DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Ambisi Qwella


__ADS_3

~Akan ada saatnya... aku menjadi ibi dan kau menjadi ayah dalam keluarga yang berbeda.~


Setelah hari mulai gelap, Trissya dan Raefal memilih kembali ke rumah. Sesampainya di ambang pintu, Raefal terhuyung sambil memegang dadanya. Trissya yang berjalan lebih dulu menoleh. Dia menghampiri Raefal dan membantunya berjalan.


"Kamu gapapa?"


Raefal menggeleng sambil mengangkat tangannya. Gadis itu membawa Raefal ke kamar dan menidurkannya. Trissya menuangkan air ke dalam gelas. Raefal memperhatikan tubuh Trissya dari belakang. Kemudian pria itu menggeleng.


Sial, aku butuh energi manusia sekarang juga.


Trissya memberikan gelas itu pada Raefal. Namun, pria itu mencengkram lengannya.


"Tidurlah, kunci kamar."


~


Qwella menutup rapat matanya. Buliran bening itu menetes lewat sudut matanya. Dia menangis.


"Qwella, kamu terlahir sebagai gadis cantik. Jika kamu bisa menaklukan hati pangeran Raefal, maka kecantikanmu tidak akan pudar. Kamu juga akan abadi."


Gadis muda itu menatap peramal berjenggot putih di depannya, "Kenapa harus pangeran Raefal?"


Peramal tua itu mengusap jenggot putihnya, "Dia terlahir dengan kekuatan menyembuhkan yang cocok dengan kekuatan air milik kamu. Tapi ingat, dia juga bisa mengendalikan petir. Kamu tahu, air dan petir sangat tidak cocok."


Qwella mengangguk paham.


"Kamu punya pengendalian pikiran yang bisa mengendalikan hatinya untuk mencintai kamu. Dengan begitu, kamu akan abadi di dunia drucless."


Qwella pertama kali bertemu dengan Raefal di istana Baltazar. Saat itu Qwella menjadi tamu kerajaan untuk menjadi seorang penari. Raefal sama sekali menoleh padanya. Pria itu tidak terpesona dengan kecantikan Qwella. Sementara Daeriel sebaliknya, pria itu tertarik pada Qwella.


Ketika Raefal dan Qwella berpapasan, gadis itu mengubah warna matanya menjadi putih bening. Warna mata Raefal juga berubah. Qwella tersenyum penuh kemenangan. Dia menyentuh dada Raefal dan mendekat kemudian mengecup bibir pria itu dengan lembut.


"Ingat, hanya Qwella, wanita yang ada dipikiranmu," bisik gadis itu. Tanpa dia sadari, Daeriel mengawasi mereka dikejauhan. Pria itu tersenyum, "Kemampuan sama kayak gue. Menarik juga."


Qwella mendapatkan Raefal sepenuhnya. Pria itu mencintai Qwella dan melakukan semua yang diinginkan oleh gadis itu. Mereka bahkan melakukan hubungan terlarang diluar perkawinan bangsa drucless. Meskipun mereka bukan manusia, mereka juga memiliki tradisi dan norma yang perlu ditaati.


Daeriel mulai merasa cemburu. Dia mengendalikan pikiran ayahnya agar segera menobatkan dirinya menjadi raja dan menjadikan Qwella istri sah untuknya.


"Daeriel adalah pangeran mahkota yang akan segera dinobatkan menjadi raja baru," kata sang raja. Di depannya ada Raefal dan Daeriel yang berdiri tegak. Ibu suri menghampiri sang raja, "Yang mulia, aku khawatir dengan apa yang akan terjadi nantinya. Daeriel memiliki kekuatan yang besar dan berbahaya. Drucless akan ketakutan padanya. Kenapa kau tidak menjadikan Raefal saja sebagai raja?"


Daeriel menautkan alisnya dan menatap tajam kearah Raefal. Sementara Raefal tetap pada posisi.


"Elleanor, kedua pria itu adalah putramu. Bagaimana bisa kau bersikap seperti ini? Akan lebih bagus jika para drucless merasa takut pada Daeriel. Kekuasaanku akan semakin besar!" Bentak raja.


