![DRUCLESS [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/drucless--sudah-terbit-.webp)
~Pergi tidak selamanya sakit, karena bertahan tidah selamanya indah.~
Suara gemuruh air terjun di tengah-tengah hutan drucless membuat suasana malam itu semakin lengkap. Trissya melihat sungai besar itu di depannya. Raefal bilang, sungai itu adalah mata air suci yang merupakan sumber kehidupan para drucless. Meskipun sungainya sangat besar, aliran airnya tidaklah deras. Jutru tampak tenang dan dangkal. Hanya air terjunnya yang deras.
Raefal membuka pakaiannya. Trissya terkejut. Dia segera membalikkan badannya membelakangi Raefal.
"Dasar tidak punya malu," gerutu Trissya pelan.
Raefal menoleh pada Trissya, "Kenapa balik badan? Kamu, kan, pernah ngeliat aku gak pake baju sebelum ini?"
"Diamlah! Aku sudah melupakan kejadian itu!" Gerutu Trissya tanpa bergeming. Raefal tertawa. Pria itu masuk ke air.
"Trissya, ayo kesini!" Seru Raefal. Gadis itu menoleh dan melihat Raefal sudah berada dalam air setinggi dadanya. Trissya menghampiri dan menyentuh air itu. Terasa hangat di kulitnya.
"Buka bajunya buka," kata Raefal. Gadis itu mendelik kesal sambil turun tanpa mau melepaskan pakaiannya.
"Sini!" Seru Raefal. Gadis itu menggeleng, "Kamu lagi gak pake baju. Aku gak mau deketin kamu."
Raefal tertawa.
Setelah bersentuhan langsung dengan air sungai, Trissya merasa tubuhnya lebih bertenaga. Trissya melihat bulan yang berubah warna menjadi jingga pudar. Gadis itu mengerutkan dahinya.
"Sore telah tiba," gumam Raefal.
Trissya melihat pohon-pohon besar itu mengecil dan tampak normal. Rerumputan juga berubah menjadi pendek. Bunga-bunga kecil bermekaran. Suara-suara aneh hewan malam sudah menghilang, berganti dengan suara merdu dari burung-burung yang datang dan hinggap di ranting-ranting pohon. Suhunya juga terasa sedikit lebih hangat.
Trissya menjerit ketika ada banyak ikan yang melompat-lompat di sekitarnya. Raefal berenang mendekatinya.
"Jangan mendekat!" Trissya memberikan peringatan sambil menunjuk pria itu. Raefal tidak mendengarkannya. Dia tetap mendekat dan menunjukkan ikan-ikan yang berwarna unik itu. Warna yang belum pernah Trissya lihat sebelumnya.
"Ini warna apa?"
"Froosk."
"Aku baru denger ada nama warna semacam itu. Lalu ini warna apa?"
"Driier."
Trissya melihat banyak hewan yang sedang minum di tepi sungai.
"Aaaahhh, lucunya." Trissya segera berenang ke tepian dan mendekati hewan-hewan itu. Tapi, mereka malah kabur ketika Trissya datang.
Raefal tertawa. Dia memakai pakaiannya lalu menggerakkan tangannya kearah hewan-hewan yang kabur itu. Seolah mengerti, hewan-hewan itu mendekat pada Raefal. Trissya yang melihat itu merasa heran.
Raefal menggendong salah satu hewan bulat berbulu lebat dengan warna ungu. Dia menghampiri Trissya.
"Hei, pegang ini."
Trissya tersenyum dan segera mengambilnya dari Raefal. Dia memeluk hewan tersebut dan meletakkan pipinya ke tubuh bulat hewan itu.
Raefal hanya terkekeh melihat tingkah gadis itu. Dia berucap, "Nama hewan ini treteaa."
"Gemasnya! Sayangnya gak bisa dibawa pulang," kata Trissya dengan rasa penyesalan.
"Kamu punya yang lebih lucu, kan?" Tanya Raefal. Trissya tampak berpikir, "Apa?"
Dengan penuh percaya diri, Raef menjawab, "Aku, kamu juga bisa peluk aku kayak treteaa itu."
"Mesum!" Gerutu Trissya. Pandangan gadis itu tertuju pada menara tinggi yang indah yang letaknya sangat jauh.
"Itu menara apa?" Tanya Trissya sambil menunjuk menara tersebut. Raefal menoleh, "Itu salah satu menara milik istana Zeroun."
