![DRUCLESS [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/drucless--sudah-terbit-.webp)
~Who are you? Demon to some, Angel to others?~
♥♥♥
Hari mulai malam, Raefal menutup mini market dan berlalu ke tempat parkir. Dia menaiki motor kemudian memakai helm. Pria itu melihat Adry yang melajukan mobil kearahnya. Kaca mobilnya turun disusul kepala Adry yang nongol, "Raefal"
Raefal tersenyum ramah pada atasannya di dunia manusia itu, "Bang Adry?"
"Pulangnya kemana?" Tanya Adry sambil memperhatikan motor Raefal. Pria itu ikut memperhatikan motornya sendiri, "Ke tempat kos."
Adry mengangguk, "Ooohh, hati-hati di jalan, ya. Belakangan ini sering terjadi kecelakaan."
Raefal mengangguk mengerti, "Iya Bang, mari." Saat Raefal menghidupkan motornya, Adry memanggilnya lagi.
"Raefal, tunggu."
Pria itu kembali menoleh padanya, "Iya, Bang?"
"Kamu suka sama Natrissya?" Tanya Adry dengan ekspresi penasaran. Raefal diam sejenak tanpa ekspresi. Dia tersenyum, "Trissya cewek yang baik."
Tidak mendapatkan jawaban sesuai harapan, Adry kembali bertanya, "Kamu udah kenal lama sama dia?"
"Emm, iya lumayan." Raefal memasang ekspresi berpikir. Adry mengangguk paham, "Saya suka sama Trissya, saya harap kamu mengerti."
Raefal terkejut dengan pengakuan Adry yang mendadak. Tanpa menunggu respon dari Raefal, mobil Adry melaju pergi.
Adry melihat Trissya sedang berdiri di tepi jalan untuk memberhentikan taksi. Pria itu tersenyum sambil menepikan mobilnya. Trissya menoleh.
"Aku anter pulang, ya."
Trissya tampak berpikir. Pria itu membukakan pintu, "Ini udah malem."
Akhirnya Trissya menurut. Dia memasuki mobil Adry. Sesampainya di rumah, Trissya menyalakan kompor untuk memasak air. Dia merebahkan tubuhnya ke sofa sambil mendesah pelan. Hari yang melelahkan plus menyebalkan karena bertemu dengan Raefal, pria yang harus dia hindari.
Setelah mendengar suara air mendidih, Trissya segera bangkit dan memasak mie instan. Tidak tanggung-tanggung, gadis itu memasak 3 bungkus mie sekaligus.
Gadis itu mengaduk mie sambil mengoceh sendiri, "Apa pun bisa terjadi ketika lapar. Yang sulit itu bukan menurunkan berat badan, tapi menambah tinggi badan."
Kau benar, Trissya. Terbukti dengan ukuran badanmu.
Gadis itu menyajikan mie tersebut ke piring. Ketika berbalik, dia tersentak kaget dengan keberadaan Raefal.
"Aaaa!!! Ngapain kamu!" Teriak Trissya. Raefal menutup kedua telinganya, "Jangan lebay!"
Trissya menengadah ke atas, "Ya Tuhan, apa salah hamba-Mu ini? Kenapa Kau mengirimkan makhluk sejenis dia ke dalam hidupku?"
Raefal memutar bola matanya, "Kenapa malah ngeluh? Sekarang buka baju kamu."
Trissya meletakkan piring dengan kasar dan menatap kesal pada Raefal, "Kamu mau ngelakuin itu lagi biar dapet energi? Dasar drucless mesum! Pergi sana!"
Raefal tampak berpikir, "Ide yang bagus."
Trissya membelalak. Dia mengambil sapu dan memukul Raefal. Pria itu menghindar.
"Pergi sana! Pergi!" Teriak Trissya tanpa mau berhenti memukul Raefal. Pria itu bahkan lupa, jika dia bisa saja berteleportasi untuk menghindari amukan gadis manis itu
"Aku bilang buka baju, bukan buka celana, kan?!" Gerutu Raefal sambil memegang sapu yang terus-menerus memukulinya. Trissya menarik sapu itu, Raefal juga tidak mau kalah.
