Raefal melihat wadah besar berisi air suci. Pria itu segera membaringkan tubuh Trissya ke tempat tidur. Dia turun dari tempat tidur, namun kain putih yang menghalangi bagia bawah tubuhnya ikut turun.


"Ah?" Pria itu baru menyadari, jika dia sedang bertelanjang. Raefal segera mengambil kain putih itu dan melilitkannya ke pinggang seperti handuk.


Raefal mengambil air dari dalam wadah itu kemudian mengusapkannya ke wajah, tangan, dan kaki Trissya. Dia harap, Trissya akan sadar.


"Trissya?"


Gadis itu bangun dan melihat Raefal di depannya. Pria itu menatapnya dengan ekspresi cemas. Trissya tersenyum, Raefal juga. Mereka saling memeluk.


Trissya menangis dalam dekapan Raefal, membuat pria itu heran.


"Kenapa kamu nangis?" Tanya Raefal sembari melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu. Trissya mengusap air matanya, "Aku kira, kamu mau mati, tadi."


Raef tersenyum sendu sambil mengusap perut kotaknya. Trissya mengalihkan pandangannya kearah lain.


Raefal mengerutkan dahinya. Trissya merasa sangat lemas dan mengantuk. Dia merebahkan tubuhnya dan tertidur begitu cepat. Raefal hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.


♥♥♥


Ketika bangun, Trissya mendapati dirinya berada di dalam rumah. Sejak kapan? Dia ingat terakhir kali berada di perbatasan antara dunia manusia dengan dunia drucless. Bagaimana bisa sekarang dia berada di kamarnya?


Gadis itu bangkit dari tempat tidur dan melihat ke sekeliling. Ada Raefal yang terlelap di sofa kamarnya. Gadis itu tersenyum melihat Raefal dalam keadaan tidur seperti itu. Sangat tampan.


Trissya berlalu keluar dari kamar tersebut sambil mengucek matanya.


"Kamu mau kemana?"


Langkah Trissya terhenti mendengar suara Raefal. Gadis itu menoleh pada pria yang sekarang sudah membuka matanya.


"Kamu pura-pura tidur?" Tanya Trissya. Raefal bangkit untuk duduk, "Aku denger suara kaki kamu."


Trissya menggeleng sambil tersenyum. Dia melanjutkan langkahnya ke dapur. Raefal bangkit dari sofa lalu menyusul Trissya.


Gadis itu menuangkan air ke dalam gelas lalu meneguknya sampai habis.


"Trissya...."


Gadis itu menoleh. Raefal menatapnya dengan sendu, "Apa kamu masih ingat, aku pernah bilang, kalau aku cinta sama kamu? Dan kamu juga pernah bilang cinta sama aku."


Kedua pipi Trissya merona karena pertanyaan Raefal. Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah lain.


"I-iya."


"Bagaimana perasaan kamu sama aku? Apakah masih sama?" Tanya Raefal semangat. Gadis itu tersenyum, "Aku ju..."


Bayangan Qwella terbesit dalam ingatannya. Wanita itu pasti akan datang padanya dan menghipnotisnya lagi. Raefal mendekat sambil memiringkan kepalanya, menunggu jawaban dari Trissya.


"Aku mau denger," kata Raefal. Kedua tangannya menggenggam tangan Trissya dengan erat. Gadis itu menatap Raefal.


"Aku gak tahu harus bilang apa. Aku takut," gumam Trissya pelan kemudian mengalihkan matanya agar tidak bertatapan langsung dengan Raefal. Pria itu menyentuh lengan Trissya agar kembali menatapnya.


"Bilang aja. Kamu gak perlu takut. Aku ada disini." Raefal berusaha menenangkan Trissya.


Kedua mata gadis itu bergetar. Lalu dia berkata, "Sebenarnya... aku juga suka sama kamu. Tapi, kita beda dunia, Raefal."


Raefal begitu bahagia dengan jawaban Trissya. Dia memeluk gadis itu dengan erat. Trissya membalas pelukan pria itu. Dia mengusap punggung kekar milik Raefal.


"Aku gak peduli meski kita beda dunia. Aku bahagia karena aku mencintai perempuan yang mencintaiku juga," bisik Raefal.


"Kamu bisa lebay juga, ya?" Trissya bertanya dengan nada polos. Raefal melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu kemudian tertawa, "Kamu pernah bilang, kalo kamu suka aku yang begini, kan?"


Trissya terkekeh kecil.


Hening.


"Kamu gak mau kembali ke rumah aku?" Tanya Raefal. Trissya menggeleng, "Aku udah nyaman di rumah peninggalan orang tua aku ini. Aku ngerasa bener-bener di rumah."


