DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Harapan dan Keinginan


__ADS_3

~Kamu belum mendapatkan apa yang selama ini kamu harapkan. Berpikir positif saja, mungkin Tuhan sedang menyiapkan hadiah yang lebih besar.~


(Ucu Irna Marhamah)


♥♥♥


 


 


Baltazar sedang serius berdoa di kuil. Tanpa dia sadari, Daeriel berdiri tepat di belakangnya. Pria itu sama sekali tidak berniat menganggu proses berdoanya sang ayah. Dia menunggu dan memperhatikan.


 


 


Beberapa menit kemudian, Baltazar berbalik. Dia sedikit terkejut menyadari keberadaan putranya.


 


 


Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir kedua pria itu. Mereka masih saling menatap.


 


 


Angin semilir bertiup menggerakkan rambut mereka.


 


 


"Ayah, aku datang kemari untuk meminta sesuatu darimu." Daeriel memilih untuk memulai pembicaraan.


 


 


Baltazar memungut dedaunan kering yang berserakan di lantai kuil. Dia tidak merespon ucapan putranya. Namun, Daeriel yakin jika ayahnya sedang mendengarkannya.


 


 


"Putriku telah lahir."


 


 


Baltazar sungguh bahagia mendengarnya. Namun, dia menyembunyikan kebahagiaan itu dalam ekspresi dingin.


 


 


"Namun, sebuah kutukan mengalir dalam tubuhnya," sambung Daeriel. Baltazar menoleh menatap putranya.


 


 


"Ayah, aku mohon padamu. Tolong, Ayah harus minta maaf kepada peramal tua yang telah menyelamatkan nyawa Raefal ketika dalam perut ibu," ucap Daeriel.


 


 


Baltazar menggeleng. Dia mengeluarkan suaranya, "Tidak, itu tidak akan pernah terjadi."


 


 


"Ayah, bukan hanya putriku yang berada dalam bahaya. Kerajaan kita juga," kata Daeriel yang sedang berusaha menahan amarahnya.


 


 


"Peramal tua itu berbohong. Dia tidak bisa meramal dan tidak bisa apa-apa. Dia tidak tahu apa-apa." Baltazar berlalu.


 


 


Namun, langkanya terhenti ketika kedua manik matanya berubah warna menjadi merah tua. Ya, Daeriel menendalikannya.


 


 


"Maafkan aku, Ayah. Aku harus memperbaiki kesalahanmu."


 


 


~


 


 


Peramal yang sudah sangat tua itu sedang bertapa di bawah pohon kehidupan yang masih berdiri kokoh. Bunyi air terjun sama sekali tidak mengganggu konsentrasinya.


 


 


Kedua matanya terbuka, ketika merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya. Dia melihat raja Baltazar bediri di depannya dengan warna mata merah. Peramal tua itu melihat Daeriel berdiri tidak jauh dari mereka.


 


 


"Peramal tua, aku meminta maaf atas apa yang telah aku perbuat. Aku mohon padamu, cabut kutukan itu dari pewaris dari putra sulungku," ucap Baltazar.


 


 


Peramal tua berdiri sembari berjalan melewati Baltazar. Dia menghampiri Daeriel.


 


 


"Raja Baltazar tidak meminta maaf dari hatinya. Dia mengatakan itu karena kamu mengendalikan pikirannya," ucap peramal tua. Daeriel menautkan alisnya, "Cabut kutukan itu."


 


 


Peramal tua menggeleng, "Aku tidak akan melakukannya."


 


 


Daeriel menyerang pria tua itu dengan api dari telapak tangannya. Peramal tua jatuh tersungkur. Dia menyentuh dadanya. Terdapat luka menganga disana akibat serangan Daeriel.


 


 


Dariel melihat pohon kehidupan bercahaya dan luka di dada peramal tua itu sembuh seketika. Daeriel tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


 


 


"Kamu tidak mati, Peramal tua. Kamu sudah diselamatkan pohon itu. Jadi, tidak ada ruginya kamu mencabut kutukan itu dari putriku!" Bentak Daeriel.


Tiba-tiba, air dari sungai suci menyerang kakek peramal hinga tubuh itu terlempar dan berbenturan dengan pohon kehidupan. Daeriel menoleh.


Ternyata Qwella yang menyerang pria tua itu dengan kemampuannya. Daeriel tidak mengira Qwella akan datang.


