DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Ibu Ratu Elleanor


__ADS_3

~Satu-satunya wanita yang tidak ingin melihatmu gagal adalah ibu.~


♥♥♥


Di perbatasan dunia drucless dan dunia manusia, Raefal terbaring lemah di atas rumput. Ada Geross bersama beberapa tabib yang menjaganya.


"Kenapa kamu gak pulang ke istana aja? Daeriel gak ngusir kamu, kan?" Tanya Geross.


Raefal menoleh pada pria tua itu, "Kedengarannya malah Kakek Geross yang ngusir aku."


"Bukan begitu. Kalo kamu tinggal di istana, kamu bisa sembuh karena tabib kerajaan bisa lebih baik dariku."


"Kakek juga tabib kerajaan."


"Itu dulu. Sekarang udah muncul tabib-tabib muda yang lebih profesional."


Raefal tertawa mendengar ucapan Geross. Pria tua itu menoleh pada Raefal, "Kenapa kamu ketawa?"


"Kakek benar-benar belajar banyak bahasa baru, ya?" Tanya Raefal. Geross cemberut, "Bahasa dari bangsa manusia cukup keren."


Hening.


Raefal menatap langit yang cerah, "Aku membutuhkan energi manusia dari dia."


"Ini aneh, seharusnya kamu bisa pulih di dunia drucless tanpa harus mendapatkan energi dari makhluk lain," ujar Geross.


"Aku juga gak tahu."


"Mungkin kalian berdua memang takdir," kata Geross sambil mengelus jenggot putihnya. Raefal mengerutkan keningnya, "Takdir?"


"Ini jarang terjadi. Tapi, drucless akan merasa ketergantungan pada makhluk yang berbeda sebagai sumber energinya. Mungkin saja kamu sama Trissya memang takdir."


"Tidak mungkin."


"Itu mungkin saja. Coba kamu hitung, berapa kali kamu berhubungan dengan wanita dari jenis manusia?"


Tidak ada jawaban.


"Setelah kamu tidak berhubungan lagi dengan mereka, kamu baik-baik aja, kan? Dan sekarang kamu lemah karena tidak bersama Trissya."


Raefal mencerna dugaan Geross. Dia tampak berpikir.


"Aku akan membawa Trissya kemari," kata Geross lalu memanggil salah satu tabib perempuan.


"Eh, emang kalo dia kemari, mau aku apain?"


Tanpa mau merespon pertanyaan Raefal, Geross berbicara pada tabib itu. Setelah selesai, pria tua itu kembali duduk di rerumputan hijau.


"Gadis itu akan segera datang."


"Dia bahkan tidak mau melihat wajahku." Raefal menghela napas berat.


"Seharusnya kamu memperlakukan dia dengan baik."


Raefal tampak berpikir, "Ya, biasanya cewek lain mau-mau aja."


"Ah, terserah."


"Dia gak bakalan dateng kemari, aku bertaruh," ucap Raefal. Geross tertawa, "Kayaknya emang iya."


Geross melihat hewan-hewan yang lompat-lompat di kejauhan. Mereka sedang bermain-main. Geross mengingat sesuatu, dia berucap, "Beberapa waktu lalu, Daeriel datang kesini."


Mendengar nama itu, Raefal segera bangkit untuk duduk. Dia menatap Geross dengan serius.


"Ngapain dia kesini?" Tanya Raefal cepat. Geross menatap Raefal dengan serius, "Dia menanyakan tentang cara untuk menghilangkan segel drucless."


Raefal membelalak, "Ngapain? Dia mau menghilangkan segel milik dia dari tubuh Qwella?"


"Mungkin iya."


"Kakek Geross memberitahukan caranya?" Tanya Raefal penuh selidik. Geross menggeleng, "Aku juga tidak tahu caranya."


Raefal menghela napas lega.


