![DRUCLESS [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/drucless--sudah-terbit-.webp)
Hari berlalu dengan cepat. Trissya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Dia memilih untuk kembali ke kampung halamannya di Bandung. Gadis itu mengurus peternakan kambing milik bibinya, Lisna. Gadis itu merasa lebih tenang tinggal di perbukitan. Rumahnya berjarak sekitar 400 meter dari rumah dan peternakan milik Lisna.
Rumah tersebut adalah peninggalan orang tuanya. Dulu, gadis itu memutuskan pergi ke Jakarta untuk menjadi pegawai kantoran. Namun, pada akhirnya dia bekerja sebagai karyawan mini market karena status pendidikannya yang tamatan SMA. Jika saja masalah perekonomian keluarganya baik, Trissya pasti kuliah karena dia termasuk siswi yang cerdas di sekolahnya.
Gadis itu kini sedang memegang tongkat kayu. Dia tengah menjaga kambing-kambing milik Lisna di padang rumput yang cukup dekat dengan rumah.
"Kapan kamu gemuk?"
Mbeeeek
Trissya mengangguk seolah merespon ucapan si kambing, "Aku juga gak bisa gemuk, gak bisa tinggi, gak bisa ngapa-ngapain."
Mbeeek
Trissya melihat ada sepasang muda-mudi yang berboncengan sepeda melewati perbukitan. Gadis itu teringat pada Raefal. Dia menggeleng cepat.
"Ngapain juga aku mikirin siluman itu."
Trissya melihat Lisna yang melambaikan tangan dikejauhan. Gadis itu mengangguk sambil melambaikan tongkatnya. Setelah memasukkan semua kambing ke dalam kandang, Trissya kembali ke rumahnya. Dia memilih untuk mandi dan bersantai di sore hari itu. Sambil mengeratkan selimut, Trissya meminum coklat panas.
Mie instan yang mengeluarkan asap lembut di meja diabaikan olehnya. Gadis itu menikmati pemandangan sore yang indah dari jendela kamarnya. Sedikit ke sebelah barat ada perkebunan teh yang asri. Kampung halamannya, tempat kelahirannya, dimana dia dibesarkan.
Trissya melihat bayangan dari jendela tesebut. Seorang pria dengan senyuman sinis di belakangnya. Trissya segera menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun disana. Seketika bulu kuduknya merinding. Gadis itu tidak mungkin melupakan wajah tersebut.
Wajah Daeriel.
Pria menakutkan itu yang baru saja dilihatnya.
Gadis itu mulai merasa takut dan panik. Dia kembali melihat keluar jendela. Seekor kambing berlari menuruni bukit. Trissya melongo kebingungan.
"Kayaknya aku udah masukin semua kambing ke dalam kandang, deh."
Gadis itu memilih keluar untuk mengeceknya. Di menuruni bukit dan melihat kambing itu memakan rumput disana. Trissya menggeleng pelan sambil mengeratkan selimutnya karena cuaca yang dingin ditambah langit hampir gelap.
"Kamu ngapain disana, Mbek?" Gerutu Trissya sambil menarik tali dari leher kambing itu. Bukannya menurut, kambing itu malah tetap pada posisinya.
"Kamu mau disini sampe malam? Bibi Lisna bisa marah sama aku. Ayo pulang, emang kamu gak kangen sama teman-teman kamu di kandang?" Gerutu Trissya.
Mbeeeeek
"Pulang, gak? Atau aku gak mau ngurusin kamu lagi," ancam Trissya.
Percuma, nak. Kambing tidak akan mengerti dengan omongan kamu.
Trissya mendengus kesal, "Kayaknya kamu perlu dikorbanin, biar gak nyusahin orang."
Mendengar suara wanita yang berdehem pelan, Trissya menoleh. Wanita cantik berpakaian putih itu berdiri tidak jauh darinya. Rambut panjangnya bergerak karena tiupan angin. Jangan lupakan senyuman memikat dari parasnya. Perutnya sedikit besar, menandakan ada kehidupan di dalam sana.
Bukan kunti, woy! Kagak perlu takut!
Trissya merasa heran dengan keberadaan wanita itu sore-sore begini di kaki bukit. Dia mencoba menghampirinya dan bertanya, "Permisi? Kamu lagi apa disini? Sebentar lagi malam. Nanti kamu tersesat."
Wanita yang tidak lain adalah Qwella itu tersenyum cantik, "Aku kesini sendirian, Natrissya."
Gadis itu terkejut karena wanita asing di depannya bisa mengetahui namanya.
