DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Diamond


__ADS_3

~Yang terbaik memang tidak datang dengan cepat, tapi datang di waktu yang tepat.~


***


Kelopak matanya terbuka lebar ketika alarm di meja berbunyi mengejutkan gadis itu. Dengan malas, kedua tangannya bergerak mematikan alarm tersebut. Dia memasuki kamar mandi. Ada cermin besar di dalam. sejenak dia bercermin sambil tersenyum manis.


Trissya, gadis cantik bertubuh mungil dengan rambut panjang berwarna hitam kecoklatan. Kedua matanya bulat besar dengan manik berwarna hitam bening. Hidungnya yang mancung terpahat manis di wajahnya. Bibir kecilnya yang sedikit merekah berwarna merah muda membuat kesan imut gadis asal Indonesia itu.


Selesai mandi, gadis berusia 22 tahun itu memakai seragam berwarna biru tua berlengan pendek dengan celana panjang berwarna hitam. Dia menguncir rambutnya. Trissya bekerja sebagai pelayan mini market. Dia menaiki sepeda untuk mencapai tempat kerjanya yang berjarak 700 meter dari kontrakan tempat dia tinggal.


Sesampainya di mini market, gadis itu memakai name tag miliknya. Dengan ramah, dia menyapa para pelanggan yang datang.


Seorang gadis berjilbab yang juga pelayan mini market tersebut datang menghampirinya, "Trissya, tahu gak kamu?"


Trissya menggeleng, "Enggak."


Gadis itu memasang ekspresi berpikir, "Ya iyalah, aku belum ngomong apa-apa juga." Trissya mendengus pelan, "Ya, lagian kamu nanya 'tahu gak?'. Ya, mana kutahu, Alma."


Gadis berhijab yang bernama Alma itu tersenyum manis, "Hehe, iya juga, ya?"


Trissya memutar bola matanya, "Emangnya ada apa?"


"Tadi, aku sama Chilla dateng kesini pake taksi. Di jalan, ada korban tabrak lari. Kasihan banget," kata Alma sambil memperlihatkan ekspresi sedihnya. Trissya mengusap lengan Alma, "Jangan nangis, dong. Itu, kan,  bukan salah kamu, Alma."


Alma mengangguk pelan, "Iya, sih. Tapi, tetep aja kasihan. Dia dibawa ke rumah sakit sama ambulans yang telat datengnya."


Seseorang menepuk bahu mereka berdua. Sontak saja mereka berdua terhenyak dan menoleh. Wanita cantik itu melihat pada Alma dan Trissya bergantian.


"Ini masih jam kerja, cantik. Kalian lanjutkan pekerjaan," kata wanita itu. Seketika kedua gadis itu kembali beraktivitas sambil mengangguk hormat.


Alma tersipu malu, "Maaf, Bu Tari."


Bu Tari, yang mengolah mini market tersebut hanya tersenyum maklum lalu kembali ke ruangan pribadinya. Trissya menyikut lengan Alma, "Kamu, sih, ngajakin orang ngomong terus."


Seorang gadis muda menghampiri mereka berdua. Tertera nama Chilla di name tag yang dipakainya.


"Kak Alma, Kak Trissya, bantuin beresin rak ini, dong."


Kedua gadis itu menoleh pada Chilla yang sibuk membereskan rak.


~


Setelah pekerjaan hari itu selesai, Trissya pulang dengan menggunakan sepedanya seperti biasa. Karena hari sudah cukup malam, dia melewati jalan dibicarakan Alma. Pasalnya jalan itu jaraknya cukup dekat dengan kontrakan Trissya. Namun, lumayan macet dan sering terjadi kecelakaan.


Beruntung sekali malam itu jalanan cukup sepi. Benar saja, Trissya melihat ada bekas goresan di trotoar. Jejak ban mobil yang mengerem mendadak juga tercetak jelas di aspal. Trissya tidak berniat berhenti. Dia tetap melajukan sepedanya. Namun, sepertinya dia melindas sesuatu. Gadis itu terpaksa menghentikan sepedanya dan melihat ke belakang. Ternyata sebuah diamond berwarna biru tua yang sedikit lecet. Mungkin karena barusan Trissya melindasnya. Gadis itu mengambil benda tersebut dan melihatnya dengan teliti.


