![DRUCLESS [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/drucless--sudah-terbit-.webp)
~Perpisahan bisa jadi kata lain dari, sebentar saja kita saling introspeksi.~
♥♥♥
Pagi ini Trissya tidak ingin berangkat kerja. Dia memilih bangun dan menyiapkan sarapan. Trissya tidak berniat membangunkan Raefal. Gadis itu sudah mengecek Raefal yang masih tertidur. Luka di tubuh pria itu juga sudah membaik.
Pagi ini, Trissya membuat bubur untuk Raefal. Gadis itu tidak melihat banyak perubahan setelah dia memandikan Raefal dengan air suci.
Trissya berjalan menuju kamar dimana Raefal berada. Semangkuk bubur hangat dengan susu hangat berada di atas nampang di tangannya.
Dia membuka pintu dan melihat Raefal yang masih terlelap.
Gadis itu duduk di tepi ranjang dan menyentuh lengan Raefal. Dengan lembut, gadis itu berbisik pelan, "Raefal, kamu udah bangun? Aku bawain sarapan, nih."
Tidak ada jawaban.
Trissya memperhatikan wajah Raefal yang sedang tertidur. Pria itu terlihat begitu tampan dengan wajah yang tegas dan terkesan dingin. Tapi, wajah itu juga bisa berubah menajdi imut dan konyol.
Trissya terkekeh membayangkan sikap kekanakan Raefal. Dia menyentuh hidung mancung milik Raefal.
"Pangeran Raefal, bangun."
Pria itu membuka matanya dan menoleh pada Trissya yang tersenyum ceria. Raefal bangkit untuk duduk. Trissya membantunya. Mereka saling menatap sejenak.
Trissya mengalihkan pandangannya karena merasa canggung. Dia menyendok bubur dan menyodorkannya pada Raefal. Trissya membujuknya, "Makan, ya."
Raefal memegang tangan itu dan menyimpan kembali sendok tersebut ke mangkuk. Trissya heran dengan apa yang dilakukan Raefal.
Pria itu menarik tengkuk Trissya dan melumat bibir Trissya dengan penuh penuntutan. Gadis itu sedikit tidak nyaman dengan perlakuan Raefal yang tiba-tiba itu. Wajahnya memanas dan terlihat merah.
Tidak ada penolakan dari Trissya. Mereka saling menatap disela ciuman itu. Raefal melepaskan tautannya. Trissya memutuskan kontak mata diantara mereka. Energi Raefal sedikit bertambah.
"Kalo kamu gak mau sarapan, aku balik lagi ke dapur, ya." Setelah mengatakan itu, Trissya bangkit. Namun, Raefal menggenggam tangannya. Gadis itu kembali duduk.
"Kenapa kamu gak ngomong apa-apa? Aku jadi makin khawatir," tanya Trissya.
Raef tersenyum sambil mengusap rambut Trissya. Pria itu bersenandung kecil, "Hem... hemm... hemmm...."
Kedua mata Trissya terasa berat. Dia terlelap ke dada Raefal. Pria itu memeluk Trissya dengan tangan kanannya. Dia menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Trissya dengan tangan kirinya.
Pria itu berbisik ke telinga Trissya, "Maafkan aku, aku harus menyentuhmu lagi. Air suci sudah tidak bisa memberikan energi untuk tubuhku."
Dia mengecup lembut bibir Trissya lalu membaringkannya dengan hati-hati. Raefal membuka satu per satu kancing baju yang membungkus tubuh mungil itu. Raefal mendekatkan wajahnya dan menyesap leher Trissya yang tertidur pulas tanpa merasa terganggu sedikit pun.
Sementara itu, di mini market.
Alma dan Chilla yang berhadapan dengan Adry saling pandang kemudian menggeleng. Bu Tari memperhatikan mereka.
Adry menghela napas berat. Alma dan Chilla berlalu untuk kembali bekerja. Bu Tari menghampiri Adry seraya mengusap bahu pria itu.
"Kamu gak perlu khawatir, nanti Tante hubungin dia."
Adry mengangguk.
~
Trissya membuka matanya. Dia merasakan tangan kekar itu memeluknya dari belakang. Gadis itu terkejut karena keadaan tubuhnya yang polos. Ketika dia bergerak untuk menoleh, tubuhnya terasa sakit semua. Gadis itu meringis sambil menyentuh perutnya yang benar-benar ngilu. Raefal terbangun karena pergerakan gadis yang berada dalam pelukannya.
