DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Drucless Pengendali Pikiran


__ADS_3

~Tak masalah mereka bilang apa pun tentang dirimu. Hidupmu dengan dia berbeda. Biarkan mereka menjelekkan sesuka hatinya. Hinaannya tidak membuat hidupmu berbeda.~


***


Entah sudah berapa lama Raefal tinggal di dunia manusia. Yang pasti, terhitung tahun jika menghitung di dunia drucless. Tampaknya dia tidak berniat untuk pulang. Selama bersama Trissya, dia memang tidak melakukan hal-hal aneh. Mereka terlihat seperti... sepasang kekasih yang wajar dan normal. Ya, walaupun mereka sama-sama tidak menyatakan perasaan. Mereka tidak menjalin hubungan juga.


Ada pepatah menyatakan, "Ungkapan itu tidak terlalu diperlukan, jika tindakan terlihat lebih nyata."


Pepatah dari mana itu?


Penulis juga gak tahu.


Ehmm, balik lagi ke cerita.


Jika Raefal kehilangan energi, dia akan pergi ke perbatasan dunia manusia dan dunia drucless untuk menemui Geross. Dia meminta bantuan pada tabib itu untuk mengambilkan air suci dari sungai.


Lalu, bagaimana dengan kabar Daeriel dan Qwella? Tidak ada yang berubah.


Sementara itu,


Raefal sedang membereskan sisa pekerjaannya. Mendengar suara langkah high heels yang mendekat, Raefal menoleh. Kedua alis pria itu terangkat melihat keberadaan wanita cantik itu.


Wanita itu tersenyum sendu, "Raefal."


"Qwella."


Keduanya memutuskan untuk berbicara di tempat lain. Raefal dan Qwella memilih restoran sebagai tempat untuk berbincang.


"Kamu gak kangen sama aku?" Tanya Qwella. Raefal menghela napas panjang, "Aku kangen sama kamu. Tapi, aku gak mungkin balik lagi ke istana. Kamu tahu seperti apa Daeriel."


Qwella mendesah pelan, "Kamu bisa tinggal dimana aja di dunia drucless. Kenapa kamu tetap tinggal di dunia manusia yang sama sekali tidak cocok untuk bangsa kita?"


Tidak ada jawaban.


"Kamu tinggal di dunia manusia karena perempuan itu, kan?" Tanya Qwella. Raefal akan menjawab, tapi wanita itu mengangkat tangannya menandakan dia belum selesai bicara.


"Raefal, aku gak tahu secantik apa perempuan dari bangsa manusia itu. Tapi, kamu harus sadar... kamu gak mungkin selamanya tinggal di tempat ini."


"Aku berhak tinggal dimana pun," ucap Raefal. Qwella tidak mengira dengan jawaban Raefal. Tidak biasanya Raefal menyanggah ucapan Qwella. Wanita itu merasa berhadapan dengan orang asing. Tidak ada cinta di mata Raefal untuknya seperti dulu.


"Kamu berubah." Qwella menggeleng pelan.


Raefal membuang napas berat, "Aku gak berubah. Aku cuma pengen bebas aja."


Qwella mengerutkan dahinya, "Jadi, maksud kamu selama ini kamu merasa terpenjara ketika berhubungan sama aku?!"


Seisi restoran menatap kearah mereka berdua. Kedua alis Raefal menukik. Qwella tidak menyangka pria yang dia cintai itu akan menunjukkan ekspresi marah padanya.


"Pelankan suara kamu," perkataan Raefal terdengar seperti sebuah ancaman bagi Qwella.


"Kamu gak mau perjuangin aku?" Tanya Qwella dengan suara bergetar. Raefal mengusap kasar wajahnya, "Mau gimana lagi, kamu udah punya segel drucless dari Daeriel. Terlarang bagi pria lain untuk mendekati wanita drucless yang sudah memiliki segel itu. Aku gak bisa apa-apa."


Qwella mulai menangis, "Jadi, hanya sampai sini hubungan kita? Kamu lebih milih perempuan murahan itu?!"


