![DRUCLESS [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/drucless--sudah-terbit-.webp)
Tiga bulan kemudian,
Trissya dan Raefal tinggal di rumah Raefal. Mereka tidak melakukan kegiatan apa pun. Raefal tidak mungkin meninggalkan Trissya sendirian di rumah. Pria itu selalu membawa Trissya kemana pun. Trissya juga tidak ingin berada jauh dari Raefal. Dia selalu ikut bersama suaminya.
Pagi ini, pasangan itu tampak masih terlelap dalam keadaan tubuh polos berselimut.
Trissya merasakan pegerakan dari sampingnya. Dia menoleh melihat suaminya yang sudah bangun dan menatapnya. Trissya mengecup bibir Raefal sekilas, "Selamat pagi."
"Gak kerasa," kata Raefal menatap nakal istrinya. Wanita itu memutar bola matanya sambil membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh polosnya. Raefal memeluk wanita itu. Dia mengecup pipi istrinya cukup lama.
"Sayang, apa kamu sudah merasakan tanda-tandanya?" Tanya Raefal. Trissya menoleh pada Raefal dengan ekspresi penuh tanya, "Tanda-tanda apa?"
Raefal menyusupkan tangannya ke perut Trissya, "Bayi kita?"
Trissya terlihat sedih. Dia menggelengkan kepalanya. Raefal meletakkan dagunya di ceruk leher Trissya.
"Kita kurang kerja keras," ucap Raefal dengan polosnya. Trissya tampak berpikir, "Kurang kerja keras gimana? Kita, kan..."
"Gimana kalo kita bikin sekarang?" Raefal memotong ucapan istrinya. Trissya menepuk pelan pipi Raefal, "Mesum."
Raefal tertawa, "Gapapa, yang penting aku cuma mesum sama istriku."
Trissya tersenyum.
Ponsel Trissya berdering, membuat keduanya menoleh kearah meja. Trissya mengambil benda persegi itu dan melihat nama Alma di layar.
"Sayang, Alma nelpon aku," ucap Trissya. Raefal menggerakkan kepalanya, "Angkat aja, Sayang."
Trissya mengangkat panggilan dari sahabatnya itu, "Halo?"
"Hai, Trissya. Kemarin aku ngirim surat lewat pos. Apa kamu belum melihatnya?" Tanya Alma dari seberang sana.
Trissya tampak berpikir sambil melirik suaminya. Raefal sedang mendengarkan percakapan mereka.
"Kemaren aku banyak nerima paket dan surat, tapi aku belum lihat. Aku jadi penasaran." Trissya bangkit dan melangkah mengambil jubah tidur yang menggantung. Raefal memperhatikannya.
"Ah, kamu. Buruan bukaaa." Suara Alma terdengar begitu tidak sabaran. Trissya tersenyum. Dia menoleh pada Raefal sembari memberikan kode ingin keluar. Raefal bangkit dari tempat tidur. Dia mengambil handuk putih dan melilitkannya ke pinggang.
Trissya berlalu menuruni tangga disusul Raefal.
"Aku lagi otw mau nyari suratnya, nih."
"Hehe, kamu pasti terkejut!"
Trissya semakin penasaran. Wanita itu melihat surat-surat yang beberapa hari lalu diterimanya. Ada yang mengalihkan perhatiannya, yaitu surat yang terbungkus kertas berwarna magenta. Tertera nama Salma Noer Annisa Rahmayadi sebagai pengirim.
Raefal dan Trissya saling pandang. Wanita itu membukanya dan mendapati surat tebal berwarna yang senada dengan bungkusnya.
"Surat undangan pernikahan?!" Seru Trissya setelah membaca isinya. Sepasang suami istri itu saling pandang.
"Hehe, kamu terkejut, kaaaan? Alhamdulillah aku bisa nyusul kamu sama Raefal di tahun yang sama."
"Wah, selamat, yaaa." Trissya ikut bahagia untuk sahabatnya itu.
