DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Penghujung


__ADS_3

~Jangan takut aku hilang.


Jangan hilang aku takut.~


♥♥♥


 


 


Trissya sedang duduk di sofa sembari membaca buku di tangannya. Wanita itu tidak memiliki kegiatan lain di istana. Dia kadang merasa bosan dan memilih membaca buku.


Terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu ruangan tersebut. Trissya menoleh. Kepala gadis cantik itu nongol dari pintu. Trissya terkekeh melihat putri cantiknya di sana. Wanita itu menggerakkan tangannya memberikan kode agar gadis itu masuk.


Gadis itu berjalan masuk menghampiri Trissya yang duduk di sofa. Laureen duduk di lantai lalu memeluk lutut ibunya. Dia melelapkan kepalanya ke pangkuan Trissya.


Dengan lembut, Trissya mengusap rambut Laureen. Sejenak gadis itu menutup kedua matanya untuk merasakan kelembutan seorang ibu.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Trissya. Laureen membuka matanya sambil mendongkak menatap sang ibu. Laureen hanya tersenyum kecil.


Suara merdu itu menjawab, "Aku mencintai seseorang, Bu."


Kedua alis Trissya terangkat, "Benarkah? Putriku sudah dewasa."


Laureen tersipu dengan pipi memerah. Trissya menangkup wajah putrinya lalu menggerakkan kepalanya.


"Siapa pria itu?" Tanya Trissya. Laureen membayangkan wajah tampan itu, "Pangeran Chrean."


Trissya tampak berpikir, "Putra raja Herald?"


Laureen mengangguk, "Iya, aku harap... Ibu mau menyampaikan ini pada Ayah."


Trissya terdiam sejenak. Lalu dia tersenyum sendu sembari menjawab, "Akan Ibu sampaikan."


Laureen menatap wajah ibunya. Trissya juga menatap putrinya.


"Ibu bahagia?"


Pertanyaan itu terlontar dari bibir Laureen. Trissya bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin membohongi putrinya terus. Sementara sekarang, Laureen sudah dewasa. Bukan sekali atau dua kali Laureen melihat Trissya menangis karena sikap Daeriel padanya. Ya, pria itu sangat kasar.


"Ibu, katakan saja. Apa ayah melukai Ibu lagi?" Tanya Laureen sambil menggenggam tangan ibunya. Trissya menggeleng sambil tersenyum, "Tidak."


Laureen tampak sedih, "Aku tidak mengerti. Jika Ibu tidak mencintai ayah, kenapa Ibu mau bersamanya?"


Trissya menangkup wajah putrinya dan mengecup lembut kening Lauren.


"Alasan Ibu tetap bertahan dengan dia adalah kamu. Ibu sayang sama kamu. Cuma kamu yang Ibu punya."


Laureen memeluk ibunya, "Padahal aku bukan anak kandung Ibu. Tapi, Ibu begitu menyayangiku. Berbeda dengan ibu kandungku sendiri, yang berkali-kali ingin menghabisiku."


"Jangan katakan itu," bisik Trissya sembari memeluk putrinya itu.


"Bu, sebenarnya ayah mencintai Ibu. Tapi, dia itu... sedikit tidak bisa menunjukkannya dengan benar," kata Laureen. Trissya memutar bola matanya, "Iya, dia memang bodoh."


Laureen terkekeh mendengar ucapan ibunya yang ketus.


"Apa Ibu pernah jatuh cinta?" Tanya Laureen. Trissya mengangguk pelan, "Iya."


"Ah, pasti buka ayah."


Trissya mengangguk sambil tertawa melihat ekspresi putrinya.


"Pria itu beruntung mendapatkan cinta dari ibuku. Tidak seperti raja Daeriel yang galak dan pemarah itu," gerutu Laureen. Trissya menghela napas panjang, "Tidak masalah. Pria itu sudah tiada."