"Menghilangkan segel drucless sangat beresiko dan itu sangat terlarang," ucap Geross. Raefal tampak berpikir, "Beresiko?"


"Wanita drucless yang menghilangkan segelnya akan mandul, atau bahkan mati."


Raefal mengangguk paham.


"Oh iya, Qwella sedang mengandung sekarang."


Raefal terkejut, "Benarkah? Kalo Qwella mengandung, ngapain Daeriel mau menghilangkan segelnya? Harusnya dia seneng punya anak dari Qwella."


"Aku juga tidak mengerti dengan jalan pikiran kakak kamu itu. Mungkin dia merencanakan sesuatu yang lain," ucap Geross.


"Rakyat dari kerajaan Zeroun sangat takut dengan kekuatan Daeriel. Apalagi sekarang Qwella sedang mengandung anak mereka. Kamu pasti bisa membayangkan seperti apa kekuatan anak mereka nantinya." Geross menatap lurus dengan tatapan menerawang.


"Satu persatu rakyat mencari kesempatan untuk kabur ke kerajaan lain. Tapi, Daeriel bergerak lebih cepat. Dia mengawasi mereka semua. Daeriel dan raja Baltazar tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama kejam dan berbuat seenaknya." Geross tidak ragu menjelek-jelekkan ayah dan kakak dari Raefal.


Raefal juga sudah terbiasa mendengar itu. Dia tidak marah sama sekali, karena ucapan Geross tidak ada yang salah.


"Kenapa tidak kamu saja yang jadi raja?" Tanya Geross. Raefal menggeleng, "Malas. Aku bosan dengan pertemuan, peperangan, persahabatan, apa lagi? Ah, pokoknya aku lebih senang tinggal di dunia manusia, semuanya lebih menyenangkan."


Geross menggeleng pelan mendengar keluh kesah pangeran tampan itu.


"Kenapa aku gak terlahir jadi manusia aja? Seandainya aku manusia, aku bisa bersama Trissya."


"Kamu perlu bereinkarnasi dan menunggu 100 tahun kemudian untuk terlahir kembali. Itu pun tidak akan menjamin, apakah kamu akan menjadi manusia, atau menjadi drucless lagi."


Raefal membuang napas kasar.


Tabib perempuan tadi telah kembali. Raefal dan Geross menoleh kearahnya.


"Mana Trissya?" Tanya Geross.


"Maafin aku, Kakek, Trissya gak mau diajak kemari."


Geross melihat pada Raefal yang tampak tenang-tenang saja. Padahal dia yakin, hatinya sedang bersedih. Raefal memang jarang menunjukkan ekspresinya pada siapa pun.


Dia drucless yang dingin. Dan hanya menunjukkan kehangatannya pada Trissya.


~


Qwella menatap pantulan dirinya di cermin. Dia sedang memilih pakaian yang bagus untuk pertemuan satu jam lagi. Perutnya sudah sedikit menonjol, menandakan bayi drucless dalam perutnya mulai tumbuh. Wanita itu telah menemukan pakaian yang cantik dan cocok untuknya.


Ketika wanita itu memakainya, ternyata pakaian itu tidak muat di tubuhnya. Perutnya yang menonjol membuat pakaian itu tidak bisa diikat dengan benar ke pinggangnya.


Qwella mendengus kesal. Dia sedikit menekan perutnya, namun tangan kekar itu menarik tangannya dengan kasar. Qwella menoleh, ternyata Daeriel.


"Kamu mau bunuh anak kita?!" Bentak Daeriel. Qwella menarik tangannya kembali, "Ini anak kamu. Kamu cuma nitip doang di perut aku!"


Pria itu mengepalkan tangannya, "Kalo anak aku mati karena kamu, kamu gak bisa lepas dari aku!"


Qwella menyela, "Gara-gara anak ini, aku gak bisa pake baju-baju bagus aku lagi untuk pertemuan hari ini."


"Pakaian yang pas dengan tubuh kamu, kan, ada!"