"Sama aja! Sana pergi!" Teriak Trissya. Raefal melepaskan sapunya, alhasil Trissya terlepas dan kepalanya berbenturan dengan lemari dapur.
Raefal terkejut dan segera menghampiri Trissya yang meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Trissya? Maafin aku."
Gadis itu meringis dengan air mata mengalir membasahi pipinya. Raefal menyentuh bagian kepala yang terbentur itu. Matanya berubah menjadi biru. Trissya merasakan kepalanya sedikit dingin. Dia mendongkak menatap Raefal yang terlihat serius.
Perlahan rasa sakit itu menghilang. Raefal dan gadis itu saling pandang. Trissya menepuk pipi Raefal dengan kasar membuat pria itu terkejut. Matanya berubah jadi abu-abu.
"Tukang cari masalah!" Gadis itu bangkit sambil membenarkan sapu. Raefal menarik lengan Trissya dan menurunkan kerah gadis itu sehingga tiga kancing teratasnya copot. Bahu polos Trissya terekspos jelas. Trissya terkejut dengan aksi Raefal. Dia segera menutupi dadanya.
Pria itu melihat bekas tangan Daeriel di bahu Trissya. Gadis itu juga terkejut karena baru menyadarinya. Raefal mengusapnya sampai menghilang.
Di istana Zeroun,
Daeriel yang tertidur dengan tubuh topless membuka matanya. Dia bisa merasakan keberadaan adiknya di dekat Trissya. Pria itu menoleh pada Qwella yang tertidur di sampingnya dengan keadaan topless juga.
"Raefal menghapus bekasku."
Balik lagi ke dunia manusia,
Trissya segera menutup bahunya sambil bertanya dengan ekspresi was-was, "Sekarang gak ada bekas lain, kan?"
Raefal memperhatikan Trissya yang sedang mengancing bajunya. Gadis itu melirik sekilas padanya, "Ngapain lihat-lihat!"
Raefal memundurkan tubuhnya, "Emangnya kenapa? Aku pernah lihat kamu lebih dari ini, kok."
Trissya melotot pada Raefal sambil berteriak, "Lupain itu!"
"Lupain? Enak aja, mana bisa aku ngelupain kejadian menyenangkan itu?" Gerutu Raefal. Trissya mendelik frustasi, "Minggir."
Gadis itu mengambil piring berisi mie instan kemudian berlalu. Raefal menyusulnya.
Raefal memperhatikan Trissya yang sedang makan mie instan. Tampaknya pria itu juga kelaparan. Trissya menyadarinya. Ada rasa kasihan yang timbul di hati Trissya. Gadis itu memberikan garpu pada Raefal. Mereka berdua makan dalam satu piring.
"Aku kira, drucless gak makan makanan manusia," ucap Trissya. Raefal menoleh pada gadis itu, "Apa bedanya? Aku bukan hantu."
"Iya, aku tahu."
Ponsel Trissya berdering. Gadis itu menoleh dan mengambilnya dari meja. Ternyata pesan dari Alma.
Trissya, bsk kita cuti. Bu Tari sm kak Adry mau ke pernikahan sodaranya.
Trissya menyimpan kembali ponselnya.
"Kamu mau terus disini? Kapan kamu mau pergi?" Gerutu Trissya sambil menatap malas pada Raefal. Pria itu menggeleng, "Aku gak mau pergi. Aku mau disini."
"Setelah makan, kamu harus pergi. Aku gak mau kamu ngapa-ngapain aku lagi," gerutu Trissya. Raefal menggeleng, "Lagian kesucian kamu balik lagi, kan?"
Trissya memutar bola matanya kesal mendengar kalimat vulgar dari mulut Raefal.
