DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Choose


__ADS_3

~Aku gak mau jadi nomor satu. Tapi, aku mau jadi satu-satunya.~


♥♥♥


Hari di dunia manusia berjalan begitu cepat.


Trissya dan Raefal memperbaiki hubungan mereka. Keduanya semakin dekat dan semakin besar saja perasaan yang tumbuh diantara mereka. Raefal tidak lagi melakukan hal buruk pada Trissya. Jika dia kehilangan energi, gadis yang dia cintai siap memeluknya. Raefal tinggal di rumah Trissya tanpa ada yang tahu, termasuk Lisna. Pria itu akan menghilang jika ada orang yang datang. Kalau tidak, waaahhh... bisa-bisa warga ngamuk. Tapi, tenang aja. Mereka gak ngapa-ngapain, kok.


Raefal sering membantu Trissya menggembala kambing di padang rumput. Emm... seperti pasangan yang bahagia.


Jangan iri, ya.


Tapi, Qwella gak dengerin penulis. Dia cemburu melihat kebersamaan Raefal dan Trissya. Dari mana dia bisa melihat Raefal dan Trissya?


Jangan tanya, cari aja jawabannya sendiri. Ya, namanya juga drucless, lah.


 


 


Qwella menghampiri suaminya. Dia melemparkan semua benda-benda ke lantai hingga pecah. Daeriel menoleh padanya.


"Ada angin dari mana? Kenapa kamu marah-marah begitu?" Tanya Daeriel sambil menoleh heran pada istrinya. Qwella menghentakkan kakinya ke lantai, "Aku mau perempuan dari bangsa manusia itu menderita! Aku gak rela lihat dia sama Raefal!"


"Perjanjian kita, kan, setelah bayi ini lahir. Tinggal beberapa bulan lagi, bersabarlah," ujar Daeriel.


Qwella mendengus kesal, "Kamu gak tahu, gimana rasanya bawa dua badan. Sekali aja kamu jadi aku!"


"Qwella, bisakah kamu bersikap sedikit keibuan? Semua wanita yang mengandung pasti merasakan hal yang sama." Daeriel berusaha bersabar dan menenangkan wanita itu.


"Aku cape! Kamu pikir, dua tahun itu waktu yang singkat?!"


"Qwella, jika kamu seperti ini terus, aku batalin perjanjian yang udah kita rencanain!" Ancam Daeriel dengan ekspresi kesal.


Qwella membelakangi pria itu sambil melipat kedua tangan di depan dada, "Kalo rencana kamu dibatalin, aku akan melakukannya dengan rencanaku sendiri. Perempuan itu akan aku bunuh."


Daeriel terbelalak. Dia segera berjalan ke hadapan Qwella, "Sebelum kamu membunuh Trissya, aku akan membunuh Raefal lebih dulu."


"Kamu gak boleh bunuh Raefal! Kalo Raefal mati, aku juga mati!" Teriak Qwella panik. Daeriel mengerutkan dahinya bingung. Wanita itu segera berbalik membelakangi Daeriel.


"Apa maksud kamu? Kenapa kamu bakalan mati, kalo Raefal mati?" Tanya Daeriel. Wanita itu menggeleng, "Ya, karena aku memang sangat mencintainya, jadi... aku bisa mati kalo lihat dia mati."


Daeriel menarik bahu Qwella agar menatap padanya, "Katakan apa maksudmu? Sebenarnya apa tujuan kamu yang sebenarnya?!"


Qwella menepis tangan Daeriel, "Minggir."


Wanita itu berlalu pergi meninggalkan Daeriel dalam bingung.


~


Pagi telah tiba di dunia manusia.


Trissya mengembala kambing seperti biasa bersama Raefal. Dia melihat pria itu sedang mengejar salah satu kambing yang mau kabur. Trissya tertawa kecil karena tingkah konyol Raefal.