"Selamatnya nanti aja pas hari pernikahan." Suara Alma terdengar seperti sedang menahan tawa.
Trissya jadi tertawa. Raefal tersenyum sembari mengambil surat undangan tersebut dan melihat nama Muhammad Haidar Ilham sebagai mempelai pria.
Raefal terkekeh. Dia tidak mengira, Haidar yang cerewetnya melebihi ibu-ibu itu bisa menikahi Alma, perempuan yang kalem dan cuek banget.
"Pokoknya kalian harus dateng di hari pernikahan aku, yaaa. Meskipun hanya sebuah syukuran sederhana."
"Kami pasti dateng, kok." Trissya melirik Raefal yang menganggukkan kepalanya.
"Hehe, maaf aku malah gangguin pagi kamu sama suami kamu. Soalnya aku takut kalo kamu gak buka surat undangan itu. Aku nanti sedih kalo sahabat aku gak dateng."
"Iya, gapapa, kok. Lagian aku udah bangun." Trissya memasukkan surat-surat itu ke dalam kotak.
"Ya udah, aku mau berangkat kerja dulu, ya."
Trissya memundurkan wajahnya, "Kerja? Harusnya pengantin wanita diem di rumah."
"Ah, hari pernikahannya juga masih lama, kok."
"Jadi, tiap hari ketemu calon suami, dong." Trissya mencoba menggoda Alma.
Alma tertawa, "Enggak, minggu kemarin mas Haidar pulang kampung."
"Ciee, manggilnya sekarang udah pake mas." Trissya terkekeh kecil.
"Ah, Trissya."
Trissya menahan tawanya.
"Ya udah, aku tutup teleponnya, ya."
"Iya."
Trissya mendesah pelan, "Ah, tinggal menunggu surat undangan dari Chilla." Ucapannya yang terdengar polos itu mengundang tawa Raefal.
Trissya menoleh, "Kenapa?"
"Enggak, wajah kamu lucu." Raefal menepuk pipi Trissya kemudian berlalu. Wanita itu mengernyit kemudian menggeleng sembari tersenyum geli.
~
Trissya sedang duduk di bangku ayunan depan rumah. Dia menikmati angin segar di sore hari. Wanita itu melihat sepasang suami istri yang sedang berjalan sembari menggenggam tangan anak mereka yang masih balita. Trissya tersenyum tanpa mau mengalihkan perhatiannya dari keluarga manis itu.
"Lompat," kata sang ayah. Anak laki-laki itu melompat-lompat sambil berpegangan erat ke tangan ayah dan ibunya.
Trissya memegang perutnya yang rata, "Kapan kamu ada? Mama nungguin kamu, nak. Kamu gak kasihan lihat Mama terus-menerus menunggu?"
Suaranya terdengar begitu menyayat. Raefal yang berdiri tidak jauh dari ayunan, merasa sedih mendengar ucapan istrinya. Pria itu melihat keluarga itu sudah pergi. Dia berjalan menghampiri Trissya dan duduk di sampingnya. Wanita itu menoleh. Raefal menggerakkan tubuhnya agar ayunannya bergerak.
Trissya melelapkan kepalanya ke bahu Raefal.
"Kapan kita bisa punya anak? Aku pengen buru-buru jadi Mama," tanya Trissya. Raefal merengkuh tubuh mungil istrinya, "Bersabarlah, Sayang."
"Aku selalu bersabar."
Raefal mengangguk.
Sementara itu, di dunia drucless.
Para tabib sedang membantu Qwella yang berjuang melahirkan bayinya. Daeriel berdiri cemas di depan pintu kamar. Berkali-kali dia mendengar suara jeritan Qwella.
Salah satu tabib keluar menghampiri Daeriel, "Yang mulia, bayinya tidak mau lahir ke dunia."
"Ah? Kenapa bisa begitu?" Tanya Daeriel panik. Tabib itu tampak takut, "Maafkan saya, Yang mulia. Tapi, biasanya ini terjadi jika ibunya tidak menginginkan kehadiran bayinya."
