DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Ritual Terlarang


__ADS_3

~And in the end all I learned was how to be strong alone.~


♥♥♥


 


 


Trissya duduk di sofa. Dia menunggu kedatangan suaminya. Wanita itu mengusap perutnya yang besar. Dia sangat mengkhawatirkan Raefal.


 


 


Sesekali tangannya menyeka air mata yang tiada hentinya mengalir.


 


 


"Papa pasti pulang, nak," ucap Trissya menenangkan bayi dalam perutnya. Padahal dia sedang berusaha menenangkan hatinya sendiri.


 


 


Mendengar langkah kaki dari ruang tengah, Trissya segera bangkit dan melangkah ke sana. Dengan senyuman di wajahnya, Trissya menghampiri pria itu.


Namun, senyuman Trissya luntur seketika. Pria itu bukan suaminya. Dia Daeriel. Wanita itu mulai cemas memikirkan keadaan suaminya.


Daeriel memiringkan kepalanya, "Trissya, aku merindukanmu, Sayang."


Tidak ada respon dari wanita itu. Tiba-tiba Daeriel sudah berada di depannya. Trissya tersentak. Pria itu menyentuh bahunya. Namun, tubuh Daeriel terpetal dan membentur dinding. Trissya terkejut, padahal dia tidak melakukan apa-apa. Wanita itu melihat cermin di ruangan tersebut. Ada segel drucless milik Raefal yang muncul melingkar di lehernya. Jadi, segel itu yang melindunginya dari Daeriel.


Pria itu bangkit sambil terbatuk darah. Trissya berlalu keluar dari ruangan itu, tapi Daeriel menghalangi jalannya dengan perpindahan yang cepat.


"Aku harus mencari suamiku, minggir!" Trissya berkata dengan suara bergetar. Daeriel tidak bergeming sama sekali dari tempatnya.


"Raefal ada sama aku, jadi kamu harus ikut sama aku," ucap Daeriel. Trissya terkejut.


"Apa yang udah kamu lakuin sama Raefal!" Bentak Trissya sambil menangis khawatir.


Rantai muncul dari punggung Daeriel. Trissya mundur.


"Kamu mau ketemu sama Raefal, kan? Jadi, ayo kita temui dia." Rantai itu melilit tubuh Trissya, namun tidak berselang lama. Rantai itu hancur karena segel Raefal melindungi tubuh Trissya.


Sial, gimana caranya gua bawa Trissya ke dunia drucless kalo gua gak bisa megang dia, batin Daeriel.


Trissya keluar dari rumah itu. Dia berjalan sambil memegangi perutnya. Wanita itu meminta tolong pada para tetangga yang jarak rumahnya berjauhan.


Dua orang satpam menghampirinya, "Kenapa, Bu?"


"Ada apa, Bu?"


"Ada orang yang mau jahatin saya, tolong saya, Pak," tangis Trissya. Kedua satpam itu saling pandang.


Anjing-anjing milik tetangga menggonggong keras. Ketiga orang itu menoleh.


Daeriel berjalan gontai ke arah mereka. Trissya berlindung dibalik punggung kedua satpam itu. Daeriel berhenti melangkah. Dia menatap kedua satpam yang sedang menatap curiga padanya. Mereka berdua menghampiri Daeriel.


"Kamu yang mau berbuat jahat pada bu Trissya? Pak, seharusnya anda tidak seperti itu pada ibu hamil."


"Iya, mari kita selesaikan ini di kantor."


Daeriel menghela napas panjang, "Pak, Trissya istri saya. Mana mungkin saya nyakitin dia."


"Kamu bohong! Saya tahu suami bu Trissya itu pak Raefal, bukan anda."


Ucapan satpam itu menyulut kemarahan Daeriel. Trissya melihat kedua satpam itu berubah warna matanya jadi merah. Daeriel sedang mengendalikan mereka.


