DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Raefal Agler Zeroun


__ADS_3

*~Tida*k menyukai seseorang adalah wajar. Tapi, mengganggu hidup orang lain itu tidak waras.~


♥♥♥


 


"Raefal? Kamu dimana? Kamu udah sembuh?" Trissya mencari Raefal. Dia membuka pintu kamar mandi. Tidak ada Raefal disana. Gadis itu mencari Raefal ke setiap ruangan.


Ketika Trissya memasuki kamarnya, dia terkejut mendapati Raefal sedang duduk di tepi tempat tidurnya dengan kepala tertunduk dalam.


"Kamu ngapain di kamar aku?" Tanya Trissya. Gadis itu tidak mendapatkan jawaban. Trissya menghampiri Raefal dan menyentuh bahu pria itu dengan lembut.


"Ya udah, kalo kamu mau tidur disini, tidur aja. Udah malem."


Trissya berbalik untuk keluar dari kamar tersebut. Ketika dia sampai di pintu, tiba-tiba pintunya tertutup dengan sendirinya. Gadis itu berbalik dan terkejut, karena Raefal sudah berada di depannya bersamaan dengan angin yang berhembus.


Pria itu yang menutup pintu dengan kemampuannya. Raefal menatap Trissya dengan intens. Dia memenjarakan Trissya dalam kungkungannya. Gadis itu sedikit risih. Trissya menahan dada Raefal yang merapat ke tubuhnya. Dia merasa situasi tersebut agak sensitif.


"Trissya, aku membutuhkan dirimu sekarang. Aku kehabisan tenaga. Aku ingin kau membantuku," bisik Raefal terdengar serak di telinga Trissya. Untuk pertama kalinya dia mendengar Raefal bicara 'aku kamu'.


Trissya mendorong dada Raefal. Tapi, pria itu sama sekali tidak goyah dari tempatnya. Raefal mendekatkan wajahnya. Gadis itu semakin tidak nyaman. Raefal menghirup aroma dari leher Trissya membuat gadis itu merinding.


Trissya menahan bahu pria itu, "Raefal, aku harus tidur, minggirlah."


"Aku mohon, aku membutuhkanmu."


Trissya mendongkak menatap Raefal dengan mata bergetar, "Baiklah, kamu perlu apa?"


Raefal masih menatap Trissya dengan intens. Pria itu menyatukan dahi mereka membuat Trissya gugup setengah mati. Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.


Warna mata Raefal berubah jadi biru. Trissya mulai merasa takut dengan perubahan ekspresi Raefal.


"Aku ingin menyentuh tubuhmu. Aku membutuhkannya. Malam ini saja, relakan tubuhmu untukku."


Seketika Trissya mendorong dada Raefal, "Jangan macam-macam!" Gadis itu membuka pintu. Namun dengan cepat, Raefal sudah berada di depannya. Rambut Trissya bergerak seolah mendapat tiupan angin ketika Raefal melewatinya secepat kilat. Trissya terkejut.


Raefal memeluknya dengan erat. Gadis itu mulai merasa takut. Dia berusaha melepaskan diri dari Raefal, "Kamu apa-apaan! Jangan gini, please!"


Raefal tidak berniat melepaskan pelukannya. Dia mengecup leher Trissya dengan agresif. Gadis itu memukul bahu Raefal.


Pria itu menatap Trissya dengan mata biru yang masih menyala, "Sekali ini saja, setelah ini aku bakalan pergi dari hidup kamu."


"Aku gak mau!"


"Aku janji gak akan ninggalin bekas!"


"Raefal!" Trissya berteriak ketika Raefal menjatuhkan tubuhnya sendiri ke tempat tidur. Alhasil Trissya **** tubuh Raefal. Pria itu mengubah posisi jadi berada di atas Trissya.


"Raefal! Aku mohon, lepasin aku!" Teriak Trissya. Raefal mendekatkan wajahnya, "Maaf, aku membutuhkan energi melalui tubuh kamu."


Trissya mengalihkan pandangannya ke samping ketika Raefal akan menciumnya. Jadinya ciuman pria itu mendarat di pipi Trissya.