"Trissya."
Gadis itu menangis tertahan karena tubuhnya terasa sakit dan lemas. Raefal bangkit. Dia menyentuh punggung polos Trissya. Tangisan gadis itu semakin menjadi-jadi. Dia memeluk tubuhnya sendiri seolah tidak ingin ada yang melihatnya.
Raefal mengusap rambut Trissya dengan lembut, "Trissya, aku akan memperbaiki ini."
Pria itu memperbaiki kesalahannya dengan mengembalikan tubuh Trissya seperti semula. Semua tanda-tanda di tubuh Trissya menghilang. Gadis itu kembali seperti sedia kala. Tenaganya gadis itu juga sedikit bertambah. Namun, Trissya tetap tidak berhenti menangis.
"Trissya, jangan menangis."
"Ke-kenapa kamu kayak gini? A-apa karena kamu punya banyak kekuatan? Ka-kamu bisa ngelakuin apa aja, termasuk melukai aku terus nyembuhin aku dan begitu seterusnya?" Tanya Trissya dengan suara bergetar. Raefal merasa sedih dengan ucapan Trissya.
"Hanya karena aku manusia biasa dan gak punya apa-apa, kamu seenaknya aja sama aku?" Tanya Trissya lagi.
Raefal menyentuh punggung gadis itu, "Trissya, aku minta maaf. Aku gak bisa dapetin energi selain dari tubuh kamu."
"Daeriel bener, kamu bukan cowok baik. Kamu sama dia sama-sama jahat."
Raefal akan bicara, namun gadis itu kembali bersuara, "Aku sempet jatuh cinta sama kamu, tapi sekarang enggak. Aku tahu, drucless tetaplah drucless."
Raefal terkejut dengan ucapan Trissya. Dia tidak menyangka cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ada rasa senang yang memenuhi ruang hatinya, tapi Trissya terlanjur terluka dengan sikapnya.
Pria itu menunduk. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Trissya menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Aku sangat memohon sama kamu. Tolong, pergi selamanya dari hidup aku. Jangan tunjukkan wajah kamu lagi."
Deg
Seperti godam yang menghantam ulu hatinya, Raefal membeku.
Sunyi.
Kini yang terdengar hanyalah isak tangis dari bibir Trissya.
"Ada satu hal yang ingin aku sampaikan. Sebelum kamu jatuh cinta sama aku, aku lebih dulu jatuh cinta sama kamu. Sekali lagi aku menegaskan, apa pun yang terjadi, aku akan tetap bersama kamu. Aku gak akan ninggalin kamu."
Sunyi.
Trissya *** bantalnya. Dia benar-benar sakit mendengar ucapan Raefal. Semakin pria itu menunjukkan sisi baiknya, Trissya semakin terluka. Raefal memiliki sebagian besar sisi baik, namun pria itu juga memiliki sisi buruk.
"Kalau perlu, aku akan nikah sama kamu."
Deg
Mudah sekali pria drucless itu berbicara. Apakah Trissya bahagia? Seandainya Raefal manusia seperti dirinya, dia akan sangat bahagia. Tapi, pria itu bukan manusia. Dunia mereka berbeda. Ada dinding besar yang seharusnya ada sejak awal sebagai pemisah antara dunia manusia dengan dunia drucless.
Trissya tahu, terlarang bagi bangsa drucless menikah dengan bangsa manusia. Mereka berbeda dunia dan berbeda jenis.
Raefal bangkit sambil memakai jubah mandi. Pria itu akan menyentuh tangan Trissya, namun sebelum Raefal menyentuhnya, tangannya bergerak menghindar.
"Jangan sentuh aku."
Sakit, Raefal merasa tersakiti oleh perkataan gadis itu.
"Aku mau ngambil air hangat dulu dari dapur," kata Raefal kemudian berlalu.
Ponsel Trissya bergetar, menandakan ada panggilan yang masuk. Gadis itu mengambil ponselnya dan melihat nama bu Tari di layar sentuh tersebut. Gadis itu segera mengangkatnya.
"Selamat sore, Bu?"
"Kamu baik-baik aja?"
"Saya agak gak enak badan, Bu."
"Kemarin ibu dateng ke kontrakan kamu, tapi pemilik kontrakan bilang kamu udah pindah."