Elleanor berjalan ke depan raja, "Raja Baltazar, aku ingin kau mempertimbangkan ini."


Raja Baltazar menatap istrinya dengan serius, "Keputusanku sudah bulat, Daeriel akan menjadi raja setelah aku!"


Elleanor menggeleng pelan. Raja Baltazar menatap Raefal, "Aku sudah menemukan pendamping yang baik untuk Daeriel. Tidak boleh ada yang menghalangiku."


Raefal mengerutkan keningnya. Daeriel tersenyum sinis sambil berlalu menyusul sang ayah. Elleanor menatap sendu putranya.


"Bu, apa maksud ayah? Pendamping yang baik itu siapa?" Tanya Raefal dengan ekspresi cemas.


"Qwella."


Raefal terbelalak, "Tapi, kenapa harus Qwella, Bu?"


"Qwella punya kekuatan mengendalikan pikiran. Dia bisa menjaga Daeriel dengan baik."


Raefal mengepalkan tangannya geram. Dia berlalu sambil menahan marah.


"Qwella milikku!"


"Raefal! Kamu mau kemana!" Teriak Elleanor.


Hal yang dilakukan Raefal adalah mencari kekasihnya ke seluruh penjuru istana. Dia tidak menemukan Qwella dimana pun. Sampai di kamar Daeriel.


Pria itu membuka pintunya dan terkejut dengan apa yang dia lihat. Daeriel tersenyum sinis sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Ada Qwella disana dengan warna mata merah tua akibat pengendalian Daeriel.


"Daeriel!!"


Terjadi perkelahian yang membuat mereka terlempar ke dunia manusia.


Dua pria itu sedang berkelahi dengan kemampuan yang luar biasa. Pukulan keras membuat lawan terpelanting jauh dan menghancurkan apa pun di jalan raya.


Raefal mengangkat tangannya. Petir dari langit menyambar dan kini berada dalam genggaman Raefal. Daeriel membelalak. Raefal melemparnya kearah Daeriel. Pria itu menggelepar di jalanan.


Namun, Daeriel menghilang seketika. Raefal memasang pendengarannya dengan baik. Tiba-tiba pria itu berada di belakang Raefal dan menendang punggungnya membuat Raefal terpelanting ke aspal jalan.


Daeriel menyentuh dadanya yang sakit karena serangan petir dari adiknya. Pria itu mengangkat kedua tangan dan muncul bola api dari telapaknya. Raefal membelalak dan segera bangkit, namun terlambat! Daeriel mengarahkan api itu padanya. Raefal terlempar dan pakaiannya sedikit terbakar.


Dia bangkit melepaskan pakaiannya yang termakan api. Daeriel mengubah warna matanya jadi merah tua. Seketika mata Raefal juga berwarna serupa.


Daeriel melihat ada mobil melaju kearah mereka, "Lu adek gue, Raef. Tapi, gua gak suka kalo lu lebih baik dari gua."


Mobil itu semakin dekat.


"Lompatlah ke mobil itu," ucap Daeriel.


Raefal menghalangi jalan mobil tersebut. Bunyi klakson memecah keheningan malam. Tubuh pria itu terlempar ke mobil lalu tersungkur jatuh ke jalanan ketika mobil itu mengerem mendadak. Darah segar mengalir dari kepalanya.


Sopir mobil tampak ketakutan dia segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


Raefal bergerak pelan sambil meringis menahan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.


Langkah kaki itu mendekat. Dia melihat wajah Daeriel yang tersenyum mengejek. 


"Sepertinya lu emang lemah, Raefal. Lebih baik lu mati aja di dunia manusia," ucap Daeriel kemudian berlalu. Raefal mencekal kaki kakaknya membuat pria itu berhenti melangkah.


"Ke-kenapa lo... mau dapetin Qwella?"


Daeriel mendengus dingin, "Karena dia cantik. Selain itu, dia punya kekuatan mengendalikan pikirkan. Kalo gue punya keturunan dari dia, lo bisa bayangin kekuasaan gue, kan?"


