DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Deja Vu


__ADS_3

Deja vu, semua orang pasti pernah merasakannya (mengalaminya). Namun, ini bukan de javu. Ini benar-benar terjadi di masa lalu.


(Natrissya Virlin)


♥♥♥


 


 


Rasanya tubuhku begitu ringan, seperti melayang, atau mungkin mengambang. Kedua kelopak mataku terasa berat sekali. Telingaku tidak bisa mendengar apa pun. Terlalu sunyi. Benar-benar hening. Aku tidak bisa mendengar apa pun.


Apa aku sudah mati?


Ada sesuatu yang mengalir masuk memenuhi paru-paruku. Semakin aku mencoba bernapas, sesuatu itu terus masuk.


Apa aku berada di dalam air?


Aku terbatuk dan tenggorokanku terasa perih. Bersamaan dengan itu, kedua mataku terbuka lebar.


Aku benar-benar berada dalam air! Dan dari dalam sini, aku melihat sesuatu....


Bulan merah?


Meskipun aku berada di dalam air, aku masih bisa melihat langit, walaupun tidak terlalu jelas.


Tubuhku sepertinya sedang tenggelam di dalam sini. Makin lama, tubuhku makin tenggelam dan akan menyentuh dasar sungai ini.


Air semakin banyak masuk ke dalam tubuhku lewat hidung dan mulutku yang sedikit terbuka. Aku melihat bayangan yang berenang dari permukaan mendekatiku.


Aku berusaha melihatnya dengan jelas.


Pria....


Dia sudah berada di depanku. Sebelum punggungku menyentuh dasar sungai, pria itu meraih tanganku dan memeluk erat tubuhku. Dia berenang ke permukaan sembari membawaku.


Perlahan namun pasti, aku bisa melihat wajahnya.


Pria itu....


Raefal?


Dia masih hidup?


Kami sampai di permukaan.


"Huaaahhh!" Raefal mengambil oksigen sepuasnya. Sementara aku terbatuk-batuk sembari memeluk erat lehernya.


Ada Nayshilla di tepi sungai bersama Dry dan Idar. Mereka tampak cemas.


Raefal mengangkat tubuhku dan membawaku ke tepian. Aku menatapnya. Tidak berhenti menatapnya. Hatiku rasanya bergetar.


Apa aku sedang bermimpi, atau bagaimana?


Pria ini benar-benar Raefal. Aku sungguh mengenalnya, mana mungkin aku melupakannya?


Tatapannya, sentuhannya, dan sikapnya. Aku tahu betul dirinya.


Tubuhku di turunkan di atas rerumputan. Ketiga temanku segera menghampiri kami.


"Lo gapapa, Triss?" Tanya Nayshilla.


Rasanya kepalaku seperti memutar dua film sekaligus. Namun, aku tidak mengerti.


Nayshilla itu tidak lain Chilla. Dry adalah Adry, dan Idar itu Haidar. Ini seperti kebetulan.


Apa aku sudah terlahir kembali?


Apakah ini nyata?


Sebelum Raefal bangkit, aku meraih bahunya dan mengecup bibirnya. Mata kami bertemu. Kedua matanya melebar. Dia pasti terkejut dengan apa yang aku lakukan ini.


Terlalu spontan dan berani.


Aku yakin, teman-temanku jauh lebih terkejut melihat adegan ciuman itu secara langsung. Apalagi mereka tahu, aku tidak menyukai Rae sebelumnya.


Adry menutup kedua mata Chilla, sementara Haidar melongo, mulutnya menganga lebar. Aku melepaskan tautan bibirku. Kulihat Raefal masih terkejut dengan apa yang aku lakukan. Dia menatap tidak percaya ke arahku.


"Raefal, aku mencintaimu."


Dan... dia lebih terkejut... dia semakin syok. Tangan Raefal terangkat menyentuh bibirnya.


Mungkin ini adalah ciuman pertamanya, begitupun denganku. Ini ciuman pertamaku.