"Guru! Kenapa Guru menanamkan kutukan itu di tubuhku! Padahal aku sudah menuruti kemauanmu untuk mendapatkan pangeran Raefal?!" Bentak Qwella. Pria tua itu berdiri dengan sempoyongan, "Kamu tidak perlu khawatir. Kutukan itu sudah jatuh pada putrimu. Tugasmu sekarang adalah bersama pangeran Raefal untuk menjaga nyawa kita semua."


Mendengar itu, Qwella sedikit merasa lebih tenang. Berbanding terbalik dengan Daeriel yang menatap tajam pada istrinya.


"Kenapa kamu malah kesini?! Harusnya kamu jagain anak kita di istana!" Bentak Daeriel. Qwella mendecih, "Aku akan pergi dari istana itu. Aku ingin selesai dengan kamu. Satu lagi, aku akan mendapatkan Raefal dengan caraku sendiri!"


"Qwella!" Bentak Daeriel.


"Apa?!" Sambar Qwella.


"Ah, seharusnya aku memanggilmu nenek tua. Usiamu bahkan lebih tua dibanding ibuku." Daeriel tersenyum mengejek. Qwella menautkan kesal. Dia tidak mengira Daeriel akan mengetahuinya.


Peramal tua melirik pada mereka berdua secara bergantian.


"Memangnya kenapa? Kamu menyesal telah menikahiku? Baguslah," ucap Qwella sambil mengalihkan pandangannya.


Daeriel mendecih, "Ingat ini, kalian berdua akan menyesal. Aku akan mencabut kutukan itu dari tubuh anakku, bagaimana pun caranya." Daeriel berbalik bersama raja Baltazar yang masih dalam kendalinya. Mereka berlalu.


Langkah pria itu terhenti, dia menoleh pada Qwella sambil tersenyum sinis, "Mulai sekarang, aku tidak peduli lagi denganmu."


Daeriel melanjutkan langkahnya.


Qwella mendengus kesal. Peramal tua menghampirinya, "Qwella, kapan kamu akan mendapatkan Raefal?"


"Aku tidak tahu," jawab Qwella sambil berjalan menuju air suci.


Wanita itu menatap pantulan wajahnya dari air tersebut. Tangannya bergerak menyentuh pipinya yang mulai terlihat tanda-tanda penuaan. Qwella mengepalkan tangannya. Dia berjalan menuju pohon kehidupan. Peramal tua masih memperhatikannya.


Ketika wanita itu menyentuh pohon kehidupan, wajahnya kembali terlihat segar.


"Aku membutuhkan Raefal."


~


 


 


Daeriel memasuki ruangan istana dengan raut kesal. Dia mendengar suara bayinya yang menangis. Pria itu memasuki kamar bayinya dan melihat para pengasuh sedang berusaha menenangkan bayi itu.


 


 


Daeriel mengangkat tubuh anaknya. Pria itu menatap sendu mata bulat yang kini sedang menatapnya. Para pelayan dan pengasuh membungkuk hormat, kemudian berlalu meninggalkan ayah dan anak di ruangan tersebut.


 


 


Tangisan bayi itu sudah berhenti. Kedua matanya itu berkedip-kedip membuatnya terlihat sangat lucu.


 


 


"Ayah belum memberimu nama, ya." Daeriel tampak berpikir. "Nama yang bagus dan cocok untukmu."


 


 


Angin lembut menerpa wajah Daeriel. Rambutnya bergerak-gerak. Dia menoleh ke jendela yang terbuka lebar. Angin tersebut masuk lewat sana.


 


 


"Laureen, Ayah suka nama itu. Kamu mau pakai nama Laureen, kan?" Tanya Daeriel sambil menatap bayinya. Pria itu tersenyum sambil mengecup pipi putri kecilnya.


 


 


♥♥♥


 


 


Di dunia manusia.


 


 


Raefal dan Trissya datang untuk menghadiri acara pernikahan Alma dan Haidar. Pasangan suami istri itu memakai batikcouple berwarna biru gelap.


Alma terlihat cantik dengan balutan gaun pengantin muslimah berwarna hijau muda. Haidar juga tampak begitu mempesona dengan balutan tuxedo berwana senada dengan Alma.