"Kerajaan kamu?" Tanya Trissya. Raefal mengangguk, "Sekarang Daeriel yang menjadi raja."
Terdengar suara aneh yang menggema di hutan itu. Trissya sedikit tersentak. Hewan-hewan berlarian pergi. Raefal mengambil kembali treteaa dari Trissya dan meletakkannya ke tanah.
"Suara apa itu?" Tanya Trissya. Raefal menggenggam tangan Trissya. Tubuh mereka tersedot ke dimensi lain.
Keduanya telah tiba di kontrakan Trissya yang baru menunjukkan pukul 10 malam. Padahal mereka pergi ke dunia drucless sekitar 1 jam yang lalu.
"Tadi itu suara apa?" Tanya Trissya. Raefal menghela napas panjang, "Itu suara pasukan kerajaan Zeroun. Pasti ada Daeriel diantara mereka. Bahaya kalo dia lihat manusia di dunia drucless, terutama kamu."
Trissya mengangguk mengerti, "Ya udah, sekarang tidur aja. Besok kita harus berangkat kerja."
Raefal mengangguk.
Tanpa mereka sadari, ada tatapan mengawasi dari balik jendela.
Daeriel berdiri disana.
~
Trissya merasa kepalanya begitu pusing. Dia sedang berada di dalam hutan yang gelap. Hanya ada sedikit cahaya redup yang masuk lewat celah-celah dedaunan dari pohon besar itu. Gadis itu kebingungan karena dia tiba-tiba berada di tempat itu.
Trissya bergumam pelan, "Ini seperti hutan di dunia drucless."
Dia melihat ada cahaya kecil dari kejauhan. Gadis itu melangkah untuk melihatnya. Cahaya itu seolah semakin jauh ketika Trissya berusaha mendekatinya. Terdengar suara gemuruh air terjun. Gadis itu sampai di sungai sumber kehidupan para drucless.
"Kenapa aku sendirian disini?" Trissya seolah bertanya pada dirinya sendiri. Dia mendekat ke tepi sungai. Trissya melihat ke permukaan air yang memantulkan bayangan wajahnya. Gadis itu melihat wajah lain yang berada di belakangnya. Sedikit terhenyak, dia segera menoleh.
Pria itu tersenyum tampan padanya. Dia Daeriel. Trissya sangat takut. Dia sedikit mundur sambil mengalihkan matanya dari Daeriel.
"Raefal udah ngasih tahu kamu, kan, tidak boleh ada bangsa lain di dunia drucless. Termasuk bangsa manusia."
Trissya menggeleng, "Aku gak akan kembali lagi kemari, aku janji. Maafkan aku."
Daeriel berpura-pura memperlihatkan ekspresi sedih, "Kenapa kamu minta maaf? Kamu suka suasana sore di tempat ini, kan?"
Trissya menggeleng, "Aku lebih suka dunia manusia yang aman."
Daeriel mengulurkan tangannya, "Kalo kamu mau, kamu bisa tinggal di dunia drucless bersamaku di istana yang besar."
Trissya terus mundur tanpa menyadari sejengkal lagi, dia akan jatuh ke sungai. Gadis itu bersuara, "Aku tidak mau istana. Aku mau pulang ke kontrakan."
Gadis itu mundur dan tersungkur jatuh, "Aaaa!!"
Namun, bukan jatuh ke sungai. Dia jatuh ke tempat tidur di kamarnya. Trissya merasa heran. Dia bangkit dan terlonjak kaget melihat keberadaan Daeriel di sudut kamar. Pria itu tersenyum sambil menghampiri Trissya.
Gadis itu segera beranjak dari tempat tidur dan melemparkan semua barang pada Daeriel. Pria itu tidak menghindar dan malah membiarkan benda-benda yang dilemparkan Trissya mengenai tubuhnya.
"Sudah selesai?" Tanya Daeriel. Trissya menggeleng, "Kenapa kamu gangguin aku?"
__ADS_1
"Kamu bilang, kamu pengen pulang ke kontrakan, jadi aku anterin aja."
Trissya hampir menangis karena frustrasi, "Aku mohon, jangan ganggu aku."
"Aku gak akan ganggu kamu, aku cuma mau kamu bantuin aku sebentar aja."
"Bantuin apa?" Tanya Trissya yang masih ketakutan. Pria itu melangkah mendekat. Membuat Trissya panik. Dia segera membuka jendela dan keluar lewat sana. Ketika berbalik, Daeriel sudah berada di depannya. Pria itu mendorong dada Trissya hingga punggung gadis itu membentur dinding. Trissya meringis pelan. Tangan kanan Daeriel bertumpu pada dinding untuk mengungkung Trissya. Wajah mereka begitu dekat. Trissya mengalihkan pandangannya dari mata Daeriel yang bisa menghipnotisnya kapan saja.