Laureen terkejut. Dia menatap kedua manik coklat milik ibunya. Tersirat luka dari tatapan itu. Laureen menyadari, jika Trissya masih sangat mencintai pria misterius itu, meskipun sekarang sudah tidak ada di dunia.


Laureen memeluk ibunya, "Maafkan aku."


Trissya menggeleng sembari mengusap rambut putrinya. Dia berucap, "Kenapa minta maaf? Ini bukan salah kamu, Sayang."


Laureen menghela napas berat, "Pria itu pasti sangat tampan. Apa dia lebih tampan dari Ayah?"


"Mereka sama-sama tampan."


Laureen membayangkan wajah pria yang telah berhasil mencuri hati ibunya.


Pria itu adalah Raefal Agler Zeroun, paman kamu, batin Trissya.


Ya, Daeriel tidak pernah membahas tentang Raefal kepada putrinya. Yang Laureen tahu, Daeriel adalah anak tunggal. Pria itu tidak ingin putrinya mengetahui hal-hal yang sudah berlalu.


Pintu ruangan diketuk. Kedua perempuan di dalam sana menoleh. Ternyata salah seorang pelayan.


"Maaf, Ratu, Putri. Raja Daeriel meminta Ratu Natrissya dan Putri Laureen untuk makan siang."


Laureen mengangguk, "Kami akan segera kesana."


~


Ketika Daeriel berada di kamar, Trissya ingin bicara soal perasaan putrinya pada Daeriel. Dia bingung harus bagaimana cara memulainya.


Daeriel sedang membaca buku di depan cermin. Pria itu menoleh ke cermin melihat bayangan istrinya yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


"Kenapa berdiri terus?" Pertanyaan Daeriel membuatnya tersentak kaget. Trissya menggeleng cepat. Pria itu berbalik memperhatikan istrinya.


"Kemari," kata Daeriel. Trissya melangkah menghampiri suaminya. Daeriel menarik pinggang Trissya agar duduk di pangkuannya, "Mau mengatakan sesuatu?"


"Ini tetang Laureen," jawab Trissya.


"Ada apa dengannya?"


"Dia mencintai seseorang," ucap Trissya sembari sesekali melirik Daeriel melihat ekspresi wajah pria itu. Namun, ekspresi Daeriel tampak biasa saja. Tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau semacamnya.


"Oh, kalau begitu. Pria itu harus datang dan bicara denganku," kata Daeriel datar. Trissya tampak berpikir, "Secepat itu?"


"Iya, Laureen juga sudah dewasa. Memangnya menunggu apa lagi," kata Daeriel sambil menyimpan bukunya ke meja.


Trissya bangkit dari paha Daeriel. Wanita itu membatin, setidaknya kamu harus menunjukkan rasa bahagiamu, saat mengetahui putrimu jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.


Daeriel berlalu keluar. Pria itu menutup pintu kamar tersebut. Dia tersenyum lebar sambil berjingkrak kegirangan.


"Ye, ye, putriku sudah dewasa. Ah, aku ingin punya cucu."


Daeriel segera menutup mulutnya. Pria itu menoleh ke pintu memastikan istrinya tidak mendengar atau melihat kekonyolannya.


Daeriel membenarkan jubah merahnya sambil berdehem pelan kemudian berlalu pergi dengan mengubah ekspresinya seperti seorang raja yang berkharisma dan berwibawa.


Sementara itu, Laureen sedang berada di tepi sungai suci. Siang ini dia pergi dengan kudanya.


Tidak! Dia tidak sedang mandi. Dia hanya sedang membasuh kedua tangannya dengan air tersebut. Laureen menatap pantulan wajahnya di permukaan air. Gadis bergaun merah yang cantik dengan mahkota yang terselip di rambutnya, itu adalah dirinya.


Terdengar suara langkah kaki. Gadis itu menoleh. Ternyata para treteaa yang sedang memperhatikannya. Laureen memiringkan kepalanya. Hewan-hewan lucu itu melompat ke pangkuannya.