"Gak mau! Pertemuannya satu jam lagi. Aku gak mau nyari baju lain!" Qwella bersikukuh.


Daeriel membuang muka karena kesal, "Pertemuan itu untuk raja, bukan ratu."

__ADS_1


"Ratu Gwenda, ratu Clarissa, ratu Armala juga akan datang, kenapa aku tidak boleh?!" Gerutu Qwella.


"Kamu benar-benar... ingat Qwella, kamu itu hanya seorang penari wanita yang beruntung karena menikah denganku. Harusnya kamu menurut dengan perintahku!" Bentak Daeriel. Ucapan pria itu melukai perasaan Qwella.


Wanita itu menatap Daeriel dengan warna matanya yang sudah berubah putih. Air muncul dari sudut ruangan yang siap menyerang Daeriel kapan saja. Pria itu tidak terlihat takut sama sekali.


"Kamu hanya memiliki kecantikan yang luar biasa yang tidak dimiliki perempuan lain. Itu sebabnya aku memungutmu," ucapan Daeriel benar-benar kurang ajar bagi Qwella.


Daeriel mendecih kasar, "Aku sudah tahu, kenapa kamu pengen banget hidup sama Raefal." Qwella menautkan alisnya. Daeriel melanjutkan kalimatnya, "Itu karena Raefal memiliki kekuatan penyembuhan dan kamu punya kekuatan air. Jika kalian bersama, maka kamu dan dia akan tetap muda dan abadi. Apa kamu takut kematian?"


"Berhenti bicara!" Teriak Qwella.


"Kamu benar-benar wanita... ah, mulutku bisa kotor jika berbicara dengan dia." Daeriel mengalihkan pandangannya.


"Apa pun yang aku lakuin, itu sama sekali gak rugi buat kamu. Jadi, cukup lakukan apa yang kamu mau, maka aku juga akan melakukan apa ya aku mau." Qwella berbicara penuh penekanan.


Daeriel menggerakan kepalanya, "Kalo kamu gak bisa jaga anak di dalam perut kamu, aku pastiin kamu mati," ancam Daeriel kemudian berlalu.


Qwella berteriak marah.


~


Keadaan Raefal semakin buruk. Dia terbaring lemah di dalam gubuk tua, tempat para tabib dan penjaga perbatasan dunia itu berada.


Geross menghela napas berat, "Kenapa kekuatan pemulihan dalam tubuhnya tidak bekerja?"


Seorang tabib pria menghampiri Geross dengan ekspresi panik, "Kek, ada raja Daeriel Zeroun."


Geross terkejut, "Kalo gitu, kamu disini jagain pangeran Raefal, sekalian sembunyiin aja. Jangan sampe raja Daeriel melihatnya."


Pria itu mengangguk.


Geross keluar dari kamar gubuk untuk menemui Daeriel. Pria tua itu melihat Daeriel datang tanpa jubah merahnya.


"Yang mulia." Geross membungkuk hormat. Daeriel mengangguk, "Aku ingin bicara sama kamu."


Geross mengangguk sambil mempersilakan Daeriel untuk masuk. Mereka berdua duduk berhadapan.


Daeriel menatap Geross dengan serius, "Qwella membutuhkan ramuan untuk memperkuat janinnya. Aku tidak mau anakku kenapa-napa."


Pria tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mencari ramuan tersebut dari lemari. Daeriel mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Raefal disini?"


Mendengar pertanyaan Daeriel, Geross menghentikan aktivitasnya. Dia menelan saliva.


"Hem?" Daeriel bertanya lagi karena tidak mendapatkan jawaban. Pria itu berdiri dari tempat duduknya dan melangkah memasuki kamar dimana Raefal berada.


Tabib yang menjaga Raefal terkejut dan menoleh pada Daeriel. Geross segera memasuki kamar tersebut.


