DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Milik Daeriel


__ADS_3

~Apa yang aku lakukan padamu adalah tergantung apa yang kamu lakukan padaku, paham?~


(Natrissya Virlin)


 


 


♥♥♥


 


 


Laureen melihat Trissya dan Daeriel melewati kamarnya. Gadis kecil itu segera menghampiri mereka.


"Ayaaah!"


Daeriel menoleh. Kedua mata pria itu berwarna merah gelap. Laureen terkejut dan mundur. Gadis kecil itu menoleh pada Trissya yang memiliki warna mata serupa. Terdapat segel drucless milik ayahnya di leher Trissya.


"Ayah, kenapa Ayah mengendalikan pikilan dia?" Tanya Laureen dengan ekspresi sedih. Mendengar pertanyaan putrinya, Daeriel segera mengubah warna matanya dengan berkedip beberapa kali. Tubuh Trissya terhuyung. Pria itu segera menangkapnya. Trissya pingsan karena Daeriel terlalu lama mengendalikan pikiran wanita itu.


Laureen mendekati mereka. Dia tampak cemas dan bertanya, "Ayah jahatin ibu?"


Daeriel memundurkan kepalanya mendengar Laureen yang memanggil Trissya dengan sebutan 'ibu'. Gadis kecil itu memegang tangan Trissya dan mengguncangkannya.


"Laureen, dia bukan ibu kamu, Sayang." Daeriel menggendong tubuh Trissya dan membawanya ke kamar. Laureen menyusul sambil tetap melihat wanita itu dari jarak dekat.


Daeriel memperhatikan putrinya yang tampak begitu penasaran. Laureen melihat wajah Trissya yang tampak tenang. Wajah mereka begitu dekat, kelihatannya seperti Laureen mau mencium Trissya.


Daeriel terkekeh pelan, "Laureen sayang, wanita itu berbahaya. Jangan dekati dia."


Gadis kecil itu segera menjauhkan wajahnya dari Trissya. Dia menatap sang ayah.


"Ayah bohong, kan?"


"Dia bukan dari bangsa kita. Dia wanita dari bangsa manusia," ucap Daeriel. Laureen tampak berpikir. Dia menyentuh wajah Trissya dengan tangan mungilnya.


"Wajahnya sepelti ibu," kata Laureen sambil tersenyum senang. Ekspresi itu membuat Daeriel merasa sedih.


"Laueen seling mimpi beltemu dengan ibu. Wajahnya sepelti ini." Laureen menatap ayahnya dengan ekspresi penuh keyakinan.


"Laureen, dia bukan ibu kamu, nak. Kamu gak percaya sama Ayah?" Daeriel meyakinkan putrinya.


"Telus ibu Laueen siapa? Ayah pelnah bilang, ibu Laueen adalah pelempuan yang waktu itu. Tapi, dia jahat mau lukain Laueen." Perempuan yang dimaksud oleh Laureen adalah Qwella, ibu kandungnya.


Daeriel menghela napas berat, "Oke, terserah kamu. Tapi, kamu jangan dekat-dekat sama dia, ya."


Laureen cemberut kesal, "Kenapa?"


Ayah takut... jika Natrissya akan membalas dendam karena Ayah telah membunuh bayinya. Ayah tidak ingin dia melukai kamu, batin Daeriel.


"Ayaaah." Laureen mengguncangkan tangan ayahnya yang sedang melamun. Daeriel mengusap rambut putrinya, "Laureen anak baik, kan? Jadi, Laureen harus nurut sama Ayah."


Laureen mengangguk lemah, "Laueen boleh ngomong sama ibu, kan?" Gadis kecil itu membiasakan dirinya memanggil Trissya dengan sebutan ibu.


Daeriel tampak berpikir. Dia menghela napas berat sembari menggeleng, "Jangan, nanti dia marah. Kalo dia marah, itu berbahaya. Dia seperti singa betina. Tadi saja dia mau memotong lidah para raja yang datang ke pertemuan."


Laureen mendelik tidak percaya pada ayahnya. Daeriel tersenyum kaku.