Raefal menggebrak meja dengan keras. Qwella terlonjak kaget. Dia menatap Raefal dengan tatapan tidak percaya. Semua pengunjung restoran memusatkan perhatian mereka pada kedua drucless yang sedang bertengkar itu.


Raefal berdiri sambil menunjuk wajah Qwella, "Gadis yang kamu bicarakan itu adalah gadis yang baik. Dia mau menolongku meskipun aku bukan siapa-siapa baginya. Dia bahkan memaafkanku setelah aku menidurinya. Aku gak terima kamu mengatakan hal buruk tetang dia."


Qwella merasa terbakar hatinya karena Raefal sedang marah padanya dan malah membela gadis lain. Wanita itu mengepalkan tangannya, "Lalu apa yang sudah aku lakukan selama ini, kamu anggap aku apa? Kita sudah saling mencintai sejak awal. Tapi, kenapa sekarang jadi berakhir seperti ini?"


"Qwella, aku memang mencintai kamu. Tapi, bukan berarti kamu boleh menilai gadis itu sembarangan," ucap Raefal.


Qwella tertunduk dalam.


"Kamu harus selalu mencintaiku sampai kapan pun, Raefal."


Pria itu mengerutkan keningnya. Qwella mengangkat kepalanya menatap Raefal. Kedua mata wanita itu sudah berubah warna menjadi putih bening. Kedua mata Raefal juga berubah menjadi serupa dengan Qwella. Pria itu berada di bawah kendali Qwella sekarang.


"Jangan mencintai perempuan lain selain diriku."


~


Trissya menaiki sepedanya. Dia melihat motor Raefal yang masih terparkir. Tapi, gadis itu tidak tahu dimana Raefal berada. Setelah keluar dari mini market, dia tidak melihat pria itu.


Trissya menunggunya. Mobil Adry terhenti di depannya. Kepalanya nongol dari jendela mobil, "Trissya, nungguin Raefal, ya?"


Gadis itu mengangguk. Adry juga mengangguk, "Duluan, ya." Mobil itu melaju pergi. Trissya menghela napas berat. Dia melihat jam tangannya yang sudah menujukkan pukul 9 malam.


Beberapa saat kemudian, Trissya melihat Raefal berjalan ke tempat parkir. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana. Trissya melambaikan tangannya sambil tersenyum ceria. Raefal hanya tersenyum simpul lalu menaiki motornya.


Gadis itu melihat perubahan sikap Raefal. Namun, dia tidak berani bertanya.


"Malam ini aku harus pulang," ucap Raefal. Entah kenapa, Trissya merasa sedih mendengar ucapan Raefal. Dengan berat hati, Trissya mengangguk tanpa mau bertanya.


Sementara itu, di istana drucless.


Qwella merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Dia mengepalkan tangannya sambil mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Bertemu dengan Raefal membuatnya sakit hati. Di luar dugaan, Raefal seolah sudah tidak menginginkannya lagi.


Daeriel memasuki kamar tersebut dan melihat raut wajah istrinya yang menunjukkan rasa kesal. Qwella berbalik membelakangi Daeriel. Pria itu menepuk bokong Qwella, "Kenapa?"


"Aku benci perempuan itu," sambar Qwella.


"Perempuan yang mana?"


"Yang bersama Raefal. Beraninya dia merebut Raefal dariku," gerutu Qwella. Daeriel memutar bola matanya, "Masih tentang Raefal. Lagian kamu bisa apa? Kamu udah jadi milik aku, meskipun Raefal gak sama perempuan itu. "


"Pokoknya aku mau dia menderita! Aku gak mau tahu!"


Hening.


Qwella bangkit sembari melempar bantal ke sudut ruangan kamar. Daeriel mendengus kemudian berlalu. Namun, Qwella menarik tangan suaminya.


Pria itu menoleh.


"Aku pengen kamu ngelakuin sesuatu buat aku."


♥♥♥


Trissya tampak tertidur dengan tenang. Terlihat sebuah siluet tubuh pria diluar jendela. Pria itu muncul melewati cermin. Jubah merahnya bergerak ketika dia melangkah mendekati gadis yang sedang tertidur lelap itu.