"Aku Qwella, istrinya Daeriel dan kekasihnya Raefal."
Trissya terkejut. Dia mundur karena takut. Ya, iyalah! Meskipun bukan kunti, dia itu drucless. Trissya menjauh darinya. Dia mengalihkan pandangannya dari Qwella.
"Apa kekuatan kamu? Sampai-sampai Raefal udah gak cinta lagi sama aku?" Tanya Qwella dengan ekspresi yang berubah serius.
Trissya menggeleng, "Tolong, jangan ganggu aku. Aku cuma manusia biasa."
"Manusia biasa?! Kamu pengendali pikiran juga, kan?! Selama ini aku diam melihat pria yang aku cintai sama kamu! Tapi, sekarang aku muak dan ingin kamu mati aja!" Teriak Qwella. Trissya menggeleng sambil menutup kedua telinganya.
"Raefal milikku sampai kapan pun!" Tiba-tiba Qwella berada di hadapan Trissya dengan mata yang berubah warna menjadi putih. Kedua mata Trissya melebar karena mereka bertatapan. Otomatis warna matanya juga berubah putih. Trissya berada dalam kendali Qwella sekarang.
Wanita itu tersenyum licik, "Sekarang ambil ranting tajam itu dan tusuk tubuh kamu sampai mati."
Trissya membawa ranting yang dimaksud dan mengarahkannya ke dada. Sebelum benar-benar menusuk, gerakan tangan Trissya terhenti. Sebelah matanya berubah jadi merah tua. Ada Daeriel di belakangnya yang juga sedang mengendalikan pikiran gadis itu.
Qwella terkejut melihat Daeriel, "Ngapain kamu disini?!"
Daeriel memperhatikan Trissya yang berdiri terpaku karena tubuhnya dikendalikan oleh 2 drucless sekaligus.
"Kamu juga ngapain disini?" Daeriel balik bertanya. Qwella mendecih, "Jangan ikut campur! Ini urusanku sama cewek jenis manusia itu!"
"Urusanku juga. Kamu lagi mengandung anak aku..." Qwella mendengus dingin, "... sekarang pulang ke istana, atau aku pake cara lain."
"Aku lagi bikin perhitungan sama perempuan itu!" Bentak Qwella sambil menunjuk Trissya.
"Kamu ingat sama perjanjian kita, kan? Kamu gak boleh bunuh Trissya atau pun bayi itu. Aku juga gak bunuh Raefal."
Qwella memutar bola matanya.
Daeriel menoleh pada Trissya, "Biar aku yang urus, kamu gak perlu khawatir. Pulang dan istirahat aja sana."
Warna mata Qwella berubah menjadi hitam seperti semula. Warna mata Trissya menjadi merah tua keduanya.
"Apa yang akan kamu lakuin sama dia?" Tanya Qwella.
Tidak ada jawaban dari Daeriel. Qwella mendengus kemudian menghilang. Daeriel mendekati Trissya dan menatapnya dengan seduktif. Dia menyentuh lembut pipi gadis itu.
"Tidak sekarang, Trissya."
Setelah mengatakan tiga kata itu, Daeriel menghilang. Trissya jatuh terduduk. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Teringat pada wanita asing yang menghipnotisnya. Tapi, gadis itu tidak ingat dengan apa yang terjadi selanjutnya. Dia tidak menemukan kambing yang kabur di sekitar sana. Karena hari mulai gelap, gadis itu memilih pergi ke rumah Lisna.
"Bibi, tadi ada kambing yang kabur. Aku gak nemu jejaknya."
Lisna mengerutkan dahinya, "Tapi, semua kambing Bibi ada di kandangnya. Kamu teh gimana atuh?"
Mereka mencoba mengecek semua kambing dengan menghitung jumlahnya.
"... 45...46... 47... 48...."
Lengkap!
Trissya menggeleng tidak percaya. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika kambing itu lari menuruni bukit.
"Mungkin kamu salah lihat. Makanya, kamu teh jangan tidur kemaleman. Jadi halusinasi, kan?" kata Lisna. Trissya memegang kepalanya yang sakit. Ada rasa takut yang menggerogoti nyalinya.
"Bibi, aku mau nginep aja disini aja, ya."
♥♥♥
Pagi harinya,
Trissya menjaga kambing seperti biasa. Dia melihat beberapa warga lewat menuruni bukit. Merasa penasaran, Trissya bertanya pada salah satu dari mereka.