Raefal menautkan alisnya setelah mendapatkan jawaban dari Daeriel. Pria itu berjongkok dan menjambak rambut Raefal.


"Mau mati aja ribet!" Gerutu Daeriel sambil merobek dada Raefal. Pria itu berteriak kencang. Daeriel mengeluarkan diamond biru milik Raefal. Detak jantung Raefal melemah. Daeriel menepuk pipi adiknya.


"Selamat malam."


Diamond biru itu dilempar begitu saja oleh Daeriel yang langsung menghilang ditelan gelapnya malam.


Qwella menyentuh wajah cantiknya, "Awalnya aku emang manfaatin kamu untuk keabadianmu. Tapi, aku ngerasa jika aku emang beneran cinta sama kamu."


♥♥♥


Trissya tidak menemukan Raefal di kamar. Dia mulai khawatir dan mencari pria itu ke seluruh ruangan. Tetap tidak kunjung ditemukan.


Ada rasa takut jika pria itu benar-benar pegi. Trissya mendengus kesal sambil mengguncangkan kursi meja makan.


"Ngapain juga aku peduli sama dia. Harusnya aku seneng kalo dia pulang ke tempatnya," gumam Trissya.


"Kamu suka baget ngomong sendiri, ya?"


Trissya tersentak dan menoleh. Raefal berdiri di dekatnya dengan jas dan jubah berwarna biru gelap di tubuhnya. Penampilan pria itu memang aneh, tapi dia terlihat keren. Gadis itu menatap heran kearah Raefal.


"Kamu dari mana?"


"Pulang sebentar, aku perlu mengembalikan energiku dengan mandi menggunakan sumber air suci di dunia drucless. Dari pada nanti aku ngapa-ngapain kamu."


"Oh."


"Kamu kangen sama aku?"


Sontak gadis itu mengibaskan tangannya, "Enggak, kok."


Raefal tersenyum menyelidik, "Kalo gak kangen, kenapa kamu cari-cari aku? Kemaren-kemaren kamu ngusir aku."


"Itu... kamu, kan, udah janji mau ngelindungin aku. Kalo misalnya Daeriel datang tiba-tiba, gimana coba?" Trissya mendapatkan alasan yang tepat. Pria itu mengangguk untuk mengakhiri perdebatan kecil itu.


"Kenapa gak berangkat kerja?" Tanya Raefal. Trissya masih kesal dengan sikap sepupunya Adry. Gadis itu tidak ingin bertemu dengan Adry. Raefal menunggu jawaban Trissya.


"Kamu juga gak kerja?" Trissya malah balik bertanya. Raefal menghela napas panjang, "Lagian ngapain aku kerja, kalo kamu di rumah?"


"Iya juga, sih."


"Ayo kita pergi kerja," kata Raefal. Trissya menggelinjang kesal, "Gak mau, ah! Males!"

__ADS_1


Raefal mendorong punggung Trissya menuju kamar mandi, "Cepetan mandi, ganti baju, aku nunggu di luar."


"Jangan maksa!" Gerutu Trissya.


"Mau aku mandiin?" Ancam Raefal.


"Oke, oke, aku mandi!" Trissya masuk ke kamar mandi.


~


Gadis mungil itu sudah rapi dengan seragam kerjanya. Dia keluar dan melihat Raefal juga sudah siap. Pria itu duduk di atas motornya.


Trissya membatin, kapan dia ganti baju? Motornya juga gak kedengeran.


"Bareng aja, yuk."


"Aku naik sepeda aja," kata Trissya.


Trissya mengayuh sepedanya. Raefal yang mengendarai motor menyusul di belakangnya.


"Kenapa gak duluan? Kamu pake motor," gerutu Trissya. Raefal memutar bola matanya tanpa mau menjawab pertanyaan gadis itu.


Sesampainya di mini market, Adry merasa cemburu melihat Trissya dan Raefal datang bersamaan meskipun tidak berboncengan. Pria itu menegur keduanya dengan baik-baik.


"Lain kali jangan datang jam segini, ya."