Pria yang tidak lain adalah Daeriel itu menatap Trissya dengan intens.


"Aku pengen kamu ngelakuin sesuatu buat aku," kata Qwella dengan tatapan penuh dendam. Daeriel duduk di samping istrinya, "Ngelakuin apa?"


"Waktu itu kamu pernah datang ke mimpi perempuan itu, kan? Terus, kamu melakukan hubungan intim dengan dia. Aku mau kamu ngelakuin itu lagi, sekarang lakuin secara nyata."


Daeriel mencerna ucapan sinting istrinya. Memangnya ada wanita di dunia ini yang mengizinkan suaminya menyentuh perempuan lain?

__ADS_1


Ada, tuh, Qwella.


Belum mendengar respon dari Daeriel, Qwella kembali bersuara, "Kamu pengen dapet anak dari dia, kan? Anak yang memiliki separuh darah bangsa drucless dan separuh darah bangsa manusia. Kamu pengen punya kekuasaan yang lebih besar, kan? Sekarang pergi kepada perempuan itu. Tuntaskan hasratmu! Lakukan dengan kasar!"


"Kamu gila?" Tanya Daeriel. Qwella menatap tajam suaminya, "Kapan aku lebih gila dari ini?"


"Kenapa kamu begitu tergila-gila sama Raefal? Apa yang membuat dia berarti buat kamu?" Tanya Daeriel. Qwella menjawab dengan cepat, "Aku mencintai Raefal. Kamu juga tahu, kan?"


Daeriel mendekatkan wajahnya melihat paras Trissya dari jarak dekat. Dia bisa menghirup aroma dari tubuh Trissya.


"Cantik," gumamnya.


Jujur saja,  Daeriel memang merasa puas setelah datang ke mimpi Trissya dan menidurinya dengan kasar. Namun, ada sisi lain dari hati Daeriel yang muncul.


Pria itu menyukai Trissya. Gadis polos itu membuat hatinya meluluh. Perasaan Daeriel pada Trissya dan pada Qwella itu berbeda.


Perasaannya pada Qwella hanya sebatas pelepas napsunya saja. Sementara pada Trissya, Daeriel menyukai gadis itu. Trissya tidak lebih cantik dari Qwella. Tapi, Trissya menarik baginya.


Pria itu mengusap rambut Trissya dengan hati-hati dan penuh kelembutan. Merasakan sentuhan seseorang, gadis itu terbangun dan menoleh. Ketika mata mereka bertemu, Trissya kaget. Sontak gadis itu beringsut menjauhi Daeriel. Tubuhnya mendadak gemetar saat mengingat apa yang sudah dilakukan Daeriel padanya dalam mimpi buruknya.


"Selamat malam, aku datang lagi."


Trissya menggeleng sambil berkata dengan pelan, "Jangan lakukan lagi, aku mohon. Rasanya sakit."


Daeriel memiringkan kepalanya. Dia duduk di dekat Trissya dan menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Sambil mendekap tubuh gadis itu, Daeriel berkata, "Tapi, aku tidak merasa sakit. Rasanya menyenangkan, sampai-sampai aku ingin merasakan tubuhmu lagi. Makanya aku datang kemari."


Daeriel bisa merasakan tubuh Trissya yang masih gemetar dalam pelukannya. Daeriel mengecup puncak kepala gadis itu.


"Apa salahku? Kenapa kamu gangguin aku?" Tanya Trissya. Daeriel menatap wajah Trissya yang terus menerus menghindar tidak ingin melihatnya.


"Kesalahan kamu? Emmm, kesalahan terbesar kamu hanya dua, yaitu cantik dan... menggairahkan. Ya, meskipun ukurannya bukan tipe aku." Daeriel mengusap punggung Trissya. Gadis itu ingin sekali berteriak dan menangis. Tapi, tubuhnya seperti mati dan tidak bisa digerakkan. Tanpa dia ketahui, Daeriel sedang mengendalikannya melalui sentuhan tangannya.