"Tolooong!!" Trissya berteriak kencang. Namun, Raefal menangkup wajah Trissya dan mengecup bibirnya dengan mendadak. Gadis itu terbelalak. Ciuman pertamanya direnggut Raefal, pria yang sama sekali bukan siapa-siapa baginya. Trissya berontak.


Kedua mata mereka bertemu. Raefal merasa jika tubuhnya semakin bertenaga ketika bersentuhan langsung dengan Trissya. Gadis itu memukul dada Raefal sambil menangis tertahan. Pria itu melepaskan ciumannya dengan napas tersengal-sengal.


Trissya menggeleng sambil menangis karena sikap buas Raefal yang tiba-tiba.


Pria itu kembali melumat bibir Trissya dengan penuh penuntutan. Gadis itu memukuli dada Raefal. Pukulannya melemah seiring tenaganya yang tiba-tiba berkurang seolah terkuras habis tanpa sebab.


Trissya tidak tahu, kalau Raefal sedang mengambil energi dari tubuhnya untuk bertahan hidup. Merasakan Trissya yang sudah tidak bisa melawan, Raefal melepaskan tautan bibir mereka. Pria itu menatap gadis muda yang berada di bawahnya. Trissya terlihat begitu lemas. Gadis polos itu belum pernah melakukan hal sampai sejauh itu selama ini. Berbeda dengan Raefal yang sudah berkali-kali berganti wanita.


Wajah sayu Trissya membuat Raefal semakin menginginkannya. Pria itu menurunkan pakaian Trissya lalu menyesap leher gadis itu.


"Rae-Raefal... jangan lakukan ini... aku mohon."


Raefal menatap Trissya cukup lama, "Aku janji, ini gak akan sakit."


"Aaaaaa!!!!!!"


♥♥♥


Trissya membuka matanya dengan perlahan. Dia merasakan ada beban berat yang **** tubuhnya yang terasa begitu sakit. Ternyata Raefal yang terlelap di atasnya. Gadis itu merasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan tubuh Raefal. Sebuah ingatan terbesit dipikirannya. Kejadian semalam dimana Raefal memaksanya untuk melakukan hubungan terlarang itu. Trissya mengingat jelas sakit luar biasa yang berkali-kali diterimanya karena perbuatan Raefal. Buliran bening menetes dari sudut matanya. Raefal telah mengambil kesuciannya.


Raefal terbangun karena merasakan tubuh Trissya yang berguncang. Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya dan menatap gadis mungil yang berada di bawahnya. Trissya tidak ingin melihat wajah Raefal. Dia masih menatap kearah lain sambil menangis tanpa suara. Raefal menyentuh rambut Trissya. Ada rasa bersalah yang menyelimuti perasaannya. Jujur saja, Raefal merasa sangat beruntung karena Trissya pertama kali berhubungan dengan pria, yaitu dirinya.


Raefal mengerti, ini adalah pertama kalinya untuk Trissya. Gadis itu pasti syok berat. Semalam adalah ingatan yang buruk bagi Trissya. Sebaliknya, Raefal merasa sangat puas karena berkali-kali menuntaskan hasratnya pada gadis polos itu.


Raefal mengecup lembut bibir gadis itu yang sedikit terbuka. Tidak ada perlawanan dari Trissya yang sudah putus asa. Pria itu bangkit dari tempat tidur. Tubuh polosnya tampak terpahat dengan sempurna. Raefal mengambil pakaian dari lantai lalu memakainya.


Raefal menatap pantulan dirinya lewat cermin dengan mata birunya. Kotak-kotak diperutnya tampak menonjol, menggambarkan kesan maskulin. Raefal merasa tubuhnya lebih bertenaga sekarang. Sebaliknya, Trissya merasa sangat lemas. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan tangannya.


"Aku sudah nolongin kamu. Tapi, kenapa kamu malah ngelakuin ini?" Tanya Trissya dengan suara yang menyayat. Gadis itu bergerak pelan sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Dia menutupi dadanya yang terbuka dengan kedua tangan seolah memeluk tubuhnya sendiri. Seakan-akan tidak ingin tubuhnya dilihat oleh Raefal.


Padahal semalam Raefal sudah melihat dirinya sepenuhnya.