Tiba-tiba keduanya berkelahi karena pikiran mereka sedang dikuasai oleh Daeriel. Trissya menggeleng ketakutan, "Tidak! Jangan sakiti mereka!"


Daeriel tidak merespon. Dia tetap mengendalikan mereka dengan mata merahnya.


"Daeriel! Hentikan! Mereka bisa saling membunuh!" Teriak Trissya. Daeriel menatap kesal pada wanita itu, "Ini salah kamu sendiri."


"Drucless sialan! Berhenti mempermainkan manusia!!" Sambar Trissya.


Kedua mata Daeriel berubah normal, sehingga dua satpam itu jatuh tak sadarkan diri. Mereka tersungkur ke jalanan dengan keadaan babak belur. Daeriel menatap Trissya yang juga menatap penuh kemarahan padanya.


Daeriel tidak menginginkan tatapan itu. Dia ingin Trissya menatapnya dengan penuh cinta. Sama ketika Trissya menatap Raefal. Tapi, Trissya tidak mencintainya. Bahkan wanita itu sangat, sangat membencinya.


Dalam kesempatan itu, Daeriel mengubah kembali warna matanya menjadi merah. Kedua mata Trissya juga berubah merah.


Mereka berdua menghilang dari dunia manusia. Daeriel membawa Trissya yang berada dalam kendalinya ke dunia drucless.


Pohon kehidupan sudah terbakar. Kini hanya batangnya yang menghitam menyisakan ranting-ranting yang berjatuhan.


Peramal tua dan murid-muridnya sudah menjadi abu. Sementara Raefal dan Qwella masih bertahan meskipun tubuh mereka sudah dipenuhi luka bakar.


Raefal melihat Daeriel yang muncul bersama Trissya.


"Apa yang lo lakuin sama Trissya! Ngapain lo bawa dia kemari!" Bentak Raefal sambil berusaha bangkit.


Daeriel menyeringai, "Gua mau nyabut segel drucless punya lo dari tubuh Trissya dan menggantinya dengan punya gua."


Trissya tidak bergeming. Wanita itu masih berada dalam kendali Daeriel.


"Kalo lo benci sama gua, bunuh gua! Jangan bunuh Trissya! Dia gak tahu apa-apa! Dia gak punya salah sama lo! Dia lagi hamil!" Bentak Raefal. Daeriel tertawa, "Ya, gua juga mau bunuh lo, kok. Tenang aja."


Daeriel mengubah warna matanya menjadi berwarna gelap sembari berjalan menghampiri Qwella. Trissya terduduk lemas. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit. Tubuhnya melemah karena berada di dunia lain.


Raefal merangkak menghampiri istrinya. Trissya menoleh. Dia terkejut melihat keadaan suaminya. Wanita itu memeluk Raefal dan menangis sejadi-jadinya.


"Raefal, kenapa kamu jadi gini? Ayo pulang, aku obatin luka kamu, ya."


"Trissya, aku gapapa, Sayang."


Daeriel mengeluarkan rantai dari punggungnya untuk merantai tubuh Qwella. Wanita itu meringis kesakitan. Rantai itu menyeret tubuh Qwella sampai ke tepi air suci.


Daeriel melihat Trissya dan Raefal yang berpelukan. Pria itu menarik tubuh Raefal dengan rantai yang sama dan melempar tubuh yang sudah lemah itu menjauh dari Trissya.


"Raefal!" Teriak Trissya. Daeriel mendekati wanita itu seraya berbisik, "Kamu mau suami kamu selamat? Berjalanlah ke samping Qwella, sekarang."


Trissya yang menangis berusaha bangkit dan berjalan terhuyung. Dia berdiri di dekat Qwella yang terduduk dengan rantai mengikat seluruh tubuhnya.


Daeriel merantai tubuh Trissya. Namun, segel drucless milik Raefal terus-menerus menolak rantainya.


"Sialan, segel itu." Daeriel bertekuk di depan kedua wanita itu. Di posisi itu, mereka tampak duduk membentuk segitiga.