"Gimana kalo kamu tinggal sama aku di istana Zeroun? Kamu bisa mendapatkan segalanya kalo tinggal sama aku. Kamu akan menjadi ratu pengganti Qwella. Tugasmu hanya dua. Satu, menjadi penghangat tubuhku, dua kamu harus mengandung anakku."


Trissya menggeleng, "Aku gak mau, aku sudah cukup dengan ini. Aku mohon, jangan ganggu aku. Kamu sudah memiliki ratu yang cantik yang sebangsa dengan kamu."


Daeriel melepaskan pelukannya dan memegang lengan Trissya. Dia menatap gadis yang terus menerus menghindari tatapannya. Padahal sikap Daeriel begitu lembut padanya, jauh berbeda dengan apa yang dia lakukan waktu itu.


"Kenapa kamu gak mau lihat aku? Apa aku ini sangat buruk sehingga menakutimu?" Tanya Daeriel.


Trissya memang mengakui ketampanan Daeriel. Tapi, yang membuatnya takut bukan wajah pria itu, melainkan kekuatannya plus sikapnya.


Daeriel menggeleng, "Kamu nyakitin perasaan aku."


"Ma-maaf." Tanpa diduga, Trissya mengucapkan kata itu. Padahal dia tidak bersalah sama sekali. Daeriel baru menyadari, jika gadis di depannya bukan hanya polos, tapi juga sangat baik... sangat naif.


Daeriel mendekatkan wajahnya. Trissya semakin mundur, sehingga kepalanya menyentuh dinding. Kedua matanya tertutup rapat.


"Gadis baik."


Daeriel mengecup hidung Trissya, "Buka mata kamu, lihat aku. Apa aku ini buruk rupa?"


"Jangan begini, aku mohon."


"Aku bisa merasakan energiku bertambah ketika berada di dekatmu. Pantesan Raefal betah sampe gak pulang-pulang."


Trissya menahan dada pria itu, "Tolong, aku takut."


Daeriel menggenggam tangan Trissya, "Aku ingin dirimu sekarang. Biarkan aku menyentuhmu."


"Jangan menyakitiku lagi."


Trissya menggeleng. Daeriel menggigit bibir Trissya. Otomatis kedua matanya terbuka karena merasa sakit. Pandangan mereka bertemu. Warna mata Daeriel berubah menjadi merah tua. Perlahan-lahan kedua mata Trissya juga berubah menjadi merah tua.


Daeriel melepaskan ciumannya. Darah menetes dari luka gigitannya di bibir Trissya. Sekarang gadis itu dalam kendalinya. Daeriel mengusap darah itu. Trissya mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir pria itu. Tentu saja itu karena kendali Daeriel.


Pria itu menahan tengkuk Trissya dan memperdalam ciumannya. Tangannya bergerak merobek bagian punggung pakaian Trissya.


Daeriel melepaskan ciumannya sambil menatap Trissya dengan penuh hasrat. Pria itu mengusap wajah Trissya, "Lakukan dengan baik, gadis cantik."


~


Raefal dan Qwella berada di tepi sungai suci. Mereka duduk berdampingan dengan meskipun berjarak.


"Kamu ingat, kita sering mandi bersama di tempat ini dan melakukan banyak hal lainnya," ucap Qwella. Raefal tersenyum sambil mengangguk. Pria itu menatap Qwella, "Maafin aku. Tadi, aku udah marah sama kamu."


Qwella menatap Raefal lalu mengangguk, "Aku maafin kamu, kamu. Tapi, kamu jangan balik lagi ke dunia manusia."


Raefal tidak senang mendengar itu. Tapi, dia tidak mengungkapkannya. Pria itu memilih untuk melihat ikan-ikan yang melompat di permukaan air.


"Kamu cinta sama aku, kan?" Tanya Qwella.


Tidak ada respon dari Raefal. Itu membuat Qwella menoleh ke arah Raefal. Ada yang salah dengan perasaan Raefal. Pria itu merasa kika dirinya mencintai Qwella. Yapi anehnya, bukan hanya mulutnya, hatinya juga tidak ingin mengakui perasaannya pada Qwella. Pikiran dan perasaannya tertuju pada Trissya.