Raefal menoleh pada Trissya. Dia cemberut sambil berkata, "Trissya, kambing yang ini ngeyel terus."


"Ya, sama ngeyelnya kayak kamu."


Raefal semakin cemberut. Trissya tertawa kecil.


Pandangan gadis itu teralihkan pada dua orang pria yang berjalan menghampirinya. Trissya mengenali kedua orang yang merupakan temannya sewaktu SMA, Erwan dan Fahri.


Trissya melihat ke tempat Raefal berada. Pria itu sudah tidak ada disana.


"Hei, Neng Trissya."


Trissya bangkit dari tempat duduknya, "I-iya."


Erwan dan Fahri saling pandang sambil tersenyum sinis. Trissya mulai merasa tidak nyaman.


"Kamu mau banget ngurusin kambing. Emangnya gak malu?" Tanya Erwan. Fahri mencibir, "Iya ih, kamu *mah*daekan."


Trissya tidak berniat menjawab ledekan mereka berdua. Dia memilih untuk kembali duduk.


"Waktu SMA sombong banget ngerasa paling pinter, sampe-sampe gak mau jadi pacar aku. Akhirnya juga ngurusin embek... hahaha."


Trissya mengepalkan tangannya kesal. Fahri memainkan rambut Trissya.


"Kalo udah dilahirin miskin mah, miskin aja, atuh."


Trissya menepis tangan Fahri, "Hei! Emangnya kalian teh ngerasa juragan paling kaya di kampung ini?! Yang kaya itu emak sama abah kalian! Kalian mah bisa kuliah teh karena duit mereka!"


Erwan menarik lengan Trissya, "Udah bau kambing, masih berani ngejawab kamu teh!"


Trissya memukul tangan Erwan. Fahri dan Erwan mendorong gadis itu hingga tersungkur jatuh ke tanah. Trissya meringis pelan.


Lisna yang mendengar keributan segera menghampiri mereka, "Eh! Aya naon atuh?!"


"Diem, ah! Nenek-nenek mah ulah ikut-ikutan!" Gerutu Fahri. lisna mengacungkan payungnya, "Eh, ari maneh ngomong teh! Wani sia!"


Kedua pria itu segera berlari terbirit-birit. Lisna membantu Trissya berdiri. Gadis itu melihat Raefal yang berdiri di bawah pohon. Pria itu tengah menatap sendu kearahnya.


Padahal Trissya ingin sekali Raefal datang dan membantunya. Namun, sepertinya Raefal tidak bisa menunjukkan dirinya pada orang-orang desa itu.


Lisna membawa Trissya pulang ke rumah.


~


Trissya mengobati luka di kulitnya dengan hati-hati. Tangan besar dan hangat itu menyentuhnya. Trissya mendongkak menatap siapa pemiliknya. Siapa lagi kalau bukan Raefal. Manik matanya berwarna biru. Dia mengusap luka itu dan seketika lukanya menghilang.


"Maafin aku yang gak bisa nolongin kamu," kata Raefal pelan. Terselip penyesalan lewat nada bicaranya. Kedua matanya telah kembali normal.


Trissya tersenyum manis, "Gapapa, lagian kalo kamu muncul, orang-orang bakalan curiga dan mikirnya aku masukkin pria asing ke dalam rumah."


Raefal duduk di samping Trissya. Dia menarik tubuh gadis itu agar terlelap pada dadanya. Trissya menurut. Dia merasakan ketenangan apabila bersama Raefal. Gadis itu menutup matanya. Raefal mengusap lembut rambut Trissya.


"Trissya, aku udah mikirin apa langkah kita selanjutnya."


Gadis itu membuka mata dan menengadah melihat pada Raefal. Dia membenarkan posisi duduknya, "Langkah apa?"


"Aku akan nikahin kamu."


Ada rasa senang di hati Trissya mendengar perkataan Raefal. Namun, ada juga kecemasan yang menghantui perasaanya.


"Gimana menurut kamu?" Tanya Raefal.