Laureen tertawa sambil mengusap tubuh berbulu mereka. Ada seeseorang yang sedang memperhatikannya di jarak yang tidak terlalu jauh.


Angin lembut menerpa wajah Laureen, membuat helaian rambutnya sedikit bergerak. Gadis itu menyadari keberadaan orang itu tanpa harus melihatnya.


Angin lembut barusan yang memberitahunya.


"Sepertinya akan ada bahaya," bisik Laureen kepada para treteaa kecil itu. Mereka tampak khawatir.


Laureen menyuruh mereka pergi. Dengan berat hati, beberapa treteaa itu berlarian pergi meninggalkan gadis cantik itu sendirian di tepi sungai suci.


Laureen berdiri, namun tiba-tiba sebuah anak panah melesat cepat dan mengenai punggungnya. Gadis itu jatuh terduduk sambil meringis pelan.


Pria yang berhasil memanahnya tersenyum penuh kemenangan.  Dia bergumam pelan, "Tepat sasaran."

__ADS_1


Darah berwarna hitam itu mengalir membasahi gaun merahnya. Pria itu membelalak melihat darah yang berwarna aneh itu. Biasanya darah drucless berwarna merah, sama seperti darah milik bangsa manusia.


Laureen tiba-tiba menghilang dari penglihatan pria itu. Dia terkejut. Sungguh itu membuatnya takut.


Sebenarnya Laureen sudah berada di belakangnya sedari tadi dengan warna mata kuning menyala.


Jadi, Laureen yang tertusuk anak panah yang dilihat pria itu tadi adalah halusinasinya. Tentu saja itu kekuatan pengendalian pikiran milik Laureen.


Merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, pria itu menoleh dan tersentak melihat keberadaan Laureen dengan ekspresi murka.


"Ka-kamu... se-sejak kapan?!" Teriaknya ketakutan.


Laureen tersenyum bengis membuat pria drucless merinding ketakutan.


"Kematianmu akan segera tiba."


Mendadak hutan itu berangin dan lama-lama angin itu menjadi kencang menubruk tubuh pria di depan Laureen. Pria drucless terjatuh ke tanah karena kencangnya angin yang datang. Mata kuning Laureen tiada hentinya menatap tajam ke arah pria itu.


Angin itu juga seperti silet yang menyayat kulit di tubuhnya. Laureen tersenyum tipis melihat itu


"Sial! Kamu benar-benar dikutuk! Kamu terkutuk! Kamu mengerikan dengan kekuatan sebesar ini!" Teriak pria drucless.


Laureen memiringkan kepalanya sembari mengarahkan telapak tangannya ke pria itu. Pria itu ketakutan ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat sesuai gerakan tangan Laureen. Kini tubuhnya melayang di udara.


"Kamu terlalu banyak bicara. Aku benci pria yang banyak bicara."


Jemari Laureen bergerak dan anggota tubuh pria itu tiba-tiba seperti berputar ke arah sebaliknya, menyebabkan suara tulang yang bergesekan dan retak.


Pria itu menjerit sekeras-kerasnya membuat suaranya menggema di hutan itu.


Tubuh yang sudah tak bernyawa itu jatuh ke tanah. Diamond jingga berlumuran darah milik pria itu terlempar ke depan Laureen.


Warna mata Laureen berubah normal. Gadis itu menatap kosong.


~


Hari berlalu dengan cepat. Seperti yang diinginkan oleh Daeriel, Laureen membawa pangeran Chrean ke istana. Pria itu datang tanpa orang tuanya. Dia bilang, raja Herald dengan ratu Amethyst sedang sibuk.


Sosok pria yang bertubuh tinggi dengan paras yang rupawan. Pria yang bisa membuat putri Laureen jatuh hati.


Sikap sopan pangeran Chrean membuat Daeriel dan Trissya kagum. Mereka senang ketika Laureen jatuh cinta pada pria yang tepat. Mereka sangat mendukung hubungan keduanya.