"Raefal?"


Pria itu seketika menoleh pada Qwella. Wanita itu tampak menunggu jawaban dari Raefal.


"Aku harus kembali." Raefal bangkit dari tanah. Qwella menghalangi jalannya, "Kamu mau kemana?"


"Aku harus kembali ke kontrakan Trissya," ujar Raefal. Qwella tampak kesal. Lagi-lagi Raefal yang ada dipikiran pria itu. Wanita itu berteriak, "Kamu gak bisa pergi kemana pun!"


"Aku gak boleh ninggalin Trissya terlalu lama," kata Raefal. Qwella mengusap air matanya, "Aku bilang, kamu gak boleh pergi!"


Raefal berlalu melewati Qwella. Wanita itu menyusul Raefal dan kembali menghalangi jalannya, "Kenapa kamu berubah?! Kembali padaku! Aku akan menghilangkan segel milik Daeriel untuk menikah denganmu!"


"Minggirlah," ucap Raefal.


"Dengarkan aku!" Bentak Qwella dengan mengubah warna matanya menjadi putih. Mata Raefal juga berubah menjadi serupa.


"Tetap disini sampai aku menghilangkan segel punya Daeriel."


Mata Raefal berubah menjadi normal dengan sendirinya. Qwella terkejut. Dia tidak mengira Raefal bisa melawan kekuatannya. Pria itu menggeleng cepat. Dia menatap Qwella dengan tajam. Wanita itu terpundur.


"Apa yang kamu lakukan! Jadi, selama ini kamu ngendaliin aku?!" Tanya Raefal setengah membentak. Qwella menggeleng kuat, "Ka-kamu salah paham."


"Tidak seharusnya aku cinta sama orang yang salah. Kamu telah membutakanku! Jangan muncul di depanku lagi!" Raefal berlalu.


"Raefal," tangis Qwella. Langkah Raefal terhenti. Dia mengepalkan tangannya.


"Behenti memanggil namaku!"


♥♥♥


Trissya membuka matanya dengan perlahan. Dia tetidur dalam keadaan telengkup di atas tubuh Daeriel. Tubuh mereka sama-sama polos. Gadis itu terkejut. Sekujur tubuhnya terasa sangat sakit. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan jemarinya. Trissya tidak ingat apa saja yang sudah terjadi sampai-sampai dia tidak bisa bergerak sama sekali. Gadis itu menangis terisak. Air matanya menetes membasahi dada Daeriel. Pria itu terbangun dan melihat gadis yang berada di atas tubuhnya sudah terbangun lebih dulu. Dengan lembut, pria itu mengusap rambut Trissya.


"Selamat pagi," sapa Daeriel. Gadis itu tetap menangis tanpa suara. Tenggorokannya terasa sangat kering dan perih. Daeriel mengusap punggung polos Trissya, "Malam ini aku benar-benar bahagia. Kamu membuatku kewalahan. Kamu sangat hebat. Terima kasih."

__ADS_1


Gadis itu tidak tahu apa maksud dari perkataan Daeriel. Pria itu membaringkan tubuh Trissya ke sampingnya dan menyelimuti tubuhnya. Sejenak pria itu menatap Trissya, "Tenggorokanmu sakit? Aaahhh, semalam kamu terus-menerus meneriakkan namaku."


Trissya mengerutkan keningnya. Kenapa dia tidak ingat?


Daeriel mengambil gelas berisi air dari meja dan menyodorkannya pada Trissya. Gadis itu tetap menangis dengan suara pelan.


"Jangan menangis, aku jadi ingin melakukannya lagi melihat ekspresimu," ucap Daeriel sambil mengecup bibir Trissya cukup lama. Gadis itu menggerakkan kepalanya agar menjauh dari pria itu.


Raefal melepaskan bibir Trissya. Dia menjilat bibirnya sendiri, "Aku gak bisa nyembuhin kamu kayak Raefal. Palingan bentar lagi dia dateng."