Trissya dan Raefal mengangguk hormat. Mereka berdua bergabung dengan Alma dan Chilla untuk membereskan barang-barang.


"Cieeeeeee... kalian pacaran?!" Goda Chilla. Alma menyikut lengan temannya, "Suuutttssss, jangan keras-keras. Nanti Kak Adry denger."


Raefal dan Trissya saling pandang. Chilla terkekeh, "Maafin Chilla, hehe."


~


Raefal mengangkat box susu cair ke dalam. Adry menghampirinya, "Raefal, tolong box ini buka dan isinya beresin ke rak, ya."


Raefal mengangguk, "Iya, Bang."


Sesuai perintah, Raefal membuka box tersebut dan menata setiap kemasan dengan telaten. Sungguh pangeran yang baik, kan?


Ada satu botol susu yang kemasannya rusak. Raefal tidak menyadari itu. Dia mengambilnya, susu cair itu tumpah membasahi tangannya. Otomatis Raefal terkena sengatan karena susu itu. Dia berteriak, "Aaarrgghhh!!"


Trissya yang tengah membereskan rak menghentikan aktivitasnya karena mendengar suara teriakan Raefal. Gadis itu segera mencari Raefal. Dia melihat Raefal meringis sambil memegangi tangannya yang memerah dan bengkak. Gadis itu menutup mulutnya yang membulat karena terkejut. Dia segera menghampiri Raefal.


"Tangan kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Trissya meniup tangan Raefal yang membengkak. Pria itu melihat Trissya yang selalu peduli padanya. Raefal tersenyum senang dan sejenak lupa dengan sakit di tangannya. Trissya mendongkak menatap Raefal.


"Kamu gak hati-hati, ya?"


Raefal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Adry dan Chilla menghampiri mereka berdua. Melihat Trissya yang memegang tangan Raefal, Adry merasa sakit.


"Kamu kenapa?" Tanya Adry. Trissya menoleh pada Adry, "Kak, aku bawa Raefal ke rumah sakit, ya."


Dengan berat hati, Adry menganggukkan kepalanya pelan.


~


Trissya mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga. Ada Raefal yang duduk di belakangnya. Pria itu berpegangan pada pinggan Trissya. Gadis itu menitikkan air matanya. Sesekali tangannya bergerak untuk menghapus air mata itu.


"Kamu nangis?" Tanya Raefal.


"Kenapa kamu gak pulang aja? Kamu gak bakalan gini kalo tinggal di istana kamu. Menjadi pelayan mini market, aku tidak tega melihatmu seperti itu. Kamu sudah terbiasa hidup mewah di kerajaan Zeroun." Trissya semakin kencang menangis.


Raefal memeluk perut ramping Trissya, "Kenapa kamu baik banget, sih? Padahal aku pernah berbuat kurang ajar waktu itu."


"Diam, jangan sampai aku jadi galak lagi karena ingat itu!" Gerutu Trissya. Raefal tertawa kecil, "Kalo gitu, kita berhenti aja di depan."


"Apa? Tapi, kita harus ke rumah sakit. Tangan kamu udah bengkak segede buah mangga gitu!" Gerutu Trissya.


"Aku bisa nyembuhin diriku sendiri. Kamu lupa?"


Trissya menepikan sepedanya. Mereka memutuskan untuk duduk di bawah pohon besar yang rindang. Pohon-pohon yang berbaris di tepi jalanan kota Jakarta.


Trissya tidak ingin melepaskan tangan Raefal barang sedetik pun. Kedua matanya tetap melihat pada tangan Raefal yang bengkaknya mulai hilang. Raefal merasa sikap Trissya berlebihan. Namun, dia merasa senang karena diperhatikan seperti itu.


"Kamu waktu itu pernah minum air, gak kesetrum, kan?" Tanya Trissya.


"Oh,"


"Aku cuma bisa bersentuhan langsung dengan sumber air suci."