Raefal menatap Trissya, "Emangnya kamu mau aku beneran pergi?"
"Iya, bangeeeet."
"Kalo aku pergi, kamu gapapa sendiri?"
Trissya mengerutkan keningnya, "Ya, gapapa... orang aku juga biasanya sendiri."
"Pokoknya aku gak mau pergi," kata Raefal bersikukuh.
"Emangnya kamu mau ngapain disini?" Gerutu Trissya.
"Aku suka sama kamu."
Trissya membeku. Raefal tersenyum sambil meminum air lalu bangkit menghampiri Trissya. Gadis itu masih terdiam. Raefal berdiri di belakang Trissya. Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Trissya seraya berbisik, "Aku suka sama wajah kamu, sikap kamu, dan... tubuh kamu."
Trissya menepuk pipi Raefal dengan cukup keras, "Jangan macam-macam!"
Raefal meringis sambil mengusap kepalanya, "Aku bercanda, kok. Galak banget, sih, jadi manusia."
"Kamu juga! Mesum banget, sih, jadi drucless!" Trissya mendorong wajah Raefal agar menjauh darinya.
"Kalo aku pergi, emangnya kamu gak takut sama Daeriel? Gimana kalo tiba-tiba dia dateng dan ngapa-ngapain kamu?" Raefal memprovokasi Trissya. Jangan lupakan ekspresi menakut-nakuti dari wajahnya. Trissya tampak berpikir.
Raefal tersenyum geli melihat perubahan ekspresi wajah Trissya. Tampaknya gadis itu mulai termakan omongan Raefal. Pria itu kembali berbicara, "Waktu itu, kamu sama aku ke tempat dia. Aku mukul kepalanya biar pingsan. Dan dia lihat kamu sampe-sampe dia datengin kamu malem-malem. Gimana kalo dia datengin kamu lagi? Daeriel itu penjahat kelamin."
"Lagian itu kamu yang nyuruh! Terus, kamu yang mukul kepala dia. Aku gak ngelakuin apa-apa," gerutu Trissya. Raefal tersenyum horor, "Tetep aja kamu terlibat."
Trissya tampak panik. Raefal berlalu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Trissya menatap punggung pria itu.
"Raefal, kamu mau kemana?"
Pria itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh, "Pergi, kamu pengen aku pergi, kan?"
Trissya menggigit bagian bawah bibirnya, "Emm, jangan pergi."
__ADS_1
Raefal tersenyum ceria. Trissya bangkit dan menghampiri pria itu. Dia menepuk-nepuk punggung Raefal.
"Aku takut sama Daeriel. Kamu jangan pergi, ya."
"Oke," jawab Raefal sambil berbalik dan tersenyum tampan. Trissya menunjukkan senyuman kaku. Pria itu memeluk Trissya membuat gadis itu terkejut. Ketika Trissya akan membalas pelukan Raefal, pria itu lebih dulu melepaskan pelukannya dan menepuk-nepuk pipi Trissya.
"Aku bakalan jagain kamu, gadis kecil."
"Tapi, kamu gak bakal ngapa-ngapain, kan?" Tanya Trissya menyelidik. Raefal tampak berpikir sambil menelisik tubuh Trissya dari atas ke bawah dan sebaliknya, "Lagian kalo aku ngapa-ngapain kamu, ya... gak ada ngaruhnya, kan? Meski kita lakuin berkali-kali, kamu bakalan balik lagi kayak semula."
Trissya memukul dada Raefal dengan cukup keras, "Mesum! Itu artinya aku terus-terusan kesakitan karena kelakuan kamu!"
"Ya... makanya... emm... nikmati aja," ujar Raefal dengan tampang tak berdosa.
"Aarrgghh! Bisa gila aku!"
~
Trissya masih setia dengan tempat tidurnya. Aroma masakan membuat gadis itu tergoda untuk membuka mata. Trissya bangkit dan berjalan menuju dapur. Dia melihat Raefal memasak banyak sekali makanan. Dia tidak mengira makhluk sejenis Raefal bisa memasak.