Daeriel menyalakan api di tengah-tengah mereka. Trissya masih menangis dan merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Raefal teringat dengan ucapan Geross waktu itu.


"Menghilangkan segel drucless sangat beresiko dan itu sangat terlarang," ucap Geross. Raefal tampak berpikir, "Beresiko?"


"Wanita drucless yang menghilangkan segelnya akan mandul, atau bahkan mati."


Raefal bangkit dan dia mengangkat tangannya ke langit. Petir menyambar membuat Daeriel sedikit terkejut.

__ADS_1


"Ada apa lagi dengan dia!" Gerutu Daeriel.


Petir kembali menyambar dan Raefal menangkapnya lalu melemparkan petir itu ke air terjun. Cipratan air membuat api yang baru saja dinyalakan Daeriel padam.


"Daeriel! Hentikan upacara terlarang ini!" Bentak Raefal.


"Lo tahu rupanya. Kenapa lo gak mati aja, sih?" Gerutu Daeriel.


Raefal melihat Trissya yang tersungkur lemah. Dia tidak tega melihat istrinya dalam keadaan mengandung harus seperti itu.


Daeriel bangkit dan menatap Raefal, "Nyawa pohon itu masih ada pada lo. Makanya lo masih hidup. Qwella juga. Lo pernah berhubungan sama dia, jadi nyawa kehidupan pohon dari tubuh lo nular ke dia. Makanya kalian susah di bunuh. Lebih baik, lo diam aja."


Daeriel mengarahkan rantai ke tubuh Raefal dan mengikatnya agar tidak banyak bergerak. Pria itu kembali duduk dan menyalakan api di tengah-tengah mereka bertiga.


Pria itu membacakan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti oleh siapa pun. Tiba-tiba suasana menjadi mencekam dan dingin. Angin berhembus menabrak tubuh Trissya dan Qwella. Mereka berdua meringis tertahan.


Air suci bergemuruh mendidih. Ikan-ikan juga mengambang mati karena suhu air tersebut yang meningkat. Petir terus-menerus menyambar dari langit.


Daeriel tidak berheti membaca kalimat yang merupakan kata-kata mantra terlarang. Trissya menatap ke sekeliling. Qwella berusaha melepaskan diri dari rantai yang mengikatnya.


Bulan merah menjadi saksi bisu malam itu.


Bisikan-bisikan misterius itu muncul mengikuti bacaan Daeriel. Trissya merinding ketakutan. Sementara Raefal tidak bisa berbuat banyak.


Api di tengah-tengah mereka semakin besar. Daeriel tidak hanya membaca mantra, dia mulai meneriakkan mantranya yang diikuti oleh bisikan-bisikan asing itu.


"Aaaarrggghh!" Tiba-tiba Qwella berteriak histeris. Segel drucless milik Daeriel muncul dari leher wanita itu. Trissya merasakan tubuhnya memanas. Dia tidak bisa menahan itu. Sehingga wanita itu juga berteriak, "Aaaaarrgghh! Panaaaas!" Trissya menjambak rambutnya sendiri. Segel drucless milik Raefal muncul dari leher Trissya.


Raefal menangis melihat istrinya seperti itu. Sementara dia tidak bisa menolongnya.


Segel itu menjalar ke seluruh tubuh Trissya. Begitupun dengan segel di tubuh Qwella. Daeriel masih membaca mantra dengan mata terpejam.


Perut Trissya mengempis dan rata. Wanita itu panik. Dia memegang perutnya, "Aerilyn! Kamu kemana! Aerilyn!"


Trissya merasakan seluruh tubuhnya seperti di tusuk-tusuk paku yang panas. Trissya menggeliat kesakitan di atas tanah. Segel dari tubuhnya menjalar ke tanah dan tertelan bumi. Sementara segel di tubuh Qwella menjalar ke permukaan air dan tertelan sungai suci.


Akhirnya segel di tubuh kedua wanita itu menghilang.