"Jadi, kamu gak mau tinggal sama aku lagi?" Tanya Raefal dengan ekspresi sedih, seperti anak kecil.


Trissya terkekeh sambil menepuk pipi Raefal karena gemas, "Aku punya bibi Lisna yang tinggal sendirian di rumahnya. Aku gak tega kalo harus ninggalin bibi aku lagi."


"Aku tinggal disini boleh?" Tanya Raefal. Trissya berpikir sebentar, "Boleh, asal jangan aneh-aneh."


Raefal tersenyum lebar, "Enggak, kok. Lagian aku udah punya cukup energi kalo deket sama kamu."


Trissya memutar bola matanya, "Kalo kamu aneh-aneh, awas aja."


~


Beberapa hari kemudian,

__ADS_1


Trissya dan Raefal sedang berada di ruang tengah. Gadis itu duduk di atas paha Raefal. Sementara pria itu meletakkan dagunya ke bahu Trissya. Mereka sedang menikmati pemandangan sore.


"Apa kamu pernah kepikiran nikah sama aku?" Tanya Raefal. Trissya terlihat sedih. Dia menarik kedua tangan Raefal dan melingkarkannya ke perutnya.


"Aku gak tahu."


"Kalo kita nikah, kamu mau ikut sama aku, atau aku yang ikut sama kamu?" Tanya Raefal.


"Kalo kamu ikut sama aku?" Tanya Trissya. Raefal mencium leher Trissya, "Itu artinya aku harus tinggal di dunia manusia dan berbuat seperti manusia."


"Kalo aku ikut sama kamu?"


"Kamu harus tinggal bersamaku di dunia drucless dan mengikuti peraturan sebagai istri dari seorang drucless."


Trissya menghela napas berat, "Kalo aku ikut sama kamu, aku takut sama Daeriel dan Qwella."


Raefal tidak merespon. Dia masih mendengarkan perkataan Trissya.


"Aku takut mereka melakukan hal jahat ke aku. Mereka pastinya gak akan senang lihat aku sama kamu," sambung Trissya.


Raefal mengeratkan pelukannya ke perut Trissya, "Aku sudah janji bakalan ngelindungin kamu. Jadi, kamu gak perlu khawatir."


"Mereka bisa mengendalikan pikiran orang. Aku takut."


"Selama kamu bersamaku, semuanya akan baik-baik saja."


Hening.


Matahari tenggelam di sela-sela perbukitan. Cahaya jingganya mulai menghilang dan berganti dengan kegelapan.


"Kalo kita nikah, kamu pengen punya anak berapa?" Tanya Raefal.


Trissya sedang memikirkannya, "Aku ingin dua anak perempuan yang lucu. Aku bisa dandanin mereka tiap hari." Gadis itu membayangkan wajah imut balita perempuan yang gendut di pelukannya.


Raefal mengernyit, "Kamu gak mau punya anak laki-laki?"


Trissya mengangguk semangat, "Mau juga, tapi nanti aja jadi adeknya yang perempuan tadi."


"Aku mau dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Jadi, abang-abangnya bakalan jagain adek perempuannya."


Trissya terkekeh, "Kebalik, ya, sama aku."


"Gapapa, perempuan atau laki-laki sama aja anak kita."


Trissya tersenyum dengan pipi merona membayangkan mereka menikah dan memiliki tiga orang anak yang lucu-lucu.


"Jadi, kapan kita nikah?" Tanya Raefal. Trissya menarik bibirnya sambil berpikir, "Nikah itu gak gampang."


"Susahnya apa?" Tanya Raefal. Trissya menyela, "Kita perlu banyak persiapan."


"Aku udah siap segala-galanya," sahut Raefal cepat. Trissya menoleh pada Raefal, "Ah, kamuuu. Emangnya kamu siap apanya?"


"Siap bikin anak. Sekarang juga bisa."


"Raefal!!!"


~


Istana Zeroun.


Perut Qwella benar-benar besar. Wanita itu menatap pantulan dirinya di cermin. Meskipun tubuhnya terlihat lebih berisi, tapi Qwella tetap terlihat cantik. Bahkan kehamilannya itu membuatnya tampak semakin cantik.


Qwella menyentuh perutnya, "Beberapa tahun lagi. Hanya beberapa tahun lagi, kamu akan lahir. Aku akan segera mendapatkan Raefal. Kamu akan bersama Daeriel, jangan harap kamu bisa manggil aku ibu. Kamu diam di perut aku hanya numpang selama dua tahun."