"Kenapa kamu malah kabur saat ada yang mau minta tolong? Kamu sering bantuin Raefal, sekarang giliran bantuin aku..." Daeriel tampak begitu sedih.
Hening.
Trissya tidak berani menjawab. Dia memilih tetap bungkam dalam ketakutan.
Daeriel mengusap lembut leher Trissya, "... bantu aku menuntaskan hasrat ini. Hasrat yang selalu menjerit ingin merasakan tubuh manusia."
Trissya menutup kedua telinganya mendengar ucapan vulgar Daeriel. Pria itu mendorong tengkuk Trissya dan dia mencium paksa gadis itu. Trissya terbelalak. Mata mereka bertemu sesaat sebelum Trissya menutup rapat matanya.
Daeriel tidak memberikan waktu untuk bernapas pada gadis itu. Dia mendekap tubuh mungil itu. Tangannya bergerak *** rambut Trissya tanpa berhenti menyesap dan melumat bibir gadis itu.
Daeriel melepaskan ciumannya disusul dengan napasnya yang tak beraturan. Trissya jatuh merosot ke lantai. Dia benar-benar takut. Bibirnya yang bengkak sedikit berdarah karena pria itu sempat mengigitnya.
Daeriel menarik lengan Trissya dengan kasar.
"Lepaskan aku! Raefal!! Tolong aku!! Raefaaal!" Trissya berteriak memangil nama Raefal.
"Dia gak akan nolongin lo!"
"Refaaaal!"
Tiba-tiba mereka sudah berada di istana Zeroun. Trissya menggeleng tidak percaya dengan kekuatan Daeriel. Trissya masih berusaha melepaskan diri dari pria drucless itu. Dia sama sekali tidak terpesona dengan kemegahan istana itu. Yang ada hanyalah rasa takut. Daeriel masih menyeretnya.
"Lepaskan aku, aku mohon, aku mau pulang ke kontrakan!" Teriak Trissya. Dengan kasar, Daeriel melempar tubuh gadis itu ke tempat tidurnya yang besar dan luas ukuran god size. (biasanya king size, kali ini god size, biar beda sama yang lain. Gak perlu protes!)
Daeriel menjambak rambut Trissya, "Cepet, lu harus buat gua puas!"
"Aku gak mau!"
"Jangan sok jual mahal! Lo pernah gini sama Raefal kan!"
Trissya berusaha melepaskan tangan Daeriel dari rambutnya. Bukannya dilepaskan, Daeriel semakin mempererat jambakannya.
"Tolong, jangan lakukan ini."
Daeriel mendorong tubuh itu agar terlentang dibawahnya. Daeriel berada di atas tubuh Trissya dengan kedua lutut bertumpu pada tempat tidur. Pria itu merobek baju Trissya dengan paksa. Trissya memberontak. Daeriel tersenyum saat melihat Trissya yang menutupi bagian atas tubuhnya. Daeriel menarik kedua tangan Trissya. Gadis itu terus-menerus meronta.
Pria itu menampar wajah Trissya dengan cukup keras, "Singkirkan tanganmu!"
Trissya tetap bertahan pada posisinya meskipun hidungnya sudah mengeluarkan darah. Lagi-lagi Daeriel menjambak rambutnya hingga kepala gadis itu menengadah. Melihat leher jenjang Trissya, Daeriel mendekat dan membuat tanda kemerahan disana.
Daeriel mencakar dada Trissya. Gadis itu meringis kesakitan.
"Lo mau permainan kasar, kan?"
"Aaaa!!! Raefaaal!! Toloong!"
~
Gadis itu tersentak bangun. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama bagian perut. Trissya menyentuh perutnya sambil meringis pelan.
Dia menatap ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa di kamarnya. Napasnya masih belum teratur. Yang barusan itu hanyalah mimpi buruk.
Trissya merasakan bibirnya yang sedikit asin. Dia menyentuhnya ada darah di bibirnya. Sesuatu menetes ke selimut putihnya. Ternyata darah segar mengalir dari hidungnya. Dia menyentuh dadanya. Ada bekas cakaran disana. Gadis itu mulai panik. Dia mengambil ponsel dan mengaca. Gadis itu melihat ada tanda kemerahan di lehernya.