Api itu semakin membesar dan tiba-tiba padam. Daeriel membuka matanya. Qwella jatuh tersungkur dengan tubuh yang menua. Wanita itu sudah meninggal. Sementara Trissya terkapar dengan keadaan tubuh kembali seperti semula, yaitu tubuh seorang gadis.


Trissya menangis karena dia bayi dalam perutnya menghilang entah kemana. Daeriel menghampirinya. Dia menyentuh Trissya. Tidak ada segel Raefal dalam tubuh wanita... emm.. gadis itu. Jadi, Daeriel bebas menyentuhnya.


Daeriel tersenyum penuh kemenangan. Dia menarik tubuh Trissya padanya. Sementara Trissya mendorong dada pria itu.


"Lepasin aku! Kamu udah bunuh anak aku! Kamu makhluk sialan!" Teriak Trissya sambil memukuli Daeriel dengan tenaganya yang lemah.


"Aku akan memberikanmu banyak anak jika kamu mau," ucap Daeriel sambil memperlihatkan taringnya. Trissya terbelalak. Mata Daeriel berubah merah. Tanpa menunggu, pria itu merobek gaun dibagian bahu Trissya dan menggigit leher gadis itu.


"Aaarrghhh!" Trissya berteriak kesakitan sambil menjambak rambut Daeriel. Dia juga mencakar wajah pria itu. Darah segar mengalir dari luka gigitan itu. Daeriel melepaskan gigitannya. Dia melihat segelnya muncul di leher Trissya.


Pria itu menyeringai dingin. Trissya mendorong dada Daeriel. Tubuhnya sedikit bertenaga, mungkin karena segel Daeriel yang baru saja tertanam dalam tubuhnya.


Trissya bangkit dan menghampiri Raefal. Dia melihat Raefal sudah terkapar dengan napas yang lemah.


"Sayang," gumam pria itu.


Trissya menggeleng dan menangis. Dia memeluk tubuh lemah itu, namun segel Daeriel menolaknya hingga tubuh mereka berdua terpental.


Daeriel mendecih pelan melihat pemandangan itu.


Raefal meringis darah mengalir dari sudut bibirnya. Trissya bangkit dan berusaha menyentuh pria itu. Walaupun pada akhirnya mereka sudah tidak bisa bersentuhan lagi, karena segel milik Daeriel.


Trissya milik Daeriel sekarang. Segel Daeriel telah menguasai tubuhnya. Tubuh yang sekarang merupakan hak pria jahat itu.


Raefal mendekat dan mengusap air mata Trissya. Mereka berpelukan melawan penolakan segel Daeriel. Trissya tidak bisa menahan sakit dari segel Daeriel yang terus-menerus menolak Raefal. Namun, dia bertahan. Begitupun dengan Raefal.


"Kalau segel itu memenuhi tubuh Trissya, bisa-bisa tubuhnya terbakar habis!" Daeriel segera menghampiri mereka. Namun, tenaganya habis untuk ritual terlarang tadi.


Raefal berbisik ke telinga Trissya, "Kita tidak akan berpisah. Aku dan kamu adalah takdir. Jika di kehidupan ini kita tidak bersama, maka tunggu aku 100 tahun lagi. Saat itu juga aku akan melamar kamu."


Trissya menggeleng.


Daeriel muncul dan menghancurkan pohon kehidupan itu dengan rantainya. Raefal mendorong Trissya agar menjauh darinya. Gadis itu menggeleng ketika Raefal tersenyum. Tubuh Trissya tersungkur dan berguling-guling jatuh. Trissya pun tak sadarkan diri.


Daeriel mengeluarkan api dari tangannya untuk membakar habis pohon itu. Raefal pun berubah jadi abu.


Daeriel berteriak kencang meluapkan perasannya, "Aaaaarrgggghhhhhh!"


Suaranya menggema di hutan itu.


♥♥♥


 


 


Perlahan Trissya membuka matanya. Dia menatap langit-langit ruangan tempat dia berbaring.