Pria itu bangkit memakai pakaiannya. Pintu kamar dibuka dengan kasar. Daeriel menoleh. Ternyata Raefal yang datang. Pria itu terbelalak melihat Trissya yang terbaring lemah sambil menangis. Dia menatap tajam pada Daeriel yang sedang memakai pakaiannya. Warna mata Raefal berubah menjadi biru gelap.


"Daeriel!" Raefal memukul wajah Daeriel. Pria itu tidak menghindari pukulan adiknya sehingga dia terlempar ke dinding sampai retak. Trissya menarik selimut sampai leher karena ketakutan.


Raefal menghajar Daeriel tanpa ampun. Buku-buku tangan Raefal ternodai darah Daeriel. Trissya melihat darah Daeriel sangat aneh karena berwarna coklat gelap. Ada rasa kasihan di hati Trissya melihat Daeriel dipukuli seperti itu. Sisi kemanusiaan Trissya memang peka. Raefal terlihat begitu kejam.


"Harusnya lu mati!" Teriak Raefal sembari menatap tajam kearah pria itu dengan mata birunya yang menyala.


Daeriel tertawa, "Terus aja lu pukul gua. Yang penting gua udah merasa puas dengan pelayanan Trissya."


Trissya merasa terhina dengan ucapan Daeriel. Dia bahkan tidak tahu dan tidak ingat dengan apa yang telah dia lakukan sampai-sampai seperti ini.


"Sialan!" Raefal terus mengamuk dan kembali memukul Daeriel di sudut ruangan. Tembok di sudut ruangan sampai menjorok ke dalam.


Daeriel menoleh pada Trissya, "Aku tahu, kamu gak tega lihat aku seperti ini."


Setelah kalimat itu berakhir, Daeriel menghilang. Raefal mengusap kasar wajahnya sehingga sebagian darah Daeriel menodai pipinya. Dia menghampiri Trissya yang beringsut menjauh karena takut. Raefal menghentikan langkahnya.


"Trissya, kamu gak perlu takut sama aku," kata Raefal kemudian duduk di tepi ranjang dan mengusap rambut gadis itu. Raefal menutup matanya, Trissya juga. Semua bekas di tubuh Trissya menghilang bersamaan dengan rasa sakitnya.


Raefal menuangkan air suci yang dia bawa dari dunia drucless ke dalam bak mandi. Pria itu membujuk Trissya untuk mandi. Namun, gadis itu tidak mau. Dia tetap mengeratkan selimutnya tanpa bergeming dari tempat tidur.


"Meskipun kamu udah merasa sembuh, bekas-bekas Daeriel masih terlihat. Kamu emang gak bisa lihat itu, tapi aku bisa melihatnya."


Trissya menggeleng.


Raefal mengangkat tubuh Trissya dengan paksa. Trissya berontak, "Raefal! Aku gak mau! Aku mau mandi sendiri aja nanti!"


Pria itu meletakkan Trissya ke bak mandi seperti seorang ibu yang akan memandikan bayinya. Trissya tetap mengeratkan selimutnya meskipun sudah basah karena air suci.


"Sini selimutnya," kata Raefal. Trissya tetap mempertahankan selimutnya. Raefal memutar bola matanya. Pria itu memandikan Trissya dengan telaten meskipun gadis itu tidak membiarkan tangan Raefal menyentuh bagian sensitifnya yang tertutupi selimut.


"Maafin aku yang ninggalin kamu. Aku janji gak akan pergi kalo gak sama kamu," kata Raefal seraya menatap gadis itu. Trissya tidak merespon meskipun dia mendengar ucapan Raefal.


"Kayaknya kita harus pindah rumah. Soalnya kontrakan ini dindingnya retak karena aku," kata Raefal. Trissya menghela napas berat, "Gimana caranya aku ngomong sama ibu kontrakan?"


"Ya, ngomong aja secara baik-baik."


~


Trissya dan Raefal memasuki rumah yang cukup besar. Mereka masih berada di dunia manusia. Itu memang rumah yang dibeli Raefal sebelum dia menemui Trissya untuk yang kedua kalinya.