"Ra-raja, a-aku bisa menjelaskannya," kata Geross yang tampak panik.


"Dia kenapa?" Tanya Daeriel.


Tidak ada jawaban. Kedua tabib itu memilih bungkam.


Kesempatan bagus, kalo aku bunuh dia sekarang, batin Daeriel sambil tersenyum sinis. Namun, senyuman pria itu memudar kala mengingat janjinya pada Qwella. Wanita itu pasti akan menyakiti bayinya jika dia membunuh Raefal.


Ingat Daeriel, lu bukan cuma mau Trissya. Lu juga mau anak lu selamat, kan?  Daeriel seolah sedang berbicara dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa gak di bawa ke istana? Disana dia akan mendapatkan pengobatan yang maksimal," tanya Daeriel. Geross dan tabib muda itu saling pandang.


Tabib muda yang menjawab, "Kami juga sudah bersiap untuk mengantarkan pangeran Raefal ke istana, tapi pangeran selalu menolak."


"Aku akan membawanya," ujar Daeriel dengan posisi akan mengangkat tubuh Raefal. Namun, Raefal menahan bahu Daeriel.


Raefal membuka matanya sambil berkata, "Gua gak perlu bantuan lu. Lebih baik, lu pergi aja sana."


"Lu mau mati? Trissya gak ada disini buat nyembuhin lu."


"Kepala batu," ucap Daeriel sambil berlalu keluar. Geross menyusul Daeriel sambil memberikan ramuan yang diminta oleh pria itu.


"Ratu Qwella pasti akan sehat dan kuat, begitupun dengan bayinya."


"Hem, terima kasih."


Daeriel berlalu.


Geross kembali menemui Raefal, "Sepertinya raja Daeriel memang khawatir sama kamu, Raef."


Mendengar ucapan Geross, Raefal malah mengubah posisi tidurnya jadi menyamping membelakangi Geross.


"Gak mungkin. Dia itu berhati batu."


~


Qwella menatap pantulan dirinya di cermin. Dia menyentuh wajahnya yang masih saja cantik, tidak berubah. Wanita itu tidak ingin kehilangan kecantikannya. Dia tidak ingin kehilangan masa mudanya, tidak ingin mati.


Daeriel memasuki kamar, dia melihat istrinya masih duduk di depan cermin. Sebelum dia pergi ke tempat Geross, wanita itu sudah duduk disana.


"Kamu gak pegel duduk terus?" Tanya Daeriel. Qwella menolehke cermin melihat bayangan suaminya. Wanita itu menggeleng cepat.


"Sini," perintah Daeriel sambil duduk di tepi ranjang. Dengan malas, wanita itu beranjak dari tempat duduknya sambil menghampiri Daeriel. Qwella berdiri di dekat Daeriel. Pria itu mengusap lembut perut Qwella yang membuncit. Kalau ukuran manusia, itu usia 5 bulan mengandung.


Pria itu tersenyum sambil mencium perut Qwella.


"Kamu mau bayi perempuan atau bayi laki-laki?" Tanya Daeriel. Qwella mengedikkan bahunya, "Aku mau cepet-cepet lahiran."


"Aku mau bayi laki-laki, dia akan menjadi penguasa terhebat setelah aku. Tapi, kalau dia perempuan, ya... gapapa. Aku akan memanjakan putriki yang cantik," ucap Daeriel dengan ekspresi menerawang.


"Kenapa kamu gak samperin Trissya? Pake aja tubuh dia," gerutu Qwella. Daeriel menghela napas malas, "Dia lagi butuh kesendirian. Kalo aku nyamperin Trissya, palingan dia mundur ketakutan lihat aku."


Pria itu mengingat kenangan manis yang pernah terjadi antara dia dengan Trissya waktu itu.


Pria itu tersenyum simpul.


