DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Makhluk Misterius


__ADS_3

~Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dia akan diberikan tantangan berupa egonya sendiri.~


♥♥♥


 


 


Makhluk yang memiliki tubuh seperti awan gelap itu tersenyum sinis, dia memiliki sepasang mata berwarna merah darah. Senyuman mengerikan terpatri di wajahnya. Dia tidak memiliki tubuh seperti makhluk hidup. Hanya gumpalan asap berwarna hitam.


Namun, lama-lama wujudnya berubah seperti pria drucless. Dia melangkah menghampiri kedua perempuan yang sedang ketakutan itu.


"Datang sendiri padaku."


"Ka-kami hanya sedang membersihkan diri di sungai ini," kata Trissya sambil menunduk takut.


Beberapa prajurit datang lalu membentuk formasi melindungi ratu dan putri Zeroun. Mereka memberikan peringatan pada makhluk misterius itu untuk tidak mendekat.


Namun, tiba-tiba para para prajurit itu berubah menjadi abu. Trissya menutup mata Laureen yang melihat kejadian itu secara langsung.


Tawa mengerikan itu keluar dari mulutnya, "Aku akan mengambil alih tubuh kalian!"


Trissya melindungi Laureen dibalik punggungnya. Tiba-tiba makhluk itu sudah berada di depan Trissya. Wanita itu membelalak takut. Ingin sekali dia berlari kabur dari makhluk yang menyerupai drucless di depannya itu. Namun, apa daya. Tubuhnya tidak bisa digerakkan karena takut.


"Ah, kau manusia rupanya."  Makhluk itu mencakar lengan Trissya, membuat wanita itu berteriak kesakitan. Darah segar mengalir dari luka tersebut.


Laureen ketakutan melihatnya. Dia tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu ibunya.


Pria itu menarik lengan Trissya dan menghirup aroma darah yang mengalir itu.


"Aroma kehidupan tercium dari sini. Bagaimana bisa manusia sepertimu berada di dunia drucless."


Makhluk itu akan merasuki tubuh Trissya. Namun, sebelum makhluk itu benar-benar masuk ke tubuh Trissya, tubuh makhluk itu tiba-tiba terlempar jauh.


Trissya menoleh pada Laureen yang warna matanya berubah menjadi kuning gelap. Trissya gemetar ketakutan melihat ekspresi dingin dari wajah putri kecilnya itu.


Bahkan, sepertinya Laureen lebih menakutkan daripada makhluk itu. Angin kencang tiba-tiba datang dan melindungi mereka berdua.


Itu kekuatan Laureen.


Dengan terbatuk-batuk, makhluk itu bangkit menatap tajam pada Laureen.


"Kekuatan apa ini?! Kutukan?!"


Laureen mengarahkan telapak tangannya ke makhluk itu. Tiba-tiba makhluk itu terbakar oleh kobaran api yang entah dari mana datangnya. Laureen tidak melakukannya. Dia menoleh pada sosok yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Trissya juga menoleh, ternyata Daeriel yang datang. Kedua tangannya di penuhi api. Pria itu yang membakar makhluk asing tersebut.


Warna mata Laureen berubah normal. Gadis kecil itu tersungkur dalam pelukan Trissya. Daeriel segera menghampiri mereka.


Makhluk itu masih berteriak kesakitan karena dibakar oleh api milik Daeriel. Makhluk itu berubah jadi asap seperti semula dengan warna mata merah menyala.


"Hahahaaa, kau tidak bisa membunuhku! Aku akan membalasmu. Tapi, tidak perlu. Gadis kecil itu memiliki kutukan dalam tubuhnya. Dia akan menghancurkanmu!"


Suara itu menghilang, bersamaan dengan perginya makhluk itu. Daeriel mengepalkan tangannya geram.


Trissya mencerna kata-kata itu. Dia menunduk menatap Laureen yang tak sadarkan diri dalam pelukannya.


