DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Ibuku


__ADS_3

~Accept the situation and move on.~


♥♥♥


 


 


"Hhh... Natrissya...."


Trissya menangis dalam kungkungan Daeriel. Semalaman pria itu memperlakukannya dengan kasar. Tidak ada kesempatan tidur, meskipun malam telah berlalu. Jerit tangisnya tidak dipedulikan. Ini bukan pertama kali Trissya melakukannya. Tapi, karena tubuhnya kembali menjadi seorang gadis, otomatis dia merasakan lagi sakitnya berhubungan pertama. Apalagi Daeriel melampiaskan hasratnya yang tertunda lama pada Trissya.


Daeriel tidak berniat melepaskan Trissya dari dekapannya. Wanita itu sedikit bergerak untuk membelakangi Daeriel. Dia masih menangis tanpa suara. Tubuhnya benar-benar sakit semua. Trissya merasakan napas Daeriel yang teratur menerpa tengkuknya. Pria itu tertidur rupanya.


Trissya memegang tangan Daeriel yang melingkar di perutnya. Wanita itu menyingkirkan tangannya Daeriel dengan hati-hati. Dia bangun untuk turun dari tempat tidur. Namun, tangan Daeriel bergerak menarik tubuh Trissya kembali ke pelukannya. Trissya meringis sembari memegang perutnya.


"Mau kabur?" Tanya Daeriel tanpa membuka matanya. Trissya menahan tangan Daeriel yang mengeratkan pelukannya. Daeriel membuka matanya. Dia menatap punggung polos Trissya.


"Selangkah saja kamu pergi, aku akan mencekikmu," ancam Daeriel, "Dua langkah, aku akan menggigitmu."


Trissya mengalah. Percuma saja melawan pria sialan itu.


"Tidur," kata Daeriel sembari menutup kembali kedua matanya.


Bagaimana caranya tidur? Tubuhku sakit semua! Ini karena kamu, brengsek! Batin Trissya menjerit. Daeriel membuka matanya lagi, "Kalo kamu gak berontak, kamu gak bakalan kayak gini."


Trissya terkejut mendengar ucapan Daeriel. Dia berpikir, kok, dia tahu pikiranku? Jangan-jangan dia bisa baca pikiran.


Daeriel tersenyum kemudian menutup matanya. Trissya menyingkirkan tangan Daeriel. Lagi-lagi pria itu membuka matanya. Trissya bangkit sambil meringis pelan.


"Aku sudah memperingatkan kamu," ucap Daeriel. Trissya tidak mau mendengarkan ucapan Daeriel. Dia melangkahkan kakinya. Namun, tubuhnya terhuyung ke depan dan dia jatuh tersungkur ke lantai.


Di luar dugaan. Sakit di tubuh Trissya membuatnya tidak bisa menggerakkan kedua kakinya. Trissya menangis tertahan. Daeriel bangkit dan melihat Trissya yang ngesot di lantai.


Pria itu melihat darah yang mengalir dari selangkangan Trissya. Ada rasa iba di hatinya, mengingat itu adalah perbuatannya. Pria itu bangkit menghampiri istrinya. Dia mengangkat tubuh Trissya dan merebahkannya ke tempat tidur.


"Pelayan akan datang membersihkan tubuh kamu," ucap Daeriel kemudian berlalu.


Trissya menangis sejadi-jadinya. Dia memeluk tubuhnya sendiri. Sampai-sampai dia terlelap tidur.


Beberapa saat kemudian, pelayan datang. Seperti apa yang dikatakan Daeriel, para pelayan itu memandikan tubuh Trissya.


~


Wanita itu hanya bisa duduk melamun di jendela. Dia menatap langit drucless yang cerah, berbanding terbalik dengan perasaannya. Dia merindukan Raefal.


Laureen mengintip dari pintu kamar ayahnya. Dia memperhatikan Trissya yang sedang melamun. Gadis kecil itu ingin mendekati Trissya. Namun, Laureen merasa jika Trissya tidak menyukainya, sama seperti yang lain.