Raefal yang menatap pantulan Trissya dari cermin benar-benar merasa sakit dengan pertanyaan gadis itu. Dia berbalik lalu menyelimuti tubuh telanjang Trissya, "Maaf, aku gak ada pilihan lain. Kamu gak perlu khawatir, kita beda dunia. Gak lama lagi, tubuh kamu akan kembali seperti semula."


Trissya menatap Raefal dengan mata bergetar, "Jika iya, itu bukan masalah. Tapi, ingatan ini masih ada dalam kepalaku. Aku masih mengingat apa yang udah kamu lakuin. Ini membuatku terluka. Jika bisa, hapus ingatan ini. Semua ingatan tentang kamu."


Itu berarti Trissya akan melupakan Raefal. Pria itu tidak ingin Trissya melupakannya. Entah kenapa, dia merasa sangat terluka dengan ucapan Trissya.


Tatapan Trissya padanya menyiratkan rasa takut, rasa sakit, dan rasa kecewa. Raefal tidak berani melihat wajah itu terlalu lama. Dia lebih dulu memutuskan kontak mata dengan Trissya.


"Terima kasih, Trissya. Jika keberadaanku membuatmu terluka, aku akan pergi. Tapi, jangan melupakan apa yang pernah kita lakukan." Setelah mengatakan itu, Raefal mengecup bibir Trissya beberapa saat lalu menghilang dari penglihatan Trissya. Gadis itu semakin histeris.


Sesudah itu, Raefal pergi ke istana Zeroun untuk mencari Daeriel. Dia mengenakan jubah biru gelap miliknya sebagai tanda keperkasaan seorang pria drucless.


Sesampainya di istana Zeroun, kebetulan sekali, Raefal melihat Baltazar dan Elleanor yang berada disana. Qwella juga ada. Raefal sangat merindukan wanita itu.


Kerajaan Zeroun sedang melakukan ritual penyerahan tahta kepada pangeran mahkota.


Raefal melihat mahkota ayahnya yang kini pindah tangan kepada kakaknya. Yang membuat Raefal terkejut, adalah semua mata orang di ruangan itu berwarna merah tua. Daeriel sedang mengendalikan pikiran mereka semua.


Pria itu tersenyum melihat kedatangan adiknya, "Sudah balik lagi, Raefal? Gimana manusia cantik itu? Apa dia sehebat Qwella?"


Raefal mengalihkan pandangannya kearah lain untuk menghindari kontak mata dengan kakaknya.


"Kayaknya dia cuma gadis polos yang gak tahu apa-apa," ujar Daeriel. Ucapan Daeriel memang benar. Itu membuat Raefal semakin merasa bersalah.


"Lo udah dapet kerajaan ini. Lo bisa lepasin ayah, ibu, sama Qwella sekarang," kata Raefal tanpa mau menoleh sedikit pun.


Daeriel mendecih kasar, "Qwella juga tujuan gue."

__ADS_1


Raefal menatap Daeriel dengan matanya yang berubah jadi biru, "Lu cuma pengen kerajaan ini, kan?! Lu bisa ngendaliin mereka semua! Tapi, lu gak boleh ngendaliin orang tua kita! Qwella juga!"


"Terserah gue, dong." Tiba-tiba Daeriel berada di belakang Raefal dan menendang punggungnya dengan keras. Pria itu terpelanting membentur dinding hingga retak. Raefal menyentuh dadanya sambil meringis kesakitan.


"Percuma lu kemari. Lu juga tahu, kan, kemampuan gue jauh di atas lu."


Raefal bangkit dan melihat Daeriel mengendalikan Qwella yang sekarang berjalan kearahnya. Raefal mendongkak menatap wanita itu.


"Qwella, ini aku, Raefal! Qwella!"


Wanita itu mengarahkan telapak tangannya. Raefal menggeleng ketika telapak tangan wanita itu mengeluarkan banyak air. Tubuhnya mengejang saat menyentuh air milik Qwella. Wanita itu seketika tersadar dan mengejang karena air miliknya bersentuhan dengan tubuh Raefal yang memiliki kekuatan petir..


Mereka berdua jatuh terduduk ke lantai. Daeriel tersenyum sinis melihat kedua orang itu kini sedang saling menatap.