"Trissya." Alma memeluk sahabatnya itu. Trissya membalas pelukan hangat dari Alma.


"Selamat, ya. Aku ikut bahagia buat kalian berdua," ucap Trissya sembari mengusap punggung Alma. Wanita itu tersenyum anggun, "Terima kasih, aku seneng kalian dateng."


Sementara Raefal dan Haidar sedang berbincang, Adry dan Chilla juga datang. Ketiga pasangan itu tampak begitu bahagia karena berkumpul bersama.


Adry dan Chilla memberikan surat undangan pernikahan mereka kepada kedua pasangan itu. Pernikahan yang akan dilaksanakan beberapa bulan setelah Haidar dan Alma.


"Wah, kita semua akan segera menjadi orang tua," ucap Haidar semangat.


Trissya tersenyum sendu. Raefal merangkul pinggang istrinya dengan lembut.


Raefal dan Trissya kembali ke rumah jam 8 malam. Ketika Trissya melangkah menaiki tangga, kepalanya terasa berat. Dia menyentuh kepalanya dan terhuyung.


Raefal yang melihat itu segera berteleportasi menangkap tubuh istrinya. Trissya pingsan. Raefal tampak cemas. Dia mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya kembali ke mobil.


Mobil yang baru saja diparkirkan itu kini kembali melaju menuju rumah sakit.


Di rumah sakit,


Raefal mengintip ke kaca pintu. Dia melihat dokter perempuan itu sedang memeriksa Trissya yang belum sadar. Ketika dokter keluar dari ruangan tersebut, dia melihat Raefal sedang duduk di kursi tunggu sambil meletakkan dagu di kedua tangannya yang bertautan.


"Tuan?" Dokter itu menegur Raefal. Pria itu menoleh sambil bangkit dari tempat duduknya menghampiri dokter.


"Istri saya gapapa, kan, Dok?" Tanya Raefal. Dengan senyuman ramah, dokter mengulurkan tangannya dan menjawab, "Selamat, istri anda sedang mengandung"


Kedua mata Raefal melebar. Dia segera menjabat tangan dokter, "Te-terima kasih, Dok."


Dokter itu mengangguk, "Anda bisa menemui istri anda. Setelah siuman, anda bisa menghubungi saya."


Raefal mengangguk sebelum dokter itu berlalu pergi. Raefal segera memasuki ruang pemeriksaan pasien. Dia duduk di kursi yang dekat dengan ranjang dimana Trissya terbaring. Pria itu menggenggam tangan istrinya.


Raefal tersenyum sendu, "Sebentar lagi, kita akan menjadi orang tua, Sayang. Kamu bakalan jadi Mama buat anak kita. Aku juga bakalan jadi Papa. Aku bahagia banget."


Raefal mengusap perut istrinya dengan lembut. Pria itu mendekatkan telinganya ke perut Trissya.


"Kamu ada di dalam, nak? Papa disini. Ini Papa, Sayang."


~


Perlahan Trissya membuka matanya. Yang pertama dia lihat adalah ruangan bercat putih. Pandangannya tertuju pada Raefal yang tertidur di tepi ranjang. Tangan pria itu masih menggenggamnya erat. Trissya tersenyum. Dengan lembut, wanita itu mengusap kepala Raefal.


Merasakan pergerakan Trissya, Raefal mendongkak menatap istrinya. Dia tersenyum sambil menutup mulutnya yang sedang menguap.


"Kamu udah bangun, ya. Hmmm." Raefal mengusap tangan Trissya.


"Kamu ketiduran karena nungguin aku bangun? Emangnya aku kenapa?" Tanya Trissya.


"Tadi kamu pingsan. Aku pikir, kamu kenapa-napa. Jadi, aku bawa ke rumah sakit. Kamu mau tahu, kamu kenapa?" Jawab Raefal di akhiri dengan pertanyaan.


Trissya tampak serius. Dia bangkit duduk sambil mengangguk cepat, "Aku kenapa?"


Raefal mengusap perut rata istrinya, "Doa kamu terkabul, Sayang."


Trissya mengedipkan matanya berkali-kali, "Beneran?"


Raefal mengangguk. Trissya tersenyum sendu lalu memeluk Raefal dengan erat.


Raefal membalas pelukan istrinya sambil berbisik lirih, "Makasih, Sayang. Aku pengen dipanggil Papa."