"Ini sudah malam," ucap Daeriel sembari mengangkat tubuh kecil Laureen dan membawanya ke kamar putrinya. Dia menidurkan Laureen kemudian menyelimutinya.


"Selamat malam, Putri Laureen." ucap Daeriel kemudian mengecup kening putrinya. Laureen mengangguk pelan, "Selamat malam."


Daeriel kembali ke kamarnya. Dia melihat Trissya masih belum sadar. Pria itu menutup pintu lalu duduk di tepi ranjang sembari memperhatikan tubuh Trissya yang terbaring di atas tempat tidurnya.


Wanita itu telah resmi menjadi istrinya.


"Trissya, apa kamu mau pingsan terus?" Daeriel menyentuh tangan istrinya yang terasa panas. Pria itu mulai khawatir. Dia menyentuh dahi Trissya. Wanita itu tampaknya demam.


Daeriel memanggil beberapa tabib untuk memeriksanya. Ternyata Trissya memang sedang sakit. Daeriel menghela napas berat.


~


Di perbatasan dunia drucless, Dharaa keluar dari gubuk sembari merentangkan kedua tangannya merasakan kesejukan pagi.


Wanita itu bergumam sendiri, "Tidak ada tempat yang indah di dunia drucless, selain pagi hari di perbatasan."


Terlihat dua prajurit berkuda mendatangi tempat itu. Dharaa mengerutkan keningnya, "Itu pasukan raja Daeriel? Ada apa mereka kemari? Bukankah kita sudah menguburkan mayat-mayat itu dengan layak?"


Mereka berdua menghampiri Dharaa, "Raja Daeriel Amzar Zeroun memerintahkan kami untuk membawamu."


"Aku? Apa aku berbuat salah?" Tanya Dharaa panik. Kedua prajurit itu saling pandang, "Kami tidak tahu. Kami hanya menjalankan perintah."


Geross datang menghampiri mereka, "Dharaa, ada apa ini?"


Kedua prajurit itu membungkuk hormat pada Geross, "Kami diperintahkan oleh raja Zeroun untuk membawa Dharaa."


Dharaa dan Geross saling pandang. Pria tua itu mengangguk, "Pergilah."


~


Sesampainya di istana Zeroun, Dharaa terkejut melihat keberadaan Trissya di kamar Daeriel dalam keadaan tidak sadarkan diri. Padahal dia sudah mendengar kabar pernikahan Daeriel dengan Trissya. Namun, dia masih belum percaya jika Daeriel benar-benar merebut Trissya dari Raefal.


Laureen memasuki kamar ayahnya. Dia melihat Dharaa dan Daeriel bergantian.


Daeriel menyuruh Dharaa untuk memeriksa keadaan istrinya. Wanita itu menuruti perintah sang raja. Dia menyentuh tangan Trissya yang panas. Tiba-tiba Dharaa menitikkan air matanya. Itu membuat Daeriel panik. Laureen memperhatikan apa yang dilakukan tabib itu.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis seperti itu?" Tanya Daeriel. Dharaa menyeka air matanya kemudian menggeleng, "Saya akan membuatkan ramuan."


Dharaa membungkuk kemudian berlalu. Laureen menghampiri Trissya. Dia memegang tangan Trissya.


"Dalahnya hangat," ucap Laureen pada ayahnya. Daeriel hanya mengangguk menanggapi pernyataan putrinya.


Kenapa tabib itu malah menangis? Daeriel masih penasaran.


Dharaa kembali dengan beberapa botol ramuan dan wadah kecil. Wanita itu meracik ramuan dengan baik.


"Ayah, dalahnya hangat karena ibu sedang malah." Ucapan Laureen membuat Daeriel dan Dharaa menoleh padanya. Gadis kecil itu mengusap pipinya yang basah karena air mata yang tiba-tiba mengalir.


Daeriel menghampiri Laureen yang ternyata sedang menangis. Pria itu mengusap rambut putrinya, "Kenapa kamu nangis, Sayang?"