"Trissya... lo," Idar tidak melanjutkan kata-katanya. Dry melepaskan kedua tangannya dari mata Nayshilla.


"Untung aja gak sampe 5 menit Rae berani turun buat nyelametin lo, padahal sungai ini dalem banget. Kalo sampai lebih dari 5 menit, lo pasti udah kenapa-napa. Gua harus bilang apa sama orang tua dan kakak lo." Dry menggerutu kesal.


"Lain kali jangan membahayakan diri sendiri. Gimana kalo lo kenapa-napa cuma karena ngambil video buat konten youtube?!" Idar ikut memarahiku.


Lima menit?


Tapi, ingatan barusan... sepertinya ingatan barusan berputar dan terjadi selama berabad-abad di dunia drucless.


"Ya udah kali, lagian gua udah nyelametin dia. Kok, lo berdua yang ngegas?" Raefal menyahut, membuat lamunanku buyar seketika.


Dry angkat bicara untuk menengahi mereka, "Udah-udah, yang penting Trissya sama Rae gapapa. Kita balik ke tenda."


Aku melihat ke sekeliling. Aku mengenal tempat ini.


Sungai suci, sumber kehidupan para drucless. Bagaimana bisa kami berada disini? Itu artinya... kami terjebak di dunia drucless.


Raefal membelakangiku lalu berjongkok, "Naik."


Aku memundurkan wajahku. Tanpa mau berpikir lama, aku pun menerima tawarannya untuk di gendong.


Ketika kami kembali ke tenda, aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasi kami di belakang. Ketika aku menoleh, tidak ada siapa-siapa di belakang sana.


Angin semilir bertiup menerpa wajahku.


Aku memutuskan untuk mengabaikannya. Raefal yang menggendong tubuhku di punggungnya, tidak berbicara apa pun. Mungkin dia jadi canggung padaku, karena tadi aku menciumnya dengan tiba-tiba. Padahal biasanya dia aktif dan banyak bicara.


Kedua tangan ini tidak sedikit pun melonggarkan pelukan ke lehernya. Dalam posisi seperti ini, aku merasa deja vu. Aku pernah digendong Raefal di kehidupan sebelumnya.


Aku tersenyum lalu melelapkan daguku ke bahunya.


Pandanganku tertuju ke bulan merah.


Dewi Amiless?


Sesampainya di tenda, Dry dan Nayshilla memasak mie instan. Aku tidak mau jauh dari Raefal. Kami duduk bersebelahan.


"Kamu... tadi... beneran ngomong itu?" Tanya Raefal gugup. Aku menoleh padanya, "Ngomong yang, 'aku mencintaimu'?"


Muncul semburat merah di kedua pipinya. Aku tersenyum geli, dia seperti perempuan.


Raefal yang sekarang terlahir dengan begitu manisnya.


Tapi, aku mencinta dia apa adanya. Entah itu Raefal yang dulu, atau Raefal yang sekarang. Yang pasti, dia adalah Raefal yang aku kenal.


Aku mengangguk. Raefal menatap ke arahku dengan ekspresi tidak percaya, "Tapi, waktu itu... kamu bilang, aku bukan tipe kamu."


"Tapi, aku mencintai kamu jauuuuhh sebelum waktu itu. Hanya saja, aku telat mengingatnya, telat menyadarinya." Setelah aku berkata demikian, Raefal tampak berpikir. Mungkin dia sedang mencerna kata-kataku yang membingungkan.


Daeriel benar, meskipun Raefal terlahir kembali, dia terlahir dengan ingatan baru, dan semuanya juga baru. Kecuali wajahnya. Dia tidak akan ingat padaku.


Namun, Raefal juga benar. Meskipun dia terlahir kembali dengan ingatan baru, dia akan mencintaiku dengan perasaan barunya.


Ucapanmu tidak meleset, Raefal.