Mimpi barusan itu... nyata?
Trissya menelan saliva. Namun, beberapa menit kemudian, semua bekas luka dan darah itu menghilang, begitupun dengan rasa sakit disekujur tubuhnya seolah raib entah kemana.
"Trissya..."
Merasa namanya terpanggil, Trissya kembali ketakutan. Itu suara Daeriel yang entah berada dimana. Gadis itu segera menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Aku suka dengan tubuhmu. Aku sangat puas. Lain kali, aku akan datang padamu untuk melakukannya lagi... lagi... dan lagi... hahahaaa."
Trissya menangis sambil memeluk lututnya. Dia sangat benar-benar syok. Pria itu telah menyentuhnya dengan sangat kasar.
Seseorang menyentuh bahunya. Trisya terlonjak kaget. Dia mendongkak menatap siapa yang telah mengejutkannya, ternyata Raefal yang menatap heran padanya. Serta merta gadis itu memeluknya.
Raefal terkejut dengan reaksi Trissya yang tidak biasanya memeluk tanpa alasan. Raefal membalas pelukan gadis itu. Trissya menangis histeris membuat Raefal semakin bingung.
"Aku takut," bisik Trissya.
Raefal duduk di samping gadis itu tanpa melepaskan pelukannya. Raefal benar-benar bingung melihat Trissya terus menerus menangis tanpa sebab.
"Trissya, kamu kenapa? Mimpi buruk?" Tanya Raefal sambil melepaskan pelukannya dan mengusap rambut dari wajah Trissya yang banjir air mata dan keringat. Gadis itu kembali memeluknya.
"Please, jangan pergi. Aku takut."
"Iya, aku gak bakalan pergi."
Sunyi.
Yang terdengar hanyalah detik jarum jam di kamar tersebut. Trissya tidak mau bergerak sedikit pun dalam pelukan pria itu.
"Daeriel datang ke mimpi aku."
Raefal terkejut mendengar itu. Dia mengepalkan tangannya, "Apa yang dia lakuin ke kamu, sampai-sampai kamu jadi ketakutan gini?!" Raefal memegang kedua lengan gadis itu sambil menatap Trissya penuh kekesalan.
Kekesalan yang ditujukan untuk Daeriel, tentunya. Mulut Trissya terkunci karena dia takut dengan apa yang dilakukan Daeriel padanya.
"Maaf." Raefal kembali memeluk gadis itu untuk memberikan rasa aman. Trissya mulai berhenti menangis. Namun, pandangannya kosong.
"Dia... melakukannya dengan sangat kasar. Hhhh... aku tidak mau mengingatnya lagi." Trissya memukuli kepalanya sendiri. Raefal menahan kedua tangan gadis itu, "Trissya! Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri? Sekarang tubuh kamu udah baik-baik aja, kamu gak perlu khawatir."
"Kamu gak ngerti! Tubuhku emang balik lagi seperti semula! Tapi, ingatan itu masih berputar di kepalaku! Itu menyakiti mentalku! Kamu paham?!" Teriak Trissya.
Raefal terdiam sejenak lalu berkata, "Terus, kamu mau aku gimana?"
"Kamu gak perlu ngapa-ngapain. Cukup disini sama aku."
Raefal bangkit, "Aku harus bicara pada Daeriel." Dengan segera, Trissya meraih tangan pria itu, "Jangan! Dia berbahaya. Kamu gak inget dia mau bunuh kamu waktu itu?"
__ADS_1
Raefal kembali duduk.
Trissya menghela napas berat, "Aku gak akan pergi kerja hari ini. Tapi, kamu harus kerja."
"Gimana kalo Daeriel dateng pas aku kerja?" Gerutu Raefal. Trissya menutup matanya setiap mengingat nama itu, "Kak Adry bakalan curiga kalo kita gak masuk kerja barengan."
Raefal tampak berpikir lalu keluar dari kamar. Trissya merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamarnya.
Tiba-tiba pintu kamarnya kembali terbuka. Trissya terhenyak dan bangkit. Beberapa hewan lucu dari dunia drucless berlarian menaiki tempat tidur. Mereka memeluk Trissya. Gadis itu mendadak melupakan apa yang sedang dia pikirkan. Saat ini dia senang melihat hewan-hewan unik itu. Dia memeluk mereka.
Raefal berdiri dengan tangan bertumpu pada ambang pintu. Pria itu memperhatikan Trissya. Gadis itu menoleh pada Raefal sambil tersenyum ceria seolah tidak pernah ada hal buruk yang menimpanya.