"Wah, banyak banget makanannya!" Trissya menghampiri pria itu. Raefal menoleh sambil terkekeh kecil, "Kamu tukang tidur. Jam segini baru bangun."
Trissya cemberut karena kritikan Raefal. Dia menyikut lengan Raefal dengan kasar, "Lagian hari ini cuti. Bebaslah mau bangun jam berapa juga."
Raefal menggeleng dengan jawaban Trissya.
"Eh, kamu dapet makanan sebanyak ini dari mana?" Tanya Trissya. Raefal mengedikkan bahunya, "Lemari dapur."
Trissya terkejut, "Hah?! Itu, kan, persediaan makananku selama sebulan penuh! Kamu masak semua?"
Raefal berpikir sejenak kemudian menoleh pada Trissya sembari mengangguk. Gadis itu menepuk dahinya sendiri, "Ah, sial!"
Raefal menunjukkan jari telunjuknya, "Gadis kecil gak boleh mengumpat."
Trissya berlalu sambil bersungut-sungut. Dia duduk di meja makan dan menggelinjang kesal. Raefal terkekeh kecil melihat tingkah kekanakan gadis itu.
"Kenapa kamu gak makan di kerajaan kamu aja? Di istana pasti banyak makanan," gerutu Trissya. Ekspresi Raefal berubah sendu setelah mendengar pertanyaan Trissya.
Gadis itu melirik Raefal yang tidak meresponnya. Trissya menghampiri Raefal dan mendekatkan wajahnya melihat ekspresi Raefal.
"Kamu nangis? Eh, maafin aku." Trissya mengusap lengan Raefal. Pria itu menoleh padanya, "Aku gak lebay, tahu!"
Trissya mencubit lengan Raefal membuat pria itu meringis dan menjauhkan tangan jahat itu darinya.
"Gak jadi minta maafnya!" Gerutu Trissya. Raefal mematikan kompor dan menoleh pada Trissya, "Kenapa, sih, kamu sering banget mukul sama nyubit?!
"Aku gemes sama kamu. Tanganku gatel pengen cakar-cakar kamu!" Jawab Trissya sambil menunjukkan kukunya dan memperlihatkan ekspresi monster kucing. Raefal menepuk jidat Trissya, "Gadis kecil oon!"
Pria itu berlalu.
"Raefal!!!!"
~
Trissya mengayuh sepedanya dengan santai. Pagi ini dia ingin pergi ke pasar untuk membeli persediaan makanan yang habis dimasak Raefal.
Trissya merasa beban kayuhan sepedanya semakin bertambah. Dia tidak tahu ada Raefal yang duduk di belakangnya. Pria itu tersenyum geli. Trissya sedikit menoleh dan terkejut karena dirinya tengah membawa Raefal. Gadis itu menghentikan sepedanya.
"Ngapain juga kamu ngikutin aku? Kenapa gak diem di rumah aja, sih?" Gerutu Trissya. Raefal tampak berpikir, "Aku pernah bilang kalo aku pengen jagain kamu, bukan jagain rumah kamu, kan?"
"Turun, gak?" Ancam Trissya. Raefal memeluk perut rata milik Trissya sambil melelapkan kepalanya ke punggung gadis itu, "Gak mau."
Trissya memutar bola matanya kesal, "Ini orang nyebelin banget."
"Aku bukan orang, kamu juga tahu."
"Iya, lagian mana ada jenis manusia yang kayak kamu."
Raefal menepuk bokong Trissya, "Minggir, aku aja yang kayuh sepedanya."
"Iya, tapi gak usah pegang-pegang juga!" Gerutu Trissya sambil turun. Raefal bergeser ke depan, "Pegang dikit aja, padahal waktu itu aku pernah 'makan' kamu."
"Aku gak denger!" Suara Trissya berdenging di telinga Raefal. Pria itu tersenyum geli. Trissya duduk di belakang Raefal. Pria itu mengayuh sepeda dengan hati-hati.