Merasakan kehadiran seseorang, Trissya menoleh ke pintu. Laureen segera bersembunyi. Padahal Trissya sudah melihat keberadaannya. Wanita itu kembali menatap langit tanpa memperdulikan keberadaan Laureen.


Trissya melihat bulan merah muncul, menandakan hari itu akan berakhir dan berganti dengan malam. Kedua matanya menyaksikan proses bergantinya siang dan malam. Sungguh cepat waktu berjalan di dunia drucless.


Daeriel berjalan gontai menuju ke kamarnya. Jubah merahnya bergerak seiring dengan langkahnya. Pria itu melihat Laureen sedang mengintip ke kamarnya. Daeriel menyentuh bahu putrinya. Laureen mendongkak menatap sang ayah.


"Ada apa?" Bisik Daeriel. Laureen menujuk ke kamarnya. Daeriel melihat Trissya sedang duduk di jendela.


"Nanti ibu jatuh," bisik Laureen. Daeriel menggeleng, "Dia gak akan jatuh. Ayo tidur, ini sudah malam."


Daeriel menggendong anaknya. Pria itu berlalu ke kamar Laureen.


"Ayah, Laueen mau nanya, boleh?" Tanya Laureen sambil mengeratkan pelukannya ke leher Daeriel. Pria itu mengangguk, "Nanya apa, Sayang?"


"Ayah cinta sama ibu?" Tanya Laureen. Daeriel tampak berpikir, "Iya."


"Kalo Ayah sayang sama ibu, kenapa Ayah jahat sama ibu?" Daeriel mencerna pertanyaan putrinya. Pria itu menidurkan tubuh Laureen.


"Ayah, ibu tidak cinta sama Ayah."


Daeriel tahu.


"Selamat malam, Sayang." Pria itu mengecup kening putrinya kemudian berlalu. Laureen menatap punggung sang ayah yang menghilang di balik pintu.


Daeriel memasuki kamarnya. Dia melihat Trissya yang posisinya tidak berubah. Wanita itu masih duduk di jendela.


"Sudah bisa jalan, ya?" Tanya Daeriel sembari duduk di tepi ranjang. Tatapannya tertuju pada istrinya. Tampaknya wanita itu tidak berniat menjawab pertanyaannya.


"Turun dari sana," kata Daeriel. Trissya masih menatap kosong ke langit drucless yang sudah gelap. Pria itu mendengus lalu menghampiri istrinya. Dia menarik tangan Trissya. Wanita itu terhuyung sembari memegang tangan Daeriel yang mencengkram pergelangan tangannya.


"Terima saja takdirmu," ucap Daeriel.


Takdir.


Kata itu pernah didengarnya dari Raefal.


Aku dan kamu adalah takdir, itu kalimat yang dikatakan Raefal sebelum pria itu benar-benar pergi dari hidupnya.


"Ratu Natrissya, rakyat memanggilmu dengan nama itu. Mereka saja mengakuimu sebagai istriku," kata Daeriel. Trissya tidak menjawab. Dia tidak melihat Daeriel sedikit pun.


"Berhenti memikirkan pria lain saat suamimu ini berada di depan kamu!" Teriak Daeriel. Trissya mendelik ke arah pria itu, "Yang kamu sebut 'pria lain' itu adalah suamiku."


Daeriel mendorong Trissya ke tempat tidur, "Lupakan dia! Aku suami kamu sekarang! Kamu hanya harus memikirkan aku seorang, bukan yang lain!"


Mata Daeriel berubah merah. Trissya segera menutup matanya sebelum Daeriel benar-benar mengendalikan pikirannya lagi. Pria itu menarik lengan Trissya.


"Buka mata kamu!"


"Aku gak mau dikendalikan sama kamu! Aku tidak mau!" Teriak Trissya.


"Natrissya!"