"Kenapa kamu cinta sama aku? Aku jadi bingung," tanya Raefal yang tampaknya masih meragukanku. Aku mengerti dengan perasaannya.


Aku tersenyum, lalu menjawab dengan santai, "Karena kau Raefal."

__ADS_1


Masih bingung dengan jawabanku, Raefal menatap penuh tanya padaku.


"Jika seseorang mencintaimu dengan tulus, dia tidak akan punya alasan untuk menjawab kenapa mencintaimu," kataku lagi.


Mendengar jawabanku, Raefal tersenyum sendu, "Aku tidak tahu, apa kamu lagi serius, atau bagaimana. Tapi, aku ngerasa seneng banget kamu bilang itu. Aku harap, kamu gak akan berubah pikiran."


Sedih sekali mendengar dia bicara seperti itu. Aku mengusap rambutnya dengan lembut, "Aku pernah berjanji untuk mencintai kamu di kehidupan manapun."


Idar mengumpat kesal, membuat perhatian kami berdua teralihkan padanya yang sedang merekam sekitar.


"Shit, kameranya mati." Idar merogoh tasnya untuk mencari baterai cadangan.


Aku jadi teringat sesuatu. Saat aku tenggelam di sungai itu, kameraku ikut jatuh dan tenggelam bersamaku. Bagaimana ini? Ada banyak hal yang tersimpan dalam kamera itu. Bisa-bisa aku rugi banyak.


"Aku bantuin mereka dulu, ya." Perkataan Raefal membuatku menoleh padanya. Setelah mendapatkan anggukkan dariku, Raefal berlalu membantu Dry dan Nayshilla.


Aku masih berpikir, jika kami sedang berada di dunia drucless. Jam tanganku menunjukkan pukul 9 malam. Aku yakin, jam 12 malam nanti, matahari di dunia drucless ini akan muncul.


Sebelum matahari muncul, aku harus menyuruh mereka tidur sesegera mungkin. Atau mereka akan menyadari adanya kejanggalan di tempat ini.


Aku merasa ada seseorang memperhatikanku. Bukan salah satu dari temanku. Tapi, seseorang yang tidak bisa aku lihat di sekitar sini. Aku mengedarkan pandanganku. Aku melihat ada seseorang yang bersembunyi di balik pohon besar di dekatku.


Namun, perhatianku teralihkan ketika Raefal kembali dan duduk di sampingku dengan dua kap mangkuk mie instan di tangannya. Dia memberikan salah satunya padaku.


Kami pun memakannya. Rasanya lezat sekali memakan mie instan yang panas di malam yang dingin seperti ini.


Aku harus menyuruh mereka tidur. Tapi, bagaimana caranya?


Tiba-tiba terdengar sesuatu seperti suara geraman hewan buas. Dry dan Nayshilla saling pandang. Idar menatap ke sekeliling dengan ekspresi horor.


Raefal bangkit, aku segera menggenggam tangannya.


"Kamu mau kemana?" Tanyaku cemas. Dia menjawab, "Aku harus ngecek suara itu."


Melihat aku menggeleng, Raefal kembali duduk di sampingku.


Nayshilla mengguncangkan lengan Dry, "Itu suara apa, Dry? Gua takut."


"Sebaiknya kita tidur saja. Bukankah kita butuh banyak tenaga buat besok pulang?" Kataku cepat. Untung saja, mereka mau mendengarkan ucapanku.


Aku bersama Nayshilla berada dalam satu tenda. Raefal bersama Idar dan Dry. Suara itu masih terdengar dan membuat kami benar-benar dalam ketakutan saat ini.


Bisa-bisa kami gila mendengar suara ini sampai besok. Nayshilla memeluk tubuhku. Aku menoleh padanya.


"Triss, gue takut. Kenapa kita gak milih tempat lain aja? Kenapa kita harus kesini? Kenapa kita dengerin Adry?" Bisik Nayshilla.


