DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Home


__ADS_3

BELUM ENDING 'KAN BELUM ADA EPILOGUE, NAK.


 


 


 


 


~Ingatan yang berbeda, namun perasaan yang masih sama.~


(Raefal A. Zeroun)


 


 


♥♥♥


 


 


Setelah menemukan kameraku, kami berniat mencari jalan keluar. Namun, kami tidak kunjung menemukan jalan keluar. Lagi-lagi Idar harus memarkirkan mobil kami dan kami harus berjalan untuk menemukan jalan keluar.


Aku tidak mengira, kami bisa kesulitan keluar dari tempat ini. Tapi, setelah dipikir-pikir, memang tidak ada jalan keluar. Aku tidak ingat dimana perbatasan dunia drucless dan dunia manusia. Jika aku ingat, aku bisa bertanya pada Kakek Geross.


Kami berjalan sembari terus merekam.


"Yang perlu kita ingat adalah jalur masuk kita pas pertama ke hutan ini," kata Dry. Nayshilla mendengus kesal, "Iya, iya, tapi, dari tadi kita gak nemu jalur itu."


"Shit, di sini gak ada orang yang bisa kita tanya," umpat Idar. Nayshilla memukul lengan Idar, "Berhenti mengumpat."


"Lihat ini!" Mendengar Dry yang berseru, kami berempat menoleh dan menghampirinya.


Dia menemukan jalan setapak. Aku mengernyit bingung, rasanya aku pernah ke sini. Aku berusaha mengingat, jalan ini tertuju ke tempat yang penting. Tapi, tempat apa?


Nayshilla dan Idar sudah nyelonong lebih dulu. Sementara Raefal memperhatikanku yang masih berpikir keras untuk mengingat semuanya.


"Triss, kamu gapapa?" Tanya Raefal. Aku menoleh padanya kemudian menggeleng.


"Woaaah!" Itu suara Idar dan Nayshilla. Kami bertiga menyusul mereka.


Terdapat puing-puing kuil di depan kami. Sepertinya tempat ini sudah tidak dipakai. Aku melihat relief di tugu-tugu kuil. Aku mengingatnya sekarang.


Ini kuil Dewi Amiless. Aku pernah kemari bersama Laureen waktu itu. Tanganku bergerak menyentuh ukiran-ukiran yang juga memenuhi dinding kuil.


Pandanganku tertuju pada patung wanita cantik dengan hewan bersayap bertengger di tangannya.


Dewi Amiless.


Dry bersuara, "Tempat ini sangat keren. Seperti candi, ya."


"Ini kuil suci bagi para drucless yang memuja Dewi Amiless, sebagai dewi mereka. Ibu para drucless," kataku tanpa sadar berkata begitu.


Mereka menoleh padaku. Aku segera memasang ekspresi normal.


"Lo tahu sesuatu?" Tanya Nayshilla.


"Kayaknya Trissya bener, deh. Disini ada tulisan kuno, 'Dewi Amiless sang mata bulan'. Lo pernah ke sini sebelumnya?" Ucap Idar diakhiri dengan pertanyaan.


Aku menggeleng sambil mengalihkan pandangan darinya, "Enggak, gua cuma nebak."


Dry tampak berpikir dengan otak jeniusnya, "Tempat ini udah gak dipakai, sepertinya ada peradaban manusia di sini sebelumnya. Itu artinya, pernah ada seseorang yang tinggal di hutan ini."


"Sepertinya tempat ini habis diserang. Jadi, ya... luluh lantak begini," kata Idar. Raefal menambahkan, "Mungkin ada sekelompok musuh dari kelompok yang membangun kuil ini dan menyerang mereka, termasuk menghancurkan tempat ini."


Terserah mereka mau berasumsi seperti apa. Tapi, aku juga tidak tahu apa yang terjadi, yang membuat tempat ini jadi rusak.


"Eh ada kelinci!" Nayshilla berseru. Aku menoleh ke arah pandangnya. Treteaa berwarna putih itu berlari mendengar suara Nayshilla. Idar dan Nayshilla mengejarnya.


"Jangan mengganggunya!" Teriakku. Namun, mereka tidak mendengar.


"Bagaimana kita pulang?" Gerutu Dry sembari duduk di bawah pohon.


Raefal meminum air mineral lalu memberikannya padaku. Aku menerimanya dan meminum air tersebut.