"Raef, maafin aku!" Qwella memeluk Raefal dengan eratnya. Pria itu membalas pelukan Qwella. Namun tiba-tiba tubuh mereka terpental jauh. Segel drucless milik Daeriel muncul di leher Qwella. Raefal terbelalak melihat itu. Dia menatap tajam kearah kakaknya.


Daeriel mengedikkan bahu dengan santai. Raefal bangkit dan secepat kilat berteleportasi ke belakang Daeriel. Pria itu melayangkan pukulannya. Daeriel menghindar dengan mudah dan memukul perut Raefal hingga terlempar berbenturan dengan pilar besar.


"Jangan! Daeriel!" Teriak Qwella. Raefal meringis kesakitan.


Daeriel mengendalikan semua orang dari ruangan itu agar keluar. Dia menepuk bahunya yang sedikit berdebu, "Gua kasih kalian waktu beberapa jam. Ingat Qwella, lu udah jadi milik gue."


Pria itu berlalu meninggalkan Raefal dan Qwella.


~


Qwella menjaga jaraknya dengan Raefal. Mereka berdiri bersebelahan sambil menunduk dalam. Segel kepemilikan itu adalah pengikat antara drucless perempuan dan drucless laki-laki sebagai tanda perkawinan. Drucless perempuan tidak bisa melakukan kontak dengan drucless laki-laki yang bukan pemilik segel itu.


"Maafin aku, Raefal."


Raefal menatap wanita yang sangat dia cintai. Tampaknya wanita itu begitu rapuh karena keadaan tersebut.


"Maafin aku juga. Aku gak bisa nepatin janji aku," kata Raefal pelan. Butiran bening menetes membasahi pipi Qwella. Raefal berjalan menyentuhnya, namun sengatan listrik melukai tangannya.


Qwella menatap cemas pada Raefal, "Jangan menyentuhku, aku sudah memiliki segel dari Daeriel."


Raefal memukul telapak tangannya sendiri karena kesal. Qwella melihat ada luka cakaran di leher Raefal. Wanita itu mengalihkan pandangannya.


"Kamu ada hubungan sama perempuan dari dunia manusia?" Tanya Qwella sambil menatap Raefal dengan serius. Pria itu menoleh pada Qwella, "Aku hanya terdesak, karena membutuhkan energi kehidupan darinya."


"Aku harap kamu gak biarin dia hidup. Gak seharusnya drucless dan manusia bertemu," kata Qwella. Raefal menatap wanita itu. Tersirat rasa cemburu dari perkataannya.


"Dia tidak akan membuat masalah," kata Raefal. Qwella menatap kesal pada Raefal, "Kamu suka sama dia? Cuma karena kamu pernah tidur sama dia?"


"Bukan begitu, dia udah nolongin aku," sanggah Raefal.


"Aku gak peduli statusku atau statusmu. Kita tetap memiliki hubungan." Qwella mendengus kemudian berlalu.


♥♥♥


Trissya menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar mandi. Wajahnya terlihat begitu lelah dan kacau. Ada banyak tanda kemerahan di sekitar leher dan dadanya. Gadis itu mengambil sabun dan berusaha menghilangkan semua itu dari tubuhnya. Namun, bukannya hilang, bekas itu malah semakin jelas terlihat.


Gadis itu mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sedikit tersentak karena merasa perih dimana-mana. Selesai mandi, dia kembali ke kamar dan memakai pakaiannya. Tiba-tiba dia merasakan seluruh tubuhnya membaik. Trissya kembali menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Semua tanda kemerahan di lehernya menghilang. Raefal benar, keadaan tubuh Trissya kembali seperti semula. Dia masih seorang gadis.


Trissya merasa sedikit lebih tenang, walaupun ingatan itu masih menghantuinya. Gadis itu mendengar suara mobil yang terhenti di depan rumah. Trissya melihat Alma dan Chilla yang datang dengan seragam kerja yang sudah melekat di tubuh mereka. Keduanya melambaikan tangannya dari dalam taksi.


"Kak Trissya! Kita berangkat!" Teriak Chilla.


Sesampainya di mini market, mereka bertiga bekerja seperti biasa. Trissya melihat seorang pria tampan memasuki mini market. Dia berbicara dengan bu Tari. Pria itu menoleh pada Trissya. Gadis itu segera mengalihkan pandangannya kearah lain. Pria itu tersenyum sambil memperhatikan Trissya.