"Kamu bilang, mereka gak bisa hidup di dunia manusia?" Tanya Trissya. Raefal terkekeh, "Aku sengaja bilang gitu, biar kamu nggak ngangkut mereka ke dunia manusia."
Trissya cemberut kesal. Raefal tersenyum, "Hari ini aja, ya, aku pinjemin mereka. Nanti sore aku balikin ke dunia drucless."
Seperti anak kecil penurut, Trissya mengangguk-anggukkan kepalanya. Raefal berlalu sambil melambaikan tangannya, "See you later."
Trissya mengangguk. Setelah pria itu benar-benar pergi, Trissya bergumam pelan, "Emangnya bangsa drucless belajar bahasa Inggris juga?"
~
Diperjalanan menuju mini market, Raefal tersenyum mengingat Trissya memeluk dan menangis dalam pelukannya. Bukan berarti Raefal senang melihat Trissya menangis, tapi dia senang karena gadis itu menganggap keberadaannya. Raefal merasa senang mendengar Trissya yang membutuhkan perlindungan darinya.
Raefal tidak benar-benar pergi ke mini market, dia memakai jubah kebesaran bangsa drucless yang berwarna biru gelap dan pergi ke dunia drucless untuk menemui Daeriel.
Di istana Zeroun,
Daeriel menyambut kedatangan Raefal, seolah-olah dia memang saudara yang begitu baik dan sangat akrab.
"Adikku, kamu kemana aja? Aku sangat mencemaskanmu. Ah, aku gak bisa tidur karena mikirin adekku ini." Daeriel memeluk tubuh adiknya. Raefal mendorong dada kakaknya dengan kasar, "Kenapa lu maksa Trissya buat ngelayanin lu!"
Dengan ekspresi tanpa merasa berdosa, Daeriel memundurkan wajahnya, "Maksa? Aku gak maksa dia."
Raefal menarik bagian depan jubah merah Daeriel dengan kasar. Pria itu menatap kedua mata abu-abu milik kakaknya tanpa merasa takut sedikit pun. Daeriel bisa mengendalikan pikiran Raefal kapan saja.
"Gak perlu basa-basi! Mulai sekarang, lu gak perlu ganggu Trissya lagi! Lu udah ngerebut Qwella! Gua gak akan biarin lu ambil Trissya dari gua!" Bentak Raefal.
Daeriel tersenyum sinis sambil memiringkan kepalanya, "Jadi, lo cinta sama cewek dari bangsa manusia itu?"
Raefal akan membuka mulutnya, namun tidak keluar suara. Seolah pria itu membenarkan ucapan kakaknya.
Daeriel tertawa sambil menepis tangan Raefal darinya, "Aahh, gua gak bisa tahan lihat cewek itu di bawah gua. Dia gak bisa ngapa-ngapain saat gua ikat tangannya..." Raefal mengepalkan tangannya yang gemetar antara marah dan cemburu, "... yang nyebelin itu pas dia teriak-teriak nama lu. Gua gak suka karena gua yang lagi make dia. Tapi, dia teriakin nama lu juga karena minta tolong, sih."
Raefal meninju wajah Daeriel, tapi pria itu dengan sigap menangkap kepalan tangan adiknya.
"Gua belum selesai bicara!" Bentak Daeriel. Raefal benar-benar ingin menghabisi pria di depannya, jika dia mampu. Daeriel memasang ekspresi berpikir, "Sampe dimana tadi, ya?"
Raefal menekuk lututnya dan menghantamkannya ke perut Daeriel, namun dengan cepat lagi, Daeriel menghindar.
"Oh iya, gua punya rencana. Gimana kalo gua dapetin Trissya juga. Gua suruh dia hamil anak gua. Anak dari bangsa drucless dan bangsa manusia. Itu artinya, anak tersebut bisa tinggal di dua dunia sekaligus. Kekuasaan gua jadi besar!" Daeriel menatap adiknya dengan ekspresi penuh ambisi.
"Lu gak bisa dapetin Trissya, dia terlalu baik buat drucless hina kayak lu!" Geram Raefal. Daeriel tertawa sarkas, "Jadi, maksud lo dia lebih cocok sama drucless lemah kayak lo?!"
Raefal menghilang dari pandangan Daeriel. Pria itu mendengus sambil bergumam, "Pengecut."