"Ibu sedang malah, tapi ibu juga sedih. Ibu gak bisa apa-apa. Sesuatu menguncinya dan menenggelamkannya. Ibu gak bisa belnapas. Ibu mau pulang." Laureen semakin kencang menangis. Daeriel menenangkan putrinya.


Dharaa tidak menyangka dengan ucapan Laureen yang terdengar polos, namun dia juga merasakan hal yang sama. Daeriel menoleh padanya.


"Katakan padaku, apa ucapan putriku benar?" Tanya Daeriel. Dharaa menelan saliva, "Saya rasa, Putri Laureen benar."


"Jadi, maksudnya ini gimana? Apa yang harus dilakukan supaya Trissya sembuh?" Tanya Daeriel kesal.

__ADS_1


"Saya sedang membuat ramuannya." Dharaa segera mencampur ramuan satu dengan ramuan lainnya dalam dosis tertentu.


"Apa kamu bisa menjelaskan maksud Laureen?" Tanya Daeriel pada Dharaa.


"Trissya terjebak dalam segel yang anda ciptakan. Segel drucless milik anda membuatnya terkurung dan terkunci. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia dikuasai kemarahan dan kesedihan yang mendalam yang membuatnya tidak ada keinginan untuk hidup. Itulah sebabnya tubuhnya memanas di luar dan terasa dingin di dalam." Dhara menuangkan sedikit air ke ramuannya.


Daeriel mencerna ucapan tabib itu. Laureen sudah berhenti menangis. Dia menatap ayahnya.


"Bagaimana bisa itu terjadi? Ini hanya demam," ucap Daeriel berusahan menenangkan pikirannya sendiri. Dharaa berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan Daeriel, "Maafkan saya, Yang mulia. Ini bukan dunia manusia. Di dunia drucless, hal seperti ini memang lumrah terjadi. Tabib bukan dokter. Kami bukan hanya mengobati luka berdarah, tapi juga luka berair mata."


Daeriel membuang napas kasar. Dharaa telah selesai dengan ramuannya. Dia menghampiri Trissya dan meminumkan ramuan itu dengan hati-hati. Daeriel dan Laureen memperhatikannya.


"Setelah beberapa menit, Natrissya akan sadar. Demamnya juga akan menurun," ucap Dharaa. Daeriel kembali bertanya, "Lalu bagaimana dengan 'luka berair mata' maksud kamu tadi?"


"Itu di luar kuasa saya. Segel drucless milik anda membatasinya."


"Kamu tidak boleh kemana-mana sebelum Trissya benar-benar sembuh," ucap Daeriel. Dharaa tampak berpikir kemudian mengangguk pelan.


"Aku harus bicara padamu," kata Daeriel sambil berlalu. Dharaa menyusulnya. Sesampainya di depan kamar, Daeriel bertanya, "Apa kamu sudah tahu, kekuatan misterius milik Laureen?"


Dharaa tampak berpikir, "Mungkin kekuatan yang langka. Saya belum tahu pasti."


"Baiklah, kamu temui tabib yang lain. Nanti aku manggil kamu lagi kalo Trissya udah bangun," ucap Daeriel. Dharaa mengangguk kemudian berlalu.


Sementara itu, Laureen mengubah warna matanya menjadi merah gelap. Dia memegang leher Trissya. Segel drucless milik ayahnya muncul di leher Trissya, begitupun dari lehernya. Daeriel masuk kamar. Dia terkejut dengan apa yang dilakukan putrinya. Namun, dia tidak berniat menghentikannya.


Tubuh Trissya agak tersentak. Kedua mata Laureen kembali seperti semula. Dia menoleh pada ayahnya. Trissya menggeleng dengan kedua mata yang masih tertutup rapat. Laureen segera bersembunyi di balik sofa. Gadis kecil itu memberikan kode pada ayahnya dengan menyimpan telunjuk di depan bibir.


Daeriel mengangguk kemudian mendekati Trissya. Wanita itu membuka matanya sembari menyentuh lehernya. Segel itu lenyap tertelan ke dalam tubuhnya. Trissya bangkit sambil menoleh pada Daeriel yang sedang menatapnya. Wanita itu menunduk dalam. Dia tidak mau melihat wajah pria itu. Pria yang sekarang sudah menjadi suaminya.