Bu Tari memperkenalkan pria itu pada karyawannya, "Ini keponakan Ibu, namanya Adry. Dia pemilik mini market ini."


Ketiga perempuan itu mengangguk hormat.


"Enggak ada karyawan laki-laki, Tante?" Tanya Adry. Bu Tari menggeleng, "Enggak, soalnya mereka bertiga aja udah cukup. Lagian kerjaannya gak berat. Yang angkut barang biasanya para kurir."


Adry mengangguk paham.


Chilla dan Trissya sedang membereskan rak. Chilla melihat Adry sedang duduk di ruangannya sambil membaca buku.


"Kak Trissya," bisik Chilla. Gadis yang merasa dipanggil menoleh, "Heh?"


Chilla mendekatkan wajahnya ke telinga Trissya, "Kayaknya kak Adry suka sama Kakak, deh."


"Ah, mana bisa?" Gerutu Trissya. Chilla tampak berpikir, "Soalnya tadi dia liatin Kakak terus."


Trissya menoleh pada Adry. Ternyata benar kata Chilla. Saat ini pria itu sedang menatapnya. Trissya merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu.


Chilla dan Trissya melihat Alma membawa mukena menuju mushola. Trissya melihat jam tangannya yang menunjukkan waktunya sholat dzuhur.


~


Hari mulai malam, Alma dan Chilla sudah memberhentikan taksi. Sementara Trissya masih bebicara dengan bu Tari. Setelah berpamitan, Trissya berdiri di tepi jalan untuk memberhentikan taksi. Gadis itu tidak membawa sepeda karena di berangkat kerja bersama kedua temannya naik taksi.


Tidak ada taksi yang berhenti. Mobil Adry berhenti di depan Trissya. Gadis itu mengerutkan keningnya.


"Kamu pulangnya kemana?"


"Emm, ke kontrakan, Kak."


"Masuk."


"Ah? Tapi, ini udah malam, Kak."


"Makanya masuk, ini udah malam."


Trissya menurut. Selama di perjalanan, tidak ada perbincangan sama sekali. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Sesampainya di kontrakan, Trissya mengucapkan terima kasih pada Adry. Pria itu mengangguk dan memutar balik mobilnya.


Gadis itu memasuki kontrakan. Dia menyalakan lampu dan merebahkan tubuhnya ke sofa. Ada sesuatu yang jatuh dari dapur. Trissya terhenyak kaget. Dia menoleh ke dapur. Seketika suasana menjadi sedikit mencekam. Gadis itu menelan saliva. Trissya bangkit menuju dapur. Tidak ada yang aneh di dalam sana.


Saat berbalik, Trissya tersentak kaget dengan keberadaan pria tampan itu di depannya, Daeriel. Trissya segera mengalihkan pandangannya kearah lain untuk menghindari kontak mata. Gadis itu selalu mengingat perkataan Raefal. Daeriel bisa mengendalikan pikiran lewat matanya. Daeriel memiringkan kepalanya.


 


"Selamat malam?" Daeriel menyapa dengan nada setengah bertanya. Trissya yang sedikit gemetar memilih untuk mundur tanpa mau menjawab dan melihat pria itu.


Daeriel melangkah mendekat sambil menyentuh bahu Trissya. Gadis itu semakin ketakutan. Merasa tidak ada reaksi dari tubuh Trissya, Daeriel menyeringai dingin.


"Raefal gak menanam segel drucless ke tubuh lo? Ah, jadi dia emang cuma butuh lo sementara, ya."


Gadis itu mencerna ucapan Daeriel tanpa bergeming. Tangan Daeriel bergerak menyentuh dagu Trissya agar menatap padanya. Gadis itu menutup mata ketika wajahnya bertemu dengan Daeriel.

__ADS_1


"Apa aja yang udah diceritain Raefal? Lo tahu, gua bisa ngendaliin pikiran lewat tatapan mata?" Tanya Daeriel. Tangan Trissya yang gemetar menyentuh tangan Daeriel agar melepaskannya. Gadis itu menunduk dalam seraya berkata, "Aku mohon, jangan ganggu aku. Apa pun kalian, siapa pun kalian, aku gak akan bilang sama siapa-siapa. Tapi, jangan membuatku takut lagi."