"Kamu bisa bawa sepeda, gak, sih?" Gerutu Trissya.
Sepedanya sedikit berguncang. Trissya semakin erat memegang pinggang Raefal. Sementara pria itu tersenyum senang. Trissya melepaskan pegangannya.
"Jatoh, nih! Jatoh!" Kata Raefal sambil menggoyangkan stang sepeda. Trissya kembali berpegangan pada pinggang Raefal yang tertawa lepas.
Sesampainya di pasar, mereka berdua membeli sayuran dan bahan makanan lainnya. Raefal memilih daging-daging yang tampak begitu segar dalam pendingin. Trissya memperhatikan apa yang dilakukan Raefal.
"Wah, jarang ada suami yang mau nemenin istrinya belanja," kata penjual daging. Trissya dan Raefal menoleh kemudian saling pandang.
Ibu-ibu pembeli ikut menimpali, "Iya, kalian beneran pasangan yang serasi, deh. Cantik dan ganteng, kayak artis."
Trissya menunduk malu. Raefal tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Selesai dengan belanjaan, Raefal kembali mengayuh sepeda dengan Trissya yang duduk di belakangnya. Pria itu bersenandung kecil, "Hem... hemm... hemmm..."
Trissya merasa nyaman dengan suara Raefal. Dia melelapkan kepalanya ke punggung pria itu dan tertidur. Raefal sedikit menoleh, "Hati-hati jatuh."
Trissya kembali terbangung lalu tersenyum kecil, "Ada kamu yang jagain aku. Kamu gak akan biarin aku jatuh, kan?"
Raefal mengangguk sambil terkekeh pelan, "Aku lebih suka lihat kamu jatuh..." Trissya mengerutkan keningnya, ".... jatuh ke tempat tidur dan..."
Pukulan keras diterima Raefal. Bukannya merasa sakit, pria itu malah tertawa keras. Trissya kembali melelapkan kepalanya dan tertidur.
"Jangan tidur," gerutu Raefal.
Tidak ada jawaban. Raefal menghela napas panjang, "Ah, ya udah."
"Hem... hemm... hemmm...."
Sesampainya di kontrakan, Trissya tersentak karena Raefal menghentikan sepedanya. Gadis itu turun sambil membawa semua belajaan ke dalam rumah dengan sempoyongan karena baru setengah sadar. Raefal yang melihat itu hanya menggeleng pelan.
Raefal membantu Trissya membereskan semua bahan-bahan itu ke lemari dapur. Tiba-tiba pintu kontrakannya diketuk. Trissya dan Raefal menoleh.
"Siapa?" Tanya Raefal. Trissya menggeleng kemudian melangkah menuju pintu.
Ketika pintu dibuka, Trissya terkejut karena Adry datang dengan setelan jas yang rapi. Pria itu melihat pakaian rumahan yang dipakai Trissya.
"Kak Adry?" Tanya Trissya.
"Oh iya, kamu mau ikut ke pernikahan sepupu aku, gak?" Tanya Adry. Trissya mengernyit bingung, "Aku?"
"Iya," Adry mengangguk. Trissya tampak berpikir. Dia menoleh ke belalang. Tidak ada Raefal disana.
"Ada orang di dalam?" Tanya Adry. Trissya menggeleng, "Emm, maaf Kak... aku gak bisa."
"Kenapa? Aku udah bilang sama tante Tari biar ajakin kamu sekalian. Kamu dandan yang cantik, ya. Aku tunggu disini." Adry mengusap rambut Trissya membuat gadis itu canggung.
"Maaf, tapi aku gak bisa. Kakak sama bu Tari aja."
"Aku mau kamu ikut. Sekali ini aja, ya. Ikut, ya."
Trissya ragu.
"Please, ikuuutt...."
Akhirnya Trissya mengangguk pelan sambil memasuki kamarnya. Adry menepuk tangan semangat sambil tersenyum.