Daeriel mengusap kasar wajahnya sendiri, "Lalu aku harus gimana?"
Tabib itu menunduk dalam tanpa berani memberikan jawaban. Di saat genting seperti itu, Geross bersama murid-muridnya datang.
__ADS_1
"Kami telah tiba, Yang mulia," ucap Geross.
"Kamu urus kelahiran istriku!" ujar Daeriel setengah membentak. Geross jadi gugup, "Sa-saya?"
Daeriel tampak berpikir.
"Kami akan berusaha," ucap Dharaa. Beberapa tabib perempuan yang bersamanya mengangguk.
"Kalian masuk dan tangani istriku dengan baik," ucap Daeriel. Dharaa dan teman-temannya memasuki kamar ratu bersama tabib kerajaan.
Daeriel tampak cemas. Pria itu bahkan tidak ingin duduk. Dia bergumam, "Kakek Geross, apa tidak ada cara lain untuk melahirkan anakku?"
"Ah? Mu-mungkin ratu harusnya sedikit memperlihatkan rasa keinginannya akan kehadiran bayinya." Geross tampak gugup.
"Itu dia masalahnya, Qwella tidak pernah menginginkan anak itu. Dia sangat keras kepala."
Qwella *** sprei yang sudah berantakan. Dhara menenangkannya dan berusaha menolong, "Ratu, anda harus menginginkan kelahiran bayi ini. Anda harus mencintai bayi anda."
Qwella tidak merespon. Dia tetap menjerit-jerit.
Dharaa dengan tabib lainnya saling pandang kemudian mereka semua menggeleng pelan.
"Baiklah, baiklah, aku menginginkan bayi ini! Aku mohon! Keluar dari tubuhku! Aku mencintaimu!" Teriak Qwella.
Daeriel dan Geross bisa mendengar jeritan Qwella. Mereka berdua saling pandang. Suara Qwella menghilang. Daeriel tampak cemas. Dia segera mendorong pintu dan memasuki kamar tersebut.
Suara tangisan bayi memenuhi seisi ruangan. Daeriel menghela napas lega sembari memegang dadanya. Dia melihat Qwella tampak lemas. Pria itu menghampiri Dharaa yang sedang membersihkan bayinya.
"Bagaimana keadaan Qwella dan bayiku?" Tanya Daeriel. Tanpa menoleh, Dharaa menjawab, "Mereka baik-baik saja, Yang mulia. Para tabib sedang mengambil air suci untuk mengembalikan tenaga ibu ratu."
Daeriel melihat segel drucless di leher bayi itu. Dia mengenali corak segel tersebut yang tidak lain adalah miliknya.
"Kenapa ada segel milikku di lehernya?" Tanya Daeriel cemas. Dharaa mengangguk, "Bayi drucless akan memiliki segel ayahnya, ini bukti jika bayi ini adalah bayi kandung anda. Segel ini akan tersembunyi sampai ada segel suaminya yang menguasai tubuhnya."
Daeriel mengerti. Dia bisa bernapas lega. Dharaa memberikan bayi manis itu pada Daeriel.
"Bayi anda perempuan, sangat cantik seperti ibunya," ucap Dharaa. Daeriel menggendong tubuh mungil itu.
"Putriku," gumam Daeriel yang tersenyum bahagia. Pria itu menatap wajah cantik bayinya. Dharaa benar, bayi itu sangat mirip dengan Qwella.
Dharaa membungkuk kemudian berlalu untuk membantu para tabib membasuh tubuh Qwella dengan air suci. Tenaga sang ratu sudah kembali pulih.
Tabib kerajaan menghampiri Daeriel, "Yang mulia, ibu ratu harus menyusui bayinya."
Daeriel mengangguk sambil memberikan bayi itu pada tabib. Tabib itu menghampiri Dharaa dan memberikan kode agar dirinya yang berbicara pada ibu ratu. Tampaknya Dharaa juga bingung harus berkata apa. Seluruh rakyat kerajaan Zeroun tahu betul tabiat ratu mereka.