"Apa gak berlebihan?" Tanya Trissya. Raefal menggeleng, "Enggak, aku suka lokasinya yang jauh dari orang."


Memang benar, jarak rumah itu dengan rumah tetangga cukup jauh. Trissya melihat ke sekeliling.


Raefal bertanya, "Kamu mau tidur di kamar yang mana?"


Trissya tampak berpikir, "Ada berapa kamar?"


"Ada lima kamar. Tiga di lantai ini dan dua lagi di lantai atas."


Trissya melihat kamar di lantai atas. Dia menemukan kamar yang menurutnya nyaman. Gadis itu memanggil Raefal.


"Aku mau tidur kamar yang ini, boleh?" Tanya Trissya. Raefal menghampirinya dan melihat ke dalam.


"Sebenarnya ini kamar aku. Tapi, kalo kamu mau tidur disini... ya, gapapa kita tidur berdua juga, kan?" Raefal menatap Trissya dengan tatapan nakal. Gadis itu memundurkan kepalanya, "Ah, kalo gitu gak jadi, deh. Aku mau kamar yang di samping kamar ini."


Trissya membuka pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar Raefal. Pria itu hanya tersenyum geli karena tingkah Trissya. Dia memasuki kamar yang dipilih oleh gadis itu dan melihat apa yang sedang dilakukannya.


Trissya sedang menyimpan pakaiannya ke dalam lemari dengan telaten. Raefal duduk di tepi tempat tidur tanpa mengalihkan pandangannya dari Trissya.


"Trissya," panggil Raefal. Tanpa menoleh, Trissya menjawabnya dengan bergumam, "Hem?"


"Apa selama ini kamu nyaman sama aku?" Tanya Raefal. Aktivitas Trissya terhenti beberapa saat. Lalu dia kembali membereskan barang-barangnya, "Emm, i-ya."


Raefal merasa senang dengan jawaban gadis itu. Dia mendekat sambil memeluk tubuh Trissya dari belakang. Gadis itu tidak menolak dan tidak berhenti merapika barang-barang ke meja. Raefal meletakkan dagunya di kepala Trissya, "Aku juga ngerasa nyaman sama kamu."


"Aku..." Raefal belum sempat menyelesaikan kalimatnya, suara bel pintu berbunyi. Mereka berdua menoleh.


"Siapa itu?" Tanya Trissya. Raefal tampak berpikir kemudian menggelengkan kepalanya sambil berlalu. Trissya menatap punggung Raefal sambil tersenyum dengan wajah yang sudah memerah karena ucapan dan tingkah Raefal.


Pria itu membuka pintu. Ternyata pengantar makanan, "Selamat sore, makanan anda telah tiba. Silakan menandatangi struk penerimaan."


Raefal mengangguk sambil menandatangi struk itu. Dia mengambil dua kotak makanan tersebut.


"Terima kasih, semoga hari anda menyenangkan."


Setelah pengantar makanan itu pergi, Raefal menutup pintu. Dia berbalik dan terkejutnya karna Trissya sudah ada di depannya.


Gadis itu tertawa, "Terkejut, kan? Aku juga, waktu itu kamu sering nongol tiba-tiba."


Raefal tertawa juga. Pandangan Trissya tertuju pada kedua kotak makanan di tangan Raefal.


"Kamu pesen makanan?" Tanya Trissya. Raefal mengangguk, "Iya, aku gak tega lihat kamu makan mie instan terus."


Trissya merasa terharu dengan ucapan Raefal. Mereka ke meja makan dan membuka isi kotak tersebut. Trissya mengerutkan keningnya.


"Dua kotak spaghetti, ini sama aja dong mie."


"Ya, beda, lah."


"Bedanya?"


"Mie instan itu langsing, spaghetti gendut."


Stop body shaming, Raefal!!!


♥♥♥


22.22 : 22 September 2019


By Ucu Irna Marhamah 


Follow Instagram dan Wattpad aku\, yaaa... @ucu_irna_marhamah


Beli Ebook aku juga, yaaa...

__ADS_1




__ADS_2