Istana Zeroun?


Trissya segera bangkit dan menyentuh perutnya. Gadis itu tidak menemukan bayinya. Perutnya rata seperti semula. Dia mengingat kejadian yang sudah menimpanya. Gadis itu menggeleng tidak percaya.


Itu bukan mimpi!


Itu kenyataan!


Dia kehilangan bayinya, kehilangan suaminya, Raefal.


Ini semua adalah perbuatan Daeriel. Butiran bening itu meluncur. Trissya menyentuh kepalanya yang terasa sakit mengingat insiden tersebut.


Trissya menyingkap kasar selimut yang membungkus tubuhnya. Dia turun dari tempat tidur. Namun, tubuhnya terasa berat. Gadis itu menoleh kearah cermin. Ada banyak perhiasan yang terpasang di tubuhnya. Gadis itu memakai pakaian seorang putri.


Trissya mendecih tidak suka. Dia membuka paksa perhiasan itu dari tubuhnya dan melempar semuanya ke lantai sembari bergegas mencari Daeriel.


 


 


Dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, Trissya tidak memperdulikan pandangan para pelayan terhadapnya. Dia tetap berjalan sembari melempar gelang-gelang cantik itu ke sembarangan arah.


 


 


Gadis itu melewati kamar Laureen. Anak kecil itu menoleh. Dia bangkit dan mengintipnya. Gadis kecil itu menatap punggung Trissya yang berjalan gegas.


"Daeriel!!" Teriak Trissya yang menggema di istana itu. Semua pelayan yang bekerja terlonjak kaget. Mereka memusatkan perhatiannya pada Trissya yang dirundung kesedihan sekaligus kemarahan.


"Daeriel!" Teriak Trissya, kali ini suaranya benar-benar menggelegar. Daeriel yang sedang mengadakan pertemuan dengan para raja itu menoleh kearah gadis yang kini sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.


Trissya melepaskan mahkota yang tersemat di rambutnya. Dia melemparkannya sampai-sampai mutiara di mahkota tersebut rusak dan bertebaran di lantai. Rambut panjangnya terurai indah. Air matanya mengalir tanpa henti.


"Sialan kau! Kembalikan semuanya seperti semula!" Trissya menghentakkan kakinya ke lantai dengan wajah yang sudah sembab dan rambut acak-acakan.


Daeriel hanya menatap padanya dengan ekspresi tidak terbaca. Sementara para raja kebingungan. Mereka saling pandang dan saling berbisik.


Merasa tersudutkan dengan reaksi para raja, Trissya kembali berteriak, "Kalian semua berhenti berbisik di depan wajahku! Atau aku akan memotong lidah kalian dan menjualnya di mini market!"


Seketika semua raja terdiam dan menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Daeriel berdiri dari tempat duduknya, begitupun para raja.


"Pertemuan hari ini sampai di sini saja. Singa betinaku tidak akan membiarkanku menyelesaikan ini," ucap Daeriel.


Trissya menautkan alisnya mendengar nada meledek dari pria itu. Para raja berpamitan untuk pergi. Daeriel menghampiri Trissya sembari melipat kedua tangan di depan dada.


"Kembalikan bayiku dan suamiku," geram Trissya, suaranya bergetar. Wanita itu menatap tajam ke arah Daeriel. Sudah tidak ada lagi rasa takut padanya. Yang ada rasa benci di ubun-ubunnya yang hampir meledak.


"Mereka sudah pergi, bagaimana caraku mengembalikannya padamu?" Tanya Daeriel. Trissya mendorong dada Daeriel dengan kasar, walaupun itu tidak ada gunanya. Pria itu tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri.


"Kamu tahu itu, tapi kenapa kamu bunuh mereka! Kenapa kamu lakuin ini ke aku! Aku gak punya salah sama kamu! Sialan! Penjahat! Pembunuh!" Bentak Trissya sambil memukuli Daeriel yang sama sekali tidak melawannya.