Daeriel membawa Trissya dan Laureen kembali ke istana. Di istana, Daeriel marah pada Trissya.


"Kenapa kamu membawa Laureen ke tempat itu! Kenapa kalian pergi tanpa aku!"


Trissya menunduk, dia tidak berani mengeluarkan suaranya. Dia takut pada Daeriel.


"Jika aku tidak datang tepat waktu, kalian pasti sudah mati! Putriku pasti sudah mati!"


Daeriel menoleh pada Trissya. Wanita itu segera menunduk menghindari kontak mata dengan suaminya.


"Kamu punya niat jahat, ya? Kamu mau Laureen mati?!"


Trissya menggeleng sembari menatap Daeriel, "Tidak, aku sungguh menyayanginya. Aku sudah menganggapnya seperti putriku sendiri."


Daeriel mencengkram lengan Trissya. Wanita itu meringis, karena Daeriel mencengram luka yang dibuat oleh makhluk tadi.


"Kamu bohong! Kamu pasti ingin balas dendam, kan?!" Bentak Daeriel. Trissya menggeleng cepat, "Aku bersungguh-sungguh. Kamu bisa baca pikiran aku!"


"Lalu kenapa kamu pergi kesana tanpa aku! Padahal kamu tahu, hutan itu sangat berbahaya, terutama pada malam hari!" Bentak Daeriel sambil mendorong istrinya.


Trissya mencoba menjawab, "Aku... aku hanya ingin dia bersentuhan dengan air suci. Aku tidak ingin dia kenapa-napa. Bukakah air suci adalah sumber kehidupan bagi para drucless?"


Daeriel menautkan alisnya, "Laureen tidak membutuhkan itu! Qwella ibunya adalah pengendali air. Laureen memiliki air dalam tubuhnya. Laureen tidak akan kehilangan energi hanya karena tidak bersentuhan dengan air suci."


Trissya menunduk dalam, "Maaf, aku tidak tahu."


"Iya, kau tidak tahu apa-apa. Kau bukan ibunya." Daeriel mendecih sambil membelakangi Trissya.


Wanita itu terluka dengan perkataan Daeriel. Padahal dia sudah berusaha menyayangi Laureen, meskipun gadis kecil di bukan anaknya. Laureen adalah anak pembunuh kejam yang telah merenggut kebahagiaan Trissya.


Daeriel kembali bicara, "Ada kutukan yang tertanam dalam tubuh putriku. Aku melihatnya marah pada makhluk yang melukaimu tadi. Dia ingin melindungimu dengan kekuatan terkutuknya. Keberadaanmu di sisinya membuat Laureen menunjukkan sisi jahatnya. Aku tidak mau ini terjadi."


Daeriel menoleh pada Trissya. Mereka saling menatap sejenak, sebelum Trissya yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kamu sayang sama Laureen?" Tanya Daeriel. Trissya menatap pria itu kemudian mengangguk cepat.


"Jangan dekati dia lagi. Kamu harus kembali ke dunia manusia. Aku akan membawamu pergi dari sini," kata Daeriel dengan nada bicaranya yang dingin. Kedua mata Trissya melebar.


Dulu dia sangat ingin kembali ke dunia manusia untuk menghindari Daeriel. Tapi, entah kenapa mendengar ucapan Daeriel hari ini, membuatnya sedih.


Dia tidak ingin berpisah dari Laureen. Untuk saat ini, Laureen adalah alasannya menjadi seorang ibu. Laureen adalah alasannya melupakan kejadian buruk yang sudah diperbuat oleh Daeriel.


Trissya menggeleng. Wanita itu memegang tangan Daeriel sembari menangis, "Jangan lakukan ini. Aku mohon, aku tidak mau berpisah dengan Laureen. Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan membuatnya dalam masalah. Aku mohon, sudah lama aku ingin memiliki seorang putri yang cantik seperti Laureen. Aku tidak ingin kehilangan dia."