Wanita itu menutup kedua telinganya. Dia meringkuk di tempat tidur. Daeriel sangat kesal. Tangannya bergerak akan menarik rambut istrinya. Namun, ucapan Laureen tiba-tiba terngiang di telinganya.


Ayah, ibu tidak cinta sama Ayah.


Warna mata pria itu kembali normal. Dia mendengus api. Pria itu bergegas pergi meninggalkan Trissya di kamarnya.


Wanita itu perlahan membuka matanya.


~


Ketika malam berganti dengan siang, Laureen bangun dengan semangat. Hari ini dia memutuskan untuk menemui Trissya dan berbicara dengan wanita itu. Langkah kecilnya yang cepat membawanya ke kamar sang ayah. Dia membuka pintu kokoh itu dan masuk.


Dia melihat Trissya terbaring di atas tempat tidur. Tampaknya wanita itu belum bangun. Laureen memiringkan kepalanya melihat Trissya yang tertidur seperti itu. Dengan pelan, dia berjalan mendekati Trissya.


Laureen tidak melakukan apa-apa. Dia hanya memperhatikan Trissya. Kedua mata bulatnya melihat luka di tangan Trissya. Itu adalah perbuatan Daeriel. Semalam pria itu memaksa Trissya turun dari jendela dengan menarik tangannya. Gelang-gelang itu menggores pergelangan tangannya.


Laureen merasa sedih. Meskipun dia masih sangat kecil, dia menyadari kalau ayahnya sangat jahat. Dia sering mendengar keburukan ayahnya dari bisikan-bisikan para pelayan. Daeriel suka menghukum rakyat yang berbuat salah seenak hatinya. Bahkan pria itu menyakiti Trissya, wanita yang dia anggap ibu oleh Laureen.


Gadis kecil itu menyentuh tangan Trissya. Namun, sebelum tangan kecil itu menyentuhnya, wanita itu bergulir ketika tidur. Dia membelakangi Laureen.


Takut mengganggu, Laureen memilih pergi dari kamar itu.


Trissya membuka matanya. Sebenarnya dia tidak tidur. Dia hanya berpura-pura tidur, agar tidak berinteraksi dengan anaknya Daeriel.


Laureen mencari ayahnya ke setiap penjuru istana. Namun, entah kemana pria itu pergi.


Ada Dharaa yang berpapasan dengannya.


"Bibi tabib, apa Bibi melihat ayahku?" Tanya Laureen. Dharaa menggeleng, "Tidak, Putri Laureen."

__ADS_1


Laureen menarik tangan Dharaa dan mengguncangkannya, "Ibuku tangannya teluka. Bibi obati, ya."


Dharaa terkejut, "Ah? Beneran?"


Laureen mengangguk. Dhara menarik tangan Laureen, tapi gadis kecil itu tidak bergeming. Dharaa menoleh heran pada Laureen.


"Putri Laureen tidak mau mengantar saya ke kamar ratu Trissya?" Tanya Dharaa. Laureen terlihat sedih, "Emm, Bibi tabib aja yang pelgi."


Dharaa tampak berpikir, "Gimana, ya... saya kurang enak kalo masuk ke kamar ratu sendirian."


"Emm... Laueen gak mau bikin ibu sedih. Laueen tahu, ibu gak suka sama Laueen. Jadi, Bibi tabib pelgi saja sendili, ya."


Mendengar ucapan Laureen, Dharaa merasa iba. Gadis kecil itu memiliki kepekaan di usianya yang masih sangat muda itu.


Dharaa sedikit membungkuk menyesuaikan tingginya dengan Laureen. Dia berucap, "Ya udah, Bibi janji bakalan obatin ibunya Putri Laureen."


Gadis kecil itu mengangguk semangat. Dharaa tersenyum kemudian berlalu. Laureen menghela napas berat.


"Ibu gak mau ketemu sama Laueen, ya? Kenapa dia pula-pula tidul tadi? Padahal Laueen pengen ketemu sama ibu," gumam Laureen pelan.