"Aku bakalan jadi Mama. Makasih juga, Sayang." Trissya menangis bahagia. Raefal tertawa kecil, "Jangan nangis, harusnya kamu seneng."


"Aku juga gak tahu, kenapa aku nangis. Tapi, aku nangis karena aku bahagia," ucap Trissya sambil terisak pelan.


Raefal mengecup kening Trissya dengan lembut.


 


 


♥♥♥


 


 


Anak kecil perempuan yang cantik itu sedang berjalan pelan. Tampaknya dia masih belajar berjalan. Dia ingin menangkap treteaa kecil berwarna hijau. Daeriel sedang memperhatikannya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


 


 

__ADS_1


Ya, anak kecil manis itu adalah Laureen, putri Daeriel. Usianya baru 2 tahun (perhitungan tahun di drucless).


 


 


Laureen tidak berhasil menangkap satu ekor pun. Dia duduk putus asa sambil menggerakkan kedua kakinya kesal. Daeriel merasakan angin yang datang dari arah timur. Pria itu menggerakkan tangannya pada para treteaa. Dia memberikan kode agar mereka mendekat pada Laureen.


 


 


Karena para treteaa takut pada Daeriel, mereka menurut. Kaki-kaki kecil itu perlahan melangkah mendekati Laureen. Melihat hewan-hewan itu mendekat, Laureen menggerakkan tangan kecilnya ingin menyentuh mereka.


 


 


Para treteaa sedikit mundur, namun mereka merasakan kelembutan tangan Laureen. Tidak ada rasa takut lagi ketika Laureen menggendong mereka. Daeriel tersenyum sembari mendekat. Pria itu berjongkok di dekat putrinya sembari ikut mengusap treteaa di pangkuannya.


 


 


Gadis kecil itu tersenyum senang.


 


 


Hari di dunia drucless berlalu dengan cepat. Kini Laureen sudah berusia 5 tahun. Rambut panjangnya dikepang dua dengan mahkota kecil terpasang di kepalanya. Gadis kecil itu mengendap-endap menuju ruangan ayahnya.


 


 


Tangan kecilnya membuka pintu besar tersebut dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Dia memiringkan kepalanya untuk mengintip ke dalam. Mata bulatnya melihat punggung sang ayah yang sibuk menulis sesuatu.


 


 


Senyuman kecil terukir di bibirnya. Laureen masuk dengan hati-hati dan masih mengendap. Dia akan mengejutkan ayahnya, namun....


 


 


"Kamu ngapain diem-diem masuk kamar Ayah?" Tanya Daeriel. Laureen yang terkejut, "Aaahhh, Ayah... tadinya Laueen mau bikin Ayah kaget." Laureen tidak bisa menyebut huruf R dengan benar.


 


 


Daeriel berbalik melihat putrinya yang cemberut. Pria itu tertawa sambil mengangkat tubuh Laureen ke pangkuannya.


 


 


"Kamu mau ngagetin Ayah, tapi kamu sendiri yang kaget." Daeriel memencet hidung putrinya.


 


 


"Ayah lagi apa?" Tanya Laureen sambil melihat ke meja. Daeriel menjawab, "Ini pekerjaan orang tua. Kamu akan mengerti kalo udah besar nanti."


 


 


"Olang tua? Laueen, kan, cuma punya Ayah, gak punya ibu. Jadi, ini pekeljaan Ayah saja." Terselip kesedihan dari kalimat yang terucap itu. Daeriel merasa sedih. Dia mengecup puncak kepala putrinya.


 


 


"Laureen punya ibu," kata Daeriel. Laureen mendongkak menatap ayahnya, "Ayah bicala jujul, kan?"


 


 


Daeriel mengangguk, "Karena ibu, kamu bisa lahir."


 


 


Kedua mata kecil itu berbinar-binar. Laureen turun dari pangkuan ayahnya. Dia memegang kedua lutut sang ayah dan menatap ayahnya dengan begitu serius.


 


 


"Ibu itu gimana wajahnya? Pasti cantik, kan?" Tanya Laureen semangat. Daeriel tampak berpikir. Pria itu membayangkan wajah Qwella, mantan istrinya.


 


 


"Tentu, dia cantik seperti anak Ayah." Daeriel menangkup wajah Laureen. Gadis kecil itu mengangguk-angguk semangat.