Daeriel menepis tangan Trissya dan berbalik membelakangi wanita itu. Senyuman licik terukir di bibir pria itu. Kemenangan ada di tangannya sekarang. Pria kejam itu memanfaatkan kebaikan Trissya untuk kepentingannya sendiri.


"Kalau begitu, kamu harus tetap disini dan melakukan semua yang aku mau. Termasuk menjalankan tugasmu sebagai seorang istri," kata Daeriel.


Trissya terkejut dengan ucapan Daeriel. Pria itu benar-benar  ingin membuatnya berada dalam penjara dengan sel tahanan yang tak nampak.


Wanita itu menghela napas berat. Daeriel menghampiri Trissya. Dia mengubah warna matanya menjadi merah. Segel drucless yang tertanah di leher Trissya muncul. Trissya tidak bergeming.


"Kau memang menyayangi Laureen. Tapi, kenapa selalu Raefal yang ada di pikiranmu! Dia sudah lama mati, dan kau masih berharap bersamanya?!" Teriak Daeriel membuat Trissya terkejut sekaligus takut.


Warna mata Daeriel menjadi merah pekat. Kedua mata Trissya berubah menjadi serupa dengan warna mata Daeriel. Wanita itu merasa kepalanya sakit. Dia menutup telinganya sambil berteriak keras.


Daeriel masih menatapnya dengan tajam tanpa merasa kasihan sedikit pun. Trissya terduduk di lantai sembari menjambak rambutnya sendiri seolah dengan begitu, rasa sakitnya akan menghilang.


"Kamu hanya boleh mencintaiku! Tidak dengan pria lain!" Bentak Daeriel. Darah segar mengalir dari telinga Trissya membuat pakaiannya yang berwarna putih ternodai darah tersebut.


Mata kiri Daeriel juga mengeluarkan darah yang mengalir ke pipinya. Pria itu tampaknya sedang berusaha mengendalikan pikiran Trissya.


Trissya berhenti menangis. Wanita itu membeku dan terdiam dengan tatapan kosong. Daeriel mengelap darah yang tidak berhenti mengalir dari matanya. Dia berjalan menghampiri istrinya. Pria itu mengusap darah di telinga dan leher wanita itu.


Pria itu menarik dagu Trissya.


Pandangan mereka bertemu. Trissya sedang melihatnya. Namun, kedua matanya seperti sedang menatap kosong.


"Siapa pria yang paling kamu cintai?" Tanya Daeriel. Trissya menatap pria itu sambil tersenyum sendu, "Hanya kamu."


Daeriel tersenyum penuh kemenangan, "Bagus, aku juga mencintaimu."


Daeriel bangkit, namun Trissya meraih tangan suaminya dan bertanya, "Kamu mau kemana, Raefal?"


Daeriel terbelalak. Tangannya mengepal karena marah. Meskipun dia sudah mengendalikan pikiran Trissya, wanita itu tetap memikirkan Raefal.


Daeriel mendorong istrinya ke tempat tidur dan menindihnya dengan kasar. Trissya meringis sambil menahan dada Daeriel.


Mereka saling menatap. Yang Trissya lihat, pria di depannya itu adalah Raefal. Bukan Daeriel.


"Baiklah, tidak masalah kamu anggap aku Raefal." Daeriel tersenyum penuh kemenangan.


"Raefal!"


~


 


 


Matahari muncul dengan warna pudarnya di dunia drucless. Siang telah tiba. Ya, seperti yang diketahui. Dunia drucless tidak mengenal pagi.


 


 


Daeriel membuka matanya. Dia merasakan keberadaan Trissya yang berada dalam pelukannya. Selimut menutupi tubuh polos mereka.


 


 


Ditatapnya wajah cantik itu ketika tertidur.


 


 


Daeriel teringat dengan kejadian semalam. Mereka bercinta dengan romantis. Namun, Trissya tidak berhenti memanggil nama Raefal. Wanita itu menganggap dirinya Raefal.