Qwella menghela napas berat. Dia berjalan pelan menuju ruang utama di istana itu. Wanita itu tidak melihat keberadaan Daeriel. Entah kemana pria itu pergi. Dia bertanya pada salah seorang pelayan.


"Hei, kamu."


Pelayan itu membungkuk sambil menghampiri Qwella, "Saya, Ratu."


"Dimana Raja Daeriel?" Tanya Qwella. Pelayan menjawab tanpa berani menatap sang ratu, "Beliau keluar bersama tabib."


"Tabib? Siapa?"


"Saya kurang tahu," jawab pelayan itu. Qwella mengangguk, "Sana, kerja lagi."


Wanita itu mendengus kesal.


Sementara itu,


setelah Daeriel berbicara dengan tabib, dia mendatangi taman bunga, tempat Baltazar dan Elleanor berada. Di depan rumah sederhana itu, Daeriel berdiri melihat ibunya sedang menuangkan air di dapur. Pria itu melangkah menaiki tangga beranda.


Mendengar suara kaki di lantai kayu rumah itu, Elleanor menoleh. Dia melihat pria tinggi itu berdiri disana dengan ekspresi tidak terbaca.


Wanita itu sangat merindukan putranya. Dia melangkah mendekati Daeriel dengan air mata berlinang. Dengan lembut, Elleanor menyentuh wajah Daeriel. Pria itu menutup matanya.


"Putraku," gumam Elleanor. Suaranya bergetar tertelan rasa sesak yang mendera dadanya. Wanita itu menubruk memberikan pelukan seorang ibu pada Daeriel. Pria itu membuka matanya tanpa berniat membalas pelukan sang ibu.


"Kenapa kamu baru datang sekarang? Apakah begitu besar rasa marahmu pada Ibu?" Tanya Elleanor dengan suara terisak.


"Aku tidak marah," jawab Daeriel datar. Wanita itu melepaskan pelukannya dan mendongkak menatap wajah kokoh putranya.


"Dari nada bicaramu, Ibu tahu, kamu marah sama Ibu."


"Aku datang kemari karena mendengar dari prajurit, kalau Ibu ingin bertemu putramu. Aku sekarang disini. Ibu mau apa?" Ucapan sarkas Daeriel melukai hati Elleanor.


Elleanor berbalik membelakangi putranya sambil mengusap wajahnya yang basah karena air mata yang tiada hentinya mengalir.


"Apa salah, jika seorang ibu ingin bertemu anaknya sendiri?"


"Tidak, tapi salah, jika seorang ibu membedakan kasih sayangnya terhadap dua anak kandungnya sendiri," kata Daeriel cepat.


Elleanor berbalik menatap putranya, "Kenapa kamu berkata begitu? Apa kamu berpikir, kalau Ibu lebih menyayangi Raefal?"


"Iya, semenjak Raefal hadir di dalam istana, semua mata tertuju padanya. Termasuk Ibu dan ayah. Aku benar-benar menderita ketika berusaha mempertahankan posisiku." Daeriel menyentuh dadanya, menandakan rasa sakit itu masih ada disana.


Elleanor menggeleng. Dia ingin berkata, namun lidahnya kelu karena tangisannya lebih memberatkan.


"Apa yang sebelumnya milikku, menjadi milik Raefal. Itu tidak adil, Bu."


"Daeriel..."


Pria itu menyela, "Dengan keberadaan Raefal, aku bukan lagi pangeran tunggal. Dia selalu membuat posisiku bermasalah. Dia merebut semuanya. Merebut Ibu, merebut ayah, merebut pujian semua orang dariku, dia merebut pandangan kagum para raja dariku. Dia terlahir sebagai perebut kebahagiaanku!"


"Daeriel! Apa yang kamu maksud merebut! Mengambil kekasih adikmu dua kali, apa itu bukan merebut!" Teriak Elleanor menggelegar.


Daeriel seketika membungkam diri.


"Kamu sudah mengendalikan pikiranku ayah kamu untuk mendapatkan Qwella! Dan kamu juga mau merebut gadis dari dunia manusia itu?! Padahal kamu tahu, gadis itu kekasihnya Raefal! Apa kau bukan seorang perebut?!"


Daeriel mendecih, "Ya, aku akan melakukannya, Bu. Ini adalah balasan untuk Raefal."


Setelah mengatakan itu, Daeriel berlalu pergi.


"Daeriel! Berhenti mengganggu adikmu!"


Pria itu menghilang disusul terpaan angin pelan.


♥♥♥


11.03 : 26 September 2019


By Ucu Irna Marhamah


 

__ADS_1


 


__ADS_2