 


 


"Ibu kamu memiliki wajah yang cantik, dia sangat suka berdandan, memiliki banyak pakaian, rambutnya juga panjang seperti kamu. Ibu kamu itu galak dan keras kepala." Daeriel menghela napas berat.


 


 


"Kenapa Ayah bilang gitu? Itu, kan, ibunya Laueen," gerutu Laureen sambil cemberut lagi. Daeriel tertawa kaku.


 


 


Ibu yang sama sekali tidak menginginkanmu, nak. Seandainya kamu tahu, Ayah yakin... kamu gak bakalan mau ketemu sama Qwella, ucap Daeriel dalam hati.


 


 


"Siapa nama Ibu?" Tanya Laureen penasaran. Daeriel tampak berpikir, "Itu rahasia."


 


 


"Boleh Laueen ketemu Ibu? Laueen mau lihat wajah Ibu." Gadis kecil itu mengguncangkan lutut ayahnya. Daeriel tampak berpikir, "Emm, iya... lain kali."


 


 


"Ayah janji, kan?"


 


 


"Iya, Ayah janji."


 


 


~


 


 


Daeriel sedang mengadakan pertemuan penting dengan para raja. Ketika serius berbincang, tiba-tiba angin kencang merobohkan salah satu pohon di depan istana Zeroun. Daeriel melihat pohon roboh itu dari jendela.


 


 


"Maaf, aku harus pergi sebentar. Kalian lanjutkan dulu." Daeriel berlalu untuk mencari tahu apa yang terjadi.


 


 


 


 


Daeriel menyentuh bahu Laureen sambil menghalangi wajahnya sendiri karena angin tersebut begitu kencang. Mata gadis kecil itu berwarna kuning menyala.


 


 


"Laureen, kamu ngapain? Kamu bisa menghancurkan tempat ini, nak." Daeriel berusaha menenangkan putrinya. Angin pun reda. Daeriel bisa menghela napas lega.


 


 


Namun, dia bingung melihat seekor kucing menghampiri mereka dengan warna matanya yang berubah menjadi merah. Daeriel bingung, karena itu adalah kekuatan pengendalian miliknya. Ketika dia menoleh pada Laureen, dia terkejut melihat warna mata Laureen yang berubah menjadi merah.


 


 


Daeriel menelan saliva, ternyata putrinya itu juga mewarisi kemampuannya.


 


 


Kucing itu berjalan ke tepi kolam air mancur kerajaan. Tampaknya dia akan menjatuhkan diri atas kendali Laureen.


 


 


"Tidak, Laureen!" Daeriel segera mengambil kucing itu. Seketika warna mata Laureen berubah normal. Dia menatap ayahnya.


 


 


"Kenapa kamu mau bunuh kucing ini?" Tanya Daeriel sambil melepaskan kucing yang sudah lepas kendalinya. Laureen menunduk sedih, "Dia memakan ikan punya Laueen. Laueen mau menghukum kucing jahat itu."


 


 


"Laureen, kamu gak boleh membunuh hewan lemah." Daeriel memperingatkan putrinya.


 


 


"Kucing itu gak lemah, Ayah. Dia cakal badan aku juga." Laureen menunjukkan lengannya. Terdapat luka cakaran disana. Gadis kecil itu mulai menangis sambil mengusap matanya.


 


 


Daeriel menggendong tubuh Laureen dan membawanya masuk.


 


 


Selama ini, Daeriel mengajarkan kebaikan pada Laureen. Ya, meskipun dia seseorang yang sangat jahat dan kejam, dia tidak ingin Laureen seperti dirinya.


 


 


Bukan tanpa alasan. Pria itu masih ingat dengan kutukan peramal tua yang di tanamkan di tubuh putrinya. Daeriel pikir, kutukan itu selalu berhubungan dengan kejahatan. Jadi, jika Laureen memiliki sifat baik, maka kemungkinan kutukan itu bisa hilang dengan sendirinya.


 


 


Setelah menyelesaikan pertemuan, Daeriel memilih untuk melihat keadaan Laureen. Dia memasuki kamar putrinya dan melihat gadis kecil itu sedang tertidur pulas.


 


 


Daeriel menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuh mungil putrinya.


 


 


"Selamat malam." Kecupan hangat mendarat di kening Laureen.