"Emm, Ibu Ratu, bayi anda membutuhkan anda," ucap Dhara hati-hati.
Qwella bahkan tidak melirik bayinya sedikitpun. Dia malah berbalik membelakangi para tabib. Daeriel mendengus kesal karena sikap egois istrinya.
"Dia sudah menyusahkanku, aku tidak mau!" Gerutu Qwella. Daeriel bertolak pinggang, "Qwella! Sekali ini saja kau harus bersikap seperti seorang ibu! Cepatlah! Bayiku membutuhkanmu!"
Qwella bangkit untuk duduk sambil menyentuh perutnya yang terasa sakit, "Aku tidak mau! Aku sudah cukup menderita karenanya!"
Petir menyambar di langit.
Qwella tersentak kaget. Bukan hanya Qwella, seisi istana juga terkejut. Mereka ketakutan. Daeriel mengira jika itu adalah petir milik Raefal. Dia melihat kilatan petir yang membelah langit.
Tiba-tiba angin kencang masuk lewat jendela dan mematikan semua lilin di istana itu. Bukan hanya di istana, lilin di rumah rakyat juga padam.
Wilayah kerajaan Zeroun gelap gulita dalam waktu 3 detik (hitungan dunia drucless).
Daeriel menggerakkan tangannya untuk menyalakan semua lilin di ruangan itu dengan pengendalian api miliknya. Dia melihat bayinya yang memancarkan warna mata kuning. Daeriel menelan saliva karena dia merinding melihat itu. Namun, itu hanya berselang beberapa saat. Kini warna matanya berubah normal lalu bayi itu menangis kencang.
Dharaa mengambil bayi itu dari pangkuan tabib. Wanita itu mengubah warna matanya menjadi hijau. Daeriel memperhatikan apa yang dilakukan Dharaa. Wanita itu mengusap dahi bayi Qwella. Bayi itu menjadi tenang. Warna mata Dharaa berubah normal.
Qwella menautkan alisnya karena kesal dengan sikap lancang Dharaa. Dia membentak tabib wanita itu, "Beraninya! Kamu pikir, kamu itu siapa?!"
"Lakukan, atau akan ada malapetaka yang datang ke istana ini," ucap Dharaa setengah menggertak. Daeriel merinding mendengar itu. Dia mendekati Qwella, "Jangan membantah, lakukan!"
Dengan terpaksa, wanita itu menggendong bayinya.
"Kalian semua keluar, berikan istriku waktu," ucap Daeriel. Semua tabib membungkuk dan berlalu, terkecuali Dharaa.
"Yang mulia, maafkan aku telah lancang. Tapi, aku perlu membicarakan ini," kata Dharaa.
~
Di ruangan lain, Daeriel sedang duduk berhadapan dengan Geross dan Dharaa. Mereka tampak serius dan tegang.
Tidak ada yang berniat berbicara lebih dulu, sehingga keheningan datang menganggu.
Geross mencoba memecah kesunyian itu. Dia berkata, "Emm, Dharaa adalah tabib yang berkemampuan cukup baik. Dia bisa mengetahui sesuatu apa pun yang dia sentuh."
Daeriel melirik Dharaa sekilas lalu menghela napas panjang, "Apa yang terjadi dengan bayiku? Aku benar-benar panik."
Dharaa menunduk dalam, "Sebelumnya, aku minta maaf jika aku bicara lancang. Tapi, aku berbicara sesuai kenyataan."
"Katakan saja," ucap Daeriel yang tidak ingin mendengar basa-basi dari Dharaa. Geross melirik muridnya yang terus menunduk.
"Anda tidak akan memenggal kepalaku?" Tanya Dharaa dengan nada panik. Daeriel mendengus dingin, "Aku bukan ayahku."