Ketika Daeriel akan menyentuhnya, Trissya segera menghindar, "Jangan sentuh aku."


Sakit, itu yang dirasakan Daeriel. Pria itu menatap kesal pada istrinya, "Aku bebas melakukan apa pun sama kamu. Kamu milikku sepenuhnya sekarang. Entah kamu suka atau tidak, kamu tidak bisa pergi."


Laureen mengintip.


"Apa pun yang kamu bicarakan tidak mengubahku. Aku tetap milik Raefal, bukan milik kamu," ucap Trissya. Daeriel menarik lengan Trissya dengan kasar. Gadis itu meringis pelan.


Pria itu berbisik ke telinga Trissya, "Jangan macam-macam, atau kamu akan berakhir seperti Qwella."


Trissya menatap mata Daeriel. Pandangan mereka bertemu.


"Aku lebih bersyukur jika kamu membunuhku, daripada aku harus hidup tersiksa bersama kamu!" Bentak Trissya sembari menepis tangan Daeriel. Wanita itu berlalu keluar dari kamar tersebut.


Laureen kembali bersembunyi.


Langkah Trissya terhenti ketika segel itu kembali muncul di lehernya. Wanita itu merasakan seolah-olah lehernya dicekik. Dia jatuh terduduk ke lantai.


Daeriel menghampiri Trissya dan menjambak rambutnya, "Tersiksa? Kamu hidup sama seorang raja seperti aku. Kamu tidak akan tersiksa! Tapi, jika kamu mau aku menyiksamu, oke."


Trissya memegangi lehernya. Daeriel mendengar suara Laureen. Dia menoleh ke tempat persembunyian putrinya. Laureen akan menangis karena melihat itu. Daeriel terkejut. Dia sampai lupa ada Laureen di kamarnya. Dia segera melepaskan tangannya dari rambut Trissya dan menghentikan segelnya. Trissya masih memegangi lehernya.


Daeriel menarik lengan Trissya dan mendorong wanita itu ke tempat tidur.


"Diam disini, aku akan segera kembali," suruh Daeriel kemudian berlalu keluar dari kamar itu.


Trissya masih terbatuk-batuk. Dia menyentuh lehernya yang terasa sakit. Trissya teringat sesuatu. Ketika pingsan, Trissya merasakan tangan yang dingin memeluk tubuhnya dan itu membuatnya bangun.


Trissya mengusap perutnya yang rata. Wanita itu kembali bersedih. Dia sudah sangat bahagia akan menjadi seorang Mama, dan Raefal menjadi Papa. Namun, semuanya berubah ketika Daeriel membakar habis pohon kehidupan dan mencabut paksa segel drucless milik Raefal dari tubuhnya. Trissya tidak akan melupakan rasa sakit yang sudah dia rasakan ketika kehilangan semua dalam waktu satu malam hitungan dunia drucless.


Laureen keluar dari tempat persembunyiannya. Trissya menoleh. Sejenak mereka saling menatap. Laureen ingin mendekati Trissya, namun dia masih mengingat pesan ayahnya. Trissya itu berbahaya. Jadi, gadis kecil itu memilih berdiri mematung di sana.


Siapa dia? Anaknya Qwella dan Daeriel? Batin Trissya. Dia ingat ketika Qwella mendatanginya di perbukitan. Wanita itu sedang mengandung. Lalu Daeriel dan Qwella juga datang ke pernikahannya. Perut Qwella semakin besar. Dan waktu Daeriel mencabut paksa segel Qwella, wanita itu tidak sedang mengandung. Jadi, Trissya yakin. Gadis kecil itu adalah anak Daeriel dan Qwella.


Pandangan mereka berdua teralihkan oleh kedatangan Daeriel dengan Dharaa. Pria itu terkejut melihat Laureen yang menunjukkan dirinya di depan Trissya. Dia segera menggendong Laureen dan keluar dari kamar itu.