Jadi, sebenarnya gadis kecil itu tahu, kalau Trissya pura-pura tidur.


Dharaa mengetuk pintu kamar raja. Tidak ada jawaban. Dengan memberanikan diri, wanita itu masuk dan melihat Trissya duduk di jendela.


"Ratu, saya mau mengobati tangan anda," ujar Dharaa sembari menghampiri Trissya.


"Aku benci kamu manggil aku ratu," ucap Trissya. Dharaa menunduk, "Ini keharusan."


"Aku istrinya Raefal. Suamiku bukan seorang raja. Dia seorang pegawai mini market, sama seperti aku," ucapan Trissya terdengar seperti penekanan dan tidak mau mendengar bantahan.


"Baiklah," ucap Dharaa sambil memegang tangan Trissya dan mengobati luka itu dengan ramuan yang sempat dia bawa sebelum datang ke ruangan itu.


"Putri Laureen yang memberitahu aku kalo tangan kamu terluka," ucap Dharaa. Trissya mengalihkan pandangannya mendengar nama Laureen.


Tidak mendapatkan respon, Dharaa melanjutkan kalimatnya, "Tidak ada alasan kamu benci sama putri Laureen. Dia bahkan sangat peduli padamu. Tapi, dia takut kalo kamu tidak menyukainya."


"Aku memang membencinya," ujar Trissya. Dharaa menghela napas berat, "Apa yang dilakukan raja Daeriel memang tidak bisa dimaafkan. Tapi, apa yang dilakukan putri Laureen? Dia tidak tahu apa-apa."


"Dan apa yang dilakukan bayi dalam perutku! Kenapa Daeriel menghilangkannya! Kenapa dia tidak membunuhku sekalian!" Bentak Trissya.


"Trissya, kamu bisa menganggap putri Laureen seperti anak kamu sendiri," kata Dharaa berusaha lembut. Trissya mendecih sambil membuang muka, "Aku hanya akan mencintai anakku. Bayi yang lahir dari rahimku, bukan anak yang lahir dari perut orang lain, apalagi anaknya Daeriel."


"Terserah saja. Aku cape ngomong gini terus ke kamu."


Dengan rasa kesal, Dharaa meninggalkan Trissya sendirian. Wanita itu kembali menatap ke langit yang terik.


Sementara itu, Daeriel sedang berdoa di kuil drucless. Dia menginginkan Trissya agar mencintainya seperti saat wanita itu mencintai Raefal. Namun, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi.


Pria itu tiba-tiba teringat pada Qwella. Ya, wanita itu bisa membuat Raefal jatuh cinta padanya dengan pengendalian pikiran. Daeriel juga bisa mengendalikan pikiran Trissya, apakah dia juga bisa membuat Trissya jatuh cinta padanya dengan cara yang sama seperti Qwella?


Pria itu berbalik untuk kembali ke istana. Dia ingin membuat wanita itu mencintainya.


Setibanya di istana, Laureen menemuinya. Gadis kecil itu memeluk ayahnya dengan manja.


"Ayaaaahh, kenapa ayah gak ada di istana sehalian? Ayah kemana aja?" Tanya Laureen. Daeriel tertawa. Dia mengusap rambut putrinya sembari berujar, "Kamu kangen sama Ayah?"


Laureen mengangguk cepat, "Ayah pelgi kemana? Kenapa gak ngajak Laueen?"


"Ayah abis dari kuil. Tadinya ayah mau ngajak kamu. Tapi, kamu masih tidur," jawab Daeriel.


Keduanya memasuki ruang makan istana. Sudah tersedia banyak makanan di meja. Ketika makan, Laureen teringat pada Trissya.


"Ibu belum makan," kata Laureen. Daeriel tampak berpikir. Dia memanggil salah satu pelayan untuk menyuruh Trissya datang ke ruangan tersebut.


Laureen tampak semangat. Dia ingin melihat Trissya. Gadis kecil itu ingin makan bersama-sama seperti keluarga lainnya. Daeriel mengerti perasaan putrinya. Dalam hati dia merasa sedih.