Trissya terkejut. Dia tidak mengira bu Tari akan sejauh itu, sampai-sampai mendatanginya seperti.
__ADS_1
"Ibu kontrakan bilang, rumah yang kamu pake itu dindingnya retak, apa terjadi sesuatu sama kamu?"
"Ah? Itu... saya kurang tahu, kenapa bisa ada retakan disana."
"Ya udah, kamu cepet sembuh, yaaa. Oh ya, pegawai baru yang cowok itu juga barengan sama kamu gak masuknya. Dia kemana, ya?"
Lagi-lagi Trissya kebingungan harus menjawab apa. Gadis itu berusaha mencari jawaban yang pas. Tapi, tetap saja jawaban cari aman yang muncul.
"Saya kurang tahu juga, Bu."
"Loh, gak tahu? Kata Adry, kamu pacarnya?"
Trissya menghela napas panjang, "Ah, saya udah lama putus sama dia, Bu."
"Beneran? Kalo gitu, kamu sama Adry aja."
Trissya menepuk dahinya merutuki kebohongan yang terus-menerus dia tutupi.
"Trissya? Natrissya?"
"Ah, i-iya... iya, Bu?"
"Ya udah, ibu tutup teleponnya, ya. Jangan lupa makan dan minum obat, biar kamu cepet sembuh.
"Iya, terima kasih, Bu."
Akhirnya panggilan menegangkan pun berakhir. Trissya memutar bola matanya.
~
Keesokan paginya,
Raefal masih terlelap di kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Sepertinya pria tampan itu tidak berniat bangun. Dia meregangkan otot tubuhnya lalu jatuh terjungkal dari tempat tidurnya.
Pria itu sedikit meringis sambil bangkit menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Raefal menggaruk-garuk roti sobek di perutnya. Sambil menguap, pria itu berlalu ke kamar mandi.
Setelah rapi dengan pakaian kerjanya, Raefal berjalan menuruni tangga. Tidak ada aroma masakan seperti biasanya.
Trissya tidak memasak?
Pria itu tidak melihat Trissya di dapur. Dia kembali menaiki tangga menuju kamar gadis itu. Raefal terkejut melihat semua barang milik Trissya tidak ada di tempatnya. Pria itu membuka pintu lemari. Tidak ada pakaian Trissya disana.
Raefal mengusap rambutnya frustasi. Dia mengambil ponsel dan menelepon gadis itu. Nomornya tidak dapat dihubungi. Ada kemungkinan gadis itu berganti nomor.
Raefal mulai panik. Dia berlalu keluar dari kamar tersebut, namun tidak sengaja tangannya menyenggol buku di meja dekat pintu. Buku tersebut jatuh ke lantai.
Raefal menoleh. Dia membereskan buku itu kembali ke tempatnya. Matanya melirik sepucuk surat yang ditindih dengan gelas di atas meja.
Raefal mngambil surat tersebut dan membaca isinya.
Untuk Raefal,
Raefal, makasih udah baik selama ini sama aku. Maaf, kalo misalnya aku sempat ngerepotin kamu. Aku harap, setelah kamu baca surat ini, kamu gak nyari aku. Tolong, lupain semua yang pernah terjadi selama ini. Ya, meskipun aku gak bisa ngelupain ini dengan mudah.
Makasih udah sempet sayang sama aku. Aku juga sempet sayang sama kamu. Sejujurnya, kamu adalah cinta pertama aku, Raefal.
Daaaah,
Natrissya Virlin
Raefal mengusap kasar wajahnya setelah selesai membaca surat itu. Pria itu teringat sesuatu. Dia segera menaiki motornya dan pergi meninggalkan rumah.
Ternyata Raefal menatangi mini market. Dia mencari Trissya di tempat itu. Raefal bertanya pada Chilla dan Alma.
"Trissya udah berhenti jadi karyawan disini."
Raefal semakin panik. Dia akan keluar dari tempat itu, tapi Adry memanggilnya.
~
"Mungkin ini bisa ngebantu kamu buat nyari dia," kata Adry. Raefal segera menerimanya dan membuka isi map tersebut. Adry memperhatikan apa yang dilakukan pria itu.
"Itu adalah surat lamaran pekerjaan milik Trissya," ujar Adry.
Raefal menemukan alamat lengkap Trissya. Pria itu mendongkak menatap Adry.