Daeriel ingin mereka berdua mengenal lebih dekat sebelum mereka menikah.


Setelah berbincang hangat dengan raja Daeriel dan ratu Natrissya, pangeran Chrean dan putri Laureen berjalan-jalan di taman belakang istana Zeroun. Mereka menghabiskan waktu untuk menunggu datangnya malam.


"Ibu kamu manusia, ya?" Pertanyaan Chrean yang tiba-tiba itu membuat Laureen sedikit tersinggung. Dia menoleh pada pria tampan di sampingnya dan menjawab, "Iya."


"Emm, begitu... tapi, ibu kandung kamu itu ratu Qwella, kan?" Tanya Chrean lagi. Laureen tidak mengerti kemana tujuan pembicaraan pria tampan itu.


"Memangnya kenapa?" Tanya Laureen menyelidik. Chrean berhenti melangkah. Dia memegang kedua lengan Laureen dengan lembut.


"Manusia itu bukan makhluk yang baik. Mereka hidup memanfaatkan satu sama lain. Berbeda dengan kita. Tapi, tidak masalah... yang penting, kamu memang putri dari dua drucless dan satu lagi, yang penting kamu cantik."


Laureen menautkan alisnya, "Yang kamu bicarakan itu ibuku. Kamu gak bisa seenaknya bilang seperti itu. Ibuku bukan manusia yang seperti itu. Dia bahkan menyayangiku, meskipun aku bukan anak kandungnya."


Laureen yang kesal membelakangi Chrean. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada.


Chrean tersenyum dan melangkah ke depan Laureen. Dia mencoba menghilangkan kemarahan gadis cantik itu.


"Maaf, jangan marah. Aku salah bicara."


Laureen menatap Chrean dengan serius. Kedua mata mereka saling menatap dalam keheningan. Chrean mendekatkan wajahnya untuk meraih bibir Laureen. Namun, gadis itu memalingkan wajah ke samping.


"Ah, aku minta maaf, putri Laureen. Aku tidak akan mengulangi perkataanku yang kurang ajar," mohon Chrean.


Tidak ada jawaban. Laureen tidak sedikit pun melihat wajah Chrean.


Chrean menghela napas berat sembari memperlihatkan ekspresi sedih, "Ah, begitu berharganya ratu Natrissya dalam hidupmu."


Setelah mengatakan itu, Laureen berlalu meninggalkan Chrean yang berdiri terpaku. Dia melihat punggung gadis itu yang berjalan gegas dan semakin jauh darinya.


"Putri Laureen! Tunggu!" Pria itu menepuk dahinya merutuki perkataannya sendiri.


Setelah marah pada pangeran Chrean, Laureen memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan pria itu. Dia tidak ingin seseorang yang asing mempertanyakan ibunya.


Meskipun dia mencintai pangeran Chrean, bukan berarti pria itu bisa bicara seenaknya. Keputusan Laureen yang tiba-tiba membuat Daeriel dan Trissya bingung.


Raja Herald bahkan harus datang ke istana Zeroun untuk meminta putri Laureen menjadi pendamping pangeran Chrean. Namun, dengan tegas, Laureen menolak.


Alasannya adalah pria itu sudah berbicara tidak sopan padanya.


~


Hari berganti dengan cepat. Laureen tampak murung setelah memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan pangeran Chrean. Dia selalu menyembunyikannya dari Trissya dan Daeriel.


Namun, sebagai seorang ibu, Trissya menyadari perubahan sikap putrinya.


Trissya sering melihat Laureen yang selalu bersedih di kamarnya. Gadis itu akan merubah ekspresi wajahnya dan menunjukkan senyuman palsu untuk meyakinkan ibunya, kalau dirinya baik-baik saja.


Trissya tahu, Laureen sedang berbohong. Wanita itu memasuki kamar Laureen dan menghampiri putrinya itu.