Dharaa mengangguk lalu mengeluarkan suaranya, "Ketika saya menyentuh dahi bayi anda, aku bisa memastikan jika bayi itu memiliki kekuatan angin. Makanya tadi ada angin yang masuk mematikan semua lilin. Sebenarnya... bayi anda sedang marah pada ibunya."
Geross yang mendengar itu merinding sambil menyentuh tengkuknya sendiri. Daeriel menelan saliva.
Dharaa menyambung kalimatnya, "Bayi anda memiliki tiga kekuatan. Saya tidak tahu, kekuatan apa yang dia miliki selain mengendalikan angin. Tapi, yang pasti... bayi anda memiliki kekuatan besar yang belum pernah saya temukan sebelumnya."
"Lalu petir tadi apa maksudnya?" Tanya Daeriel.
Dharaa tidak merespon. Dia ragu untuk mengatakan apa yang diketahuinya. Geross tampaknya penasaran juga.
"Katakan!" Bentak Daeriel sembari menggebrak meja.
Dharaa dan Geross terhenyak.
"Itu... saya... ketika saya menyentuh tubuh ibu ratu, saya..."
Daeriel mencengkram lengan Dharaa, "Jangan membuatku marah."
"Yang mulia," gumam Geross. Daeriel melepaskan Dharaa.
Wanita itu menunduk lagi. Dia kembali bersuara, "Sebelum menikah dengan anda, ibu ratu telah berhubungan dengan pangeran Raefal. Itu adalah hubungan pertamanya. Petir tadi adalah pembuktian kejujuran langit drucless, jika ibu ratu bukanlah seorang gadis ketika menikah dengan anda."
Daeriel tidak terkejut sama sekali. Dia sudah tahu itu sedari awal. Namun, Daeriel mengakui kehebatan Dharaa yang bisa mengetahui aib besar itu. Berbanding terbalik dengan Geross yang berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Dia tidak mengira Qwella dan Raefal....
"Apa lagi yang kamu tahu?" Tanya Daeriel. Dharaa menghela napas berat.
"Saya tidak berani mengatakan ini." Dharaa menggeleng sambil mengusap wajahnya.
"Dharaa, katakan saja. Kami sedang dalam kepanikan." Geross berusaha menenangkan Dharaa.
Daeriel menutup rapat matanya untuk mengendalikan emosinya yang sudah di puncak kepala. Dia menatap kesal pada Dharaa.
__ADS_1
"Aku mohon sama kamu, katakan semua yang kamu tahu. Aku benar-benar panik sekarang. Yang sedang kamu bicarakan adalah anakku," ucap Daeriel.
Dharaa mengangguk lemah, "Saya merasakan ada kutukan yang mengalir dalam darah ibu ratu. Kutukan itu juga mengalir dalam darah bayi anda."
"Kutukan?" Daeriel menelan saliva.
"Ada rasa kecewa dan benci," ujar Dharaa.
"Siapa yang membenciku?" Tanya Daeriel. Dharaa menggeleng, "Bukan anda, tapi... raja Baltazar."
Deg
"Si pengutuk sangat membenci raja Baltazar." Dhara menegaskan kembali kalimatnya.
"Peramal itu," gumam Geross.
Dharaa dan Daeriel menoleh kearahnya.
"Peramal?" Tanya Daeriel.
"Peramal yang dipenggal kepalanya. Waktu itu raja Baltazar memenggal kepala peramal tua. Aku yakin, dia yang mengirimkan ratu Qwella untuk mengutuk kerajaan ini." Geross tidak segan lagi mengatakan itu.
Daeriel tampak berpikir, "Peramal tua yang menyelamatkan nyawa Raefal yang masih janin dengan pohon kehidupan?"
Geross mengangguk cepat. Daeriel mengusap kasar wajahnya, "Kenapa Kakek Geross bisa yakin?"
Geross tampak berpikir, "Banyak isu yang beredar, jika peramal tua itu kembali hidup karena diselamatkan pohon kehidupan. Dia memiliki banyak sekali murid yang belajar segala hal darinya. Mungkin ratu Qwella salah satunya."