"Makasih, Bang Adry." Pria itu bangkit dari tempat duduknya, namun Adry bersuara, "Raef, tunggu bentar."
Pria yang sudah sampai di ambang pintu itu menoleh.
Adry menyandarkan punggungnya ke kursi, "Aku gak tahu apa yang menjadi masalah diantara kalian, tapi... Trissya perempuan baik, semoga kamu gak kehilangan dia."
Raefal mencerna ucapan Adry.
"Trissya bilang sama aku, dia pacaran sama kamu. Tapi, waktu tante Tari nelepon dia, dia bilang udah putus sama kamu."
Raefal terkejut. Jadi, selama ini Trissya menganggap dirinya seorang kekasih?
Adry berujar, "Aku harap, kalian gak putus hanya karena alasan kecil."
Raefal mengangguk, "Permisi."
~
Raefal memakai jubah biru gelapnya. Dia ingin mendatangi alamat Trissya. Pria itu menatap pantulan dirinya di cermin.
"Lu harus bawa dia kembali ke hati lu, Raef. Atau lu bakalan kehilangan dia selamanya." Pria itu seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba pria itu menghilang dengan beberapa barang bergerak seolah tertiup angin.
Dengan berteleportasi, pria itu sampai tujuan. Dia berada di tempat yang begitu sejuk dan menenangkan. Raefal belum pernah datang ke tempat tersebut.
Perbukitan.
Ada kebun teh dan padang rumput yang luas di sekitar sana. Raefal mengedarkan pandangannya. Dia berjalan beberapa langkah dan...
Raefal melihat Trissya dari kejauhan. Gadis itu sedang duduk sendirian di bawah pohon yang besar sambil memperhatikan beberapa kambing yang memakan rerumputan di perbukitan itu.
Pria itu melangkah untuk menghampirinya, namun niat itu urung ketika kalimat dalam surat itu terngiang di kepalanya.
Aku harap, setelah kamu baca surat ini, kamu gak nyari aku. Tolong, lupain semua yang pernah terjadi selama ini.
Raefal tampak sedih. Ingin sekali pria itu datang dan memeluk Trissya. Namun, kehadirannya hanya akan membuat luka Trissya semakin membesar.
Trissya merasakan kehadiran seseorang dari kejauhan. Dia menoleh ke tempat Raefal berdiri. Namun, gadis itu tidak melihat siapa pun disana. Hanya ada dedaunan kering yang berterbangan disana. Raefal sudah menghilang sebelum Trissya menoleh.
Trissya mengerutkan keningnya.
♥♥♥
Hari di dunia manusia berjala seperti semestinya. Meskipun Trissya tidak bersama Raefal, namun pria itu tetap tinggal di dunia manusia. Dia masih bekerja sebagai pegawai mini market tanpa merasa berat karena statusnya sebagai pangeran Zeroun dari dunia drucless.
Ada pegawai baru yang menggantikan Trissya. Seorang pria yang ramah dan baik. Dia sangat cerewet dan suka bercanda. Pria itu cukup akrab dengan Raefal. Dia bahkan tidak merasa segan untuk curhat pada Raefal.
Pria itu menyukai Alma, gadis berhijab yang cantik itu.
"Ah, Ibuku pasti senang sekali kalo aku punya calon menantu yang berhijab seperti Alma," bisik pria yang bernama Haidar itu. Raefal mengangguk mengiyakan saja ucapan pria di depannya itu.
Mereka berdua sedang beristirahat di warteg yang tidak jauh dari mini market tempat mereka kerja.
Haidar berbisik, "Kayaknya bang Adry lagi deket sama Chilla, deh."
__ADS_1
"Ah, lu itu kayak ibu-ibu tukang gosip," gerutu Raefal. Haidar tertawa, "Aku gak nge-ghibah, aku cuma membacakan berita baru pagi ini."
"Sama aja," kata Raefal ketus.
"Eh, kalo misalnya bang Adry sama Chilla, terus aku sama Alma, kamu sama siapa?" Goda Haidar.
Raefal memutar bola matanya mendengar ocehan Haidar. Haidar terkekeh, "Kamu sama bu Tari."
Tawa Haidar meledak. Sebuah tepukan pada pipinya membuat pria itu mendongkak. Ternyata bu Tari. Haidar menela saliva karena gugup.