Trissya sedikit tersentak dengan keberadaan Raefal di kamarnya.
"Kamu mau pergi?" Tanya Raefal.
"Iya," jawab Trissya sambil membuka bajunya. Raefal mengalihkan pandangannya kearah lain sambil sesekali meliriknya.
"Biasanya kamu malu buka-bukaan gitu," kata Raefal setengah bertanya. Trissya mendengus pelan, "Lagian kamu gak bakalan keluar dari kamar ini meski aku teriak-teriak histeris."
Raefal berpikir sejenak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, "Bener juga, sih."
Trissya menebarkan minyak wangi ke tubuhnya, "Aku pergi, ya."
Raefal mencekal lengan Trissya, "Kamu serius mau pergi sama dia?"
__ADS_1
Trissya mengangguk ragu, "Dia agak maksa."
"Ya, kamu tolak aja."
"Aku gak enak."
Trissya berlalu. Raefal melihat mobil Adry melaju pergi membawa Trissya. Ada rasa kesal di hatinya melihat mereka berdua pergi bersama.
Sesampainya di pesta pernikahan, Adry bersama Trissya menjadi pusat perhatian para tamu. Trissya merasa canggung karena pesta pernikahan mewah itu bukan tempat untuknya yang merupakan gadis sederhana.
Adry memperkenalkan Trissya ke para tamu. Gadis itu semakin canggung.
Ketika mereka menemui pasangan pengantin, Trissya menunduk dalam. Pasangan itu melirik tidak suka padanya. Trissya menyadari itu.
"Mas, Mbak, ini Trissya temen aku."
Keduanya melihat Trissya dengan sinis. Gadis itu mengangguk hormat. Pengantin wanita mengalihkan pandangannya, "Aku pernah lihat dia di mini market kamu."
"Oh dia pegawai mini market, ya?" Tanya pengantin pria. Trissya merasa sedikit tidak nyaman dengan perkataan mereka. Adry merasa tidak enak pada Trissya.
"Maaf," ucap Trissya sambil berbalik, namun Adry menahannya dan berkata, "Trissya, mereka hanya..."
"Permisi." Ucapan Adry terpotong karena Trissya memilih pergi.
Gadis itu berjalan sambil sesekali menghentakkan kakinya. Dia melihat ada bangku yang kosong. Dengan sisa rasa kesal, dia duduk disana sambil menopang dagu.
"Lagian kak Adry ngapain ngajakin aku ke tempat itu! Udah tahu aku ini cewek miskin!" Gerutu Trissya.
"Kamu ngomong sama siapa?"
Trissya terhenyak dengan keberadaan Raefal yang tiba-tiba. Pria itu tengkurap sambil menopang dagu di bangku yang sama. Dia menatap Trissya.
Gadis itu mengusap dada untuk menetralisir rasa keterkejutannya. Ya, walaupun tidak berpengaruh banyak.
"Aku ngomong ke diri aku sendiri," ucap Trissya. Raefal membenarkan posisinya menjadi duduk tegak, "Sekarang ada aku. Kamu ngomong aja ke aku."
"Gak mau, ah."
"Kenapa?"
"Gak nyambung kalo ngomong sama kamu."
Hening.
Trissya menoleh pada Raefal yang masih menatapnya. Pria itu tersenyum, "Kita jalan-jalan aja, yuk."
"Kemana?"
"Kamu maunya kemana?"
"Emangnya kamu punya uang?"
Raefal tertawa sarkas, "Enggak, sih."
Trissya juga tertawa. Gadis itu memiringkan kepalanya sambil memperhatikan Raefal, "Kamu itu aneh, ya. Kadang kamu nyeremin, kadang kamu lucu dan baik banget."
Raefal menatap Trissya dengan serius. Gadis itu memundurkan wajahnya.
"Kamu suka aku yang gimana?" Tanya Raefal. Trissya menyimpan telunjuknya di dagu menandakan dia sedang berpikir.