Sunyi.


Trissya kembali melelapkan kepalanya ke dada Raefal. Pria itu merangkul Trissya.


"Kita akan tinggal di dunia manusia. Melakukan banyak hal bersama-sama, masak bersama, menggembala kambing bersama, makan bersama, tidur bersama, apa lagi, ya?"


Trissya tersenyum kecil mendengar ocehan Raefal, "Kamu terlahir di keluarga kerajaan. Emangnya kamu bakalan nyaman tinggal sama cewek miskin kayak aku?"


"Kenapa kamu bilang gitu? Selama di istana drucless pun, aku gak bahagia."


"Hemm," Trissya bergumam pelan.


"Kamu mau nikah sama aku, kan?" Tanya Raefal.


Trissya menatap lekat wajah pria itu.


"Apa kamu bakalan nerima semua kekurangan aku? Kamu udah tahu semuanya tentang aku," kata Raefal lagi.


Trissya tersenyum kemudian mengangguk, "Aku juga merasa nyaman sama kamu. Aku juga cinta sama kamu."


"Aku akan pergi beberapa hari dan kembali lagi untuk ngelamar kamu," ucap Raefal. Pipi Trissya memerah mendengar itu.

__ADS_1


"Aku bakalan nungguin kamu."


Raefal tersenyum bahagia lalu mengecup bibir Trissya dan memeluknya.


♥♥♥


Trissya bersama Lisna menjaga semua kambing yang sedang makan rumput di perbukitan. Lisna sengaja menemani Trissya. Dia tidak ingin keponakan satu-satunya itu diganggu lagi oleh Fahri dan Erwan.


Selama menggembala, Lisna tidak berhenti mengoceh. Dia masih sangat kesal dengan kelakuan dua pemuda itu.


"Lagian punya perkebunan segitu aja sombongnya kayak punya hotel bintang tujuh," gerutu Lisna.


Trissya tertawa sambil menggeleng pelan mendengar ocehan bibinya, "Bibi, mana ada hotel bintang tujuh?"


"Diem! Bibi lagi marah ini teh ceritanya!" Gerutu Lisna. Trissya tertawa kecil.


Panjang umur, kedua pria itu kembali lagi. Mereka berdua lagi-lagi meledek Trissya.


"Huuuu, bau kambing." Fahri mendorong Trissya. Erwan tertawa sarkas. Lisna mengambil batu dan melemparkannya kepada kedua pria itu.


"Pergi sana!"


Erwan tidak terima. Dia mendorong tubuh Lisna hingga tersungkur jatuh.


"Bibi! Kalian benar-benar!..." Trissya memukul mereka. Fahri melayangkan tangannya akan menampar Trissya. Gadis itu segera menutup wajahnya.


Namun, tamparan itu tidak mengenai wajah Trissya. Gadis itu mendongkak.


Angin berhembus menerpa wajah Trissya. Tangan kekar itu mencengram tangan Fahri. Kedua pria itu terkejut. Lisna juga. Kedua mata gadis itu bergetar melihat kemarahan di wajah Raefal.


 


Pria itu melempar tubuh Fahri sampai beberapa meter. Erwan terkejut dengan kekuatan Raefal. Pria itu berlari menjauh, namun kilatan petir menyambar tanah membuat Erwan berhenti berlari dan malah bertiarap sambil berteriak ketakutan.


Raefal membenarkan dasinya sambil berdehem. Trissya masih menatap heran padanya, "Dari mana juga kamu punya pakaian ini?"


"Kas kerajaan banyak," bisik Raefal. Trissya memutar bola matanya kesal.


"Perlu aku galiin kuburan buat mereka?" Tanya Raefal. Trissya menggeleng cepat sambil melongo, "Jangan, nanti malah jadi masalah."


Trissya membantu Lisna berdiri. Wanita itu menatap heran pada Raefal, "Dari mana datangnya manusia tampan ini?"