"Mang, Mang Ujang? Ada apa, ya? Kok, rame-rame gini?"
"Itu neng Trissya, ada kejadian buruk menimpa keluarga Kang Herman."
Trissya mengernyit bingung, "Emangnya kejadian apa, ya?"
"Neng Sari, putri bungsunya itu meninggal dunia dan sempet jadi korban pemerkosaan."
"Ya ampun."
Trissya segera memasukkan semua kambing ke kandang dan ikut mengunjungi rumah Kang Herman untuk turut berbela sungkawa.
Trissya ikut memandikan jenazah Sari. Dia melihat ada banyak luka di tubuh itu. Yang membuat perhatian Trissya teralihkan adalah ukuran seperti tato yang melingkar di leher Sari.
Apa Sari pake tato? Ah, gak mungkin. Trissya membatin.
__ADS_1
Semua orang juga heran dengan kemunculan tato tersebut. Tidak ada yang tahu asalnya dari mana dan kenapa bisa berada disana. Mereka mengira itu adalah perbuatan pembunuh berantai untuk menandai korbannya.
Sebenarnya... itu adalah tanda kepemilikan yang dibuat oleh pria dari bangsa drucless.
Polisi setempat melakukan investigasi untuk menangkap si pembunuh. Mereka mencari bukti sebanyak mungkin. Tidak ada bukti yang kuat. Penelitian dan analisis kimia tidak bisa membantu banyak.
Korban banyak berjatuhan. Seperti kejadian yang menimpa Sari. Korbannya perempuan dengan tato di lehernya. Tato tersebut tidak bisa dihilangkan seolah permanen. Tidak ada yang tahu itu jenis tinta apa. Karena seolah tato tersebut memang kulit yang berwarna hitam seperti itu.
Semua orang yakin itu adalah perbuatan pembunuh berantai. Kecemasan menimpa warga, termasuk Trissya. Tidak ada yang berani keluar rumah.
Lisna melarang Trissya menjaga kambingnya. Dia lebih tenang melihat keponakannya berada di dalam rumah.
~
Chilla dan Adry sedang makan siang di rumah makan sederhana yang tidak jauh dari mini market.
"Besok aku mau ketemu sama klien Papa aku. Aku harap, kamu dateng. Aku bakalan jemput kamu," ucap Adry. Chilla terkejut. Dalam hati gadis itu merasa sangat senang karena ajakan Adry, namun di sisi lain, dia akan malu berhadapan dengan orang-orang besar.
"Kayaknya aku gak bisa, Kak."
"Kenapa?"
"Aku gak enak."
"Ada aku, kan. Kamu sama aku."
"Tapi,"
Hening.
"Aku suka sama kamu, Chilla." Pengakuan mendadak dari Adry membuat Chilla tercengang.
"Ah?"
"Kamu perempuan yang jujur dan baik. Aku juga udah bilang sama tante Tari. Tante Tari bilang, kamu emang baik."
Chilla merasa terharu. Dia juga menyukai Adry sejak lama. Namun, gadis itu juga tahu, Adry menyukai Trissya. Dia tidak ingin menggangu mereka.
"Emm, tapi, aku pikir, Kak Adry suka sama kak Trissya." Chilla memainkan telunjuknya karena gugup.
"Iya, tapi dulu."
"Kenapa Kakak gak perjuangin kak Trissya?" Tanya Chilla.
Dengan santai, Adry menjawab, "Kalo dia udah bahagia sama jodohnya, apa daya aku yang sama sekali tidak terlihat baginya."
Chilla tersenyum, "Kedengarannya seperti puisi."
Adry tertawa, Chilla juga.
Suasana kembali sunyi, setelah tawa mereka mereda.
"Kamu mau nikah sama aku?" Tanya Adry.
"Secepat itu?!" Chilla terperanjat mendengar lamaran mendadak yang dilayangkan Adry padanya.
Adry tersenyum, "Kamu perlu mikirin keputusan kamu."
~
Alma melipat mukena yang baru saja dia pakai untuk sholat dzuhur. Dengan telaten, dia memasukkannya mukena tersebut lemari mushola. Gadis itu membenarkan kerudungnya yang sudah terpasang rapi menutupi aurat. Dia bercermin di pantulan kaca jendela.
Haidar tiba-tiba muncul dari seberang jendela dengan ekspresi jahil. Alma tersentak kaget sambil menggerutu kesal, "Kamu ngapain!"
Haidar tertawa.