Dharaa memeriksa keadaan Trissya. Mereka sudah pernah bertemu sebelumnya. Tapi, Dharaa merasa sedikit canggung.


"Kamu di pihak siapa?" Tanya Trissya. Dharaa mendongkak menatap Trissya yang tengah menatap penuh tanya padanya.


"Aku tidak memihak siapa pun, Trissya. Aku hanya seorang tabib biasa yang bertugas mengobati drucless."


"Kenapa kamu mengobatiku?" Tanya Trissya sinis. Dharaa menunduk, "Aku sudah bilang, ini tugasku."


"Kamu sudah bilang, tugasmu hanya mengobati drucless. Sementara aku adalah manusia," ujar Trissya yang terdengar sarkas.


Hening.


Trissya membuang muka menyembunyikan kesedihan yang tercetak jelas di wajahnya.


"Biarkan aku mati. Aku harus bereinkarnasi untuk bertemu dengan Raefal di kehidupan selanjutnya."


"Perlu 100 tahun di dunia drucless untuk bereinkarnasi. Lebih baik kamu menikmati sisa hidupmu," kata Dharaa.


"Menikmati sisa hidup bagaimana?! Hidup di penjara ini bersama iblis itu?!" Bentak Trissya. Dharaa sedikit terhenyak dengan bentakkan Trissya.


"Tidak ada yang bisa kamu lakukan. Raja Daeriel sangat kejam. Kamu tidak takut?" Tanya Dharaa setengah menggerutu.


"Takut apa? Yang aku mau cuma kematian!" Bentak Trissya. Dharaa berdecak kesal, "Bagaimana jika raja Daeriel tidak membunuh kamu, tapi malah menyiksa kamu? Itu lebih menakutkan dari kematian."


"Aku tidak peduli! Aku mau mati!" Trissya memukuli tubuhnya sendiri. Dharaa menarik kedua tangan Trissya agar tidak menyakiti dirinya.


"Trissya sadar!" Bentak Dharaa. Trissya menangis sembari memeluk lututnya, "Sialan... kenapa harus begini?"


Dharaa memeluk Trissya memberikan ketenangan lewat pelukan itu.


"Aku harus menghabisi Daeriel," ucap Trissya sambil melepaskan pelukan Dharaa. Wanita itu menarik tangan Trissya, "Apa kamu sudah gila? Meskipun kamu membunuh raja Daeriel, itu tidak akan merubah semuanya."


"Setidaknya rasa sakit ini bisa terbalaskan!" Trissya berlalu. Namun, Dharaa mengejarnya, "Kamu gak akan pernah bisa membunuh drucless kuat seperti dia."


"Kalau begitu, aku akan membunuh putrinya. Biar dia tahu, bagaimana rasanya kehilangan anak," geram Trissya. Dharaa lebih terkejut mendengar itu. Dia menarik lengan Trissya dengan kasar, "Kamu mau menyakiti anak yang tidak berdosa itu?"


Trissya berbalik menepis tangan Dharaa, "Persetan dia tidak berdosa! Apakah Daeriel memikirkan bayiku? Bayi yang belum sempat aku peluk! Bayiku juga tidak berdosa! Tapi, dia tetap merenggutnya! Aku benci pria iblis itu!"


"Trissya!" Bentak Dharaa. Trissya mendorong wanita itu dan melanjutkan langkahnya.


Dharaa kembali berteriak, "Natrissya! Anak itu bahkan tidak mendapatkan kasih sayang ibunya!"


Trissya tidak mengindahkan ucapan Dharaa. Dia tetap melanjutkan langkahnya.


"Dia menganggapmu ibunya!" Teriak Dharaa lagi. Trissya mendecih kesal tanpa mau berhenti melangkah.


"Dia yang membuatmu bangun saat kamu pingsan!"


Langkah Trissya terhenti. Dia membatin, tangan dingin yang memelukku... milik anak perempuan itu?


Trissya berbalik menatap Dharaa, "Seharusnya dia membiarkan aku mati saja. Aku tidak memintanya membangunkanku."