"Aku suka kamu yang ini. Konyol, aneh, jahil, nyebelin, tapi baik."
Raefal mengangguk paham, "Sebenarnya sifat asliku adalah malam itu."
Trissya sedikit cemas mendengar pengakuan Raefal. Dia sedikit menggeser duduknya agar menjauh dari Raefal.
Pria itu menengadah menatap langit yang cerah, "Aku bukan drucless yang baik. Aku rasa, emang gak ada drucless yang baik di dunia kami."
Menyadari ketakutan yang dirasakan Trissya, Raefal menoleh sambil tersenyum hangat.
"Tapi, gak tahu kenapa... aku bisa konyol kalo sama kamu."
Kedua alis Trissya terangkat. Raefal terkekeh melihat ekspresi lucu gadis di depannya itu. Dia menepuk dahi Trissya.
"Gadis kecil, kamu yang bikin aku jadi aneh gini."
Trissya mengusap dahinya sambil cemberut kesal.
Raefal bangkit dari tempat duduknya, "Jadi, gak?"
"Jadi apanya?"
"Jalan-jalan."
"Emangnya kamu punya uang dari mana? Kerja aja baru sehari."
"Ada kas kerajaan."
"Eh?"
"Aku pernah bilang, kalo aku bukan drucless yang baik, kan?"
"Jadi, kamu mau korupsi?!"
"Enggak jadi, deh."
~
Raefal dan Trissya memilih untuk jalan-jalan di tepi pantai sore harinya. Mereka masing-masing membawa cotton candy berwarna merah muda. Mereka menyaksikan sunset yang perlahan tenggelam membuat pemandangan laut sore hari semakin indah. Angin bertiup menerpa mereka berdua.
"Hem... hemm... hemmm...." Raefal begumam setengah bersenandung. Trissya memiringkan kepalanya bersandar pada bahu Raefal, "Kamu sering menyenandungkan nada-nada itu. Aku jadi ngantuk."
Raefal menarik napas sejenak, "Waktu aku sama Daeriel masih kecil, ibu sering menimang kami dengan lagu ini. Aku udah lupa liriknya."
Trissya menutup matanya perlahan, "Kalian punya masa lalu yang indah, harusnya kalian punya masa depan yang indah juga."
Raefal menggeleng pelan, "Sejak kecil, Daeriel benci sama aku. Dia selalu ngira kalo aku ini suka ngerebut apa yang dia punya."
Sunyi.
Raefal dan Trissya saling pandang kemudian tertawa. Langkah mereka terhenti keduanya memutuskan untuk duduk di atas pasir lembut itu. Ombak kecil menyapu pantai dan meraih kaki mereka berdua.
"Aku gak nyangka, ada makhluk sejenis kamu di dunia ini," kata Trissya.
"Ada banyak hal yang belum kamu ketahui di dunia ini. Semuanya seperti semu untuk dipahami."
Kata-kata Raefal sangat dalam. Trissya menengadah merasakan angin yang terus-menerus menerpanya. Raefal melihat wajah Trissya tampak cantik ketika terpejam seperti itu. Pria itu mendekat dan mengecupnya pipi gadis itu sekilas.
Trissya terhenyak dan menoleh. Raefal sudah tidak ada. Gadis itu menyentuh pipinya sambil berdiri dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia melihat Raefal melambaikan tangannya di kejauhan.
"Natrissya!"
Gadis itu menghentakkan kakinya karena kesal, "Raefal Zeroun! Aku akan menghabisimu!"
Trissya berlari menghampiri Raefal. Pria itu tidak menghindar. Justru dengan senang hati, dia menerima pukulan dari Trissya.
♥♥♥
22.00 : 18 September 2019
By Ucu Irna Marhamah
Hai Follow Instagram dan Wattpad aku, yaaa
@ucu_irna_marhamah
Cek cerita aku di Ebook ya.
__ADS_1