Ketika Alma keluar dari mushola, gadis itu menoleh pada Haidar yang tersenyum tampan padanya. Pria itu membuka peci hitam yang selalu dia bawa ketika melaksanakan sholat.
Alma memutar bola matanya kemudian berlalu. Haidar menyusulnya.
Alma hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Haidar memperhatikan Alma membuat gadis itu sedikit risih. Dia menoleh pada Haidar.
"Lihat apa?" Tanya Alma. Haidar tersenyum dengan pipi merona, "Bidadari surga."
Alma memundurkan kepalanya kemudian berjalan lebih cepat meninggalkan Haidar.
"Eh, Alma."
Haidar kembali bertanya, "Kamu udah punya pacar, atau belum?"
Alma menggeleng.
"Kenapa?"
"Abah aku bilang, aku jangan pacaran. Kalo mau pacaran, nikah aja."
"Kalo gitu, kita nikah, yuk."
"Ah? Apa kamu bilang?"
"Aku serius, ibu aku pengen menantu yang berhijab. Kamu, kan, ada."
Alma tampak berpikir kemudian dia melangkah lebih cepat lagi meninggalkan Haidar.
Pria itu memukul mulutnya sendiri dengan peci, "Dasar, kamu ini ngomong apa, Haidar?"
"Bisa-bisa Alma malah jadi gak mau sama kamu."
~
Ketiga karyawan sibuk membereskan rak. Mereka tampak serius dan telaten.
"Eh, kalian tahu kabar Raefal, gak?" Tanya Haidar.
Chilla menggeleng, "Enggak, dia udah lama gak kerja disini. Tapi, dia gak bilang apa-apa sama kak Adry. Dia gak bilang mau keluar, atau apa."
"Dia kemana, ya? Jangan-jangan terjadi sesuatu sama dia. Kalian tahu alamatnya?" Tanya Haidar lagi.
"Kak Adry pasti tahu," jawab Alma. Haidar berpikir sejenak, "Oke, aku tanyain nanti kalo waktunya bagus.
Ketika jam pulang telah tiba, Alma dan Chilla pulang naik taksi. Sementara Haidar menemui Adry yang akan memasuki mobilnya.
"Emm, Bang Adry, mau tanya boleh?"
Adry yang baru saja membuka pintu mobil, menoleh pada Haidar. Dia menutup kembali pintu mobilnya.
"Iya, Haidar. Kenapa?" Tanya Adry. Haidar mencari kalimat yang tepat, "Saya lumayan akrab sama Raefal. Sejujurnya saya cemas dengan keadaan Raefal. Dia gak bisa dihubungi. Apa Bang Adry tahu alamatnya? Saya akan dateng ke rumahnya untuk menjenguk."
Adry tampak berpikir, "Kayaknya Raefal lagi gak di Jakarta, deh. Waktu itu aku ngasih alamat pacarnya yang pulang kampung."
"Oh ya?"
"Heem, tapi kayaknya gak ada kabar dari dia. Aku juga penasaran, sebenarnya dia dimana. Ya udah, masuk. Kita datengin rumahnya aja," kata Adry sambil memasuki mobilnya.
"Masuk? Masuk kemana, Bang?" Tanya Haidar kebingungan. Kepala Adry nongol dari jendela mobil, "Masuk mobil."
"Ah? Saya? Gapapa, Bang?"
"Ah elah, orang saya yang nyuruh."
Haidar yang semangat segera masuk ke mobil itu. Adry memberikan map berwarna coklat pudar pada Haidar.
"Apa ini, Bang?"
"Surat lamaran kerja punya Raefal. Cek alamatnya." Adry melajukan mobilnya.
__ADS_1
Haidar menurut dan membacakan alamat yang tertera di kertas itu.
Setelah beberapa melawan kemacetan Jakarta, akhirnya mereka menemukan jalan yang lancar dan sunyi. Beberapa rumah jaraknya berjauhan.
"Bang Adry pernah kesini?" Tanya Haidar. Adry menghela napas bosan, "Kalo pernah, ngapain saya ngambil map itu."
"Ehehe, iya juga, ya."
Mobil Adry terhenti di depan rumah besar yang pernah ditinggali Raefal. Mereka turun dari mobil dan memperhatikan rumah tersebut.
"Wah, ini rumah Raefal? Kok, gede banget, ya? Kayak bukan rumah pegawai mini market. Ini kayak rumah pengusaha," puji Haidar.
Adry melihat kembali alamat dari kertas yang dipegang Haidar. Pria itu melihat kertas dan rumah itu bergantian. Adry bergumam, "Rumahnya emang ini. Tapi, kayaknya kosong, deh. Gak ada orang, halamannya juga banyak daun kering yang gak disapu."