Daeriel tertawa pelan, "Takut? Lo takut sama gue? Sama drucless? Bukannya lo pernah tidur sama Raefal?"


Trissya merasa sakit jika mengingat kejadian itu. Dia memeluk tubuhnya sendiri. Daeriel melihat Trissya dari ujung kaki ke ujung kepala.


Dia memiliki tubuh yang kecil dan ukurannya juga... emm... apa Raefal gak salah pilih? Daeriel membatin.


"Kita emang beda dunia. Lo gak akan kehilangan kesucian hanya karena berhubungan sama drucless. Tapi, drucless bisa ngeliat manusia mana yang udah pernah disentuh drucless lain," kata Daeriel.


Trissya menggeleng cepat, "Kamu mau apa kesini? Bukannya Raefal gak ada disini?"


Daeriel tersenyum, "Iya, gue kemari cuma mau mastiin aja kalo lo gak punya segel kepemilikan dari dia..."


Hening.


"Bagaimana rasanya berhubungan sama cewek dari jenis manusia?" Gumam Daeriel sambil memasang ekspresi berpikir. Ucapan Daeriel membuat Trissya membeku dalam ketakutan.


Pria itu berbalik membelakangi Trissya, "... selamat malam."


Seketika pria itu menghilang dari pandangan Trissya. Gadis itu jatuh tertekuk ke lantai dengan keringat dingin mengalir dari dahinya. Dia mengusap rambutnya dengan kasar.


"Berhenti begini."


♥♥♥


Istana Zeroun sudah sepenuhnya berada di tangan Daeriel. Seisi istana tunduk dan melakukan segala hal atas kendali Daeriel. Dia sekarang adalah seorang raja. Kedua orang tuanya tinggal di taman bunga yang jauh. Seperti tradisi, jika raja baru telah ditetapkan, maka raja terdahulu yang masih hidup bersama ibu ratu akan tinggal nyaman di rumah nyaman yang berada di taman bunga.


Lalu, bagaimana dengan Raefal? Pria itu tidak mau tinggal bersama kakaknya. Apalagi melihat kemesraan Daeriel dengan istrinya yang merupakan kekasih Raefal. Itu hanya akan membuat hatinya semakin sakit.


Raefal memilih tinggal di dunia manusia tanpa sepengetahuan siapa pun. Pria itu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Kamar yang gelap adalah tempat yang nyaman untuknya.


Kedua manik abu-abu miliknya bergerak menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba dia teringat pada Trissya. Entah kenapa, Raefal jadi terus-menerus memikirkan Trissya setelah kejadian indah malam pemuasannya itu.


Raefal menatap Trissya yang berada di bawahnya berteriak sambil mencakar dada dan wajahnya. Pria itu mengabaikan rasa perih karena cakaran itu. Dia tahu, rasa sakit Trissya jauh melebihinya.


"Berhenti! Aku mohon!" Teriak Trissya. Raefal tidak bisa berhenti ketika dia mendapatkan energi manusia yang mengalir dalam tubuhnya.


"Maaf..." ucap Raefal lirih.


"Raefal! Sakit! Hentikan!" Trissya merasa tubuhnya semakin lemah. Gadis itu pun tidak sadarkan diri ketika energi dalam tubuhnya sebagian berpindah pada Raefal.


"Maafkan aku."


Kata itu terucap seterusnya tanpa mau berhenti melukai.


Raefal mendesah pelan jika kembali ke ingatan tersebut. Tubuhnya terasa memanas setiap membayangkan Trissya di malam itu. Tubuh mungil yang terpampang nyata tanpa ada yang menutupinya. Ingin sekali Raefal melakukannya sekali lagi. Tidak, bukan sekali lagi. Tapi, berkali-kali lagi dan lagi. Itu hanya imajinasinya. Dia tidak ingin melukai Trissya lebih jauh lagi.


Raefal merasa jika Trissya adalah sesuatu yang membuatnya kecanduan.


"Gadis kecil itu benar-benar..." Raefal mengeratkan selimut dan menghilangkan imajinasinya yang nakal. Pria itu menutup matanya. Namun, tetap saja dia tidak bisa tidur.


"Trissya lagi apa, ya?"