Beberapa saat kemudian, pelayan itu kembali sembari membungkuk, "Yang mulia, ratu Natrissya tidak mau makan."


Laureen terlihat sedih. Dia memegang tangan ayahnya yang mengepal.


"Ayah, kalo ibu mati... Laueen gak punya ibu lagi."


Perlahan kepalan tangannya melemah. Daeriel mengusap rambut putrinya.


"Anak Ayah sangat baik."


"Kan, Ayah pengen Laueen jadi baik. Gak boleh jahat kayak Ayah."


Daeriel tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos Laureen.


"Iya juga, ya."


Malam tiba dengan cepat. Trissya masih duduk di jendela. Wanita itu tidak takut jatuh dari sana. Dia tetap duduk dengan posisi yang sama. Seolah-olah dia sedang melihat sesuatu yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.


Daeriel memasuki kamarnya. Dia memutar bola matanya melihat kebiasaan baru istrinya itu, duduk seharian di jendela.


Dua orang pelayan masuk dengan masing-masing membawa nampan berisikan makanan yang banyak. Mereka meletakkannya di atas meja di kamar itu. Kemudian mereka membungkuk dan pergi.


"Sebenarnya kamu itu lagi ngeliatin apa?" Tanya Daeriel. Trissya menyelipkan rambutnya ke telinga. Dia menjawab, "Melihat proses bergantinya siang dan malam."


Ada rasa senang ketika wanita itu menjawab pertanyaannya. Tidak biasanya Trissya akan merespon cepat. Daeriel mengangguk malas.


"Ngapain dilihat terus? Sama aja kayak di dunia manusia, kan?" Tanya Daeriel.


"Baru 5 hari. Aku membutuhkan 95 hari lagi," ucap Trissya terdengar ambigu. Daeriel mengerutkan keningnya. Dia bertanya lagi, "Untuk apa 95 hari itu?"


Hening.


Daeriel teringat sesuatu. Dia mengepalkan tangannya kesal, "Kamu menunggu pria itu bereinkarnasi?!"


Trissya menutup matanya. Sebentar lagi Daeriel akan mengamuk padanya. Itu sudah biasa.


"Meskipun bereinkarnasi, dia pasti lupa sama kamu. Kelahiran kembali di tubuh yang berbeda dan ingatan yang berbeda juga. Takdir kamu sama dia udah selesai," ucap Daeriel. Trissya tidak merespon. Percuma saja dia menjawab pria itu.


"Makan sana, atau aku yang akan memakan kamu," ancam Daeriel. Tidak ada jawaban. Pria itu memutar bola matanya.


"Kamu butuh tenaga, malam ini gak ada istirahat," ucap Daeriel. Trissya menoleh pada pria itu. Daeriel kembali bersuara, "Jadi, makan sana."


Trissya menutup matanya sembari menyandarkan kepalanya ke jendela.


Daeriel duduk di tepi ranjang. Dia masih memperhatikan Trissya. Dia menggerakkan tangannya, "Gak mau makan? Kalo gitu, sini."


Diluar dugaan. Gadis itu turun dari jendela. Dia melangkah menghampiri Daeriel. Wanita itu berdiri di depan Daeriel yang duduk di tepi ranjang. Pria itu mendongkak menatap wajah Trissya yang tidak berekspresi.


Pria itu menarik tubuh Trissya.


~


Cahaya matahari menyusup melalui celah-celah ukiran dinding kamar. Dengan malu-malu, cahaya itu menggangu dua makhluk yang masih terlelap dalam mimpi. Mereka berdua bergelung dalam selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


Perlahan Trissya membuka matanya. Dia berada dalam pelukan Daeriel. Air matanya jatuh lolos. Semalam dia membiarkan pria itu menyentuhnya. Bukan tanpa alasan....


Perlahan Trissya menyingkirkan tangan Daeriel dari perutnya. Dia bangkit dengan terhuyung untuk memakan pakaiannya. Wanita itu keluar dari kamar tersebut. Dia berjalan ke dapur.