Aku membalas pelukannya, "Kita tidur aja, ya. Suara ini pasti hilang sendiri."


"Gimana bisa tidur, kalo kita terus-terusan denger suara ini?" Gerutu Nayshilla. Aku mendesis sembari menyimpan telunjuk di depan mulut.


Suara geraman itu terdengar lebih dekat dan semakin dekat.


Mataku bergerak dan tertuju ke bayangan besar di luar tenda. Aku merasakan tubuhku yang mulai merinding. Sosok besar itu menyerupai asap dengan dua lingkaran merah seperti mata.


Makhluk misterius itu.


Jantungku berdetak kencang saking takutnya. Kenapa dia datang di saat seperti ini? Apa yang harus aku lakukan?


Memangnya siapa yang mau mengalahkan dia? Tidak ada drucless di antara kami yang punya kekuatan untuk mengalahkan dia.


Sepertinya Nayshilla menyadari pandangan ketakutanku ke belakangnya. Dia menoleh dan melihat bayangan di luar tenda itu.


Dia membuka mulut akan berteriak. Namun, dengan cepat, aku membekap mulutnya.


Tiba-tiba angin kencang yang entah datang dari mana menerpa tenda kami. Angin yang tidak diundang itu membuat asap yang menggeram menakutkan itu menghilang.


Nayshilla menghela napas panjang. Keringat dingin mengalir membasahi dahi kami. Tak lama, Nayshilla sudah tertidur ditandai dengan napasnya yang mulai teratur.


Jam tanganku menunjukkan pukul 11.45 malam. Aku bergerak menaikkan selimut untuk membungkus seluruh tubuh ini.


Sekitar 15 menit lagi, matahari akan segera terbit. Aku sudah memperkirakan ini, karena tidak sebentar aku tinggal di dunia drucless. Semoga teman-temanku tidak menyadari kejanggalan ini.


Belum sampai 15 menit, cahaya jingga itu muncul dari belakangku. Aku berbalik dan menyingkap jendela tenda.


Siang hari di dunia drucless. Ya, itu sebabnya tidak ada pagi di sini. Bukan tidak ada, tapi pagi disini terlalu cepat tidak sampai 3 detik. Matahari akan melambat di waktu siang hari sampai sore hari.


Aku keluar dari dalam tenda dan melihat ke sekeliling. Rerumputan hijau yang segar terhampar luas. Bunga-bunga bermekaran membuat tempat ini seperti taman. Pohon-pohon juga tampak normal, tidak menakutkan seperti semalam.


Aku menghela napas berat dan mulai menyalakan api di tungku dadakan bekas semalam memasak air untuk menyeduh mie instan.


Aku akan memasak mie instan untuk sarapan.


Sembari menunggu air mendidih, aku duduk melamun. Aku masih berusaha mengingat semuanya. Hal yang aku lupakan, atau hal yang baru kuingat? Ah, aku bahkan tidak tahu dan tidak mengerti dengan semua ini.


Terlalu abstrak.


Pertanyaan yang masih sama, apa aku ini terlahir kembali?


Anehnya, kenapa bisa namaku dan nama mereka persis sama dengan nama di masa lalu? Setelah aku hitung, aku terlahir kembali setelah meninggal 30 tahun yang lalu. Jika di hitung di dunia drucless, berarti lebih dari 3000 tahun. Tapi, kakek Geross bilang, aku dan Raefal akan terlahir kembali setelah 100 tahun di dunia drucless. Seharusnya aku dan Raefal terlahir kembali 20 tahun yang lalu.


Ah, aku tidak mau banyak berpikir, yang penting aku sekarang bisa melihat Raefal masih hidup. Hal yang membuatku bahagia adalah mengetahui jika dirinya terlahir kembali sebagai manusia, bukan drucless.


Jadi, ada untungnya juga aku tenggelam di sungai suci. Aku jadi ingat semuanya. Hal yang tidak mungkin bisa diingat kembali. Aku merasa air dari sungai suci itu memberikanku ingatan yang baik.