Di tempat lain,


Trissya tengah tertidur pulas di ranjangnya. Gadis itu tampak begitu lelah karena pekerjaannya siang ini. Angin bertiup pelan membuat anak rambutnya bergerak-gerak. Bayangan itu jelas berdiri di dekat Trissya.


Raefal menatap Trissya dengan intens. Dia datang untuk melihat keadaan gadis itu. Tangannya terulur menyentuh rambut Trissya dengan lembut.


"Malam ini dingin." Raefal menyelimuti tubuh Trissya dengan benar.


Trissya membuka matanya. Dia bangkit dan menatap ke sekeliling. Tidak ada siapa pun di kamarnya. Angin berhembus masuk dari jendela yang terbuka lebar. Trissya menutup jendela tersebut kemudian kembali membaringkan tubuhnya.


Kedua mata mungilnya berkedip sesaat lalu dia kembali berkelana menuju dunia mimpi.


Hari terus berlalu dengan cepat. Seolah Trissya sudah melupakan pria drucless yang sempat menyentuhnya. Dia melakukan aktivitas seperti biasanya.


Saat ini Trissya sedang melayani pembeli. Seorang pria berseragam yang sama dengannya memasuki ruangan Adry. Trissya mengerutkan keningnya melihat punggung pria itu. Dia tidak bisa melihat jelas wajahnya.


Jam istirahat, Adry memperkenalkan pegawai baru itu kepada karyawan lain. Trissya terkejut karena dia mengenali pria itu. Dia Raefal. Pria itu menatap Trissya dengan serius. Yang mendapatkan tatapan seperti itu segera mengalihkan pandangannya. Tersirat rasa takut dari wajah Trissya


"Kita membutuhkan karyawan laki-laki yang bisa mengangkat barang," ucap Adry. Chilla dan Alma mengangguk setuju.


Adry menepuk bahu Raefal sambil berkata, "Raefal adalah karyawan baru yang akan membantu kalian."


Setelah itu, mereka kembali bekerja. Raefal menghampiri Trissya yang sedang merapikan rak. Gadis itu tidak berani menatap Raefal. Dia tetap fokus pada tugasnya.


"Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja," kata Raefal. Trissya tidak merespon, bahkan dengan melirik saja tidak. Gadis itu merasa malu karena Raefal adalah pria pertama yang melihatnya tanpa sehelai benang pun malam itu. Trissya tidak mau melihat wajah pria itu lagi.


"Natrissya."


"Kamu bilang, kamu akan pergi selamanya setelah kamu balik lagi ke dunia kamu?" Ucap Trissya setengah bertanya.


"Kayaknya aku gak bisa ninggalin kamu sendirian," ujar Raefal dengan polosnya. Sejenak Trissya menoleh pada Raefal, "Sebelum kamu datang, aku udah sendiri. Semenjak kamu datang, kehidupanku jadi berantakan."


Gadis itu berlalu. Raefal menyusulnya, "Malam itu Daeriel ke rumah kamu, kan?"


Pertanyaan Raefal membuat langkah Trissya terhenti. Dia berbalik menatap Raefal, "Kamu tahu dari mana? Kamu mata-matain aku?"


"Ada bekas tangan Daeriel di bahu kamu," jawab Raefal dengan tatapan tertuju pada bahu Trissya. Gadis itu segera mengusap bahunya, "Hanya bekas, bukan seperti apa yang udah kamu lakuin."


"Bekas tangannya itu seperti pelacak untuk manusia, kamu gak takut sama Daeriel?" Tanya Raefal. Seketika Trissya merinding mendengar itu. Dia berpikir sejenak, "Ngapain juga Daeriel mau melacak aku?"


Raefal memandang lurus, "Karena dia ngira aku sama kamu, atau mungkin dia punya tujuan lain."


Hening.


"Kamu dalam masalah ini karena aku. Aku bakalan tanggung jawab buat ngelindungin kamu dari dia," kata Raefal. Trissya menggeleng, "Aku gak perlu perlindungan dari kamu."


Gadis itu melenggang pergi. Raefal menatap punggung Trissya.


Adry memperhatikan mereka dari ruangannya.


♥♥♥


16.13 : 18 September 2019


By Ucu Irna Marhamah


 


 

__ADS_1


__ADS_2