Kali ini... hanya kesempatan ini yang aku punya. Aku akan membunuh kamu, Daeriel.


Trissya melihat para pelayan yang bekerja di dapur. Pandangan mereka tertuju padanya. Mereka semua membungkuk hormat. Kedua manik Trissya tertuju pada pisau di meja.


Dia mengambilnya kemudian berlalu kembali menuju kamarnya.

__ADS_1


Setelah aku membunuh Daeriel, aku akan menusuk jantungku sendiri untuk menemui Raefal. Kami akan terlahir kembali dan hidup bersama di kehidupan selanjutnya.


Tampaknya wanita itu benar-benar sudah gila. Dia membuka pintu kamar. Kedua matanya melebar melihat keberadaan Laureen disana. Daeriel masih tertidur pulas.


Gadis kecil itu menghampiri Trissya. Wanita itu segera menyembunyikan pisaunya ke belakang.


Dengan mata berbinar, Laureen menatap Trissya. Wanita itu mengalihkan pandangannya tidak ingin bertatapan dengan gadis kecil itu.


"Selamat pagi," sapa Laureen semangat. Untuk pertama kalinya dia bicara pada Trissya. Wanita itu tidak menjawab sapaan hangat dari anak perempuan itu.


Bagaimana jika aku membunuh anak ini sekalian?


Laureen terlihat sedih karena Trissya mengabaikannya. Trissya menggenggam erat pisaunya. Dia melangkah mendekati Laureen dan siap menusuk anak kecil itu. Kedua alisnya menukik.


"Ibu gak suka sama Laueen, ya? Laueen janji gak akan nakal lagi. Laueen gak akan ganguin Ibu," kata Laureen.


Kedua alis Trissya terangkat mendengar ucapan Laureen. Tersirat luka dari ucapan Laureen. Ada rasa sakit mendengar kalimat itu lolos dari bibir gadis kecil itu.


"Tapi, Laueen sayang Ibu."


Deg.


Bagaimana bisa Laureen bisa berkata sepolos itu?


Tanpa sadar, Trissya menitikkan air matanya. Dia melayangkan pisaunya. Laureen membelalak terkesiap.


Trissya menusuk perutnya sendiri. Wanita itu meringis pelan dan jatuh ke lantai. Laureen gemetar ketakutan melihat itu.


"Ibu!" Teriak Laureen.


Daeriel terbangun karena mendengar suara Laureen. Dia terkejut melihat Trissya terkapar di lantai dengan bersimbah darah.


Pria itu segera menutupi bagian bawah tubuhnya lalu menghampiri Trissya dan Laureen.


"Apa yang kamu lakukan?!" Bentak Daeriel pada Trissya. Laureen menangis ketakutan.


Daeriel mengangkat tubuh Trissya dan menidurkannya ke ranjang. Dia segera memanggil para tabib untuk menyelamatkan nyawa Trissya. Sementara Laureen tampak cemas dan sedih.


Daeriel bahkan memanggil tabib perempuan dari perbatasan dunia drucless untuk menolong nyawa istrinya.


Geross sangat cemas mendengar berita itu. Dia meminta untuk ikut datang ke istana meskipun yang diperintahkan datang hanya tabib perempuan.


Di istana Zeroun, tabib-tabib perempuan yang menangani sang ratu tampak cemas. Apalagi Trissya yang tidak sadarkan diri dengan luka yang terus-menerus mengalirkan darah.


"Yang mulia, akan lebih baik kalau ratu Natrissya dibawa ke dunia manusia dan diobati oleh dokter," kata salah satu tabib.


"Kalian yang harus menyembuhkannya!" Bentak Daeriel.


Para tabib pun berusaha sebisa mungkin. Daeriel memeluk Laureen yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Ibu menusuk perutnya kalena dia malah sama aku, kan?" Tanya Laureen. Daeriel menggeleng, "Tidak, Sayang. Ibu seperti itu karena kesalahan Ayah."