Idar kembali sambil membawa dua treteaa yang terlihat ketakutan dalam pangkuannya. Nayshilla juga membawanya.


"Kenapa kalian menangkap hewan-hewan itu?! Lepaskan mereka, kalian gak lihat mereka ketakutan?!" Aku membentak keduanya.


"Sebentar doang, lagian ini hewan apa, ya? Kok, bisa warna-warni gini," gumam Idar.


"Lepasin, gak?!" Aku mengambil kayu dan siap memukul Idar.


Sikapku membuat teman-temanku heran. Idar dan Nayshilla segera melepaskan treteaa ke tanah. Hewan-hewan itu langsung pergi.


"Lo kenapa, sih? Semenjak jatoh dan tenggelam di sungai itu, lo jadi aneh. Lo kerasukan, ya?" Gerutu Idar.


"Udah sudah, kita lanjutin perjalanan," kata Dry.


Kami tidak kunjung menemukan jalan keluar. Bahkan malam telah tiba. Teman-temanku mulai merasakan kejanggalan yang semakin lama semakin membuat mereka ketakutan.


"Jam tangan gua baru nujuk angka 9 siang. Kenapa di sini udah malam lagi?" Gerutu Nayshilla.


Bulan merah tertutupi gumpalan awan hitam. Penerangan malam itu semakin menipis saja. Untung kami membawa flashlight.


Idar bergumam pelan, "Makin lama, tempat ini makin nyeremin."


Raefal dan Dry terduduk lemas. Sepertinya tenaga mereka mulai habis, karena terlalu lama berada di tempat ini.


Gumpalan awan sudah lewat. Bulan merah itu kembali terlihat. Idar menatap bulan tersebut sambil berkata, "Nyeremin banget, sih."


Aku menanggapi, "Lo ingat pas di kuil, lo baca tulisan kuno itu, 'Dewi Amiless sang mata bulan'. Artinya, bulan merah itu adalah matanya Dewi Amiless."


Mendengar perkataanku, mereka menoleh padaku.


"Lo tahu dari mana?" Tanya Dry. Aku mencari alasan, "Gua pernah baca artikelnya."


"Emang ada artikel yang membahas tentang hutan ini? Siapa aja emang yang pernah dateng kesini? Kayaknya kita salah satunya," ujar Idar.


Tiba-tiba aku mendengar suara bisikan di telingaku, Ibu, kembali ke mobil. Aku akan menunjukkan jalan keluar.


Ini suara Laureen. Rasanya dia berada di belakangku. Aku mengusap lenganku yang rasanya merinding.


"Kita balik lagi aja ke mobil, kita nyari jalan keluar sambil bawa mobil. Bisa-bisa kita mati kecapean kalo jalan terus," kataku.


Untungnya mereka mau mendengarkanku. Idar yang menyetir,  seperti biasanya. Dry duduk di samping idar. Nayshilla, aku, dan Raefal duduk di belakang.


Laureen terus-menerus membisikkan jalur arah padaku. Sehingga aku bisa menunjukkan jalan keluar pada Idar.


Akhirnya kami bisa menemukan jalan raya. Teman-temanmu terheran-heran, karena siang hari sedang berlangsung di dunia manusia. Sementara baru saja kami keluar dari hutan tengah malam.


Tanpa mau pikir panjang, kami kembali ke Jakarta hari itu juga. Tidak ada yang ingin berhenti dulu untuk istirahat. Mereka cukup syok dengan kejanggalan yang mereka alami. Kami benar-benar ingin pulang dan merasa jika rumah adalah satu-satunya tempat yang aman.


Aku tiba di rumah besar milik keluarga Mahali.

__ADS_1


Ya, namaku Natrissya Mahali, putri kedua dari ayah bernama Rahaji Pratama Mahali, dan ibu yang bernama Lavina R. Mahali. Aku merasa beruntung bisa terlahir di keluarga Mahali.


Ayahku seorang pengusaha, begitupun dengan ibuku. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka kadang memperhatikanku, kadang juga tidak.


Mungkin itulah sebabnya sifat dan sikapku di kehidupan ini sedikit kurang baik, dibandingkan aku yang di kehidupan sebelumnya.


Di rumah hanya ada mama. Beberapa pelayan sedang bertugas.


"Kamu udah pulang, Trissya? Ah, Mama khawatir banget sama kamu. Ditelepon berkali-kali, gak nyambung terus," ceroscos mamaku yang cantik ini. Aku tersenyum kemudian duduk di sampingnya.