"Apa itu spesial?" Tanya Trissya. Raefal mengangguk, "Sumber air suci adalah sumber kehidupan para drucless. Setiap hari bangsa drucless mandi atau meminum air tersebut untuk energi tubuh mereka. Tidak makan berhari-hari bukan masalah, tapi tidak bersentuhan dengan air suci berhari-hari saja, drucless bisa sakit dan mati."


"Begitu, ya."


Raefal mengangguk.


"Jadi, selama di dunia manusia, kamu gak mandi?"


"Enggak, yang penting tetap wangi."


Trissya memutar bola matanya. Dia melihat kembali ke tangan Raefal yang sudah sembuh total. Gadis itu meniupnya pelan-pelan, "Udah gak sakit?"


Raefal mengangguk seraya tersenyum tampan. Trissya juga tersenyum kecil.


"Kita balik lagi ke mini market," kata Trissya sambil beranjak dari tempat duduknya. Raefal menghela napas berat, "Beberapa menit lagi disini, yaaa."


"Kita gak boleh korupsi waktu, ayo."


"Bentar lagi, deh." Raefal menggerakkan kakinya seperti bayi.


"Tadi pagi kamu maksa aku buat berangkat kerja. Sekarang kamu malah gak mau balik lagi ke mini market. Kamu itu gimana, sih?"


Raefal terkekeh, "Itu, kan, tadi pagi. Sekarang beda lagi."


"Ah, ayolah.. kasian Alma sama Chilla." Trissya menarik Raefal agar berdiri dari tempat duduknya. Namun, pria itu sama sekali tidak bergeming. Trissya mendengus kesal.


"Buruan bangun! Satuu... dua... tiga!" Akhirnya, dengan segenap kekuatannya, Trissya bisa menarik Raefal.


~


Adry berdiri di depan mini market. Dia menunggu Trissya dan Raefal kembali dari rumah sakit. Pria itu menyipitkan matanya melihat Raefal yang mengayuh sepeda. Trissya yang duduk di belakangnya memegang pinggang Raefal karena takut jatuh, mengingat Raefal pernah mengaku baru belajar naik sepeda. Padahal Raefal bisa mengendarai motor dengan baik.


Mereka melihat Adry yang berdiri di depan mini market.


"Lihat tangan kamu," ucap Adry pada Raefal. Pria itu menunjukkan tangannya yang sudah diperban. Sebelum kembali, Trissya yang masih cemas, memaksa Raefal untuk mengobati tangannya dengan obat penghilang nyeri akibat listrik dari apotek. Tidak lupa gadis itu melilitkan perban ke tangan Raefal.


Adry menatap curiga, "Masih sakit? Tapi, bisa bawa sepeda."


"Saya kasian sama Trissya yang keberatan boncengin saya."


"Oh, kalo gitu lain kali hati-hati, ya."


Raefal mengangguk. Ketika mereka berdua akan masuk, Adry memanggil Trissya.


"Aku mau bicara sama kamu, Trissya. "


Di ruangan Adry,


pria itu meminta maaf atas sikap sepupunya yang berkata seenaknya dan melukai perasaan Trissya. Adry juga merasa bersalah karena tidak mengantarkan Trissya pulang ke kontrakan waktu itu.


"... aku harap, ini gak mengubah pandangan kamu sama aku," ucap Adry. Trissya hanya mengangguk sambil tersenyum tulus.


Sunyi.


Ketika keheningan dan kecanggungan datang, Adry dan Trissya memikirkan cara untuk menghalau kedua hal membosankan itu.


"Kamu sama Raefal pacaran?"


Trissya terkejut mendengar pertanyaan mendadak dari Adry. Gadis itu tampak berpikir dan tanpa diduga, gadis itu menjawab....


"Iya."


Sakit, tentu saja itu yang dirasakan Adry. Merasa terlambat menyatakan perasaannya. Ketika pernikahan sepupunya, Adry berniat mengajak Trissya ke tempat romantis dan menyatakan perasaannya saat itu juga. Namun, sayang sekali. Raefal sudah lebih dulu mendapatkan Trissya.


Adry tersenyum pahit, "Semoga kalian bahagia."


