![DRUCLESS [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/drucless--sudah-terbit-.webp)
1Ini buruk!
Aku dan teman-temanku terjebak dalam sebuah hutan. Pada sore hari, hutan ini tampak indah. Namun, ketika berganti dengan malam, hutan ini jadi terlihat menakutkan.
Kami berlima benar-benar tersesat di dalam hutan aneh ini. Dua orang perempuan, salah satunya adalah aku, dan dan tiga orang laki-laki. Kami datang dari Jakarta ke tepat ini untuk mencari konten yang nantinya diunggah ke YouTube. Ya, kami berlima adalah youtuber.
Namun, awalnya kami berniat mencari air terjun yang indah di hutan ini. Bukannya menemukan air terjun yang dimaksud, kami malah tersesat.
Banyak orang yang bilang, hutan ini memiliki air terjun yang besar. Namun, letaknya berada di tengah hutan.
Mobil jeep kami diparkirkan di tempat yang mengerikan seperti ini. Kami harus keluar dari mobil dan mulai membuat video masing-masing.
Bulan di langit tampak bersinar redup. Ada yang janggal, kenapa warna bulannya merah?
Ah, mungkin karena suasananya sedikit mencekam, aku jadi sedikit paranoid. Apalagi karena nasib sial yang membuat kami harus tersesat.
Tapi, malam ini sungguh menakutkan. Di abad ini tidak mungki ada hantu, kan?
Hantu hanya imajinasi...
Tenang...
Aku mulai merekam, "Halo, kita berlima lagi di dalam hutan yang misterius. Kalian bisa lihat pohon-pohon yang menakutkan ini? Rerumputan disini juga tinggi-tinggi. Lihat?"
Aku mengedarkan lensa kamera ke sekeliling. Seseorang merangkul bahuku. Aku menoleh, ternyata Rae, pria konyol dan humoris yang sering membuatku kesal.
Entah sudah berapa kali dia menyatakan perasaannya padaku. Tapi, aku menolaknya. Tentu saja, mana mungkin aku menyukai pria aneh seperti dia. Tapi, dia tidak pantang menyerah. Dia berusaha mengambil hatiku.
Ah, terserah.
Rae membuyarkan lamunanku. Dia menyapa ke kameraku, "Halo! Gua Rae, kita collab, yuk."
Collab? Ah! Jangan harap!
"Lo rekaman aja sendiri," kataku sambil berlalu menjauhinya. Rae menghela napas panjang, "Cantik-cantik galak."
Aku menghampiri Nayshilla, perempuan selain aku yang ada disini. Dia menoleh padaku.
"Hei!"
Kami saling merekam satu sama lain dengan kamera masing-masing.
Aku melihat ketua tim bersama Rae dan Idar membawa sesuatu dari dalam mobil.
__ADS_1
"Dry, lo mau masang tenda? Kita nginep di hutan ini?" Tanya Nayshilla pada ketua tim. Pria itu mengangguk.
Kami berdua memilih membuat tungku pembakaran. Idar menoleh, "Kalian ngapain?"
"Nyalain api buat masak, emang ngapain lagi, coba?" Gerutu Nayshilla. Idar memutar bola matanya, "Lo berdua mau masak apaan emang?"
"Mie instan, kita cuma punya mie instan," jawabku.
"Emang airnya ada?" Tanya Idar. Aku dan Nayshilla saling pandang.
"Kita punya persediaan air minum, kan, Dry?" Aku menyenggol lengan ketua tim. Dri tampak berpikir, "Itu buat minum."
"Air minum untuk diminum," gerutu Idar. Aku cemberut kesal. Rae dan Dry berniat pergi mencari mata air.
"Nyari air terjun yang gede aja susah, apa lagi nyari mata air," gerutu Nayshilla.
"Ya, siapa tahu kita nemu," kata Rae. Aku bangkit dari tempat duduk dan menghampiri mereka berdua, "Aku mau ikut. Lumayan bikin konten lagi."
Rae tersenyum semangat sambil bertepuk tangan seperti anak kecil, karena aku ingin ikut.
"Aku juga," kata Nayshilla.