Trissya terkekeh dengan pertanyaan bibinya. Raefal meraih tangan Lisna dan mencium punggung tangannya seperti seorang anak pada orang tua.


"Nama saya Raefal Zeroun, calon suami Natrissya."


Lisna melongo. Dia menoleh pada Trissya dan Raefal bergantian. Trissya menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang memerah.


"Kenapa baru bilang sekarang?"


~


Trissya dan Raefal melihat Lisna yang sibuk menyajikan makanan. Trissya akan membantu, tapi bibinya itu melarang. Raefal dan Trissya saling pandang.


Trissya melihat daging di piring, "Bibi, ini kambing yang suka kabur, ya?"


Lisna mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kenapa dipotong, Bi? Kasihan."


Raefal tertawa melihat ekspresi Trissya yang konyol. Gadis itu terlihat sedih sembari memakan daging tersebut.


Lisna memutar bola matanya, "Katanya kasihan, tapi dimakan juga kamu teh."


"Kan, sayang kalo gak dimakan."


Mereka bertiga berbincang hangat di sore yang cerah itu.


"Trissya belum pernah pacaran sebelumnya. Makanya Bibi kaget pas tahu dia punya pacar ganteng gini."


Raefal tersenyum lebar sambil melirik Trissya yang masih memakan daging kambingnya.


Lisna mengerutkan dahinya. Dia melihat jas mahal yang dikenakan pria itu.


Lisna membatin, Kerja di mini market? Masa penampilannya kayak pengusaha di TV gitu.


"Rencananya saya mau ngelamar Trissya secepatnya dengan restu dari Bibi."


Lisna terkejut sekaligus terharu.


 


♥♥♥


Tak lama, pernikahan Raefal dan Trissya pun dilaksanakan. Hanya pesta sederhana di rumah Lisna. Tamu yang hadir pun tidak banyak. Hanya beberapa orang terdekat saja yang diundang. Lisna terlihat begitu bahagia. Dia merasa sangat senang karena telah menikahkan Trissya yang sudah seperti putrinya sendiri.


Alma dan Chilla datang bersama Haidar dan Adry. Kedua sahabatnya itu memeluk Trissya. Gadis itu yang tampak cantik dengan kebaya putih di tubuhnya. Dia sudah resmi jadi istrinya Raefal.


Adry dan Haidar juga memberi ucapan selamat pada Raefal.


Adry melihat mobil Raefal yang terparkir di depan rumah Lisna. Dia menoleh pada Raefal dan berbisik, "Wah, setelah kamu keluar dari mini market, kamu jadi pengusaha, ya? Bagus, selamat pokoknya."


Raefal hanya tersenyum bingung, "Ah, tidak juga."


Haidar menepuk-nepuk bahu Raefal, "Ah, kamu beneran gak ngasih kabar, dan tiba-tiba ngasih surat undangan. Kamu bener-bener keterlaluan. Tadinya aku mau nikah lebih dulu sama Alma. Tapi, malah keduluan sama kamu."


Adry terkekeh sambil mendengar kekonyolan Haidar.


Raefal mengangguk, "Kalo kamu atau Bang Adry nikah, jangan lupa undang aku juga."


"Pasti!" Dengan percaya diri, Haidar mengacungkan jempolnya.


"Kita seneng bangeeeet!!" Seru Chilla. Alma mengangguk tanpa mau melepaskan pelukannya dari Trissya.


Raefal hanya terkekeh kecil melihat kedua sahabat istrinya itu.


"Gak nyangka, deh. Ternyata kamu yang lebih dulu nikah sama Raefal. Langgeng, yaaa." Alma mengusap punggung Trissya dengan lembut.


"Raefal jangan cemburu, ya. Kita mau peluk kak Trissya sepuasnya, sebelum dipeluk sama kamu," ucap Chilla.


Raefal mengangguk sambil tertawa, "Lakuin aja apa yang kalian mau."