Daeriel melepaskan ciumannya. Darah menetes dari luka gigitannya di bibir Trissya. Sekarang gadis itu dalam kendalinya. Daeriel mengusap darah itu. Trissya mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir pria itu. Tentu saja itu karena kendali Daeriel.


Pria itu menahan tengkuk Trissya dan memperdalam ciumannya. Tangannya bergerak merobek bagian punggung pakaian Trissya.


Daeriel melepaskan ciumannya sambil menatap Trissya dengan penuh hasrat. Pria itu mengusap wajah Trissya, "Lakukan dengan baik, gadis cantik."


Ketika tubuh mereka menyatu, Trissya menangis tertahan meskipun sedang berada dalam kendali Daeriel. Pria itu bisa membaca pikiran Trissya lewat sentuhannya. Pria itu mengetahui semua yang ada dalam kepala gadis itu. Mata merah Trissya tidak berhenti mengeluarkan air mata.


"Trissya, aku mencintamu." Entah kenapa pria itu menyatakan perasaannya dengan tiba-tiba. Mengenal Trissya hanya dengan sentuhan langsung, pria itu jatuh cinta mendadak.


Trissya jatuh lemas di atas tubuh Daeriel. Gadis itu tak sadarkan diri. Pria itu mengusap lembut punggung polos Trissya.


"Aku akan mendapatkan kamu, Trissya."


Qwella memperhatikan Daeriel yang melamun. Wanita itu memutar bola matanya, "Kamu mikirin dia? Sana datengin, lagian dia pasti mau tidur sama kamu, kok. Asalkan kamu ngendaliin pikiran dia."


"Ini udah waktunya makan, kamu harus makan," ucap Daeriel kemudian berlalu.


Qwella menghela napas kasar.


♥♥♥


 


 

__ADS_1


Di taman bunga yang indah, terdapat rumah sederhana, namun cantik. Terbuat dari kayu berwarna coklat kemerahan.


Di tangga kayu itu ada wanita cantik yang sudah tidak muda lagi. Itu adalah Elleanor, istri raja Baltazar.


Ada banyak hal yang mengganggu kepalanya. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan kedua putranya. Wanita itu sudah mendengar kabar mereka dari prajurit yang setia pada Baltazar.


Daeriel maupun Raefal, keduanya tidak datang ke tempat itu untuk sekedar menemui kedua orang tuanya. Elleanor tahu, kedua anaknya memang tidak bisa akur. Bahkan mungkin tidak akan pernah akur.


Wanita itu menghela napas berat jika mengingat banyak hal yang terjadi ratusan tahun lalu.


Baltazar sedang memperhatikan para tabib yang sedang memeriksa perut ratu mereka. Salah satu tabib mendekat sambil membungkuk.


"Yang mulia Raja Zeroun, ratu Elleanor sedang mengandung."


Baltazar terkejut. Dia sangat bahagia mendengar kabar itu. Dia akan memiliki anak lagi setelah Daeriel.


Tanpa disadari, Daeriel yang masih kecil menguping pembicaraan mereka. Anak itu tidak senang dengan anggota baru keluarganya. Dia tidak ingin kasih sayang orang tuanya terbagi.


Ketika perut Elleanor membesar, dia sempat keracunan makanan. Dia muntah dan darah segar mengalir dari selangkangannya. Wanita itu panik dan menangis tiada henti.


Raja Baltazar benar-benar panik. Dia mencari tabib terbaik dari penjuru dunia drucless demi menyelamatkan ratu dan calon bayinya.


Seorang peramal tua datang. Dia memberikan saran pada raja agar ratu Elleanor berbaring di bawah pohon kehidupan di tengah hutan dekat sungai suci. Namun, raja tidak mempercayai peramal tua itu. Raja Baltazar bahkan menuding peramal itu sudah gila total. Dengan tidak sopan, raja Baltazar mengusir peramal itu.


Elleanor yang sudah putus asa karena tidak bisa merasakan kehadiran bayinya di dalam perut, memerintahkan prajurit untuk mencari peramal tua itu tanpa sepengetahuan Baltazar.