Laureen tampak duduk di lantai dengan tubuh bersandar ke tempat tidur. Dia memeluk lututnya sambil menangis. Trissya duduk di sampingnya. Dengan lembut, wanita itu memeluk Laureen.


"Pangeran sialan," tangis Laureen sembari memeluk ibunya dan melelapkan kepalanya ke dada wanita nomor satu dalam hidupnya itu.


"Kalau kamu mencintai dia, kenapa memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian?" Tanya Trissya lembut. Laureen mendongkak menatap wajah ibunya yang bersahaja.


"Dia mengatakan hal buruk tentang Ibu. Anak mana yang menerima, jika orang tuanya di jelek-jelekin seperti itu?"


"Sayang." Trissya mengeratkan pelukannya. Laureen merasa sedikit lebih tenang dengan pelukan ibunya. Dia sudah berhenti menangis. Trissya menatap wajah putrinya. Dia menangkup wajah itu.


"Matamu sembab, Nak." Trissya mengelap sisa air mata di kedua pipi putrinya.


Laureen kembali memeluk ibunya.


Namun, tiba-tiba Trissya terbatuk pelan. Wanita itu melepaskan pelukannya dan membelakangi Laureen.


Merasa bingung, Laureen mendekat dan melihat darah di telapak tangan ibunya.


"Ibu, Ibu sakit?" Tanya Laureen panik.


Melihat kondisi ibunya, Laureen memanggil Daeriel.


Pria itu segera mengangkat tubuh Trissya dengan bridal. Daeriel tekejut merasakan betapa ringannya tubuh Trissya.


Apakah wanita itu begitu tersiksa berada di sisinya? Sampai-sampai tubuhnya seperti tengkorak hidup.


Kau terlambat menyadarinya, Daeriel.


Pria itu menidurkan tubuh Trissya yang lemah ke tempat tidur. Dia segera memanggil tabib untuk memeriksa keadaan istrinya.


Laureen terlihat begitu khawatir. Dia terus-menerus menggenggam tangan ibunya. Seolah jika dilepas sekali saja, Trissya akan benar-benar menghilang.


Tabib yang memeriksa Trissya tidak mengetahui penyebab kenapa ratu mereka mengeluarkan darah. Mereka bingung, karena keadaan tubuh Trissya baik-baik saja.


Merasa tidak puas dengan jawaban para tabib, Daeriel memerintahkan prajuritnya untuk membawa Dharaa ke istana Zeroun. Sejauh ini, tabib itu yang bisa memberikan alasan yang masuk akal bagi Daeriel.


"Kutukan ini," gumam Laureen. Daeriel menoleh pada putrinya, "Kenapa, Sayang?"


"Kutukan ini melukai ibuku," jawab Laureen. Daeriel merasa sedih. Dia memeluk putrinya, "Jangan bilang begitu. Ini bukan karena kutukan atau apapun itu."


"Seharusnya ibu tidak dekat denganku. Kutukan ini telah menyakitinya. Ayah, aku harus bagaimana? Aku tidak mau ibu kenapa-napa," tangis Laureen dalam pelukan sang ayah.


"Tenanglah, Nak."

__ADS_1


Tak berselang lama, Dharaa datang bersama pasukan Daeriel. Wanita itu tampak cemas dan segera memeriksa keadaan Trissya yang terlelap di atas tempat tidur.


Tangan gemetaran milik Dharaa menyentuh dahi Trissya yang terasa begitu dingin. Wanita itu menutup matanya. Daeriel dan Laureen memperhatikan apa yang dilakukan wanita itu.


Keringat dingin mengalir dari dahinya.


Seketika kedua matanya terbuka lebar disusul dengan napas yang tidak beraturan, seolah wanita itu habis maraton belasan kilo meter.


Daeriel menghampiri Dhara, begitupun dengan Laureen.


"Ada apa? Kenapa? Bagaimana?" Tanya Daeriel melontarkan pertanyaan pada tabib itu.