"Mungkin ini ada hubungannya kecelakaan disini. Aku bawa pulang dulu, deh. Nanti aku telepon polisi aja," kata Trissya.


Gadis itu kembali mengayuh sepedanya menuju kontrakan. Dia mengayuh dengan sekuat tenaga.


Trissya mengelap keringat di dahinya sambil menggerutu pelan, "Kok, tiba-tiba berat gini, sih."


Sesampainya di rumah kontrakan, Trissya memilih untuk mandi kemudian memasak. Setelah selesai makan, gadis itu melihat diamond yang dia temukan. Dengan hati-hati, gadis itu membersihkan diamond tersebut dan meletakkannya di depan cermin kamar mandi. Ketika Trissya meningalkan diamond tersebut, warna biru pada diamond itu perlahan memudar.


Trissya merasa malam itu sedikit mencekam. Dia menyalakan TV sambil memakan cemilan untuk menghilang keheningan yang datang. Ada berita di TV tentang kecelakaan tabrak lari pagi ini. Trissya mendengarkan dengan serius.


".. korban dibawa ke rumah sakit. Sekarang dia sedang koma. Kami sedang berusaha mencari informasi tentang keluarga korban.."


Trissya melihat ada foto korban di sudut bawah layar. Pria yang tampan dengan tatapan dingin. Trissya merinding melihat itu, dia menyentuh pundaknya sendiri. Gadis itu memilih untuk mematikan TV dan menelepon polisi.


Trissya memasuki kamar sambil membuka ikat rambutnya, "Halo? Begini, Pak, tadi itu saya pulang kerja lewat lokasi kejadian tabrak lari. Nah, saya nemuin benda yang mungkin saja milik korban."


"..."


"Bendanya seperti berlian gitu, Pak." Gadis itu duduk di tepi tempat tidurnya.


"..."


"Baiklah, besok pagi sebelum saya berangkat kerja, saya ke kantor polisi dulu. Iya, sama-sama, Pak."


Trissya menyimpan ponselnya ke meja, lalu berbaring dengan nyaman. Perlahan tapi pasti, gadis itu tertidur pulas. Dia tidak menyadari suara dari kamar mandi. Bayangan hitam itu bergerak dan terjatuh ke bak mandi.


Hari mulai pagi.


Trissya masih tertidur lelap meskipun ayam pagi sudah berusaha membangunkannya dengan suara yang khas. Tangan gadis itu bergerak mengambil ponsel dari meja. Dia bangkit duduk sambil mengucek matanya dan melihat ke layar.


Seketika pandangannya melebar ketika melihat jam yang menunjukkan pukul 9 pagi. Gadis itu bergegas memasuki kamar mandi sambil melempar ponselnya begitu saja ke tempat tidur.


"Kenapa aku bisa lupa masang alarm, sih? Biasanya juga alarm bunyi tiap hari!" Gerutu gadis itu.


Dia berdiri di depan cermin sambil membuka bajunya. Namun, dia mengerutkan keningnya ketika melihat ke bak mandi, ada kepala yang muncul ke permukaan air. Seketika bulu kuduknya berdiri. Dia mulai berpikir tidak logis.


Gadis itu segera memakai kembali bajunya dan memberanikan diri melihat ke bak mandi. Ternyata itu tubuh seorang pria yang pingsan.


"Ke-kenapa jadi ada orang disini? Ka-kapan dia masuk?"


Ketika dia menyentuh rambut itu, ada sengatan listrik yang mengalir membuatnya terkejut. Trissya segera mematikan aliran listrik di rumah tersebut dan mengosongkan isi bak mandi dengan mencabut penyumbatnya.


 


"Ah, aku bisa kesiangan ke mini market."


Dia menyentuh rambut itu dan masih terasa ada sengatan listrik yang sama. Trissya mulai panik. Dia mengambil kayu kering untuk membawa tubuh itu dari bak mandi. Dengan kesusahan, dia berhasil mengeluarkan tubuh itu.