Tiba-tiba, Raefal muncul di belakangnya. Daeriel terkejut, ketika dia mau menghindar, Raefal lebih dulu menendang telinganya. Daeriel terpelanting membentur pilar. Pria itu jatuh ke lantai sambil menyentuh telinganya.
Raefal tersenyum puas, "Secara umum, kekuatan gua lebih kuat dari lo. Lo punya kecepatan itu karena waktu kecil, lo pernah menghisap kekuatan itu dari gua."
Daeriel berdiri sempoyongan. Tapi, dia kembali jatuh tertekuk. Darah berwarna coklat gelap mengalir dari telinganya. Seumur hidupnya, itu adalah pertama kalinya dia melihat darahnya sendiri. Selama ini Raefal tidak pernah berhasil membuatnya terluka sampai mengeluarkan darah.
Raefal mendecih kasar, "Darah lu aja warnanya beda dari bangsa drucless. Itu tandanya, darah lo udah kotor karena kejahatan udah lo perbuatan selama ini."
Raefal menghilang dari penglihatan Daeriel. Pria itu berdiri dengan tangan bertumpu pada pilar. Dia mengusap darahnya yang terus menerus mengalir.
"Ah, si Raefal sialan. Gua harus ganti baju." Daeriel menoleh dan baru menyadari keberadaan Qwella yang berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu tampak menatap kosong dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya.
Daeriel tersenyum mengejek, "Kamu lihat dia, Qwella? Pria yang membuat kamu tergila-gila itu udah jatuh ke tangan perempuan dari bangsa manusia. Kamu denger sendiri, kan, apa yang dia katakan?"
Qwella mengepalkan tangannya geram.
"Raefal gak boleh cinta sama perempuan lain! Dia milikku meskipun kamu udah pasang tanda sialan ini!" Teriak Qwella sambil menunjuk lehernya.
~
Burung berwarna jingga itu hinggap di kap lampu kamar Trissya sambil bersuara. Trissya masih terduduk lesu sambil memeluk hewan-hewan yang berbulu lebat itu. Dia menatap kosong ke dinding di depannya.
Pintu kamarnya terbuka, Raefal pulang dengan jubah biru yang melekat di tubuhnya. Beberapa hewan menghampirinya dan memeluknya. Trissya terlihat bingung dengan pakaian pria itu.
"Kamu ngapain pake jubah drucless? Kamu gak pergi kerja?" Tanya Trissya. Pria itu menggeleng.
"Kamu datengin Daeriel?" Tanya Trissya dengan ekspresi was-was. Lagi-lagi pria itu mengangguk.
"Raefal, kamu... arrgghh, kenapa kamu datengin dia?" Trissya berdiri dan memegang lengan pria itu. Dia melihat tubuh Raefal dengan teliti, "Kamu gapapa, kan? Dia gak mukul kamu?"
Raefal tersenyum melihat Trissya yang peduli padanya. Dia menangkup wajah Trissya, "Aku gapapa, kok. Malahan aku yang nendang kepala dia." Raefal bicara dengan ekspresi puas membayangkan Daeriel yang berdarah.
"Kamu yakin?" Tanya Trissya memastikan. Raefal membuka jubahnya lalu dia akan melepaskan kancingnya membuat Trissya segera memegang tangan Raefal agar berhenti membuka kancing bajunya. Semua hewan disana menutup mata mereka lalu kembali melihat kedua makhluk dari bangsa yang berbeda itu.
"Ka-kamu ngapain?" Gerutu Trissya. Dengan ekspresi polos, Raefal menjawab, "Kamu mau mastiin aku baik-baik aja, kan? Jadi, aku harus nunjukkin tubuh aku yang gak ada luka sama sekali."
Trissya memundurkan wajahnya sambil menggerutu, "Gak perlu, gak perlu."
Raefal tertawa melihat kedua pipi Trissya memerah seperti tomat. Pria itu mengusap rambut Trissya dengan lembut. Gadis itu mendongkak menatapnya. Raefal mendekatkan wajahnya. Trissya membelalak. Semua hewan lagi-lagi menutup mata mereka.
Raefal mengecup bibir Trissya. Kehangatan memenuhi ruangan tersebut. Tidak ada perlawanan dari Trissya. Kini gadis itu menutup matanya merasakan ciuman itu.
♥♥♥
15.06 : 21 September 2019
By Ucu Irna Marhamah
Follow instagram dan Wattpad aku ya\, @ucu_irna_marhamah
Beli Ebook aku juga, yaaa...
__ADS_1