"Iya, kayaknya Bang Adry bener, deh. Mungkin Raefal balik kampung untul ketemu pacarnya."
Tiba-tiba terdengar suara anjing menggonggong yang berhasil mengejutkan kedua pria itu.
"Astagfirullah, kaget aku!" Haidar menyentuh dadanya.
Adry mengusap kasar wajahnya karena tak kalah kaget. Ternyata rumah yang jaraknya beberapa belas meter dari rumah Raefal, pemiliknya memelihara anjing.
Lagi-lagi anjing itu menggonggong membuat kedua pria itu segera memasuki mobil.
"Nanti kita dikira mau maling," kata Adry. Haidar menggeleng, "Enggak, dong, Bang. Masa maling bawa mobil. Emangnya ada maling yang mau terang-terangan?"
"Ya kali, ada maling yang sengaja rental mobil buat ngangkut barang-barang dari rumah kosong itu," gerutu Adry.
"Iya juga, sih. Kok, Bang Adry bisa kepikiran sejauh itu? Pengalaman, ya?" Tanya Haidar sambil tertawa menyebalkan.
"Emangnya aku maling apa, coba?"
♥♥♥
Trissya sedang berbaring di tempat tidur. Sudah beberapa minggu gadis itu menginap di rumah Lisna. Bibinya tidak mengizinkan Trissya tidur sendirian di rumah peninggalan orang tuanya. Lisna mengkhawatirkan Trissya karena kejadian-kejadian aneh yang menimpa para gadis di kampung itu.
Penjahat yang memperkosa para gadis dan meninggalkan tato di leher korbannya. Padahal korban tidak sedang berada di luar rumah. Mereka berada di kamar. Namun, entah penjahat macam apa yang bisa masuk dan keluar tanpa meninggalkan jejak.
Sebelum polisi berhasil menangkap penjahatnya, Lisna melarang Trissya menggembala kambing-kambingnya di tempat yang jauh.
Trissya hanya tersenyum dengan kepedulian Lisna. Gadis itu menuruti bibinya.
Trissya mengantuk. Dia meregangkan tubuhnya sambil menguap kecil. Gadis itu menarik selimut lalu menutup matanya.
Tangan kekar itu menyentuh rambutnya. Kedua mata Trissya terbuka dan mendongkak menatap siapa yang telah mengganggu tidurnya.
Gadis itu terkejut melihat pria berjubah merah itu. Gadis itu segera beringsut menjauh, bahkan dia sampai terjatuh ke lantai.
Daeriel memperhatikan Trissya dengan ekspresi serius, "Aku pengen ketemu sama kamu."
"Buat apa?" Tanya Trissya.
"Aku mau kamu ikut sama aku," ucap Daeriel sambil mengulurkan tangannya. Trissya menggeleng sambil menyembunyikan kedua tangannya ke belakang.
Daeriel sedikit membungkuk untuk mendekati wajah Trissya. Pria itu menyentuh lengannya. Gadis itu merasa tubuhnya berputar dan tersedot ke dimensi lain.
Mereka sampai di dunia drucless. Trissya terhuyung karena pusing dan tenaganya mendadak terkuras habis. Dia akan jatuh, namun dengan sigap, Daeriel menahannya.
Trissya mengingat hal yang sama pernah terjadi. Dulu Raefal yang membawanya ke tempat itu. Pria itu juga menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Tapi, kali ini berbeda. Pria yang berbeda dan keadaan yang berbeda. Dunia drucless di sore hari.
Trissya semakin merindukan Raefal.
Daeriel bisa membaca pikiran gadis itu karena sentuhannya pada lengan Trissya. Ada rasa cemburu di hati Daeriel. Sebelumnya dia tidak memiliki kecemburuan yang sama pada Qwella. Tapi, pada Trissya rasanya berbeda.
"Ngapain kamu bawa aku kesini?" Tanya Trissya dengan nada khawatir. Daeriel mengangkat tubuh gadis itu. Trissya terkejut, sehingga dia berpegangan pada pundak Daeriel. Pria itu berteleportasi ke atas batu besar yang ada di tengah-tengah sungai suci. Pria itu menurunkan Trissya.
"Aku cuma pengen akrab aja sama kamu, kayak Raefal." Daeriel duduk di samping gadis itu. Trissya sedikit menggeser tempat duduknya.