"Kalo kalian berempat pergi, gua sendiri di sini. Gimana kalo nanti gua dimakan binatang buas?" Tanya Idar sambil melihat ke sekelilingnya dengan ekspresi horor.
Akhirnya, yang pergi mencari air adalah aku, Rae, dan Nayshilla.
Kami melihat ke sekeliling sambil mengarahkan lensa kamera ke berbagai arah. Tiba-tiba kami mendengar lolongan panjang anjing di hutan. Sebenarnya aku sedikit takut. Namun, aku mengabaikannya.
Aku mendengar suara gemuruh air terjun dari depan. Aku mengguncangkan lengan Rae.
"Rae, lo denger? Itu suara air terjunnya! Kita menemukan air terjunnya!" Aku berteriak, saking senangnya. Nayshilla segera berjalan lebih dulu.
Rae tersenyum sembari menatapku. Aku merasa kikuk dengan tatapannya itu. Ternyata dia sangat tampan di jarak sedekat ini.
"Kamu pertama kali manggil nama panggilan aku. Gak tahu kenapa, aku seneng banget," ucap Rae. Ngapain, sih, Rae pake 'aku, kamu' ngomongnya?!
Aku memilih melangkah pergi untuk menghindarinya. Namun, Rae menggenggam tanganku, "Aku suka sama kamu sejak SD. Kenapa kamu selalu nolak aku? Aku tahu, aku ini cowok aneh dan sering bikin kamu kesel. Tapi, aku berbuat konyol kayak gini biar kamu mau melihat aku. Aku hanya ingin mendapatkan perhatian kamu."
"Ah, lo ngomong apa, sih."
"Woy! Gua nemu air terjunnya!" Teriak Nayshilla di kejauhan. Kami berdua segera datang menghampiri Nayshilla.
Sungguh air terjun yang sangat besar dan ketinggiannya luar biasa. Indah sekali. Untuk pertama kalinya aku melihat air terjun yang benar-benar cantik seperti ini. Aku rasa, air terjun ini bisa masuk ke dalam air terjun tertinggi dan terbesar di dunia.
__ADS_1
Aku merasa berada di dunia lain. Ini seperti dunia khayalan.
Aku menyorotnya dengan kameraku. Rae memegang tanganku, "Hati-hati, kayaknya sungai besar ini memiliki kedalaman belasan meter."
Rae memperhatikan air sungai yang tenang itu. Aku mengangguk, "Gua bukan anak kecil."
Aku melangkah ke tepi sungai dan melihat ke permukaan air.
Aku melihat pantulan wajahku sendiri yang tersenyum kecil.
Aku menyentuh air sungai yang terasa begitu hangat di tanganku. Kuputuskan berjalan menginjakkan kakiku ke sungai tersebut. Rae tampak khawatir.
Namun, agar kontenku bagus, aku harus ke tengah.
"Hati-hati!" Teriak Nayshilla padaku. Aku mengangguk.
Ada batu besar di tengah-tengah sungai. Aku berjalan ke sana tanpa memperdulikan celanaku yang sudah basah karena ketinggian air sungai sepinggangku.
Aku naik ke batu tersebut dan melanjutkan merekam ke sekeliling. Kedua mataku tertuju ke dalam air sungai. Seperti ada sesuatu di dalam sungai itu.
Sesuatu yang besar berwarna merah menyala. Ada dua bulatan besar berwarna merah di dalam sana. Aku mengernyit heran dan memperhatikannya dengan serius.
Tubuhku merinding ketika menyadari bahwa kedua bulatan itu adalah mata yang sangat besar. Seseorang bertubuh raksasa sedang menatapku dari dalam sana. Kedua lututku terasa lemas.
Rae dan Nayshilla beteriak memanggil namaku. Namun, leherku rasanya sulit digerakkan untuk menoleh pada mereka.
Mataku tidak teralihkan dari sungai tersebut. Seperti ada sesuatu yang menarikku dari dalam sana untuk jatuh ke dasar sungai. Aku merasa tubuhku sangat berat, dan aku pun jatuh ke dalam sungai tersebut. Aku melihat bulan merah dari dalam air.
Ini mengingatkanku akan sesuatu.
Aku merasa deja vu.
Diketik pada 01 September 2019.
Drucless
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1