Dharaa bingung harus mengatakan apa. Tapi, akhirnya dia menjawab, "Sepertinya ratu Natrissya sedang berada di penghujung."


Laureen mengerutkan keningnya bingung, "Penghujung apa maksudmu, Bibi Tabib?"


Dharaa menelan saliva, "Kehidupannya tidak akan lama lagi."


Daeriel terbelalak kaget. Kedua alis Laureen terangkat mendengar ucapan wanita itu. Dia menggeleng tidak percaya.


Daeriel mengusap kasar rambutnya.


"Apa ini karena kutukan yang ada dalam tubuhku?" Tanya Laureen. Dharaa merasa gugup. Dia tidak ingin mengatakannya. Tapi, ucapan Laureen benar.


"Bibi Tabib, katakan sesuatu," pinta Laureen. Dharaa mengangguk lemah.


Laureen menangis tertahan, "Pantas saja tidak ada yang ingin bersamaku. Tapi, ibu selalu bersamaku. Kutukan ini melukainya. Aku... aku..."


Daeriel memeluk putrinya. Dharaa tidak bisa berbuat banyak. Dia juga merasa sedih dengan kejadian yang menimpa Trissya.


Tidak ada yang bisa membantu menyembuhkan ratu Trissya. Wanita itu terbaring lemah dalam keadaan tak sadarkan diri.


~


Laureen dan Daeriel sedang berdiri di balkon istana Zeroun. Mereka menatap bulan merah di langit yang gelap itu.


"Kamu sedang meminta Dewi Amiless untuk menyelamatkan ibumu?" Tanya Daeriel. Laureen mengangguk pelan, "Hanya ini yang bisa aku lakukan, Ayah."


Daeriel menghela napas berat, "Trissya wanita yang baik. Dia benar-benar baik. Aku mengerti, aku telah berbuat jahat padanya. Aku tahu, yang aku lakukan adalah kebodohanku dan keegoisanku."


Laureen menatap ayahnya, "Ibu bilang, Ayah memang bodoh."


Daeriel tertawa, dia menatap putrinya dan mulai bercerita. Pria itu menceritakan semuanya, kejahatan yang pernah dia lakukan, semua yang telah dia renggut dari Trissya, semuanya tanpa terlewat sedikit pun.


Untuk pertama kalinya pria itu membahas adiknya, Raefal. Daeriel tidak ingin terus-menerus berbohong pada putrinya.


Tidak peduli meskipun nantinya dia dianggap pria brengsek oleh Laureen.


Laureen mendengarkan dengan serius. Dia tahu, Daeriel adalah sosok raja yang kejam. Namun, apa yang diceritakan Daeriel jauh lebih kejam dari perkiraannya selama ini.


Laureen bisa membayangkan betapa menderitanya Trissya selama ini dalam penjara Daeriel yang berbentuk kemewahan istana Zeroun.


Laureen berlari di lorong istana. Dia akan menolong ibunya dengan membawa diamond jingga di tangannya. Gadis itu ingin menyelamatkan nyawa sang ibu dengan menanam diamond tersebut ke dalam tubuh ibunya.


Dia tidak mau kehilangan ibunya.


Laureen telah tiba di depan pintu kamar sang ibu. Dengan napas terengah-engah, tangannya bergerak membuka pintu kamar tersebut.


Laureen terbelalak ketika melihat ruangan itu. Dia tidak menemukan keberadaan ibunya. Natrissya menghilang.


Laureen benar-benar panik. Dia memberitahu ayahnya. Dengan segera, Daeriel memerintahkan seluruh pasukannya untuk mencari Trissya.


Di dalam gelapnya malam, Trissya berjalan terhuyung. Dia memasuki hutan drucless. Wanita itu tidak memperdulikan jeritan malam yang menakutkan. Dia tetap melangkah. Walaupun kadang kakinya tersandung sesuatu yang membuatnya terjatuh. Tapi, dia bangkit dan terus melangkah.