"Ini orang berat banget. Seberapa dosanya, ya? Eh, maaf aku juga banyak dosa, kok."


Sejenak gadis itu memperhatikan wajah tampan pria itu. Sepasang mata yang tertutup dengan alis seolah menukik tajam. Hidung mancung dan bibir tipis yang sedikit terbuka. Gadis itu menggeleng untuk menghilangkan pikiran negatif yang mulai menggodanya. Pria itu memakai model pakaian aneh berwarna biru gelap.


Trissya menoleh kearah diamond yang dia temukan semalam. Warnanya berubah menjadi putih. Trissya tampak bingung. Tanpa dia sadari, pria itu bergerak dan mendongkak menatapnya. Ketika Trissya berbalik, dia terkejut melihat pria itu.


"Eeh, kamu udah sadar?!" Tanya Trissya panik. Pria itu berusaha bangkit walau sempoyongan. Dia memegang dadanya yang terasa sakit. Pria itu bertanya seolah pada dirinya sendiri, "Gue dimana?"


Trissya lebih bingung dengan pertanyaan pria itu. Dia menjawab, "Kamu di kontrakan aku. Kok, kamu bisa masuk kesini? Aku udah kunci semua pintu dan jendela."


Pria itu menoleh sekilas pada Trissya lalu menggeleng sambil melihat diamond berwarna putih di depan cermin. Trissya masih menatap curiga pada pria itu. Gadis itu merasa tidak asing dengan wajahnya. Kedua mata pria itu membelalak melihat diamond tersebut, "Tubuh gue!"


"Ah?" Trissya kebingungan. Gadis itu melihat diamond dan pria itu bergantian. Pria itu mencengkram lengan Trissya, "Dimana tubuh gue?"


"Tubuh? Bukankah ini tubuh kamu?" Tanya Trissya sambil menyentuh tangan pria itu. Kedua mata pria itu menatap tangan hangat Trissya yang lembut, "Ini bukan tubuh asli gua. Sepertinya, telah terjadi sesuatu yang bikin gua terpisah sama tubuh gua."


Pria itu berbalik memegang diamond dan menatapnya dengan intens tanpa memperhatikan raut ketakutan di wajah Trissya. Gadis itu bahkan tidak melihat pantulan bayangan pria itu di cermin.


"Ja-jadi... ka-mu... hantu?" Tanya Trissya disusul dengan jatuhnya tubuh mungil itu. Pria itu berbalik dan terkejut karena Trissya pingsan. Dia mendekat sembari mengguncang tubuh Trissya, "Gadis kecil, bangun."


Tidak ada respon.


Pria itu mengangkat tubuh Trissya dan menidurkannya ke ranjang. Sejenak pria itu melihat tubuh Trissya dari atas ke bawah dan sebaliknya. Kemudian dia menggeleng dan kembali melihat diamond di tangannya.


Matanya yang berwarna abu-abu tertutup rapat. Potongan-potongan kejadian muncul lewat begitu saja dalam benaknya.


Dua pria itu sedang berkelahi dengan kemampuan diluar nalar manusia. Pukulan keras membuat lawan terpelanting jauh dan menghancurkan apa pun di jalan raya. Pria itu terlempar ke mobil yang sedang melaju cepat. Tubuh itu tersungkur jatuh ke jalanan ketika mobil itu mengerem mendadak. Darah segar mengalir dari kepalanya.


Langkah kaki itu mendekat. Dia berusaha melihat wajah pria yang telah memukulnya sampai sekuat itu. Namun, malam yang gelap membuatnya tidak bisa dengan jelas melihat wajah itu.


"Sepertinya lu emang lemah, Raefal. Lebih baik lu mati aja di dunia manusia."


Yang Raefal lihat adalah jubah merah pria itu bergerak tertiup angin malam.


Pria yang bernama Raefal itu tersentak kaget, "Siapa yang ngambil tubuh gua, ya? Jika malam ini gua gak bisa nemuin tubuh gua, bisa-bisa gua mati."


Pria itu melihat Trissya yang masih belum sadarkan diri. Raefal berdecak kesal, "Ingatan gua pasti kepotong karena tubuh sama sumber kehidupan gua terpisah gara-gara perkelahian itu."