"Aku benci sama kamu!" Teriak Trissya. Daeriel membiarkan gadis itu berteriak dan menangis seperti itu. Trissya jatuh terduduk di depan Daeriel. Dia menangis dan terus menangis.


Daeriel mendengus kesal. Dia menarik lengan Trissya dan menyeretnya. Gadis itu berjalan terhuyung karena Daeriel berjalan terlalu cepat.


"Pelayan, pakaikan dia pakaian yang pantas. Pasang semua benda yang tadi dia lemparkan!" Titah Daeriel. Para pelayan menurut. Mereka membawa Trissya masuk ke dalam ruangan.


"Daeriel! Aku akan membunuhmu!"


Pria itu menutup pintu ruangan tersebut dan berlalu. Tanpa dia sadari, Laureen mengintip. Dia keluar dari tempat persembunyiannya setelah yakin Daeriel sudah pergi.


Laureen membuka pintu itu dan mengintip ke dalam. Dia melihat para pelayan sedang berusaha memakaikan perhiasan ke tubuh Trissya yang membelakangi pintu.


"Ibu itu gimana wajahnya? Pasti cantik, kan?" Tanya Laureen semangat. Daeriel tampak berpikir. Pria itu membayangkan wajah Qwella, mantan istrinya.


"Tentu, dia cantik seperti anak Ayah." Daeriel menangkup wajah Laureen. Gadis kecil itu mengangguk-angguk semangat.


"Ibu kamu memiliki wajah yang cantik, dia sangat suka berdandan, memiliki banyak pakaian, rambutnya juga panjang seperti kamu. Ibu kamu itu galak dan keras kepala." Daeriel menghela napas berat.


Laureen tersenyum melihat tingkah konyol Trissya, "Dia galak dan keras kepala. Tapi, gak suka dandan."


~


Daeriel sedang berbicara dengan seorang pria tua berbaju hijau. Para drucless biasa menyebutnya ketua Gruless. Tugas utamanya adalah menjaga kuil tempat pada drucless berdoa. Namun, selain itu, tugasnya masih banyak lagi. Gruless dianggap sebagai orang suci di dunia drucless.


Daeriel melihat para pelayan membawa Trissya yang sudah tampak lebih baik dari sebelumnya. Daeriel menggenggam tangan Trissya dan membawanya ke kuil bersama ketua gruless.


Daeriel menoleh pada Trissya yang terdiam. Tidak ada amukan atau pemberontakan. Ternyata gadis itu melamun. Dia bahkan tidak merasakan kedua kakinya yang berkali-kali menendang batu yang dilewatinya. Tatapannya kosong.


Mereka telah sampai di kuil. Trissya terhenyak. Dia segera menarik tangannya dari Daeriel.


Gruless meminta mereka berdua untuk duduk. Trissya tidak mau duduk dia tetap berdiri mematung. Daeriel menarik tangannya. Akhirnya mereka duduk berdampingan. Trissya melihat ke sekeliling.


Empat orang gruless perempuan masuk. Mereka duduk di belakang ketua gruless.


"Baiklah, sebelum pernikahan ini dimulai, adakah yang ingin kalian bicarakan?" Pertanyaan ketua gruless membuat Trissya terkejut. Serta-merta dia menatap tidak percaya pada Daeriel.


Gadis itu kembali menatap pada ketua gruless, "Apa maksud anda, Pak tua?! Aku sudah menikah dengan pria lain! Aku istri sah Raefal Agler Zeroun! Tertulis resmi dalam surat dan diakui oleh negara!"


Gruless perempuan saling melemparkan pandangan. Daeriel menautkan alisnya, "Ketua gruless, lanjutkan saja pernikahan ini."


Trissya menatap berang pada Daeriel. Sementara ketua gruless kebingungan.


"Maafkan saya Yang mulia, tapi... saya tidak bisa menikahkan anda dengan wanita yang sudah bersuami," kata ketua gruless.