 


 


Kini Daeriel sudah mengetahui dua kemampuan putrinya. Dia penasaran dengan ucapan Dharaa yang mengatakan jika Laureen punya tiga kemampuan.


 


 


Daeriel kembali ke kamarnya. Pria itu merebahkan tubuhnya. Daeriel menatap langit-langit kamarnya. Dia teringat akan sesuatu.


 


 


Natrissya.


 


 


Satu nama itu membuat dirinya mengingat semua momen itu. Momen indah bersama Trissya. Pria itu sempat membawa Trissya yang sedang dalam mimpi ke istana itu. Mereka bercinta di kamar itu.


 


 


Ah, bukan bercinta. Daeriel memperkosanya.


 


 


Pria itu selalu bergairah jika mengingat Trissya. Daeriel bisa jatuh cinta pada perempuan jenis manusia setelah dua kali menidurinya.


 


 


Dia penasaran. Apa yang dilakukan Trissya sekarang?


 


 


Dia memutuskan untuk mendatangi rumah Raefal untuk melihatnya secara langsung.


 


 


Pria itu mencari kamar Trissya. Sampai di salah satu pintu, dia mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Suara pria dan wanita yang sedang....


 


 


Itu suara Raefal dan Trissya. Daeriel mengepalkan tangannya. Ada rasa cemburu yang menjalar ke seluruh ototnya. Pria itu menghilang seketika.


 


 


~


 


 


Malam berlalu, Laureen terbangun. Dia segera turun dari tempat tidur. Ketika keluar dari kamar, dia berpapasan dengan ayahnya.


 

__ADS_1


 


"Putri Ayah sudah bangun? Kamu mau kemana?" Tanya Daeriel.


 


 


"Mau main sama teatea bulu!" Seru Laureen semangat. Daeriel menarik tangan putrinya, "Ayah gak izinin kamu pergi, sebelum kamu makan."


 


 


Laureen menghela napas berat. Dia menuruti ayahnya.


 


 


Setelah itu, Daeriel mengantar Laureen bermain dengan treteaa di hutan.


 


 


Hewan-hewan itu sudah terbiasa dengan Laureen. Mereka tidak ketakutan lagi ketika Laureen bersama Daeriel datang. Apalagi Laureen sering membawa makanan untuk mereka.


 


 


Daeriel masih memperhatikan Laureen. Namun, pandangannya tertuju pada wanita cantik di kejauhan yang sedang menatapnya. Daeriel menautkan alisnya. Wanita itu adalah Qwella. Dia tersenyum sinis dan berlalu.


 


 


Daeriel menghampiri Laureen. Dia berpesan, "Laureen, kamu disini terus, ya. Jangan kemana-mana."


 


 


"Ayah mau kemana?" Tanya Laureen.


 


 


"Ayah ada urusan sebentar." Daeriel memberikan kode pada para treteaa agar mereka tetap bersama Laureen dan menjaganya.


 


 


Pria itu berlalu mencari Qwella. Dia menyusuri jalan yang dilewati wanita itu tadi.


 


 


"Qwella? Kamu dimana?"


 


 


Daeriel merasakan kehadiran wanita itu di belakangnya. Pria itu berbalik. Tidak ada Qwella disana.


 


 


"Jangan main-main," geram Daeriel.


 


 


Langkah kaki itu mendekati Daeriel. Pria itu menoleh dan melihat Qwella disana.


 


 


"Merindukanku, Yang mulia Zeroun?" Tanya Qwella. Daeriel menautkan alisnya, "Sedang apa kamu disini?" Tanya Daeriel.


 


 


Qwella memasang ekspresi berpikir, "Aku lagi kebetulan aja lewat sini. Kamu lagi ngapain sama anak itu? "


 


 


"Dia anak kamu juga. Apa kamu tidak mau menemuinya sekali saja?" Tanya Daeriel.


 


 


Qwella menggeleng cepat, "Tidak."


 


 


"Kalau begitu, pergi sana!" Daeriel berlalu. Qwella tersenyum meledek, "Tapi, mungkin aku akan berubah pikiran, kalo raja terhormat sepertimu memohon padaku."


 


 


Daeriel menghentikan langkahnya. Dia menoleh pada Qwella. Wanita itu tersenyum cantik.


 


 


"Aku mau ketemu sama anak itu, asalkan kamu memohon sama aku." Qwella menunjuk waja Daeriel.