__ADS_1


♥♥♥


Perlahan kedua mata Trissya terbuka. Dia mendapati pria itu tengah menatapnya di jarak yang begitu dekat. Gadis itu terhenyak dan segera menjauh darinya. Pria


"Hantu! Ngapain kamu masih disini! Aku kira, barusan itu mimpi!" Gerutu Trissya. Raefal menunjukkan diamond yang warnanya semakin pudar, "Lu dapet dari mana diamond ini?"


"Di jalan," jawab Trissya yang masih menatap takut pada pria itu. Dalam kebingungan, Raefal mengerutkan keningnya, "Lu tahu, dimana tubuh asli gua?"


Trissya menatap pria itu dengan penuh selidik. Dia mendekatkan wajahnya. Kedua alis Raefal terangkat ketika wajah mereka begitu dekat. Mereka saling menatap.


Trissya tampak berpikir. Lalu dia teringat akan sesuatu, "Kamu cowok yang kena tabrak lari itu, kan?! Yang masuk TV semalam itu?!"


Raefal mencerna pertanyaan Trissya, "Jadi, lo tahu, dimana tubuh gue?"


"Di rumah sakit," jawab Trissya pelan. Dia masih merasa takut pada pria asing di depannya. Raefal tampak berpikir. Trissya menyentuh lengan Raefal dengan hati-hati membuat pria itu kembali menoleh padanya.


"Kenapa?" Tanyanya. Trissya terhenyak lalu menjauhkan tangannya dan menggeleng, "Kamu kayak manusia. Tapi, kamu juga kayak hantu."


"Gua bukan keduanya," jawab Raefal sambil bangkit dari tempat tidur dan membuka tirai jendela. Trissya menyipitkan matanya. Kaca jendela tidak memantulkan bayangan pria itu sedikit pun.


Manik mata pria itu berubah warna menjadi biru gelap, "Gue drucless."


Trissya memasang ekspresi berpikir, "Apakah itu sejenis makanan ringan?"


Warna matanya berubah normal mendengar pertanyaan konyol dari Trissya. Dia berbalik menatap gadis itu, "Lo harus bantu gua buat balikin diamond ini ke badan gua."


Trissya terlonjak, "Ah? Gak mau. Kamu aja pergi sendiri. Siapa suruh kamu dateng kesini."


"Siapa suruh lu ngambil diamond ini? Gara-gara lu juga gua kesetrum karena air bak mandi itu." Gerutu Raefal tidak mau kalah. Trissya bangkit menghampirinya, "Tapi..."


Ketukan pada pintu kontrakan membuat kedua mata mereka teralihkan.


Trissya berlalu diikuti oleh Raefal. Dia membuka pintu dan terkejut. Ternyata dua orang polisi.


Trissya mempersilakan mereka berdua untuk duduk. Kedua polisi itu meminta barang yang ditemukan Trissya di TKP. Gadis itu kebingungan dan melihat pada Raefal yang duduk di sampingnya.


"Saya harus bilang dulu sama temen saya, Pak."


Polisi itu tampak bingung, "Temen? Kirain kamu ngontrak sendirian."


Trissya terbelalak menyadari jika kedua polisi itu tidak melihat keberadaan pria drucless. Trissya semakin merinding ketakutan. Raefal menunjuk laci. Trissya membukanya dan melihat diamond tersebut ada disana.


Sejak kapan?  Tanya Trissya dalam hati.


Dia menoleh kearah Raefal yang mengangguk padanya. Trissya memberikan benda itu pada polisi.


"Terima kasih atas bantuannya, kami permisi."


Setelah dua polisi itu pergi, Raefal menepuk bahu Trissya. Membuat gadis itu tersentak kaget. Dia menoleh.


"Mereka gak bisa liat kamu? Tapi, kenapa aku bisa?" Tanya Trissya yang berusaha untuk tidak menangis. Raefal menatap Trissya, "Ikuti mereka. Pasti mereka akan membawa kita ke tubuh gue. Di perjalanan, gua jelasin ke lo."


"Ya ampun, kenapa juga aku bantuin ini hantu?"