Aku menjawabnya, "Namanya juga di hutan, Ma, gak ada sinyal."


"Lain kali jangan pergi ke hutan lagi. Mama hampir nyuruh papa kamu nelepon angkatan udara buat nyari kamu."


Aku tertawa. Berlebihan sekali mamaku ini. Kenapa harus menelepon angkatan udara? Mereka punya tugas yang lebih penting dibandingkan menemukan seorang gadis dari keluarga Mahali.


"Kakak kamu juga kesel sama kamu yang pergi gak bilang-bilang ke dia," kata Mama sembari meminum jus jeruk.


"Kalo aku bilang sama kakak, dia gak bakalan ngizinin aku pergi. Aku butuh konten buat youtube," kataku. Mama menggeleng, "Tahu begini, kakak kamu bakalan nyuruh kamu berhenti jadi youtuber."


Aku memutar bola mataku, "Ah, dia memang kejam."


Terdengar langkah kaki memasuki ruang keluarga. Aku menoleh ke pintu. Kedua mataku terbelalak melihat pria berjas hitam itu melangkah menghampiri kami.


Matanya yang begitu tajam menatapku penuh makna.


Jantungku berdegup kencang. Rasanya aku benar-benar takut sekarang. Pria itu mendekatkan wajahnya lalu mengecup kedua pipiku secara bergantian.


"Mau kabur dariku, adik nakal?" Suara baritone-nya menggema di ruangan ini. Sementara aku masih membeku. Pria itu duduk di sampingku sambil melepaskan dasinya.


"Kamu cepat sekali pulang hari ini, Daeriel?" Tanya Mama.


Ya, pria itu Daeriel Mahali, kakak kandungku. Kenapa aku bisa lupa, dia adalah kakakku di kehidupan ini.


"Aku denger dari Adry, Trissya udah pulang. Jadi, aku mau melihat adikku yang nakal ini. Aku butuh penjelasan, kenapa dia pergi tanpa izin dariku." Daeriel berkata tanpa melepaskan perhatiannya dariku.


Sungguh aku takut melihatnya seperti itu. Aku menelan saliva dan memberanikan diri untuk menjawab, "Aku udah izin ke Mama sama Papa."


"Harusnya kamu juga izin sama Kakak. Ah, karena mendengar kabar kamu lagi di hutan, Kakak gak jadi pergi ke Singapura," kata Daeriel dengan ekspresi lelah.


"Maaf," kataku pelan. Daeriel mengernyit dan mendekatkan wajahnya, membuat aku memundurkan tubuhku ke mama.


"Sejak kapan kamu kenal kata maaf? Kamu gak pernah minta maaf, meskipun kamu salah," ujar Daeriel.


Aku tersenyum kaku, "Begitu, ya? Hehe, aku akan memperbaiki sikapku. Aku akan jadi anak baik mulai sekarang."


Daeriel terkekeh kemudian mengusap rambutku, "Bagus, aku bangga sama kamu."


Setelah mengatakan itu, dia berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.


"Daeriel sangat sayang sama kamu. Dia sosok kakak yang baik. Kamu harus punya suami sebaik dia," kata mama sambil merangkulku.


Aku jadi teringat pada Raefal.


~


Malam telah tiba. Iya, malam di dunia manusia. Aku, kan, manusia.


Tidak ada kegiatan lain. Aku berbaring di tempat tidur sembari memainkan ponselku.


Aku merasa takut, karena dugaanku benar. Daeriel bereinkarnasi juga sepertiku dan Raefal. Namun, aku juga merasa tenang, karena Daeriel terlahir sebagai kakakku. Bukan orang lain.


Itu artinya, dia tidak bisa memilikiku seperti di kehidupan sebelumnya.


Ketiga keinginanku telah terpenuhi. Laureen terbebas dari kutukan, aku dan Raefal telah kembali bersama, dan Daeriel tidak mungkin bisa menjadi pendampingku lagi.


Ah, senangnya.


Dia hanya menanyakan kabarku setelah kembali dari hutan. Aku juga balik bertanya tentang kabarnya.


Ya, kami chattingan cukup lama. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kameraku, aku belum mengeceknya.


Aku pindahkan ke laptop video-video yang sudah kami ambil selama di hutan.