Dharaa mendekat. Dia menyentuh kedua lengan Trissya, "Kali ini saja... tolong, dengarkan aku. Kamu gak bisa ngelakuin apa pun sekarang. Segel ini merantaimu."

__ADS_1


Hening.


Trissya tidak merespon ucapan Dharaa.


Dharaa melanjutkan ucapannya, "Dan anak itu... dia tidak mengenali sosok ibu yang sebenarnya. Ketika dia melihat kamu, dia terus-menerus memanggil kamu ibu. Kasihan dia ingin memiliki seorang ibu yang menyayanginya. Sementara ibu kandungnya sendiri tidak menginginkan keberadaannya. Bahkan Qwella berkali-kali akan membunuh putri Laureen."


Trissya terkejut. Dia tidak menyangka Qwella bisa segila itu. Padahal anak yang ingin dibunuhnya adalah anak kandungnya sendiri. Di sisi lain, ada Trissya yang sangat menginginkan seorang anak. Kenapa keinginan mereka bertolak belakang?


"Putri Laureen tidak seperti ayahnya. Dia gadis kecil yang baik hati. Tapi, tidak ada yang mau mendekatinya," kata Dharaa. Trissya mendelik penasaran, "Kenapa?"


"Putri Laureen dianggap menakutkan karena memiliki kemampuan luar biasa. Belum lagi ada isu yang menyatakan bahwa dalam tubuhnya ada kutukan yang mengalir yang siap menghancurkan kerajaan ini kapan saja," bisi Dharaa.


Trissya mencerna kata-kata Dharaa. Wanita itu merangkul Trissya, "Aku mohon. Kembali ke kamar, ya."


~


Laureen menatap punggung ayahnya yang sedang berdiri membelakanginya dan menghadap ke jendela. Gadis kecil itu menunduk dalam.


"Kenapa Ayah menyakiti ibunya Laueen?" Tanya Laureen. Daeriel menoleh sejenak pada putrinya. Lalu dia berkata, "Dia selalu melawan Ayah. Jadi, Ayah memberikannya sedikit hukuman."


"Laueen juga seling membuat kesalahan. Ayah tidak pelnah menghukum Laueen." Laureen menghampiri ayahnya sembari menyentuh tangan kekar itu.


"Itu berbeda." Daeriel mengalihkan pandangannya. Laureen tampak sedih, "Ayah bilang, Laueen halus belbuat baik bial semua suka sama Laueen. Tapi, kenapa Ayah tidak berbuat baik juga? Semuanya takut sama Ayah, karena Ayah galak."


Daeriel tertawa mendengar pertanyaan putrinya. Dia mengangkat tubuh Laureen lalu mengecup pipi bulat itu.


"Ayah pengen Laureen jadi anak baik, biar Laureen gak kayak Ayah."


"Ayah aneh."


~


Daeriel melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Dia menarik knop pintu dan memasuki kamarnya. Pria itu melihat Trissya sedang terlelap dalam tidurnya. Daeriel menutup pintu sembari melepaskan jubah merahnya. Pria itu mendekati istrinya. Dia mengusap kulit tangan wanita itu yang putih dan lembut.


Daeriel, wanita di depanmu telah menjadi seorang gadis lagi. Kamu membutuhkan kehangatan malam ini. Sentuh dia, batin Daeriel seolah berbicara pada dirinya sendiri.


Lihatlah caranya tertidur. Dia ingin menggodamu secara tidak langsung. Lagi-lagi pikiran mesum itu memprovokasi dirinya.


Daeriel melihat gaun Trissya yang memiliki belahan dada rendah. Punggungnya juga terekspos begitu saja.


Ya, mau bagaimana lagi. Pakaian di dunia drucless memang seperti itu.


Raefal saja bisa membuatnya mengandung. Apa kamu tidak berniat membuatnya mengandung benihmu? Laureen membutuhkan adik, bukan?


Daeriel mengusap leher Trissya dan mengecupnya dengan napas memburu. Dia bisa menghirup aroma khas dari leher istrinya.