♥♥♥


Trissya sedang berada di dalam taksi. Dia meletakkan ponsel ke telinganya. Raefal duduk di sampingnya dengan tenang. Taksi yang mereka tumpangi sedang melaju menyusul mobil polisi yang baru saja datang ke rumah kontrakan Trissya.


"Ja-jadi, bagaimana?" Tanya Trissya berpura-pura sedang menelepon. Sopir taksi melirik spion.


Raefal menyandarkan punggungnya dengan tenang, "Gua gak terlalu inget sama apa yang terjadi semalam. Kayaknya ada seseorang yang pengen bunuh gua. Ingatan gua bakalan balik lagi kalo gua sama tubuh gua bersatu."


Trissya menelan saliva karena gugup, "Nama kamu siapa?"


"Raefal,"


Hening.


"Gue harus dapet tubuh gue sebelum malam tiba. Jika gue gak nemuin badan gue, bisa-bisa gue mati beneran." Meskipun nada ucapannya terdengar genting, Raefal sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi paniknya. "Drucless memiliki diamond ini sebagai nyawa hidupnya. Dia akan mati jika tubuhnya dan diamond ini terpisah. Warna diamond akan memudar dan hilang kalo gak nemu wadahnya."


"Sekarang cuma lo yang bisa liat gue, karena lo yang nemuin diamond ini. Gua mau lu bantu gue sampe dapet tubuh asli gue. Pas gue sama tubuh gue nyatu, bukan cuma lo,  semua orang juga bisa lihat gue. Cermin juga bisa mantulin bayangan gua."


Trissya tampak berpikir, "Tapi, kalo aku udah nemuin apa yang kamu mau, kamu harus pergi dan jangan ganggu aku."


Raefal menatap Trissya lalu mengangguk setuju.


Benar saja, kedua polisi itu memasuki rumah sakit. Trissya dan Raefal mengikuti mereka dengan mengendap-endap. Polisi itu berbicara dengan perawat lalu keluar dari rumah sakit itu. Tidak sesuai dengan rencana awal. Seharusnya kedua polisi itu masuk ke kamar dimana tubuh Raefal berada. Trissya segera bersembunyi dibalik dinding ketika kedua polisi itu melewatinya.


"Raefal, gimana kalo kita berpencar? Kamu ikutin polisi itu dan dapetin diamond kamu, aku nyari badan kamu," ucap Trissya. Raefal tampak berpikir, "Iya, deh."


Tanpa pikir panjang, Raefal berlalu mengikuti mereka. Trissya menghampiri perawat yang memegang daftar nama pasien. Dia bertanya nama Raefal padanya.


Suster itu menggeleng lemah, "Maaf Mbak, tapi gak ada nama Raefal di daftar ini."


Iya juga, ya. Mereka, kan, gak tahu namanya Raefal. Gimana, nih? Trissya tampak panik. Dia kembali menatap suster itu, "Kalo gitu, saya mau tanya, dimana kamar cowok yang jadi korban tabrak lari kemarin?"


Perawat itu menatap curiga pada Trissya. Menyadari tatapan suster, gadis itu segera mencari alasan, "Saya temennya, Sus. Makanya barusan saya nanyain Raefal, karena namanya emang Raefal."


Suster mengangguk mengerti. Dia segera melihat daftar nama pasien dengan teliti. Trissya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11 siang. Dalam hati dia menggerutu kesal, karena tidak berangkat kerja. Meskipun bu Tari adalah orang yang baik, dia tetap akan menegur Trissya besok pagi.


"Kecelakaan jam 4 dini hari dan tubuh korban dibawa ke rumah sakit jam 9 pagi..." Trissya segera menoleh kearah Suster yang bersuara.


"... sepertinya, pagi ini sudah ada yang mengunjunginya."


Trissya terkejut, "Hah? Ta-tapi, siapa?"


"Orang itu bilang, dia saudara kandungnya."


"Siapa namanya, Sus?"


"Daeriel Zeroun."


Trissya tampak berpikir. Setelah mendapatkan nomor kamar Raefal, Trissya segera mencarinya.


"Nomor 114."