Akhirnya dengan susah payah, para prajurit menemukan tempat dimana pria tua itu berada. Ratu Elleanor memberikan surat permohonan kepada peramal tua itu untuk membantunya.


Peramal tua membantu Elleanor. Para prajurit bersama para pelayan membawa ratu mereka ke pohon suci di dekat sungai kehidupan para drucless.


Peramal menyuruh murid-muridnya yang perempuan untuk memeriksa perut ratu. Salah satu dari mereka menoleh para peramal tua sambil menggeleng lemah.


Elleanor terbelalak, "Apa maksudnya?!"


Peramal tua itu mengusap jenggot panjangnya sambil menggeleng, "Bayi anda sudah tiada."


Elleanor menggeleng tidak percaya. Air matanya mengalir deras, "Tidak! Peramal! Tolong selamatkan anakku!"


Peramal tua yang terluka karena sikap Baltazar, harus memilih antara egonya atau keselamatan bayi yang malang itu.


Dengan tulus, peramal tua menolong ratu Elleanor. Dia menukarkan nyawa pohon kehidupan ke dalam tubuh bayi di dalam perut Elleanor. Pohon besar itu pun mati, ditandai dengan dedaunannya berubah warna menjadi hitam dan batangnya mengkerut.


Ketika upacara terlarang itu dilaksanakan, raja Baltazar bersama pasukannya mendatangi tempat itu.


Kemarahan menguasai raja Baltazar. Dia marah karena Elleanor pergi tanpa sepengetahuannya. Peramal tua bersama murid-muridnya di hukum penggal. Jasad mereka di kubur di bawah pohon besar yang sudah mati itu.


Sebelum mati, peramal tua meneriakkan kutukannya, "Kerajaan Zeroun akan hancur dan mati. Tidak akan ada rakyat yang mencintai raja bengis sepertimu. Kerajaanmu akan ditinggalkan lalu menjadi kerajaan yang mati."


Tidak ada yang peduli dengan kutukan itu.


Raja Baltazar membawa ratu kembali ke istana Zeroun. Ratu Elleanor merasakan bayi dalam perutnya bergerak. Dia memerintahkan para tabib untuk memeriksanya.


Sebuah keajaiban, bayi dalam perutnya kembali hidup. Ratu merasa bersalah pada peramal tua itu. Dia meminta raja untuk melakukan sesuatu. Namun, raja merasa tidak bersalah sama sekali. Dia tetap menyalahkan ratu Elleanor yang berani pergi tanpa izin. Ratu Elleanor merasa sedih.


Sementara itu, siapa sangka, pohon kehidupan yang sudah mati itu kembali tumbuh segar seperti semula. Tanah yang menggunduk di bawahnya bergerak-gerak. Tubuh yang terkubur itu kembali hidup dan keluar dari dalam tanah.


Peramal tua itu memegang lehernya yang masih menyatu dengan tubuhnya. Murid-muridnya juga masih hidup. Mereka merasakan keajaiban dalam tubuh mereka karena pohon itu.


"Kita masih hidup?"


"Syukurlah."


"Ah, aku pikir aku sedang bermimpi."


"Aku bahkan mengira kalau kita sudah sampai di alam tempat orang mati."


Peramal tua itu berdiri dengan sisa kemarahannya, "Kerajaan Zeroun tidak akan abadi."


~


Kerajaan Zeroun telah memiliki anggota keluarga baru dengan lahirnya pangeran Raefal. Yang lebih membahagiakannya lagi, pangeran Raefal terlahir dengan pengendalian petir. Sungguh kekuatan yang langka.


Melihat kebahagiaan di wajah orang tuanya, Daeriel merasa cemburu. Anak laki-laki itu tidak ingin apa pun yang sudah menjadi haknya direbut bayi kecil itu. Dia sangat marah.