Dharaa menambahkan, "Pohon kehidupan bisa memberikan efek awet muda dan kepulihan pada tubuh drucless. Pangeran Raefal bisa bertahan hidup karena nyawa pohon itu berada dalam tubuhnya. Ratu Qwella pertama kali berhubungan dengan pangeran Raefal. Tubuh mereka terhubung, aku mengerti sekarang." Dharaa tampak serius.
Daeriel dan Geross menoleh padanya. Mereka berdua penasaran dengan isi kepala Dharaa.
Tabib wanita itu mendongkak menatap raja Daeriel dengan mata bergetar, "Bisa diperkirakan usia ratu Qwella 312 tahun. Dia salah satu murid peramal tua itu dan dia ada ketika raja Baltazar memenggal kepala mereka semua. Ketika mayat mereka dikubur di bawah pohon kehidupan, pohon itu membuat mereka kembali pulih. Peramal itu menginginkan dendamnya pada raja Baltazar terlaksana melalui ratu Qwella yang cantik. Ratu Qwella mempertahankan kecantikannya lewat kekuatan pohon kehidupan. Sementara nyawa pohon itu ada pada pangeran Raefal. Itu sebabnya dia mendekati pangeran Raefal. Dengan kata lain, nyawa pangeran Raefal adalah nyawa pohon itu dan nyawa bagi semua orang yang telah dipenggal oleh raja Baltazar."
Geross benar-benar tidak mengira dengan kecerdasan Dharaa.
Daeriel membatin, usia Qwella jauh lebih tua dariku. Tapi, wajahnya terlihat masih sangat muda. Kekuatan pohon kehidupan itu benar-benar sangat luar biasa.
"Apakah Qwella mengetahui tentang kutukan ini?" Tanya Daeriel. Dharaa tampak berpikir, "Sepertinya tidak, kutukan itu mengalir dalam tubuhnya. Tidak mungkin ratu Qwella menginginkan itu. Peramal tua menanamkan kutukan itu secara diam-diam."
Daeriel mengerti sekarang. Itulah sebabnya Qwella sangat tergila-gila kepada Raefal. Pria itu memiliki nyawa mereka semua.
"Masalahnya, kutukan itu juga ada dalam tubuh anakku. Aku sangat mencemaskannya," gumam Daeriel.
Geross dan Dharaa bisa mengerti dengan kecemasan yang dirasakan raja mereka.
"Yang sekarang sedang menjadi beban pikiranku adalah cara menghilangkan kutukan ini," ucap Daeriel lagi.
"Hanya satu," sahut Dharaa. Lagi-lagi Geross dan Daeriel menoleh padanya.
"Raja Baltazar harus meminta maaf secara langsung kepada peramal tua itu."
♥♥♥
Malam hari di dunia manusia,
Raefal mengajak Trissya berjalan-jalan. Mereka mengunjungi restoran terbaik. Raefal adalah pria yang romantis dan sangat memanjakan istrinya.
Setelah makan di restoran, mereka menghabiskan waktu di tepi danau wisata yang buka setiap malam. Pasangan suami istri itu berada di atas perahu menyusuri danau itu ditemani oleh pendayung.
Raefal sedikit cemas ketika berada di atas perahu. Dia takut jatuh dan kesetrum karena bersentuhan dengan air. Tangannya tidak berhenti menggenggam tangan Trissya. Wanita itu tersenyum geli melihat tingkah suaminya.
Ketika pendayung menepikan perahu, Raefal panik
"Pelan-pelan, Pak. Ngagetin saya aja," gerutu Raefal. Pendayung itu terkekeh kecil, "Maafin saya, Tuan. Saya ngerasa, saya gak terlalu ngebut bawa perahunya."
Raefal cemberut beberapa saat kemudian tertawa, "Makasih, Pak."
Raefal dan Trissya melanjutkan malam mereka dengan mengunjungi toko makanan untuk membeli persediaan makanan selama satu bulan penuh.