Trissya menemukannya dan segera membuka pintu. Tidak ada siapa-siapa di dalam. Gadis itu menggeleng pelan, "Jangan-jangan, ada orang yang menculiknya."


Sementara itu, Raefal masih mengikuti kedua polisi itu. Kini mereka memasuki kantor polisi.


"Wah, kalo berlian ini dijual berapa, ya?"


"Pasti mahal, dong."


"Bodoh banget tuh cewek. Kalo gue, udah dijual aja."


Kedua polisi itu sedang memperhatikan diamond milik Raefal. Sementara pria pemilik diamond itu memutar bola matanya, "Dasar manusia."


Salah satu dari mereka menyalakan TV. Raefal melihat ke layar. Kepanikan di rumah sakit karena hilangnya salah satu pasien. Dan itu adalah dirinya. Raefal membelalak kaget. Polisi itu saling pandang lalu kembali melihat ke TV. Ada Trissya yang sedang diwawancarai oleh wartawan.


"Saya temannya. Waktu sampai di kamar rawat itu, saya gak liat ada temen saya."


Kedua polisi melihat ke meja. Tidak ada berlian disana. Keduanya kembali saling pandang dengan ekspresi kebingungan. Tiba-tiba TV mati.


Seketika suasana dingin menyelimuti ruangan.


Di rumah sakit, Trissya masih mencari Raefal. Dia baru saja diwawancarai wartawan. Gadis itu berharap agar tubuh Raefal segera ditemukan. Seseorang menepuk bahunya. Trissya tersentak dan menoleh sambil menyentuh dadanya. Ternyata Raefal.


"Kenapa kamu ngagetin, sih?!" Trissya menggerutu. Beberapa orang yang lewat menatap heran padanya yang berbicara sendirian.


"Kita cari bersama-sama," ucap Raefal sambil menggenggam tangan Trissya. Gadis itu menatap tangan besar Raefal yang begitu dingin menggenggam tangannya. Raefal mengangkat tubuh mungil itu. Tiba-tiba Trissya merasa tubuhnya tersedot ke dimensi lain. Gadis itu memeluk leher Raefal dengan erat karena takut. Raefal menatap Trissya. Raefal bisa mencium aroma rambut Trissya yang wangi.

__ADS_1


Mereka tiba di sebuah tempat yang indah, taman bunga. Ada banyak bunga aneh di tempat itu. Hewan-hewan aneh dan serangga aneh juga. Trissya sangat terpukau dengan pemandangan alam di tempat tersebut.


Raefal menurunkan Trissya. Pria itu tertekuk lemas. Trissya panik dan menyentuh bahu pria itu, "Raefal, kamu gapapa?"


"Gue perlu tenaga." Pria itu terduduk lemas. Trissya mengusap-usap punggung Raefal dengan hati-hati.


Seorang pria tua berjenggot putih menghampiri mereka, "Raefal Agler Zeroun!"


Trissya menoleh. Pria tua itu membantu Raefal berdiri, "Apa yang terjadi denganmu, nak?"


Raefal menyentuh dadanya, "Seseorang mau membunuhku dan aku berpisah dengan tubuhku."


Pria tua itu membawa Raefal dan Trissya ke dalam gubuk tua. Raefal berbaring tenang dengan mata terpejam.


"Sepertinya Raefal kehilangan sebagian ingatan ketika seseorang melukainya," gumam pria tua


Trissya mengerutkan keningnya, "Tapi, dia ingat namanya."


Pria tua mengangguk, "Yang hilang adalah ingatan ketika berkelahi dengan orang itu, bukan semua ingatannya. Raefal akan mengingat semuanya ketika dia bersatu lagi dengan tubuhnya. Itu hal yang normal jika terjadi pada bangsa drucless."


"Kakek tahu siapa dia?" Trissya bertanya dengan ekspresi penasaran yang tercetak di wajah imutnya.


"Tentu saja, dia putra dari seorang raja yang kejam di dunia drucless ini. Dia pangeran Raefal dari kerajaan Zeroun."


Trissya mencerna ucapan kakek tua itu. Pria tua mengangguk hormat, "Namaku Geross, mantan tabib kerajaan Zeroun. Sekarang tugasku di perbatasan antara dunia manusia dan dunia drucless."