Dia sangat kecewa.


Daeriel melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Trissya yang masih terlelap dalam tidurnya.


Pria itu menemui Geross. Dia membicarakan makhluk semalam yang hampir saja melukai Trissya dan Laureen di dekat sungai suci.


"Itulah sebabnya makhluk hidup akan bersembunyi ketika malam tiba. Mereka takut bertemu dengan makhluk mengerikan seperti itu." Geross menatap lurus ke hamparan bukit hijau di depannya.


Daeriel mendengus kesal, "Luka di lengan Trissya sudah diobati. Apa itu tidak akan membuatnya kenapa-napa?"


"Luka itu tidak akan menyebabkan masalah. Makhluk yang melukai ratu Natrissya ingin merasuki tubuh ratu untuk tujuan tertentu."


"Sebenarnya makhluk apa itu? Kenapa dia bisa hidup di dekat para drucless? Aku merasa kekuatan mereka sangat besar," tanya Daeriel diakhiri dengan opini.


Geross tampak berpikir, "Saya tidak tahu, karena sejak kecil, kita memang dilarang pergi ke dekat sungai suci di malam hari. Ini masih menjadi misteri."


"Baiklah, aku harus kembali ke istana."


Sementara itu, Trissya yang sudah bangun merasa bingung. Dia menyentuh kepalanya yang sakit. Wanita itu ingat dengan kejadian semalam. Daeriel mengendalikan pikiran terdalam Trissya agar mencintainya.


 


 


Tapi, kenapa sekarang dia bisa terlepas dari pengendalian terkuat Daeriel?


 


 


Trissya teringat sesuatu. Dia menyentuh dadanya. Ada diamond milik Raefal di sana yang mungkin selalu melindunginya.


 

__ADS_1


 


"Raefal, maafkan aku yang tidak menemuimu segera. Aku merasa hidupku sedikit lebih berarti ketika bersama Laureen. Aku sangat sedih, karena kehilangan Aerilyn. Tapi, ada Laureen di sini. Setidaknya aku merasa diakui sebagai seorang ibu oleh seorang anak," kata Trissya.


 


 


Tiba-tiba pintu kamar dibuka. Trissya menoleh sembari membenarkan selimutnya, ternyata Laureen yang datang. Gadis kecil itu tersenyum ceria sambil berlari menghampiri Trissya.


 


 


"Ibu, kenapa bangunnya telat?" Tanya Laureen sambil naik ke tempat tidur. Dia merebahkan tubuhnya ke paha Trissya yang tertutup selimut.


 


 


"Ibu gak pakai baju?" Tanya Laureen bingung. Trissya terkekeh bingung, "Ibu mau mandi."


 


 


Ini perbuatan si Daeril sialan, batin Trissya menjerit.


 


 


Trissya mengingat ucapan makhluk yang kemarin menyerangnya. Wanita itu merasa sedih dan cemas, kala mendengar putrinya itu memiliki kutukan. Apalagi Daeriel membenarkannya.


 


 


Trissya sangat mengkhawatirkan Laureen. Dia tidak mengira, gadis sepolos Laureen memiliki kutukan. Tega sekali orang yang mengutuknya. Pantas saja tidak ada yang berani mendekati Laureen, karena kutukan itu.


 


 


Trissya tidak akan pernah meninggalkan Laureen, meskipun ada kutukan yang tertanam dalam dirinya.


 


 


Laureen menatap ibunya dengan serius. Trissya menangkup pipi bulat putrinya.


 


 


"Kenapa, Sayang?" Tanya Trissya. Laureen tampak berpikir, "Ayah pelnah bilang, kalau ibu adalah manusia. Jadi, manusia itu apa?"


 


 


Trissya mengangkat tubuh Laureen ke pangkuannya. Wanita itu berbisik ke telinga putrinya.