"Ayah, jangan sampai ibu pelgi."


"Tidak, Sayang. Itu tidak akan terjadi."


Geross yang berdiri di depan kamar raja tidak berhenti mondar-mandir. Dia merasakan sesuatu. Pria tua itu mengambil kotak beludru berwarna biru gelap yang selalu dibawanya kemana pun dia pergi. Pria tua itu membukanya.


Isinya adalah diamond milik Raefal yang sudah memudar. Geross mengerutkan keningnya melihat diamond itu berkilauan.


Geross membatin, meskipun sudah tiada, cinta Raefal masih besar untuk Trissya. Dia ingin menyelamatkan Trissya.


Geross melihat Daeriel dan Laureen keluar dari kamar.


"Kamu di sini, ya." Daeriel menyuruh Laureen duduk di depan kamar agar tidak melihat para tabib yang sedang melakukan tugas mereka.


Geross segera menghampiri mereka berdua.


"Yang mulia, saya rasa... ratu Natrissya bisa diselamatkan dengan diamond ini," ucap Geross sambil memperlihatkan diamond yang berkilauan di tangannya. Laureen berjinjit melihat benda itu.


Daeriel melihat diamond tersebut, "Itu punya Raefal. Kamu nemu dari mana?"


Mendengar pertanyaan Daeriel, Geross menunduk dalam. Dia menjawab, "Saya menemukannya waktu anda memerintahkan para tabib membersihkan lokasi di dekat pohon kehidupan."


Daeriel segera mengambil diamond itu dan kembali memasuki kamar. Pria itu memberikannya pada tabib di dalam.


"Masukkan diamond ini ke dalam tubuh istriku!" Perintah Daeriel. Dharaa menoleh, "Apa tidak apa-apa, Yang mulia? Maksud saya... ratu Natrissya adalah bangsa manusia, sementara diamond ini adalah nyawa untuk bangsa drucless."


"Tidak ada waktu, cepat!" Bentak Daeriel.


Sesuai perintah, para tabib memasukkan diamond itu ke dalam tubuh Trissya.


Daeriel memegang dahinya seperti orang yang sedang sakit kepala. Pria itu berlalu keluar dari kamar. Dia menemui Geross. Laureen dan Geross menghampirinya.


"Ayah, apa ibu udah bangun?" Tanya Laureen. Daeriel tersenyum sembari mengusap rambut putrinya.


"Kamu jangan khawatir, ya. Bibi-bibi tabib sedang menolong ibu."


Laureen mengangguk lemah.


"Ayah mau bicara dulu sama kakek Geross. Kamu pergi main, ya."


Dengan berat hati, Laureen berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Aku mau bertanya sesuatu," ucap Daeriel. Geross mengangguk, "Saya akan menjawab, bila saya tahu, Yang mulia."


"Qwella bisa mengendalikan pikiran Raefal agar mencintainya. Apa kamu tahu, bagaimana caranya?"


Hening.


Apa mungkin raja Daeriel ingin mengendalikan pikiran ratu Natrissya agar mencintanya juga?  Tanya Geross dalam hati.


"Emm, saya tidak tahu."


"Ya, sudah."


Sementara itu, Laureen sedang berada di belakang istana. Dia tengah duduk di ayunan di bawah pohon besar. Gadis kecil itu mengkhawatirkan Trissya.


Qwella, ibu kandungnya, telah pergi. Sebenarnya itu tidak membuatnya terlalu sedih, mengingat wanita itu selalu berusaha membunuhnya. Tapi, ketika dia melihat Trissya dalam keadaan seperti itu, Laureen benar-benar sedih. Dia tidak ingin kehilangan ibunya.


Natrissya adalah ibu pertama dan terakhir untuk Laureen.


♥♥♥


 


 



 


 


19.23 : 29 September 2019


By Ucu Irna Marhamah


 

__ADS_1


 


__ADS_2