Trissya juga mengangguk hormat, "Ah iya, namaku Natrissya Virlin."


Geross mengangguk hormat lagi, "Tempat ini adalah penghubung antara dunia manusia dengan dunia drucless. Artinya, manusia juga bisa memasuki tempat ini. Namun, tetap saja terlarang bagi manusia untuk mendatangi dunia drucless."


Trissya mencerna ucapan Geross dengan baik. Dia mengerti, namun dia juga masih belum percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Semuanya terlalu aneh dan tidak logis.


"Kenapa kamu bisa barengan sama Raefal?"


"Aku menemukannya di kamar mandi," jawab Trissya. Geross mengangguk paham lalu meletakkan jemarinya di bawah dagu, "Aku tahu, siapa yang telah menyerang Raefal sampai seperti ini."


Trissya mengernyit, "Siapa?"


"Daeriel Amzar Zeroun, kakaknya sendiri."


Seketika kedua mata Raefal terbuka lebar mendengar nama itu. Trissya pernah mendengar nama itu di rumah sakit.


"Kenapa?" Tanya Raefal.


Geross memundurkan kepalanya mendengar pertanyaan itu, "Ah, kau benar-benar melupakannya? Ayahmu telah mempercayakan tahta pada kakakmu dan memberikan calon permaisuri yang cantik untuknya. Tapi, kau membawa kabur wanita itu."


Trissya terkejut mendengar itu. Dia melihat kearah Raefal dan Geross bergantian.


"Aku tidak mungkin seperti itu," gerutu Raefal sambil bangkit dan mengusap rambutnya.


"Natrissya, kita pergi dari sini. Sepertinya si keparat itu menyembunyikan tubuhku di dunia manusia," ucap Raefal. Gadis itu terkejut karena pertama kalinya Raefal memanggil namanya.


Geross menarik bahu Raefal agar kembali berbaring. Dia berkata, "Tunggu sebentar, Raefal. Kamu perlu pemulihan."


"Untuk apa? Ini bukan tubuhku," gerutu Raefal. Geross mengambil diamond dari tangan Raefal. Pria tua itu menutup matanya. Diamond yang warnanya hampir pudar itu kembali berubah warna menjadi biru tua seperti semula.


Trissya yang menyaksikan itu secara langsung hanya bisa melongo.


~


Trissya sedang berlari mengejar hewan yang melompat-lompat seperti kelinci berwarna biru muda. Gadis manis itu tampak senang. Sementara hewan-hewan disana tampak ketakutan karenanya.


Raefal dan Geross duduk bersebelahan di atas rumput berwarna merah. Mereka berdua tengah memperhatikan gadis itu.


"Terima kasih, Kakek Geross udah ngerawat aku sejak dulu." Raefal yang berbicara tiba-tiba membuat Geross menoleh.


"Waktu itu aku hanya mengobatimu, Raefal. Aku khawatir ketika ibu ratu mengandung kamu dan Daeriel mengamuk karena tidak ingin punya adik," ucap Geross. Raefal berdecak pelan.


Geross menatap langit yang cerah, "Aku juga tahu, kakakmu itu selalu mencoba untuk membunuh kamu. Dia tidak pernah suka dengan apa yang kamu punya. Waktu kalian kecil, aku tidak mengira, Daeriel akan menusuk kamu dengan belati. Aku benar-benar panik ketika ayahmu memerintahkan seluruh tabib untuk menyelamatkanmu. Jika kami tidak berhasil menyelamatkanmu, raja Baltazar akan membunuh kami semua."


"Beruntung sekali Kakek Geross dan tabib lainnya menolongku hingga sembuh," kata Raefal.


Pria tua itu menggeleng, "Tidak, kami hampir kehilangan akal karena tidak mampu menyelamatkanmu. Kamu bisa hidup sampai sekarang karena kamu memiliki kekuatan penyembuh."


Raefal mencerna ucapan Geross.


Trissya menunjukkan kelinci ungu yang sudah dia tangkap pada Raefal di kejauhan. Kelinci itu terlihat sengsara dengan bulu-bulunya yang lebat sudah berantakan karena Trissya mengusapnya secara kasar.