 


 


"Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki nyawa. Mereka tinggal di dunia manusia yang setiap hari berubah, ada siang, sore, malam, dan pagi. Setiap hari mereka melakukan kegiatan, seperti sarapan, pergi bekerja, kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga."


 


 


Laureen mencerna ucapan Trissya. Dia kembali bertanya, "Ayah bilang, manusia itu jahat dan menakutkan."


 


 


Trissya menggeleng, "Tidak, manusia tidak seperti itu. Mereka tidak punya kekuatan seperti para drucless. Mereka hidup dalam kedamaian."


 


 


"Boleh tidak, Laueen main ke dunia manusia?" Tanya Laureen sambil melelapkan kepalanya ke dada Trissya yang tertutup selimut. Trissya mengecup pipi putrinya, "Dunia manusia dan dunia drucless itu terpisah. Tidak seharusnya makhluk asing berada di dunia yang bukan tempatnya."


 


 


Laureen menatap Trissya, "Tapi, Ibu tidak akan pulang, kan?"


 


 


Trissya tampak bingung dengan ucapan Laureen yang ambigu.


 


 


 


 


Laureen tersenyum sembari memeluk Trissya, "Laueen sayang Ibu."


 


 


Trissya tertawa sambil mengecup puncak kepala putrinya, "Ibu juga sayang Laureen."


 


 


"Ibu, Laueen boleh minta sesuatu?" Tanya gadis kecil itu. Trissya mengangguk, "Iya, Sayang."


 


 


"Laueen gak punya temen main. Laueen pengen punya adek."


 


 


Trissya terkejut dengan permintaan putrinya. Trissya bersuara, "Ada Ibu di sini yang nemenin Laureen."


 


 


"Tapi, Laueen juga pengen punya adek. Kita betiga main sama-sama."


 


 


Trissya hanya tersenyum menanggapi ucapan Laureen. Gadis kecil itu tidak hanya bilang pada Trissya. Dia juga memberitahu ayahnya, kalau dia ingin memiliki seorang adik. Tentu saja Daeriel tidak keberatan.


 


 


Namun, Daeriel tidak kunjung melihat tanda-tanda kehamilan pada istrinya. Beberapa tabib yang menanganinya bilang, jika Trissya tidak akan bisa mengandung.


 


 


Laureen merasa sedih. Itu artinya, dia akan tetap menjadi anak tunggal Zeroun.


 


 


Daeriel menyadari, jika ini semua karena ulahnya yang mencabut paksa segel Raefal dari tubuh Trissya waktu itu.


 


 


Trissya tidak mempermasalahkan itu. Selama Laureen bersamanya, Trissya merasa nyaman.


 


 


~


 


 


Hari berlalu dengan cepat. Laureen telah tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Dia begitu cantik seperti Qwella.


Rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan menjuntai memeluk pinggangnya. Tubuhnya yang ramping berjalan anggun. Sepasang mata yang bulat dan besar berpadu dengan hidung mancung dan bibir tipis berwarna merah muda.


Laureen begitu dihormati oleh rakyatnya. Namun, rasa hormat itu sekedar menyembunyikan rasa takut mereka dengan kutukan yang ada dalam diri putri Zeroun.


Sejauh ini, tidak ada hal buruk yang terjadi yang dibuat oleh putri Laureen. Gadis itu memang tumbuh menjadi putri yang baik hati sebagai anak tunggal dari Daeriel dan Trissya. Kedua orang tuanya yang membuat gadis itu tumbuh menjadi seorang putri yang baik hati.


Suatu pertemuan, mengharuskan Trissya hadir bersama Daeriel. Ya, sebagai seorang ratu, tidak ada lagi yang harus dia lakukan selain menuruti keinginan raja.


Trissya menuruti kemauan Daeriel sejak pria itu akan memisahkannya dengan Laureen. Namun, perasaan Trissya masih tetap sama.


Rasa cintanya hanya untuk Raefal, dan kebenciannya hanya untuk Daeriel.