Tapi, bagaimana cara kami keluar dari tempat ini? Ini bukan dunia manusia. Kelamaan kami tinggal di sini, kami akan kehabisan energi dan mati.


Aku mendengar suara dari belakang. Segera kutolehkan kepalaku. Sedikit terkejut melihat hewan-hewan lucu itu menatap heran padaku.


Mereka treteaa!


Aku tersenyum gemas sembari melambaikan tangan pada mereka. Namun, mereka malah berlari. Aku mengikuti mereka sembari melihat ke sekeliling.


Aku tahu jalan ini, rasanya pernah ke sini. Seseorang bersembunyi di balik pohon besar. Aku menoleh dan mencoba mendekat.


Angin menerpa wajahku. Gaun merah dari balik pohon tersebut berkelebat.


"Kamu siapa? Ngapain di sini?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.


Tidak ada jawaban. Sementara dia masih di sana.


Kedua mataku bergetar. Entah kenapa rasanya melesat menerkam hatiku. Tanpa sadar, aku memanggil sebuah nama.


"Laureen?"


Dia keluar dari persembunyiannya. Kedua mataku melebar. Dugaanku tidak salah. Dia Laureen. Aku tidak mungkin melupakan wajahnya. Meskipun sekarang dia terlihat lebih dewasa dan berkharisma. Dia tampak seumuran denganku.


Ada mahkota besar yang terpasang di atas kepalanya. Dia seorang ratu sekarang.


Senyuman cantik terukir di bibir indahnya. Sungguh dia sangat cantik seperti ibunya, Qwella.


"Aku tahu, malam itu kamu mengikuti kami sampai ke tenda. Aku bisa merasakan angin semilir yang menerpa wajahku. Itu bukan angin alam. Itu angin milikmu. Aku mengenalinya," kataku. Gadis cantik itu masih menatapku. Tampaknya dia belum mau menanggapi.


Aku melanjutkan kalimatku, "Ketika di tenda, ada makhluk misterius yang mendekati tenda kami. Tiba-tiba angin besar membuatnya menghilang. Itu juga karenamu. Kamu mengawasi kami selama kami berada di hutan ini."


"Itu karena aku takut Ibu kenapa-napa," kata Laureen. Sungguh aku terharu mendengarnya. Dia sungguh gadis yang sangat baik. Laureen masih menganggapku ibunya.


Aku melangkah mendekati gadis itu kemudian memeluknya. Kurasakan pelukan balasan dari Laureen.


"Terima kasih, Nak."


Setelah itu, kami memutuskan duduk bersebelahan dan saling menceritakan kehidupan masing-masing setelah kami berpisah.


"Aku sangat khawatir melihat mereka membawa tubuh ibu dari dalam sungai suci dalam keadaan tidak bernyawa," ucap Laureen dengan suara bergetar.


Laureen tampak cemas. Dia tidak berhenti menangis sejak kemarin. Para pasukan menemukan tubuh ratu mereka.


Trissya telah tiada.


Laureen membelalak kaget. Dia segera berlari ke tubuh yang sudah terbujur kaku itu.


"Ibu?!" Laureen mengguncangkan tubuh Trissya.


Daeriel memeluk putrinya. Dia melihat wajah damai Trissya yang menunjukkan senyuman bahagia.

__ADS_1


Trissya meninggal dalam keadaan yang bahagia. Senyuman terakhirnya itu tetap terlihat sampai upacara pemakaman.


Setelah semua penderitaan hidup yang diberikan Daeriel, Trissya menemukan kebahagiaannya dengan melepaskan diri darinya lewat menenggelamkan diri.


Kabar kematian ratu Natrissya menjadi kabar besar yang langsung tersebar ke penjuru dunia drucless. Semua orang turut berduka cita dan mendoakan yang terbaik.


Setiap hari Daeriel duduk di jendela tempat Trissya melamun. Pria itu melakukan hal yang sama seperti mendiang istrinya.