Dicek satu per satu sampai rekaman terakhir ketika aku jatuh tenggelam ke dalam sungai. Kameranya juga jatuh ke dalam. Aku terbelalak melihat iris mata berwarna merah yang besar itu.


Aku pikir, saat itu aku sedang berhalusinasi. Namun, ternyata kamera ini mengatakan yang sebenarnya. Kamera itu jatuh lebih dulu ke dasar sungai dan ada sosok tubuh perempuan yang tenggelam. Itu adalah aku!


Ada rerumputan pajang di dasar sungai yang ujung-ujungnya menepel ke punggungku. Seolah rumput-rumput itu yang menarik tubuhku agar tenggelam ke dasar sungai.


Kamera ini merekam semuanya. Mata besar itu sedang mengawasi tubuhku dan sesekali berkedip.


Itu membuatku merinding sendiri melihatnya. Sampai ada Raefal yang membawaku ke daratan.


Kameraku yang waterproof masih merekam. Tatapan mata berwarna merah itu tertuju ke kamera.


Sungguh! Aku benar-benar merinding dan takut! Seolah-olah sekarang dia sedang menatapku. Kali ini aku bisa melihat bibirnya yang menyeringai dingin.


Terdengar suara tawa perempuan yang mengerikan.


Namun, lama-lama mata itu tertutup. Aku tidak mengerti, kenapa kedua mata itu tertutup. Namun, setelah 'sesuatu' itu menutup matanya, beberapa ikan dan hewan sungai mulai berenang dan beraktivitas di depan kameraku.


Ada sosok yang berenang mendekati kamera. Aku mengernyit, ternyata Raefal yang mengambil kameraku.


"Ah, kameranya masih merekam."


Aku tersentak kaget ketika ada salah seorang pelayan yang datang dan memberitahuku untuk makan malam.


Di meja makan, ada banyak sekali makanan. Papa dan mama makan dengan santai. Ada Daeriel juga disana. Aku mulai menyuapkan makanan ke mulutku.


Selesai makan malam, aku berniat kembali ke kamar. Namun, papa menyuruhku kembali duduk dan mau tidak mau, aku akan mendengarkan papa berbicara.


Bukan tanpa alasan. Kalau sudah ada percakapan, bisa sampai 4 jam. Ah, ini melelahkan. Bukan hanya mendengarkan, aku juga harus duduk lama di sini.


"Trissya, kamu udah lama menyelesaikan kuliah. Kapan kamu mau megang perusahaan Papa seperti kakak kamu, Daeriel?" Tanya Papa.


Aku mengernyit, bagaimana ini? Aku harus beralasan apa lagi? Aku malas jika harus mengurus perusahaan itu. Setiap hari aku duduk dan mengawasi kinerja karyawan. Itu tidak menyenangkan sama sekali.


Ah, ternyata terlahir kembali bukan hanya membuatku senang, tapi membuatku kesal juga.


Lebih enak jadi pegawai mini market.


"Kamu masih mau main-main dengan kamera?" Tanya papa. Kulihat Daeriel dan mama menoleh padaku.


Aku memainkan ujung kakiku di bawah sana. Aku benar-benar gugup. Mendengar nada bicara papa, sepertinya sedang serius dan bisa marah kapan saja.


"Sebenarnya aku gak mau jadi pengusaha kayak kalian," kataku pelan. Papa mengernyit, "Jadi, kamu maunya apa?"


Tidak mendapatkan jawabanku, mama dan Daeriel saling pandang. Papa masih menatapku, berharap aku memberikan jawaban.


"Kalo kamu gak mau ngurus perusahaan Papa, kamu harus nikah."


Seketika aku menatap papa. Tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.


Nikah?


Ah, ini tidak mungkin.

__ADS_1


"Papa, kalo Trissya nikah, gimana sama Daeriel? Seharusnya anak tertua dulu yang menikah," kata mama. Sepertinya mama sedang ada di pihakku dan berusaha memenangkan posisiku.


"Daeriel masih harus fokus ke pekerjaannya. Papa gak nuntut banyak dari dia. Sementara Trissya tidak serius sama sekali dengan masa depannya. Yang diketahui temen-temen Papa, kamu itu youtuber."


"Emangnya salah jadi youtuber?" Tanyaku pelan. Kulihat papa sedang berpikir, "Ya, nggak, sih. Youtuber juga bagus. Tapi, kamu itu lulusan dari kampus terbaik di Indonesia, kenapa gak jadi seorang pengusaha seperti Papa? Jurusan kamu juga nyambung sama kerjaan kamu nantinya."