"Kenapa kamu bersikap tidak adil begini? Kamu kenal sama Raefal karena dia nidurin kamu, kan? Tapi, aku ngeliat kamu itu kayak sayang banget sama Raefal, padahal jelas dia itu jahat." Daeriel menatap lurus ke depan. Dia melihat ikan-ikan yang melompat-lompat di permukaan air sungai.
"Dia itu penjahat kelamin, tapi kamu baik terus sama dia," sambung Daeriel.
"Kamu ngomong gitu? Lalu, apa bedanya sama kamu?" Tanya Trissya pelan. Namun, terdengar sedikit menggerutu.
Daeriel menoleh pada gadis itu, "Itu juga pertanyaan aku buat kamu."
Trissya bungkam.
"Aku sama Raefal itu gak ada bedanya. Tapi, kamu memperlakukan Raefal lebih baik dari aku. Kita sama-sama drucless, kita sama-sama suka tidur dengan sembarang perempuan, kita sama-sama pernah tidur sama kamu. Jadi, apa yang membuat kamu tidak berpaling dari dia?"
Trissya mengepalkan tangannya. Dia tidak terima jika Daeriel menjelek-jelekkan Raefal seperti itu.
"Seharusnya kamu bisa melihat mana pria drucless yang lebih hebat," ucap Daeriel sambil tersenyum angkuh.
"Meskipun Raefal sama kamu itu sama-sama sialan dan brengsek, tapi dia masih memiliki sisi baik!" Sambar Trissya. Seketika Daeriel menatap marah pada gadis itu. Trissya mengalihkan pandangannya. Dia merutuki kebodohannya yang bisa saja memancing amarah Daeriel.
Ekspresi wajah pria itu berubah sendu.
Elleanor menatap putra sulungnya dengan tatapan tidak percaya. Sementara Daeriel yang masih remaja hanya mampu menunduk dalam di hadapan ibunya.
Tamparan keras mendarat di pipi tampan laki-laki itu. Daeriel tidak mengira ibunya akan berbuat kasar padanya.
"Kenapa kamu mau melukai adikmu sendiri? Kamu lihat sekarang, Raefal sedang berada di ambang kematian!" Teriak Elleanor sambil menunjuk Raefal yang terbaring di atas tempat tidur.
Daeriel mengepalkan tangannya geram. Ibunya sangat mencintai Raefal, sehingga melupakan dirinya.
"Raefal sudah sangat baik hati memaafkanmu yang selalu berbuat jahat padanya. Apa kamu tidak punya kebaikan dalam hati kamu?" Tanya Elleanor sambil menunjuk dada Daeriel.
"Untuk apa kebaikan? Ayah yang tidak mengenal kebaikan, mampu menguasai kerajaan Zeroun dengan tangannya." Jawaban itu keluar dari mulut Daeriel.
Elleanor tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Wanita itu menggeleng.
"Hatimu telah menjadi batu."
Trissya merasa takut saat Daeriel kembali menatapnya. Gadis itu *** ujung bajunya sambil bersungut-sungut dalam hati.
Trissya menggeser duduknya, "Ma-maaf, aku... aku gak sengaja."
Daeriel tidak mengerti, kenapa gadis itu selalu minta maaf padanya? Apa yang dikatakan gadis itu tidak ada yang salah.
Apa dirinya terlihat begitu menakutkan di mata Trissya, ketika marah? Jadi, gadis itu tidak mau membuatnya marah.
"Kalo aku jadi baik, emangnya kamu bisa berubah pikiran?" Tanya Daeriel dengan tiba-tiba. Trissya menggeleng dengan cepat.
"Lagian aku memang terlahir dengan kejahatan. Aku gak bakalan berubah baik," ujar Daeriel.
Trissya membuang muka. Daeriel tersenyum kemudian menepuk kepala Trissya dengan pelan. Gadis itu merasa pusing dan tiba-tiba jatuh dari tempat tidurnya. Trissya meringis sambil menyentuh kepalanya yang berbenturan dengan lantai.
"Aduh, ah... untung cuma mimpi."
Pintu kamar dibanting dengan keras. Trissya terkejut dan menoleh, ternyata Lisna yang menatapnya dengan ekspresi khawatir.
"Aduuhh, ngapain kamu tiduran di lantai, atuh?" Lisna membantu Trissya berdiri. Gadis itu hanya tersenyum kaku, "Kayaknya aku ngelindur."
"Bibi sampai kaget denger suara gedebuk, keras banget lagi."
"Hehe,"
♥♥♥
11.12 : 25 September 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1