Pohon-pohon menakutkan di sekitar sana sudah tidak membuatnya takut lagi. Rerumputan setinggi bahu bukan halangan baginya.


Gumpalan awan hitam lewat menghalangi bulan, membuat cahaya merahnya tidak bisa sampai ke dunia drucless.


Meskipun gelap, Trissya tetap melangkah. Darah segar mengalir dari sudut mulutnya. Wanita itu terbatuk-batuk dan tersungkur.


Tangannya bergerak mengelap darah itu dari dagunya. Dia bangun dan melanjutkan langkahnya.


Dia tidak tahu, semua orang di istana sangat panik dan mencemaskannya. Para pasukan memasuki hutan dengan kuda mereka untuk menemukan ratu Zeroun.


Trissya jatuh terduduk di tepi sungai suci. Wanita itu menyentuh dadanya. Ada diamond Raefal di dalam sana.


Dengan sisa tenaganya, wanita itu bangkit dan melangkah lebih dekat ke sungai tersebut.


Gumpalan awan hitam sudah lewat. Sinar merah dari rembulan menerobos masuk ke celah-celah ranting dan dedaunan pohon di hutan tersebut.


Trissya bisa melihat jelas bayangan bulan di permukaan air sungai suci. Terdengar suara derap langkah kuda yang mendekat.


Trissya berbalik dan melihat obor para pasukan yang semakin dekat. Wanita itu mundur dan menjatuhkan tubuh mungilnya ke dalam sungai tersebut.


Trissya jatuh ke dalam air dan tenggelam.


Wanita itu masih bisa melihat bulan merah dari dalam air. Dia mengedipkan matanya.


Aku tidak percaya ini. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Aku menginginkan sesuatu... aku ingin tiga hal.


Pertama, aku ingin kutukan Laureen benar-benar menghilang dari tubuhnya. Jangan membuatnya terbebani dengan dendam yang bukan miliknya. Dia hanyalah gadis polos yang baik hati. Jangan sampai kutukan itu membuat kebaikannya berubah menjadi kejahatan.


Trissya terbatuk, napasnya mulai habis. Air masuk melalui hidung dan mulai memenuhi paru-parunya.


Kedua, adalah hal yang aku inginkan sejak lama. Aku ingin terlahir kembali dan hidup bahagia bersama Raefal. Aku ingin bersamanya. Dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Cinta sepanjang hidupku. Hatiku tidak memiliki tempat untuk pria lain. Hanya dia, Raefal Agler Zeroun, suamiku. Aku akan tetap mencintainya, sekarang dan selamanya.


Trissya menggeleng merasakan rongga hidungnya yang terasa perih.


Ketiga, di kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin Daeriel menjadi orang ketiga dalam hubunganku dengan Raefal.


Sepasang mata besar berwarna merah menyala muncul di dasar sungai, tepat di belakang Trissya. Trissya akan jatuh ke dasar sungai suci yang begitu dalam.


Sementara itu, di daratan.


Para prajurit mencari ratu mereka. Daeriel dan Laureen juga berada di sana. Mereka mencari Trissya ke sekeliling hutan.


Bulan merah itu adalah saksi bisu.


Bahkan ketika malam sudah pergi, mereka masih mencari Trissya.


Di siang hari itu, beberapa pasukan turun ke dalam sungai. Mereka mencari Trissya.


Laureen tampak cemas. Dia tidak berhenti menangis sejak kemarin. Para pasukan menemukan tubuh ratu mereka.


Trissya telah tiada.


Laureen membelalak kaget. Dia segera berlari ke tubuh yang sudah terbujur kaku itu.


"Ibu?!" Laureen mengguncangkan tubuh Trissya.


Daeriel memeluk putrinya. Dia melihat wajah damai Trissya yang menunjukkan senyuman bahagia.


♥♥♥


 


 


02.22 : 10 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


 


 

__ADS_1


__ADS_2