"Oh ya, Bang. Gimana kabar bu Tari? Kenapa gak ikut?" Tanya Raefal. Adry menghela napas berat, "Udah beberapa bulan tante Tari sakit. Dia harus menjalani operasi bulan depan."


Raefal tampak sedih. Dia mengusap bahu Adry, "Semoga cepat sembuh."


"Makasih, Raef."


Mereka berempat pamit pulang pada pasangan pengantin baru. Trissya dan Raefal saling pandang lalu tersenyum.


"Ah, rasanya aku sedang mimpi," ujar Raefal. Trissya tersenyum, "Mimpi yang jadi kenyataan."


Ternyata Fahri dan Erwan juga datang. Mereka mengucapkan selamat pada Raefal dan Trissya. Keduanya juga meminta maaf karena telah berbuat jahat pada Trissya.


Raefal dan Trissya memaafkan mereka berdua. Trissya berterima kasih pada kedua pemuda itu yang telah menghadiri pernikahannya.


Sementara itu, Lisna sedang berbicara dengan beberapa tamu.


"Wah, Teh Lisna punya mantu orang kaya, ganteng lagi. Dapet darimana atuh?"


"Iya, nih. Natrissya beruntung pisan."


Lisna hanya tersenyum, "Ya, namanya juga jodoh. Gak tahu dateng darimana."


Semua tamu undangan telah kembali. Trissya dan Raefal tidak melihat keberadaan Lisna setelah wanita itu berbicara dengan beberapa tamu. Entah kemana dia pergi.


Raefal berbisik ke telinga Trissya, "Malam ini kamu gak akan marah, kan, kalo aku ngapa-ngapain kamu?"

__ADS_1


Trissya menutup wajahnya karena malu dengan pertanyaan Raefal. Pria itu tertawa sambil merangkul istrinya. Mereka berdua melihat Lisna datang. Raefal dan Trissya tersenyum sambil bangkit dari tempat duduk mereka. Kedua mata pasangan yang baru menikah itu melebar ketika melihat keberadaan sepasang suami istri di belakang Lisna.


Trissya dan Raefal saling pandang. Kedua orang itu adalah Daeriel dan Qwella.


"Tega sekali kamu gak ngundang kakakmu ini, Raef!" Daeriel memeluk Raefal. Trissya segera berlindung di belakang suaminya. Daeriel melihat pada Trissya yang menunduk menghindari kontak mata dengannya.


Qwella tersenyum sinis. Raefal melihat perut buncit wanita itu menandakan jika dia sedang mengandung.


Raefal melepaskan pelukan Daeriel dengan kasar. Lisna heran dengan sikap Raefal pada kakaknya sendiri.


"Halo, Natrissya." Qwella menghampiri gadis itu yang terus-menerus bersembunyi di balik punggung Raefal.


"Trissya, mereka tamu pernikahan. Sapa dengan baik," kata Lisna. Tiba-tiba kedua mata wanita itu berubah warna jadi merah tua. Lisna berada dalam kendali Daeriel.


"Bibi." Trissya menghampiri Lisna. Dia memegang tangan bibinya. Daeriel menolehkan mata merahnya kearah Raefal.


"Ibu sama ayah pasti sedih kalo tahu anak kesayangan mereka nikah diam-diam kayak gini," ujar Daeriel.


"Lu mau apa kemari?" Tanya Raefal.


"Gua cuma mau menghadiri acara pernikahan adek gua. Apa gua salah?" Tanya Daeriel sambil memasang ekspresi sedih.


Trissya masih mengguncang lengan Lisna. Qwella memperhatikan apa yang sedang dilakukan Trissya.


"Emangnya lu abang macem apa?! Lu udah dua kali hampir ngebunuh gua!" Bentak Raefal.


Daeriel mendecih, "Ah, itu masa lalu. Gua udah ngelupain kejadian itu. Lo gak ada niat bawa istri manis lo itu ke kerajaan kita?"