"Suaminya sudah mati, cepat lanjutkan!" Bentak Daeriel. Trissya gemetar mendengar ucapan Daeriel. Dadanya sesak mengingat kematian Raefal. Gadis itu lagi-lagi menitikkan air matanya.


Segel drucless di leher Trissya muncul. Kedua mata Trissya berubah merah. Daeriel bisa mengendalikan gadis itu lewat segelnya.


"Sekarang bisa di mulai, kan?"


"Ah? Ba-baiklah."


~


Geross menangis di gubuknya. Dia memegang diamond putih di tangannya. Itu adalah diamond milik Raefal yang awalnya berwarna biru gelap. Kini warnanya memudar karena Raefal sudah tiada.


Pria tua itu sudah menganggap Raefal seperti putranya sendiri. Dia benar-benar tidak mengira, Daeriel akan sekejam itu membunuh adiknya sendiri.


Dhaara menghampirinya dan memberikan air pada pria tua itu, "Kakek, ini bukan salah Kakek."


"Aku tidak perlu air." Geross membelakangi Dharaa sembari mengusap air matanya.


"Kek, gimana kalo Kakek sakit?"


"Aku tabib," sahut Geross. Dharaa memutar bola matanya kemudian berlalu.


"Raja Daeriel lebih kejam dari raja Baltazar. Dia benar-benar keterlaluan."


Raja Daeriel memerintahkan para tabib untuk membersihkan kekacauan di hutan dekat pohon kehidupan.


Geross dan tabib lainnya mendatangi pohon kehidupan yang sudah tinggal akarnya. Itu pun sudah gosong karena terbakar.


Dharaa menyentuh beberapa onggokan abu di sekitar sana. Dia menggeleng cepat. Dharaa berteriak, "Ini adalah abu dari tubuh murid-murid peramal tua!"


Geross menoleh. Dia terkejut dan menghampiri Dharaa. Beberapa tabib mengumpulkan abu itu dan memasukkannya ke dalam kotak suci yang berbeda.


"Kakek Geross! Aku menemukan tubuh nenek tua!" Teriak salah seorang tabib. Geross dan Dharaa menghampirinya.


Dharaa menyentuh bahu mayat itu. Dia menoleh pada Geross.


"Ini ratu Qwella."


Geross terbelalak, "Jangan-jangan... raja Daeriel telah melakukan ritual terlarang itu."


"Ritual apa?" Tanya Dharaa. Geross melihat ikan-ikan yang mati mengambang di air.


"Ritual pencabutan segel. Dia mencabut segel dari tubuh Qwella dan Trissya. Tapi, secara khusus raja Daeriel menumbalkan Qwella agar Trissya tidak mati karena efek ritual ini," ujar Geross.


Dharaa bergidik ngeri.


Mereka membersihkan tempat itu. Geross menemukan seonggok abu yang jaraknya sangat jauh dengan yang lain. Ketika pria tua itu mendekat, dia melihat ada diamond putih yang setengah terkubur abu tersebut. Dia mengambilnya dan melihat benda tersebut dengan teliti.


Tiba-tiba serasa ada godam yang menghantam dadanya. Kakek tua itu mengenali siapa pemilik diamond tersebut.


Raefal.


Geross jatuh terduduk. Dia menangis meraung-raung. Dharaa dan tabib lainnya menoleh. Mereka menghampiri Geross dan berusaha menenangkan pria tua itu.


"Raefal... pangeran Raefal... ini abu milik pangeran Raefal!" Tangis Geross sembari menyentuh abu tersebut.


"Raja Daeriel benar-benar brengsek," geram Geross. Dharaa dan yang lainnya membawa kakek Geross pergi dari tempat itu.


Geross menghela napas berat. Dia menyimpan diamond itu ke dalam kotak berlapis beludru berwarna biru gelap. Warna yang biasa digunakan Raefal.


♥♥♥


 


 


14.06 : 28 September 2019


By Ucu Irna Marhamah


 


 

__ADS_1


__ADS_2