Raefal memutar bola matanya, "Gadis itu... bisa-bisa hewan malang itu mati." Raefal bangkit menghampiri Trissya. Geross tersenyum sambil melihat punggung Raefal yang menjauh. Pria tua itu memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua.


"Aku dapat! Aku dapat!" Seru Trissya sambil menunjukkan kelinci itu pada Raefal. Pria itu mengambil hewan tersebut dan membiarkannya lepas.


"Yaaah! Kok, dilepas, sih! Aku cape-cape nangkepnya!" Gerutu Trissya seperti akan menangis. Gadis itu membelakangi Raefal sambil cemberut dan melipat kedua tangannya. Pria itu mengabaikan Trissya yang lagi ngambek.


Ada serangga lucu yang lewat. Gadis itu teralihkan dari kekesalannya. Dia menyentuhnya. Namun, serangga itu malah menyengatnya.


"Aduh, kamu galak." Trissya meringis pelan sambil meniup jarinya. Raefal menggeleng pelan melihat tingkah konyol gadis itu.


"Lagian lo itu kayak anak kecil. Apa-apa dilihat, apa-apa dipegang, apa-apa ditangkep." Raefal menarik tangan Trissya dan melumat jari gadis itu.


Trissya membelalak. Dia menepuk bahu pria itu sambil berusaha menarik tangannya, "Jariku jangan dimakan!"


Luka sengatan serangga ditangannya itu perlahan tidak terasa sakit lagi. Raefal melepaskan tangan Trissya. Gadis itu segera mencium bau dari jarinya sambil melirik kesal pada Raefal.


Lukanya hilang, sakitnya juga hilang. Raefal berbicara bahasa aneh pada hewan-hewan itu. Trissya mengerutkan keningnya. Semua hewan melompat menghampiri mereka berdua.


Trissya melupakan jarinya. Dia tampak senang ketika hewan-hewan lucu itu mendekat. Raefal mengusap salah satu dari hewan itu.


"Ahh, gemasnya!" Trissya menggendong hewan berwarna merah muda yang gemuk. Raefal melihat tingkah Trissya yang berlebihan. Sekarang gadis itu menggendong semua hewan di pangkuannya tanpa merasa berat.


Trissya menyikut lengan Raefal dengan manja seperti anak kecil, "Aku mau bawa pulang yang pink sama yang hijau, yaaa, yaaa, yaaa."


"Gak boleh."


"Please." Trissya memasang puppy eyes untuk meluluhkan hati Raefal.


"Mereka bisa mati kalo dibawa ke dunia lain," kata Raefal. Trissya tampak sedih. Dia menurukan semua hewan itu ke tanah, "Gak jadi, deh. Kasihan kalo mereka mati sia-sia."


"Ayo balik lagi ke dunia lo," kata Raefal. Trissya mendengus pelan, "Gak mau! Aku masih mau disini!"


"Gue bisa mati kalo gak nemu tubuh gue secepatnya," gerutu Raefal. Trissya menghela napas berat, "Ya udah. Dede pink sama Dede hijau, Mama Icca pulang dulu, yaaa. Nanti Mama balik lagi kesini, yaaa."


"Gak ada acara balik lagi kesini, ini bukan tempat buat manusia," gerutu Raefal. Trissya cemberut kesal, "Jadi cowok galak banget, sih!"


Raefal mengulurkan kedua tangannya pada Trissya seakan-akan ingin memeluknya. Gadis itu kebingungan, "Ka-kamu mau apa?" Tanya Trissya.


"Sini, lo gua gendong biar cepet teleportasi ke dunia manusia," kata Raefal sambil menggerakkan tangannya.


"Gak usah digendong, ah! Aku gak nyaman."


Tanpa mau mendengar ocehan Trissya, Raefal mengangkat tubuh gadis itu dan memanggulnya seperti karung beras. Trissya terkejut dan memukul punggung Raefal.


"Oke, oke! Digendong biasa aja! Gak gini!"


"Berangkaaaat!!"


♥♥♥


9.46 : 15 September 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


 


 


__ADS_2