 


 


Pria itu benci dengan sikap Qwella yang tidak sopan. Dia menautkan alisnya. Namun, pria itu merasa sedih jika mengingat putrinya yang selalu menanyakan sosok sang ibu.


 


 


"Oke."


 


 


Daeriel mendekati Qwella. Wanita itu berhati-hati. Daeriel adalah makhluk berbahaya dan tidak bisa diprediksi.


 


 


Pria itu menatap Qwella dengan serius, "Aku mohon, temui putriku."


 


 


Qwella tersenyum mengejek, "Kedengarannya gak tulus."


 


 


Daeriel mencoba bersabar menghadapi wanita itu. Dia menarik napas sejenak lalu mengulangi kalimat yang sama, "Aku mohon, temui putriku. Sekali ini saja. Kamu tunjukkan wajahmu di depannya. Tunjukkan sisi keibuanmu padanya."


 


 


Qwella tampak bersedih, walau itu hanyalah ekspresi kepura-puraan. Dia berkata sambil menunjuk Daeriel, "Bertekuklah, aku akan menemuinya sekarang juga."


 


 


Daeriel mengeratkan rahangnya. Namun, demi Laureen, dia menekuk kedua kakinya di depan Qwella.


 


 


"Aku mohon." Daeriel mendongkak menatap Qwella.


 


 


Wanita itu tertawa, "Ah, aku senang sekali. Aku akan menemuinya."


 


 


Qwella berlalu. Daeriel mendengus dingin kemudian mengikuti wanita itu.


 


 


Laureen melihat air terjun milik sungai suci. Dia ingin kesana, namun beberapa treteaa menghalanginya. Hewan-hewan itu ingat dengan perintah Daeriel.


 


 


Mendengar suara langkah kaki, Laureen menoleh. Dia mendongkak menatap wanita asing di depannya.


 


 


Qwella menatap tidak suka pada gadis kecil itu, "Kenapa menatapku seperti itu?"


 


 


Mendengar bentakan Qwella, Laureen ketakutan. Wanita itu menghentakkan kakinya kesal.


 


 


Daeriel menyentuh bahu Qwella, "Kenapa kamu membentaknya!"


 


 


Laureen semakin takut melihat ayahnya yang juga marah. Dia berlindung dibalik punggung treteaa yang berukuran sedikit lebih besar.


 


 


"Kenapa wajahnya sama denganku?" Geram Qwella sembari mendorong dada Daeriel. Pria itu mengepalkan tangannya geram, "Tentu saja, karena kamu..."


 


 


Daeriel tidak melanjutkan kata-katanya.


 


 


"Tidak boleh ada wanita mana pun yang menyamai kecantikanku! Termasuk dia!" Qwella berteriak sembari menunjuk wajah Laureen. Gadis itu semakin ketakutan.


 


 


"Qwella!" Daeriel mencekik leher dan wanita itu di depan putrinya.


 


 


"Wanita sialan!"


 


 


Daeriel terkejut melihat segel drucless miliknya muncul dari leher Qwella.


 


 


Qwella hampir kehabisan napas. Diam-diam wanita itu mengendalikan air suci dan menyerang punggung Daeriel. Pria itu tersungkur dan cengkramannya terlepas dari leher Qwella.


 


 


Wanita itu mendecih lalu menghilang.


 


 


Daeriel meringis pelan sambil memegang dadanya. Dia membatin, Sialan, wanita itu benar-benar sudah gila!


 


 


Daeriel menoleh pada Laureen. Gadis kecil itu tetap bersembunyi dan menghindari pandangan ayahnya.


 


 


Daeriel menghela napas berat. Dia mengerti, Laureen pasti ketakutan karena melihatnya mencekik Qwella.


 


 


Daeriel mendekati putrinya, "Kamu takut sama Ayah?" Qwella mengintip lalu menggeleng. Dia memeluk ayahnya.


 


 


"Aku takut sama bibi yang tadi," kata Laureen dengan suara bergetar. Bibi yang dia maksud adalah Qwella.


 


 


"Sudahlah, wanita itu sidah pergi."


 


 


"Apakah dia ibu?"


 


 


♥♥♥


 


 


18.30 : 27 September 2019


By Ucu Irna Marhamah


 

__ADS_1


 


__ADS_2