Raefal memilih beberapa daging dan sosis. Sesekali dia bertanya pada Trissya tentang makanan yang dia pilih. Wanita itu mengangguk.
"Besok kamu mau makan apa?" Tanya Trissya. Raefal tampak berpikir, "Olahan dari sayuran aja. Aku mau diet."
Trissya terkekeh mendengar jawaban polos suaminya, "Kenapa harus diet?"
"Biar gak gendut." Raefal menepuk perutnya. Trissya mendekatinya dengan tatapan nakal. Pria itu jadi gugup. Trissya mengusap perut Raefal.
"Aku tetap sayang sama kamu, kok. Entah perut kamu gendut, atau kotak-kotak," desah Trissya. Kedua pipi Raefal memanas dan kini sudah memerah karena ucapan istrinya.
"Sayang, ini di toko. Kita lanjutin di rumah aja, ya." Raefal mengusap lengan istrinya. Trissya terkekeh, "Aku cuma bercanda."
Raefal sudah membawa dua keranjang penuh di tangannya. Dia memberikan kedua keranjang itu pada kasir untuk di hitung. Sementara Trissya masih memilih sayuran. Namun, kedua matanya teralihkan pada toko yang berdempetan dengan toko sayuran. Sejenak wanita itu melamun.
Trissya membawa keranjang belanjaan dan memberikannya pada Raefal yang sedang menyodorkan dua keranjang sebelumnya ke kasir. Pria itu menerima keranjang tersebut dari Trissya. Dia melihat istrinya keluar dari toko. Karena cemas, Raefal menyusulnya.
"Mas, belanjaannya gimana ini?" Tanya kasir. Raefal menoleh, "Hitung aja dulu, nanti saya balik lagi."
Tanpa menunggu respon dari kasir, Raefal segera mencari Trissya yang memasuki toko pakaian. Pria itu mengedarkan pandangannya. Dia melihat Trissya sedang memegang beberapa baju. Pria itu tersenyum lega menemukan istrinya. Dia mendekat.
"Sayang, kalo kamu mau beli baju, kita bisa beli baju di mall. Ayo, kita ke mall." Raefal menarik lembut tangan istrinya. Namun, pandangan Raefal menyendu ketika melihat pakaian-pakaian kecil yang dipengan Trissya.
Ternyata Trissya memegang pakaian bayi. Trissya tersenyum melihat pakaian-pakaian lucu itu. Pria itu merasa sedih.
"Aku mau beli yang ini, sama yang ini." Trissya membawa sepasang pakaian bayi perempuan berwarna cerah. Raefal tidak tega melihat kebahagian yang terpancar di wajah istrinya. Pria itu tersenyum sambil mengangguk.
"Oke, kita beli."
Diperjalanan pulang, Trissya tetidur lelap. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Raefal yang sedang menyetir mobil.
Ya, pria itu sudah tidak ragu lagi memperlihatkan kekayaannya. Terkadang, para tetangga mempertanyakan pekerjaan Raefal yang bisa kaya seperti itu.
Mereka tidak tahu, jika Raefal adalah seorang pangeran yang bisa memiliki apa saja dengan uangnya.
Mobilnya sampai di depan rumah. Raefal tidak ingin membangunkan istrinya. Dia memutuskan untuk menggendong tubuh Trissya dan membawanya masuk ke kamar. Wanita itu bahkan tidak merasa terusik.
Raefal mengusap lembut rambut panjang istrinya. Pria itu melihat pakaian bayi yang dibeli oleh Trissya.
"Kita pasti akan menjadi orang tua, Sayang."
♥♥♥
~Kadang kita iri dengan apa yang dimiliki oleh lain. Namun, tanpa sadar, ada orang lain yang lebih iri dengan apa yang kita miliki.~
(Ucu Irna Marhamah)
19.47 : 26 September 2019
By Ucu Irna Marhamah
Momen Pernikahan
~Trissya & Raefal~
__ADS_1