"Kami akan membahas ini lebih jauh nanti," kata raja Gerald. Daeriel mengangguk, "Tentu."


Laureen berjalan di luar ruang rapat tersebut. Namun, para raja dan ratu bisa melihatnya dari jendela. Gadis bergaun merah itu tampak begitu cantik dan anggun. Siapa yang bisa mengalihkan perhatian darinya.


"Putri anda sangat cantik, dia tumbuh dengan baik," kata ratu Amelda. Daeriel tersenyum senang mendengar pujian tersebut.


"Aku sungguh kagum padamu yang bisa membesarkannya dengan baik. Dia sangat dicintai rakyatnya. Bahkan rakyatku mengenal namanya," kata raja Alexander.

__ADS_1


Daeriel menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan raja Alexander. Trissya tersenyum mendengar pujian itu.


"Dia akan menjadi ratu yang baik setelah anda," kata raja Xavier. Raja yang lain mengangguk mengiyakan.


"Semoga kutukan yang ada dalam dirinya menghilang. Bukankah itu akan merugikanmu?" Kata raja Devaan dengan ekspresi dingin.


Ucapan pria itu membuat para raja dan ratu menoleh padanya.


Trissya menoleh tidak suka ke arah pria itu. Daeriel juga merasa tersinggung dengan ucapan raja Devaan. Namun, Daeriel berusaha menahan emosinya, karena para raja yang ada disana adalah raja yang sangat berkuasa yang bekerja sama dengannya. Dia tidak bisa bertindak sembarangan.


"Kutukan tidak baik untuk gadis muda sepertinya. Kamu sudah menghilangkannya, kan?" Tanya Devaan lagi sambil tersenyum sinis. Bukan tanpa alasan, pria itu pernah menyukai Qwella sebelum wanita itu mengenal Raefal dan Daeriel. Tapi, Qwella memilih bersama Raefal dan kemudian bersama Daeriel.


Itulah alasan dari sikap Devaan yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Daeriel dan Laureen. Raja dan ratu di sana saling pandang.


Trissya menoleh pada suaminya yang sepertinya tidak berniat menanggapi ucapan raja Devaan.


"Ah, sayang sekali. Bahkan sepertinya kau tidak peduli pada putrimu. Ibunya juga kau bu..."


Trissya menyambar, "Kutukan itu tidak ada di dunia ini. Aku tidak percaya dengan kutukan. Jika benar putriku dikutuk, mungkin sudah terjadi sesuatu yang buruk sejak lama. Tapi, tidak terjadi apa-apa, kan?"


Raja Devaan mendecih, "Di dunia manusia memang tidak ada kekuatan seperti ini. Jadi, anda mana tahu."


Trissya merasa sangat tersinggung. Memang benar hanya dirinya yang merupakan manusia di ruangan itu. Tapi, perkataan raja Devaan seolah ingin menjatuhkan keluarga mereka.


"Pertemuan ini untuk urusan kerajaan. Bukan urusan pribadi, kan?" Tanya Trissya sarkas. Devaan sedikit kesal dengan ucapan ratu Zeroun itu.


"Sepertinya anda begitu mencintai raja Daeriel, sehingga anda terus membelanya di depan kami. Anda merasa cemburu dengan mendiang ratu Qwella?" Ujar raja Devaan diakhiri dengan pertanyaan.


Trissya bungkam. Dia tidak berniat membela Daeriel. Dia hanya ingin membela putrinya, Laureen.


Trissya akan mengeluarkan sisa kemarahannya. Namun, Daeriel menggenggam tangan istrinya, agar tidak meladeni pria itu.


Setelah pertemuan tersebut selesai, Trissya merasa sedih dengan apa yang dipikirkan orang-orang tentang putrinya. Trissya ingat kejadian lama itu, dimana Laureen melawan makhluk aneh dengan kekuatan anginnya. Trissya tahu, kutukan itu memang ada.