Ya, aku masuk jurusan itu juga karena keinginan Papa.


"Ya udah, Pah. Biarin aja Trissya seneng-seneng sama kebiasaanya. Emang kalo dia nikah, apa untungnya coba?" Ucap Daeriel diakhiri dengan pertanyaan. Tampaknya dia juga ingin membelaku. Akhirnya aku punya 2 orang sekutu.


"Kalo dia nikah, sikap kekanak-kanakkannya akan berubah. Dia akan semakin dewasa di bawah bimbingan suaminya. Jadi, Papa gak bakalan nuntut dia buat megang perusahaan Papa lagi," ujar Papa.


Aku mencerna ucapan Papa. Bukankah itu mudah? Aku tinggal mencari pria yang mau menikahiku. Maka, aku akan bebas selama-lamanya dari tugas perusahaan.


Papa kembali bersuara, "Papa juga udah udah punya beberapa pria yang bisa dipilih Trissya nantinya."


Aku terkejut dan seketika menyahut, "Tapi, aku udah punya pacar."


Sontak semua mata tertuju padaku. Aku menelan saliva karena gugup.


"Kamu udah punya pacar? Sejak kapan? Setahu Kakak, kamu belum pernah pacaran." Daeriel bertanya dengan ekspresi curiga. Mama menimpali, "Kalo kamu punya pacar, kenapa kamu gak ngenalin ke Mama?"


Damn you, Trissya. Apa yang kau bicarakan?!


"Papa mau ngomong sama pria itu." Setelah berkata demikian, Papa berlalu meninggalkan meja makan.


Aku menghela napas berat. Satu-satunya pria yang ada dalam otakku sekarang hanyalah Raefal. Apa mungkin dia mau nikahin aku? Ya, mungkin dia mau. Tapi, gak mungkin kalo cepet-cepet.


"Trissya, malam ini kita jalan, yuk." Ucapan Daeriel membuatku menoleh padanya dan otomatis aku mengangguk.


~


Aku memakai jeans dan kaos putih berbalut jaket denim berwarna putih juga. Malam ini kakakku, alias Daeriel Mahali ingin mengajakku jalan.


Ketika melewati ruang kerja papa, aku melihat pintunya sedikit terbuka. Penasaran juga, aku mengintip.


Maaf, aku memang anak yang penuh dengan rasa penasaran. Ternyata papa sedang fokus ke layar komputernya. Namun, papaku bukan sedang fokus bekerja. Papa sedang streaming youtube.


"Ah, aku penasaran juga sama channel youtube Trissya. Nama channel- apa, ya?" Papa bergumam pelan. Namun, aku masih bisa mendengar suaranya.


Ah, papa ini kayak gak suka youtube aja. Tapi, papa juga main youtube. Gimana, sih.


Aku berlalu menuruni tangga dan berpapasan dengan mama. Aku izin mau keluar sebentar sama Daeriel. Mama mengangguk memberikan izin.


Aku melihat Daeriel sudah di mobil. Kami hanya sedikit berkeliling.


"Mau ke tempat makan?" Tanya Daeriel. Aku menggeleng, "Kan, udah makan malam tadi. Aku lagi diet."


Hening.


Daeriel kembali fokus menyetir. Aku juga tidak berniat membuat topik pembicaraan dengannya. Malam yang membosankan.


"Emangnya siapa pacar kamu? Adry bilang, kamu gak pernah kelihatan punya pacar selama di kampus dulu," tanya Daeriel. Aku menghela napas berat, "Aku bingung harus bilang apa biar papa gak maksa aku ngurus perusahaan."


"Jadi kamu milih bohong sama papa?" Daeriel bertanya seolah tidak percaya dengan sikapku. Aku menggeleng cepat, "Bukan begitu, aku memang ada cowok yang lagi deket. Tapi, masalahnya... apa dia mau nikah sama aku?"


Daeriel menghentikan mobil di depan cafe. Aku menoleh padanya.


"Sebenarnya papa cuma pengen punya cucu."


Aku terkejut mendengarnya. Daeriel melanjutkan kalimatnya, "Sebelum  bilang ke kamu, papa bilang ke Kakak dulu. Papa pengen Kakak nikah secepatnya. Tapi, pacar Kakak belum mau nikah. Masa Kakak maksa dia."