Setelah cukup besar, selalu ada persaingan diantara mereka. Bahkan Daeriel sengaja melukai Raefal.


Pernah juga Daeriel berupaya membunuh Raefal dengan belati sampai-sampai  keadaan Raefal benar-benar kritis. Tabib terbaik seperti Geross pun tidak mampu menolong Raefal.


Raja mengancam akan membunuh seluruh tabib kerajaan, jika para tabib itu tidak bisa menyelamatkan Raefal. Para tabib tidak mengerti dengan jalan pikiran raja Baltazar. Jelas-jelas pangeran Daeriel yang bersalah disini. Namun, tidak tampak kemarahan raja untuk putranya itu. 


Di saat kepanikan menimpa seisi kerajaan Zeroun, keajaiban dari nyawa pohon kehidupan masih terus mengalir dan membuat Raefal tidak mati. Daeriel benar-benar tidak bisa menyingkirkan Raefal dengan mudah.


Suatu hari, Daeriel mencuri sebagian kekuatan milik Raefal, yaitu kecepatan yang hanya dimiliki pengendali petir.


Oleh karena itu, kecepatan teleportasi mereka seimbang.


Daeriel berlatih keras. Dia mengendalikan api dengan baik. Dia juga meningkatkan kemampuannya membaca pikiran drucless lain. Bahkan, dirinya mampu mengendalikan pikiran para drucless.


Setelah Raefal tumbuh besar, dia juga berlatih. Kemampuannya cukup baik, namun dia drucless yang berhati lembut yang tidak tega melukai siapa pun. Ketika berhadapan dengan musuh, dia tidak membunuhnya. Sehingga musuhnya yang bergerak melukainya.


Berbeda dengan Daeriel yang berhati dingin dan bisa membunuh siapa pun. Kasih sayang raja berubah. Dia lebih membanggakan putra sulungnya, Daeriel.


Sementara Elleanor sangat menyayangi Raefal. Daeriel tidak terima dengan sikap tidak adil ibunya.


Kebencian Daeriel semakin menumpuk dan menggunung.


Apakah ini awal mula dari kehancuran kerajaan Zeroun, seperti yang dikatakan peramal tua?


~


"Qwella, kamu terlahir sebagai gadis cantik. Jika kamu bisa menaklukan hati pangeran Raefal, maka kecantikanmu tidak akan pudar. Kamu juga akan abadi."


Gadis muda itu menatap peramal berjenggot putih di depannya, "Kenapa harus pangeran Raefal?"


Peramal tua itu mengusap jenggot putihnya, "Dia terlahir dengan kekuatan menyembuhkan yang cocok dengan kekuatan air milik kamu. Tapi ingat, dia juga bisa mengendalikan petir. Kamu tahu, air dan petir sangat tidak cocok."


Qwella mengangguk paham.


"Kamu punya pengendalian pikiran yang bisa mengendalikan hatinya untuk mencintai kamu. Dengan begitu, kamu akan abadi di dunia drucless."


Qwella mengangguk. Gadis muda itu adalah anak dari salah satu murid peramal tua. Qwella sudah dianggap sebagai cucunya sendiri.


Gadis cantik itu berlatih menari agar menjadi penari hebat yang bisa masuk ke kerajaan Zeroun untuk mendapatkan Raefal demi keabadiannya.


~


Lamunan Elleanor memudar, ketika dia melihat kedatangan suaminya. Wanita itu berdiri. Baltazar menoleh sesaat pada istrinya.


"Emm, aku kangen sama anak-anak," ucap Elleanor dengan hati-hati. Baltazar menoleh, "Kamu mau ketemu mereka?"


Elleanor mengangguk cepat.


"Aku akan menyuruh para prajurit untuk mengatakan ini pada Daeriel dan Raefal."


Wanita itu tersenyum bahagia.


♥♥♥


09.38 : 25 September 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


 


 


__ADS_2