Raefal mendorong dada Daeriel, "Enggak, kalian berdua pergi sana."


Qwella dan Daeriel saling pandang.


"Kerajaan drucless akan selalu terbuka untuk kalian," kata Daeriel dengan senyuman bijaknya. Keduanya menghilang dari pandangan. Lisna tersentak sadar. Dia melihat ke sekeliling. Trissya memeluk bibinya. Raefal menghela napas panjang.


♥♥♥


Trissya menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dia mengenakan gaun tidur berwarna putih. Gadis itu merasa tidak tenang. Dia mengingat kedatangan Daeriel dan Qwella sore ini ke pernikahannya. Itu mengganggu pikirannya. Meskipun Raefal selalu di sampingnya, akan ada kalanya pria itu lengah.


Mereka berdua sedang berada di rumah Trissya.


Raefal memasuki kamar dengan handuk melilit di pinggangnya. Dadanya dan perutnya yang seksi terekspos begitu saja. Ditambah dengan rambut basah yang meneteskan air dari ujung-ujungnya. Trissya yang melihat pantulan suaminya dari cermin mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan pipi yang sudah merona merah.


Raefal tersenyum geli. Dia menghampiri istrinya dan menyentuh bahunya. Trissya mendongkak menatap pantulan wajah suaminya dari cermin.


Raefal sedikit membungkuk untuk mencapai telinga Trissya. Dia berbisik, "Sayang, kamu masih pakai baju? Emangnya ada malam pertama pakai baju?"


Trissya merinding geli karena merasakan napas hangat Raefal yang menerpa telinganya. Pria itu duduk di tepi ranjang sambil mengusap rambutnya yang basah.


"Kamu gak perlu mikirin Daeriel sama Qwella. Mereka hanya ingin menakut-nakuti kita." Raefal seolah tahu dengan isi hati istrinya itu. Trissya menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya.


"Kamu yakin, mereka gak ada niat buat ngalakuin hal buruk ke kita?" Tanya Trissya. Raefal tampak berpikir, "Aku akan jagain kamu seterusnya. Apalagi kita udah nikah."


Trissya memeluk tubuh topples suaminya. Otomatis Raefal juga membalas pelukan istrinya.


"Makasih udah ketemu sama aku dan makasih udah nikah sama aku." Trissya akan menangis. Raefal menyentuh dagu istrinya, "Kenapa nangis? Harusnya kamu bahagia, Sayang."


"Aku nangis karena bahagia, Sayang."


Mereka saling menatap satu sama lain. Raefal menatap bibir Trissya yang sedikit terbuka. Dia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir itu. Trissya menutup matanya membiarkan suaminya itu mendapatkan hak darinya.


Raefal melepaskan ciumannya dan menatap Trissya lagi, "Ada hal yang perlu aku lakukan sebelum aku menyentuhmu secara resmi."


"Segel drucless?" Tanya Trissya.


Raefal mengangguk, "Kamu tahu?"


"Jika segel drucless bisa menjadikanku milik kamu seutuhnya, aku siap." Setelah mengatakan itu, Trissya menutup matanya. Raefal menarik tengkuk Trissya dengan lembut.


Kedua mata Raefal berubah warna menjadi biru. Taring tajam mencuat dari bibirnya. Pria itu mendekatkan wajahnya ke leher Trissya seraya berbisik, "Setelah aku memberikan segel *dru*cless lalu nyentuh kamu, maka kamu akan jadi wanita seutuhnya. Apa kamu rela?"


Tanpa membuka matanya, Trissya mengangguk, "Itu adalah tujuan pernikahan."


Raefal membuka mulutnya dan menggigit leher Trissya. Otomatis kedua mata gadis itu terbuka lebar. Dia mencakar punggung Raefal sambil meringis kesakitan. Darah segar mengalir membasahi gaun putihnya. Raefal berhenti menggigit istrinya. Dia memeluk Trissya dengan erat. Pria itu melihat kemunculan segel drucless dari bekas gigitannya. Segel itu melingkari leher jenjang istrinya.