Aku baru tahu, kakakku ini punya pacar. Sejak kapan? Hemm, kami memang jarang membahas tentang hubungan kami masing-masing. Kami cukup dekat dan membahas hal yang perlu dibahas saja.


"Ah, aku jadi serba salah," keluhku.


"Kita ke dalam dan bicara sambil minum kopi aja," kata Daeriel. Aku mengangguk.


Kami masuk ke dalam cafe dan memesan kopi dingin.


Malam itu kami membicarakan masalah terpendam dalam hati masing-masing. Aku juga membicarakan Raefal padanya.


"Raefal? Adry pernah ceritain dia ke Kakak waktu itu. Setahu Kakak, kamu gak suka sama dia. Kenapa tiba-tiba kamu jadi suka sama dia?" Tanya Daeriel bingung.


Ah, aku juga bingung harus bagaimana menjelaskannya.


"Aku suka sama dia, kok."


"Adry bilang, kemaren kalian ke hutan bersama. Ada Raefal juga. Jangan-jangan kamu kena pelet sama dia," tuding Daeriel. Aku mengernyit heran, ternyata Daeriel bisa percaya yang begituan juga.


Ya, Daeriel sama Adry memang sudah saling mengenal dan cukup dekat sejak lama. Mereka seperti sahabat yang tidak pernah putus kontak, meskipun kadang tidak sedang berada dalam satu negara.


"Enggaklah, aku serius." Aku membantahnya. Daeriel masih tidak yakin dengan jawabanku. Tampaknya dia sangat, sangat meragukanku.


Ah, meskipun Daeriel ditakdirkan menjadi kakakku di kehidupan ini, sepertinya dia tidak akan dengan mudah membiarkanku menjalin hubungan dengan Raefal.


"Alasan kamu suka sama dia, apa coba? Jangan bilang, karena dia ganteng. Semua orang tahu, ganteng itu bukan alasan utama seseorang untuk jatuh cinta."


Pertanyaan Daeriel membuatku harus memikirkan alasan yang tepat yang bisa diterima akal sehatnya, "Itu... aku pernah tenggelam di sungai dalam hutan. Dia nyelametin aku. Padahal aku udah nyakitin perasaan dia selama ini. Dia cowok yang baik."


Daeriel menggeleng, "Itu namanya kamu merasa berhutang budi padanya."


Ah, aku harus bilang apa coba?


"Sebelum kamu mempertemukan dia sama papa, kamu harus mempertemukannya dengan Kakak dulu. Kakak mau tahu apa dia benar-benar pantas untuk putri dari seorang Mahali."


Ah, mulai lagi sikap sombongnya. Sepertinya Daeriel memang dilahirkan untuk kesombongan seperti itu.


"Memangnya Kakak mau ngapain kalo udah ketemu dia? Kakak gak bakalan aneh-aneh, kan?" Tanyaku penasaran. Daeriel melirik sebentar ke arahku, "Lihat saja nanti."


"Kalo Kakak gak setuju sama hubungan aku dengan Raefal, itu akan membuat papa menunggu lagi untuk memiliki cucu. Bisa-bisa aku menerima permintaan papa untuk memegang perusahaannya. Papa akan berbalik ke Kakak dan meminta kakak menikah secepatnya. Bagaimana jika itu terjadi?"


Mendengar ucapanku, Daeriel tampak mencerna baik-baik apa yang aku katakan.


"Kamu takut banget kehilangan Raefal, ya?"


Tiga ribu tahun lebih di dunia drucless dan 30 tahun di dunia manusia itu bukanlah waktu yang sebentar. Aku sudah sangat menunggu saat-saat ini. Aku menunggu untuk ini.


Dan... aku benci menunggu jika bukan untuk Raefal. Berlebihan memang, tapi beginilah perasaanku.


Setelah kembali dari cafe, aku masuk kamar dan merebahkan tubuhku yang lelah ke tempat tidur.


Aku harus bilang apa sama Raefal, coba? Ah, kenapa sesulit ini. Aku pikir, aku tidak akan menemukan kesulitan lain.


Aku melihat video yang tadi aku putar sedang di pause. Apa aku akan memberitahu seseorang tentang video itu?


Terlalu menakutkan.


♥♥♥


 


 


16.18 : 13 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


 


 


__ADS_2