"Kamu lagi ngomongin saya?" Tanya bu Tari. Haidar menggeleng cepat, "Enggak, Bu."
Raefal berusaha menahan tawanya. Haidar menoleh pada Raefal. Pria itu memberikan kode agar Raefal membelanya.
"Ah? Gini, Bu. Tadi, Haidar bilang, ibu cantik banget kalo pakai baju biru. Keliatan muda katanya, Bu."
Mendengar ucapan Raefal, Haidar tercengang dan memperlihatkan ekspresi membunuh pada Raefal yang masih menahan tawa.
Bu Tari tersipu malu. Dia menepuk pundak Haidar. Pria itu juga tersenyum kaku. Setelah bu Tari berlalu, Haidar menggerutu kesal, "Ngapain kamu bilang gitu? Kan, aku jadi bingung harus gimana."
"Ya, gua cuma belain lu," kata Raefal. Haidar mendengus pelan. Raefal berucap, "Alma itu cewek baik-baik, kalo lo suka sama dia, lo juga harus jadi cowok yang baik."
Haidar mencerna ucapan Raefal, "Iya juga, ya? Makasih sarannya, bro!" Pria itu menepuk bahu Raefal kemudian berlalu.
Lu ngasih masukan ke orang lain. Lu aja gak bisa jadi cowok baik buat Trissya, Raef, ujar Raefal dalam hati.
~
Raefal sedang mengendarai motornya. Biasanya ada Trissya yang memeluk perutnya dari belakang. Mereka berdua akan pulang ke rumah, atau mencari tempat bagus untuk makan malam. Raefal akan melihat pipi Trissya berubah warna jadi merah kalau dirinya sedang mengatakan sesuatu yang gombal.
Trissya akan mencubit atau memukul lengannya apabila gadis itu kesal dengan sikap mesum Raefal.
Mereka akan bercanda seperti anak kecil, atau berbicara serius seperti orang dewasa.
Trissya akan sangat memperdulikannya, meskipun Raefal berbuat hal buruk pada gadis itu. Trissya selalu berbuat baik padanya, seolah jika Raefal itu adalah seseorang yang berharga dalam hidup Trissya.
Gadis itu sering berkata, jangan pergi... jangan tinggalin aku.. katanya kamu mau ngelindungin aku.
Sekarang tidak lagi. Tidak ada Trissya di sampingnya. Gadis itu terlalu bosan dipermainkan olehnya. Gadis itu bukan bonekanya yang bisa seenaknya dijadikan budak napsu. Gadis itu manusia biasa yang memiliki hati. Hati yang baik.
Raefal menyesal tidak mengungkapkan perasaannya sedari awal.
Sesampainya di rumah, Raefal memasak untuk dirinya sendiri. Apa lagi kalau bukan mie instan. Ada kenangan tersendiri dengan mie instan. Raefal bisa mengingat Trissya yang sangat menggilai mie instan. Dirinya juga menyukai mie instan karena tertular oleh gadis itu.
Raefal sering mendatangi Trissya hanya sekedar untuk memastikan keadaan gadis itu. Dia tidak menemuinya secara langsung. Hanya datang di malam hari dan menyelimuti tubuh mungilnya.
Raefal tidak ingin menyakiti Trissya dengan menujukkan wajahnya di depan gadis yang sangat dia cintai itu.
Raefal kembali ke rumahnya, tubuhnya terhuyung dan jatuh ke lantai. Pria itu menyentuh dadanya yang terasa begitu sakit.
"Trissya, aku butuh kamu."
♥♥♥
Di istana Zeroun,
Daeriel memerintahkan para pelayan untuk mengadakan sebuah perayaan yang mewah untuk merayakan kehamilan Qwella. Ya, istrinya itu sedang mengandung darah dagingnya.
Anak yang akan dia tunggu kelahirannya selama dua tahun. Ya, wanita drucless akan mengandung selama dua tahun. Ketika lahir, maka bayi drucless itu juga berusia dua tahun. Ingat, dua tahun disini adalah dua tahun berdasarkan hitungan tahun di dunia drucless, bukan di dunia manusia. Itu artinya, wanita drucless bisa melahirkan di waktu yang singkat bila dia berada di dunia manusia.
Pesta meriah terlaksana dengan lancar. Qwella dengan perut yang masih rata, tampak duduk malas di kursi ratu.