Raefal mengusap darah itu dan melihat Trissya yang mengelap air matanya. Raefal tersenyum sambil membantu mengusap wajah gadis itu.


"Aku mencintaimu, Sayang." Raefal mengecup bibir Trissya dan menjatuhkan tubuh mereka ke tempat tidur. Pria itu mengusap rambut Trissya yang berada di bawahnya. Sementara Trissya mengusap punggung suaminya.


"Raefal...." Desahan itu lolos dari bibir Trissya saat Raefal menatapnya dengan pandangan sayu. Pria itu menurunkan gaun Trissya. Bukan pertama kalinya dia melihat tubuh itu. Namun, malam itu adalah malam terindah bagi Raefal. Trissya hanya akan menjadi miliknya.


~


Pagi telah tiba. Raefal membuka matanya. Dia telungkup di atas tubuh polos Trissya. Pria itu tersenyum sambil menggeleng pelan jika teringat kejadian semalam. Raefal melihat wajah tenang istrinya yang masih tertidur pulas. Ada banyak jejak kemerahan di leher gadis.... eh, wanita itu. Dia tidak bisa lagi mengembalikan tubuh Trissya seperti semula karena tertanam segel drucless di tubuh wanita itu.


"Sayang, kamu gak mau bangun?" Tanya Raefal. Tidak ada jawaban. Napas Trissya tampak teratur. Pria itu tersenyum jahil. Dia mendekatkan wajahnya dan menyesap bibir istrinya. Tetap tidak ada respon. Sepertinya wanita itu benar-benar kelelahan dengan kelakuan suaminya semalam.


Raefal cemberut kesal. Dia menggelitik leher Trissya. Masih belum ada reaksi. Pria itu melumat telinga Trissya. Wanita itu menggelinjang tanpa mau membuka matanya. Dia menepuk-nepuk pipi Raefal dengan keadaan baru setengah sadar.


"Bangun, gak?" Ancam Raefal.


"Enggak, aku cape."


"Aku pergi, ya." Raefal beranjak dari atas tubuh istrinya. Tapi, Trissya segera meraih tangan kekar suaminya. Raefal menoleh pada Trissya sembari menutupi bagian bawah tubuhnya dengan handuk putih.


"Mau kemana?" Tanya Trissya yang mengerjapkan matanya berkali-kali menatap Raefal sebentar lalu kembali menutup matanya.


"Mau ke kamar mandi."


"Oh." Trissya melepaskan tangannya. Raefal kembali duduk sambil mengusap pipi Trissya.


"Tapi, gak jadi, deh."


"Kenapa?" Trissya mengucek matanya. Kini kesadarannya mulai berkumpul. Raefal kembali **** tubuh Trissya. Wanita itu mendesis pelan.


"Aku belum mau mandi. Gimana kalo kita ulangi lagi yang semalam?" Goda Raefal. Kedua pipi Trissya merona.


 


 


"Raefaaal," gerutu Trissya. Raefal tertawa.


"Sana mandi."


"Disini gak ada air suci, emangnya kamu mau aku kejang-kejang?"


~


Setelah beberapa minggu pernikahan, Lisna meminta mereka untuk berbulan madu ke kota. Dia tidak ingin melihat pasangan itu tinggal di kampung dan mengurus kambing.


Keduanya merasa berat hati, jika harus meninggalkan Lisna. Namun, Lisna meyakinkan mereka, kalau dirinya baik-baik saja. Dia sudah terbiasa sendiri.


Akhirnya, mereka berdua memutuskan kembali ke Jakarta dan tinggal di rumah Raefal.


♥♥♥


 


 


 


13.30 : 26 September 2019


By Ucu Irna Marhamah


 

__ADS_1


 


__ADS_2