Namun, sebagai seorang ibu, dia berusaha menenangkan hatinya. Berusaha menepis jika itu semua benar adanya.


 


 


Daeriel memasuki ruang tengah dimana Trissya berada. Pria itu melangkah menghampiri wanita itu. Trissya belum menyadari keberadaan Daeriel.


 


 


Dengan lembut, Daeriel mendekap tubuh Trissya dari belakang. Wanita itu mendongkak menatap wajah suaminya. Daeriel menyimpan dagunya di ceruk leher Trissya sembari menutup rapat kedua matanya. Trissya kembali menatap lurus ke jendela.


 


 


Daeriel berbisik lirih, "Aku tahu, kamu tadi bukan membela aku. Tapi, kamu membela Laureen. Kamu sangat mengkhawatirkan dia. Terima kasih."


 


 


Hening.


 


 


Tidak ada respon.


 


 


"Entah sudah berapa ratus tahun kita bersama di dunia drucless. Tapi, perasaanmu masih sama. Apa kamu memang tidak ingin mengubah perasaanmu?" Tanya Daeriel.


 


 


"Kamu sudah tahu jawabanku. Alasanku bersama kamu cuma satu, Laureen. Tidak ada alasan lain. Jadi, jangan menanyakan hal yang sama setiap tahun," kata Trissya.


 


 


Daeriel membuka matanya. Dia mengecup cuping telinga Trissya, "Kenapa kamu begitu keras kepala? Aku bosan dengan sikap kamu."


 


 


Trissya menautkan alisnya.


 


 


"Tapi, aku tidak pernah bosan dengan tubuh kamu. Aku menyukai tubuh ini," Daeriel mengusap lengan Trissya dan terus turun ke perut wanita itu, "tubuh manusia memang menggairahkan. Aku tidak bisa berpaling dari kamu. Aku tidak tahu, kamu punya kekuatan apa, sehingga aku bisa tertarik hanya karena dua kali tidur denganmu."


 


 


Trissya merasakan tangan Daeriel menuju pahanya. Wanita itu segera bebalik menatap suaminya.


 


 


"Seharusnya kamu bisa membuat raja Devaan bungkam. Pria itu keterlaluan dan tidak punya malu," kata Trissya. Daeriel mengernyit, perkataan Trissya jelas tidak nyambung dengan pembahasan mereka.


 


 


Mau mengalihkan pembicaraan, ya? Kamu memang keras kepala, batin Daeriel.


 


 


"Memangnya aku harus bilang apa? Semakin kamu meladeni dia, dia semakin kurang ajar. Biarkan saja para raja dan ratu yang menilai kepribadiannya."


 


 


"Sial, yang dia bicarakan putriku. Memang drucless sialan seperti dia tahu apa?" Gerutu Trissya.


 


 


Daeriel menyentuh bibir Trissya, "Ah, jangan mengumpat terus. Bibirmu jadi kotor. Aku harus membersihkannya."


 


 


Daeriel mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Trissya. Namun, wanita itu menahan dada suaminya.


 


 


"Ka-kamu mau apa?!"


 


 


"Aku mau tidur sama kamu."


 


 


Trissya mencari alasan, "Ini masih siang. Jangan macam-macam!"


 


 


"Memangnya kenapa? Tidak ada aturan yang melarang pria drucless menyentuh istrinya sendiri di siang hari."


 


 


Daeriel mengecup bibir istrinya tanpa mau mendengar bantahan. Trissya sama sekali tidak berniat membalas perlakuan romantis suaminya. Dia hanya diam.


 


 


Daeriel melepaskan ciumannya seraya bertanya, "Kenapa kau tidak pernah menyambut diriku saat aku menginginkan tubuhmu?"


 


 


Trissya tidak menjawab. Dia memilih diam tanpa mau melihat wajah Daeriel.


 


 


"Keras kepala."


 


 


♥♥♥


 


 


10.42 : 05 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


 

__ADS_1


 


__ADS_2