Trissya merasa bersalah. Dia telah menyakiti pria baik seperti Adry. Trissya menyadari perasaan Adry terhadapnya. Daripada menyakiti pria itu dengan menolak cintanya, lebih baik mengatakan kebohongan, itulah yang ada dipikirkan Trissya saat itu.

__ADS_1


Pulang dari mini market, Trissya mengayuh sepedanya. Ada Raefal yang mengendarai motor dengan pelan di sampingnya.


"Raefal, kamu bisa ditilang. Jangan mengendarai kendaraan bersebelahan gini," gerutu Trissya.


"Mobil aja punya roda 4 bisa. Masa kita enggak?"


Trissya menghela napas berat, "Itu beda lagi, ganteeeng."


Trissya tidak memperhatikan jalan, dia hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Namun, dengan sigap, Raefal memegang stang sepeda itu. Trissya gak jadi jatuh.


"Makanya hati-hati, cantiiiiik."


Pipi Trissya merona karena dipanggil cantik. Dia melajukan sepedanya lebih cepat sambil tersenyum geli.


"Aku gak cantik!" Gerutu gadis itu. Raefal terkekeh sambil sedikit mempercepat laju motornya menyusul Trissya.


"Kalo gak cantik, apa dong?" Raefal bertanya.


"Aku biasa aja."


"Ah, aku tahu."


"Tahu apa?"


"Kamu seksi."


"Ah? Seksi darimana? Tinggi aja enggak."


Raefal melajukan motornya menikung Trissya, "Seksi kalo gak pake bajuuu!"


Gadis itu membelalak sambil melihat ke kanan kiri, memastikan tidak ada manusia yang mendengar. Dia mengayuh dengan cepat.


"Hei, kamu! Awas! Aku kunci pintu dari luar, baru tahu rasa!" Bentak Trissya kesal.


Raefal tertawa.


~


Di kontrakan,


Raefal menoleh kearah Trissya, "Malam ini aku mau pergi ke dunia drucless, aku harus menyentuh air suci."


"Terus tadi pagi, kamu bilang udah."


"Iya, tapi kayaknya energiku terkuras habis untuk menyembuhkan luka ini," jawab Raefal sambil menunjuk tangannya yang tadi sempat membengkak.


"Aku mau ikut," kata Trissya tiba-tiba.


"Dunia drucless terlarang untuk manusia, disana sangat menakutkan."


"Tapi, aku mau ikut. Katanya kamu gak bakalan pergi kemana pun," gerutu Trissya. Raefal sedang berpikir, "Oke, jangan nyesel nanti."


Raefal menggenggam tangan Trissya sembari perlahan menutup mata. Gadis itu merasakan tubuh mereka tersedot ke lorong yang begitu gelap. Dia menutup rapat kedua matanya.


Sesampainya di sunia drucless,


Trissya terhuyung karena kedua lututnya terasa lemas. Alhasil dia jatuh tertekuk ke tanah. Raefal sedikit berjongkok dan merangkul Trissya yang masih menutup matanya.


"Kamu baik-baik aja?"


Perlahan Trissya membuka matanya. Dia melihat tempat dimana mereka berada. Sebuah hutan yang gelap. Trissya menarik tangan Raefal karena takut.


Pohon-pohon yang besar dan tinggi, sungguh tidak terlihat seperti pohon normal. Daun-daunnya juga sangat lebar seperti payung. Rerumputan di tanah setinggi pinggang. Suara-suara hewan malam yang asing dan tidak lazim. Trissya tidak bisa menebak suara hewan apa itu. Suhu di tempat tersebut terasa dingin. Cahaya bulan merah begitu redup dan memberikan kesan horor yang sangat kental.


"Hutan? Kenapa kita di hutan?" Tanya Trissya.


"Ini adalah dunia drucless."


"Menakutkan dari yang aku bayangkan. Aku pikir, tempatnya akan sama dengan tempat tinggal kakek Geross." gumam Trissya. Raefal menggeleng, "Itu karena tempat kakek Geross adalah garis perbatasan dunia manusia dan dunia drucless. Di perbatasan dunia drucless tidak ada malam dan sore, hanya ada pagi dan siang. Makanya disana cerah terus."