Melamun sembari menatap bulan merah.


Laureen juga merasa terpukul dan sedih. Namun, sepertinya rasa sedih Daeriel seolah jauh lebih besar.


Laureen sangat mencemaskan kesehatan ayahnya. Dia akan datang dan membawakan makanan.


"Ayah merasa sangat bersalah. Sampai akhirnya dia meninggal dan memberikan tanggung jawab kerajaan padaku," cerita Laureen.


Dia melanjutkan, "Aku pikir, Ibu tidak akan ingat masa lalu sebelum ibu bereinkarnasi."


Aku menghela napas panjang. Tiba-tiba aku merasa ada yang salah. Mendadak bulu kudukku merinding.


Jika Daeriel meninggal, itu artinya... dia bisa terlahir kembali sepertiku. Bagaimana ini? Bagaimana jika dia datang kembali ke hidupku?


Tapi, kemungkinan besar dia tidak akan ingat.


"Bagaimana dengan Ibu?" Pertanyaan Laureen membuatku tersadar dari lamunanku.


"Aku ingat semua ini setelah aku terjatuh dan tenggelam di sungai suci. Semua ingatan ini kembali," aku menjeda sejenak ucapanku, "aku merasa beruntung jika aku memang benar-benar terlahir kembali. Aku terlahir dalam keluarga yang bahagia dan kehidupanku yang sekarang lebih baik. "


Laureen mencerna ucapanku, lalu dia bertanya, "Apa Ibu meminta agar kutukanku dicabut?"


Dari mana dia tahu? Namun, aku mengangguk mengakuinya.


"Aku sangat berterimakasih untuk itu. Sekarang aku merasa bebas dari kutukan tersebut. Aku menjadi ratu yang dicintai rakyatku. Tidak ada yang takut padaku. Mereka menghormatiku. Kerajaan Zeroun tidak akan hancur," kata Laureen sembari melelapkan kepalanya di bahuku.


Aku tersenyum, "Itu karena Ibu sayang sama kamu."


"Trissya?!"


Mendengar suara seseorang memanggilku, aku menoleh. Nayshilla berdiri tidak jauh dari tempat duduk kami.


Aku menoleh ke samping. Namun, Laureen sudah tidak ada.


Nayshilla menghampiriku, "Trissya, lo lagi ngapain, sih? Jangan jalan-jalan sendirian. Nanti lo hilang lagi."


Dia menarikku untuk kembali ke tenda. Terlihat Idar sedang memasak mie instan dengan air yang sudah mendidih yang aku tinggalkan tadi.


"Lo pergi ninggalin api, bikin orang kaget aja," gerutu Idar.


Pandanganku tertuju pada Raefal dan Dry yang sedang melipat tenda dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Kita akan pulang malam ini," kata Dry. Aku menyahut, "Kenapa tidak sekarang? Mumpung cuacanya cerah. Kalo nunggu malam, kan, gelap. Nanti kita tersesat lagi."


Idar yang menjawab, "Pemandangan di sini keren pas siang sampe sore. Kita perlu buat bikin konten."


"Iya, kapan lagi kita ke sini," kata Dry. Aku dan Nayshilla saling pandang.


"Hutan ini menakutkan. Emang kalian gak takut? Semalam ada sesuatu yang berdiri di depan tenda kita. Gua hampir teriak karena takut. Gua mau pulang aja," kata Nayshilla setengah menggerutu. Tersirat ketakutan di wajahnya.


"Iya, gua juga mau pulang," kataku.


"Ya udah, kalian pulang aja sendiri," kata Idar.


Aku mengepal geram. Sikap Idar yang ini jauh berbeda dengan sikap Haidar di masa lalu. Aku kesal padanya.


Raefal yang sehari tadi tidak terlibat percakapan, memilih melihat jam tangannya. Aku mulai cemas. Di sini dia akan menyadarinya.