Pria itu benar-benar menginginkan Trissya. Dia membalikkan tubuh Trissya agar menghadap padanya. Wanita itu sedikit terkejut dan terbangun dari mimpinya. Sejenak dia mengerjapkan mata.


Belum sempat Trissya mengumpulkan kesadaran, bibir Daeriel sudah terlebih dahulu menempel padanya. Wanita itu terhenyak dengan serangan mendadak itu. Dia menahan dada Daeriel yang menghimpit tubuhnya. Pria itu memperdalam ciumannya membuat Trissya kewalahan.


Tidak ada kesempatan untuk bernapas.


Daeriel melepaskan ciumannya. Dia menatap Trissya dengan napas terengah-engah menerpa wajah wanita yang berada di bawahnya itu.


Mereka saling menatap sesaat. Tersirat napsu yang membara di mata suaminya. Trissya mengalihkan pandangannya karena takut dengan ekspresi Daeriel ketika menatap dirinya.


Pria itu menyeringai dingin, "Berikan tubuhmu dengan suka rela, maka aku akan bermain dengan lembut." Ucapan Daeriel terdengar seperti ancaman. Trissya tidak menjawab. Dia masih menatap ke arah lain.


"Tidak mau, huh?!" Daeriel menarik dagu wanita itu agar menatap padanya. Sekali lagi pria itu melumat bibir Trissya dengan penuh penuntutan.


Trissya merasakan dada Daeriel yang terus menghimpit dadanya. Trissya merasa sesak dan keberatan, karena Daeriel menindihnya.


Setelah beberapa saat, Daeriel melepaskan ciumannya dan menatap Trissya. Pria itu berucap, "Sejak Qwella pergi meninggalkan istana, aku tidak melakukannya dengan wanita manapun. Selama itu, hanya kamu yang ada di pikiran aku. Aku hanya ingin melakukan ini dengan kamu."


Trissya menatap Daeriel dengan mata bergetar, "Kenapa harus aku? Aku tidak bisa melakukan ini dengan seseorang yang aku benci."


Daeriel menyeringai dingin, "Karena sekarang aku berhak atas kepemilikan seluruh tubuh kamu." Daeriel menyentuh wajah Trissya. Tangannya merambat turun ke leher, dada, perut, dan... Trissya memegang tangan Daeriel untuk menghentikannya.


"Aku tidak rela tubuhku dijamah oleh pembunuh kejam seperti kamu," ucap Trissya.


"Aku tidak peduli. Aku mau menuntaskan hasrat ini padamu." Daeriel menggenggam tangan Trissya lalu menautkan jemarinya. Trissya menarik tangannya. Namun, segel itu kembali muncul di lehernya. Dia meringis kesakitan.


"Sudah aku perkirakan, kamu memang keras kepala dan sulit diajak kompromi. Jangan salahkan aku kalo besok kamu gak bisa berjalan."


Trissya menggeleng sembari berteriak keras, "Aku akan membunuhmu!"


Daeriel mendecih, "Bagaimana cara kamu membunuh aku? Kamu bahkan tidak punya senjata. Kamu cuma punya tubuh ini. Palingan aku mati dalam desahan." Daeriel menatap nakal ke tubuh Trissya.


"Jangan melihatku seperti itu," protes Trissya.


"Kenapa? Kamu sudah resmi menjadi istriku. Aku bisa melihatmu meskipun tanpa pakaian."


Hening.


Trissya tidak menerima pernikahan itu. Daeriel mengendalikan pikirannya agar melakukan upacara pernikahan tadi siang.


"Sekali lagi aku bertanya, kamu mau perlakuanku seperti apa? Memperlakukan seperti seorang ratu, atau memperlakukanmu seperti seorang budak?"


Tidak ada jawaban.


Daeriel tersenyum, "Tidak tahu diuntung. Nikmati saja budak!"


"Aaarggghhhh!!"


♥♥♥


 


 


23.04 : 28 September 2019


By Ucu Irna Marhamah


 


 



 


 


Part Keinginan yang Tertukar sudah diperbaiki


10.12 : 02 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


 


 


__ADS_2