Raefal membantu Trissya berdiri, "Kamu pasti merasakan kehilangan energi ketika berada di dunia lain. Mungkin kamu juga bisa menyentuh air suci untuk mengembalikan tenaga kamu."


Trissya mengangguk pelan. Raefal berjongkok membuat gadis itu bingung, "Kamu ngapain?"


"Naik, sumber air suci letaknya sangat jauh."


Trissya pun menurut. Dia digendong oleh Raefal. Pria itu mulai berjalan. Trissya dengan ragu memeluk leher Raefal. Pria itu tersenyum senang. Pipi Trissya memerah karena malu. Dia tersenyum kecil.


Sinar rembulan yang berwarna merah membuat suasana malam begitu mencekam.


"Raefal, aku takut. Kenapa bulannya berwarna merah?" Tanya Trissya dengan suara bergetar.


"Warna bulan di dunia drucless memang berbeda. Terlalu banyak kekuatan besar di dunia drucless yang membuatnya berbeda dan sedikit menakutkan."


"Selama ini kamu tinggal di tempat seperti ini?"


"Iya, di dunia drucless gak ada pagi atau siang. Setiap hari hanya ada sore dan malam. Itu sebabnya waktu di dunia manusia dan waktu di dunia drucless jauh berbeda. Tapi, sore harinya tidak menakutkan seperti ini. Sama aja kayak di tempat kakek Geross."


"Waaah, benarkah? Ada hewan-hewan lucu juga?" Tanya Trissya semangat. Raefal mengangguk. Trissya tersenyum senang.


Sunyi.


Trissya masih memperhatikan ke sekeliling.


"Raefal, waktu itu kamu bisa jalan dan pindah dengan cepat. Tapi, kenapa malah jalan kaki gini? Kamu gak cape?" Tanya Trissya sambil meletakkan dagunya di bahu Raefal.


"Kamu ini gimana, sih. Aku dateng kemari buat isi ulang energi, makanya aku gak bisa teleportasi. Aku lagi hemat energi."


Kenapa kayak HP?  Batin Trissya.


"Kalo kamu keberatan, turuni aku aja. Aku jalan kaki, deh."


"Kamu yakin?"


"Iya, dari pada kamu berat."


Ketika Raefal menurunkan Trissya, gadis itu bahkan tidak bisa berdiri dengan benar.


Raefal memutar bola matanya, "Dunia drucless beda sama dunia manusia. Kamu juga butuh energi."


Pria itu menggendong Trissya dengan bridal style. Gadis itu menatap dagu kokoh pria itu. Dia tersenyum melihat ketampanan Raefal.


"Pegangan," kata Raefal. Trissya menurut. Raefal melompat dan meluncur diatas pohon besar yang melengkung. Seperti... Tarzan.


Trissya itu terkejut dan berteriak panik, "Raefaaaaaal!!" Suaranya menggema di hutan itu.


Raefal tertawa tanpa mau berhenti meluncur, "Katanya mau cepet sampe."


"Tapi, ini... Raefaaall! Kamu mau bunuh aku, ya?! Raefal!"


"Terus teriakkan namaku, aku seneng dengernya!"


Trissya mencubit dada pria itu, "Disaat gini kamu masih bisa mesum?"


Raefal mengerutkan keningnya, "Mesum apanya? Aku cuma bilang suka saat kamu menyebut namaku."


Trissya tersipu malu karena telah berburuk sangka. Raefal berhenti meluncur. Dia menurunkan tubuh Trissya.


Raefal tampak berpikir, "Tapi... aku akan lebih senang kalo kamu meneriakkan namaku saat aku **** kamu!" Sebelum tangan Trissya mendarat di tubuhnya, pria itu segera berlari menjauh.


"Raefaaaaaaaaaaaaaaal!"


♥♥♥


19.41 : 20 September 2019


By Ucu Irna Marhamah


Follow ig  sama wattpad aku yaaa\, @ucu_irna_marhamah


Beli Ebook aku juga yaaaa....




 

__ADS_1


 


__ADS_2