Semua orang hadir dalam acara tersebut. Raja, ratu, pangeran, putri, dan keluarga kerajaan lainnya yang berhubungan baik dengan kerajaan Zeroun datang untuk mengucapkan selamat kepada Daeriel dan Qwella.
Raja Adyatama bersama ratu Myraa dari kerajaan Gigarez juga hadir dengan putra tunggal mereka, Pangeran Rean Attlass Gigarez yang terkenal memiliki kekuatan luar biasa.
Qwella terpaksa harus berdiri untuk menghormati raja dan ratu dari kerajaan yang sangat besar itu.
Daeriel memeluk raja Adyatama dengan erat, "Selamat datang, Raja."
"Ah, selamat untukmu dan ratu Qwella," kata raja Adyatama. Daeriel tersenyum, "Terima kasih."
Ratu Myraa dan Qwella juga berpelukan. Ratu Myraa menangkup wajah cantik Qwella seperti seorang kakak, "Semoga kamu sehat terus, ya. Nanti bayinya juga lahir sehat." Ratu Myraa mengusap perut Qwella.
Wanita itu tersenyum, "Terima kasih, Ratu Gigarez."
Daeriel mengusap pundak pangeran Rean, "Putramu sudah dewasa, Raja. Dia akan menjadi raja yang hebat setelah anda."
Pangeran Rean hanya tersenyum mendengar pujian dari raja Zeroun untuknya. Raja Adyatama tersenyum bangga, "Aku juga berharap begitu. Dia perlu mencontoh dirimu."
Daeriel merasa tersanjung dengan ucapan raja Adyatama.
Setelah acara tersebut selesai, Qwella berbicara dengan Daeriel.
"Setelah bayi ini lahir, aku mau kita selesai. Hubungan ini, segel ini, anak ini juga. Jangan beri tahu dia kalau aku ibunya!"
"Qwella, dia anak kamu juga, kenapa kamu jadi egois begini?" Tanya Daeriel.
"Siapa yang egois?! Kamu sendiri yang ngikat aku dengan pernikahan yang sama sekali tidak aku inginkan! Kamu ingin anak ini untuk kepentinganmu sendiri, kan?" Qwella menunjuk perutnya.
Daeriel meletakkan kedua tanggannya di pinggang, "Iya, awalnya aku emang pengen anak itu jadi penguasa besar kayak aku, tapi dia anak aku, anak kamu, dia juga membutuhkan hak sebagai seorang anak. Hak dari seorang ayah dan hak dari seorang ibu."
"Aku tidak peduli, kamu yang menginginkan anak ini! Aku tidak menginginkannya! Ambil saja!"
"Qwella!"
"Jika kamu gak mau lepas segel ini setelah anak ini lahir, aku akan membunuh anak ini!" Bentak Qwella kemudian berlalu.
"Dia benar-benar..." Daeriel membuang napas kasar. Pria itu melihat ke jendela. Dia teringat pada Trissya.
"Gadis kecil itu, dia lagi ngapain, ya?"
Setelah berpikir cukup lama, pria itu pergi untuk mendatangi Trissya. Pria itu tiba di rumah Trissya. Gadis itu sedang duduk di bawah pohon besar. Daeriel memperhatikan dari jendela kamar gadis itu.
Tampaknya Trissya sedang melamun. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu. Dia ingin sekali membaca pikiran gadis itu lewat sentuhan tangan. Namun, kehadirannya hanya akan membuat gadis itu ketakutan.
Ada banyak kambing yang sedang memakan rerumputan di perbukitan itu.
Daeriel melihat keberadaan Raefal di jarak yang cukup jauh dari tempat duduk Trissya. Pria itu tampaknya sedang memperhatikan Trissya dari kejauhan.
"Ngapain dia ngeliatin Trissya jauh-jauh gitu? Apa ada masalah dengan hubungan mereka? Ah, siapa peduli."
Daeriel melihat barang-barang Trissya di meja. Dia mengambil barang-barang itu dan menghirup aromanya satu per satu.
"Aku selalu ingat aroma tubuh kamu, Trissya. Aku tidak akan melupakannya."
♥♥♥
18.03 : 24 September 2019
By Ucu Irna Marhamah
Follow Instagram sama Wattpad aku\, yaaaa @ucu_irna_marhamah
beli ebook aku juga,, yaaa....
__ADS_1