"Kayaknya jam tangan gua rusak, deh. Masa udah siang begini masih jam 6 pagi," kata Raefal. Aku menelan saliva.


Nayshilla melihat jam tangannya, "Kayaknya jam tangan gua juga rusak, deh. Kok, bisa samaan?"


Dry dan Idar memeriksa jam tangan mereka. Nayshilla menarik tanganku dan melihat jam tangan yang aku pakai.


"Jam di tangan kita menunjukkan waktu yang sama. Itu artinya jam kita gak rusak. Tapi," Nayshilla menggantung kalimatnya.


Aku berucap, "Gua udah bilang, kita harus pulang sekarang. Ada yang gak beres di hutan ini."


Tampaknya mereka mulai cemas, meskipun tidak ditunjukkan secara langsung.


"Ya udah, kita pulang." Dry mematikan tungku pembakaran.


"Trissya, kamera lo mana? Ada rekaman kita pas dateng ke sini," kata Dry. Aku jadi gugup. Kameranya terjatuh di sungai suci waktu aku tenggelam.


"Trissya?" Dry menjentikkan jarinya di depan wajahku. Aku gelagapan, "Kameranya tenggelam di sungai."


Idar menepuk dahinya menyalahkan kecerobohanmu. Dry menghela napas berat sembari membuang muka.


Aku merasa serba salah sekarang.


"Aku akan berenang ke sana dan mengambil kamera itu," kata Raefal.


Semua mata tertuju padanya.


"Lo yakin?" Tanya Dry. Raefal menoleh ke arahku kemudian kembali menatap Dry dan mengangguk.


"Rae, lo gak usah bela-belain Natrissya. Dia itu baik cuma karena lo udah nyelamatin dia semalem. Dia cuma manfaatin lo doang. Setelah kita keluar dari hutan ini, dia pasti jauhin lo lagi," kata Idar.


Ucapannya membuatku sangat tersinggung.


"Idar, hati-hati kalo ngomong," kata Dry. Idar membuang muka, "Dari dulu dia gak pernah suka sama lo, Rae. Gua sahabat lo yang udah cape sama perasaan lo yang masih aja fokus sama dia. Cewek banyak, Rae. Mereka lebih tulus sama lo."


Hatiku terluka mendengarnya. Apa selama ini aku sejahat itu? Menyakiti perasaan Raefal.


"Gua pergi ke sungai suci dan ambil kamera itu," kata Raefal tanpa memperdulikan kicauan Idar. Dia berlalu.


Aku menyusulnya, "Raefal!"


Pria itu menoleh padaku, "Kenapa ikut?"


"Emm, aku mau ikut," kataku.


Kami sampai di sungai suci. Raefal membuka jaket dan kaosnya. Dia melompat dan berenang ke dalam air. Aku merasa cemas dan menunggu di tepian.


Raefal kembali dengan kamera di tangannya.


"Ini anti air, kan?" Tanya Raefal. Aku mengangguk.


Raefal mengecek isinya, "Ah, kameranya masih merekam."


Aku menatap pria itu dengan serius, "Kenapa kamu bertahan sama perasaan kamu dari dulu? Padahal Idar bener, kamu bisa jalan sama cewek lain."


Perhatian Raefal tertuju padaku. Kini dia sedang menatap kedua mataku.


Dia terkekeh, "Kamu pernah bilang, 'Jika seseorang mencintaimu dengan tulus, dia tidak akan punya alasan untuk menjawab kenapa mencintaimu'. Aku rasa, itu juga berlaku untukku."


Aku mencerna ucapannya.


"Semenjak pertemuan pertama di SD, aku menyukaimu. Aku juga tidak tahu kenapa," kuatnya.


Raefal kembali berkata, "Aku merasa kalau kamu takdirku. Kita takdir, Natrissya."


Lagi-lagi aku merasa deja vu.


♥♥♥


 


 


12 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


 

__ADS_1


 


__ADS_2