DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Kekuatan Misterius


__ADS_3

~Ada hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Namun, aku memilih diam.~


♥♥♥


 


 


Kehamilan Trissya membuat kebahagiaan Raefal bertambah. Dia selalu memperhatikan Trissya dengan baik. Beruntung Raefal memiliki istri yang berhati keibuan. Trissya menjaga bayi dalam perutnya dengan baik. Wanita itu benar-benar menginginkan anaknya terlahir dengan sehat dan selamat.


Mereka berdua sering mengajak bayi dalam perut Trissya berbicara. Raefal akan menggoda Trissya dengan alasan bayinya yang menginginkan itu. Trissya juga tidak mau kalah. Dia sering merengek pada Raefal dengan alasan bayinya yang meminta.


Ketika usia kandungan Trissya menginjak bulan ke-3, wanita itu ngidam seblak. Raefal melarang keras istrinya memakan jajanan pedas itu. Namun, Trissya kesal dan diam padanya selama beberapa hari.


Raefal yang kebingungan, akhirnya membelikan seblak sesuai keinginan Trissya. Namun, Raefal memesan seblak yang tidak pedas.


Emm, Oke. Untung kamu ganteng, Raefal.


Menginjak bulan ke-5, Raefal selalu mendekatkan telinganya ke perut Trissya. Dia akan berbicara pada bayinya.


"Aku tebak, bayi kita ini sifatnya ceria, baik, dan rajin. Tapi, dia suka jahil dan mengerjai kita," ucap Raefal.


"Kamu tahu dari mana, Sayang?" Tanya Trissya. Raefal tampak berpikir, "Aku cuma nebak doang, sih."


"Aku benar-benar tidak sabar ingin memeluk dan menggendongnya." Trissya mengusap perutnya.


"Kamu udah punya nama buat bayi kita?" Tanya Raefal.


"Emm, belum. Apakah harus dipersiapkan sekarang? Kita, kan, belum tahu jenis kelamin anak kita." Trissya balik bertanya. Raefal tampak berpikir, "Bayi kita perempuan."


"Kamu tahu dari mana?" Tanya Trissya menyelidik. Raefal tertawa, "Kalo wanita hamil merengek terus, itu artinya dia sedang mengandung anak perempuan."


Trissya menatap tidak percaya pada Raefal, "Teori dari mana itu?"


Raefal mengedikkan bahunya, "Tapi, aku yakin. Bayi ini perempuan. Aku ini Papanya, jadi aku tahu."


Sebelum Trissya menyahut, Raefal kembali bersuara, "Coba kamu mau ngasih nama apa?"


Trissya tampak berpikir, "Aku bingung harus milih nama yang bagus untuk anak kita ini apa. Kenapa gak kamu aja yang ngasih nama?"


"Emm, sebenarnya aku udah mikirin nama ini dari jauh-jauh hari." Raefal mengusap perut Trissya.


"Aerilyn Natrayya Zeroun, bagus gak?" Tanya Raefal. Kedua mata Trissya berbinar. Wanita itu mengangguk semangat.


"Iya! Aku suka banget sama nama itu. Aaahh, kamu pinter banget ngasih nama." Trissya memeluk lengan kekar suaminya. Raefal terkekeh pelan.


"Aerilyn, nama kamu udah ditentukan sama Papa dan Mama. Mulai sekarang, Mama sama Papa akan manggil kamu Aerilyn, ya." Trissya mengusap perutnya.


Bulan ke-6, Trissya mengajak Raefal untuk membeli pakaian-pakaian lucu untuk bayinya nanti. Sebelumnya mereka berdua sudah mengecek jenis kelamin bayi mereka ke dokter. Dan benar dugaan Raefal. Bayi mereka perempuan. Sesuai keinginan Trissya. Wanita itu sangat bahagia.


Tujuh bulan usia kandungan, Trissya sedang merangkai bunga di depan rumah. Sementara Raefal sedang menyiram bunga dengan hati-hati. Ya, iyalah. Dia gak mau kesetrum.


Trissya mengusap perutnya, "Aerilyn suka warna apa? Nanti Mama bikinin rangkaian bunga buat Aerilyn." Wanita itu selesai merangkai bunga. Dia menunjukkannya pada Raefal.


Pria itu tersenyum sambil menunjukkan jempolnya. Dia meringis saat tetesan air dari selang membasahi kakinya.


Trissya tampak khawatir, "Hati-hati, Sayang."


Raefal terkekeh, "Aku gapapa, Sayang."


~


Trissya merapikan semua pakaian bayi ke dalam keranjang kecil. Dia begitu telaten. Apalagi sekarang perutnya sudah membesar. Usia 8 bulan kandungan. Tubuhnya juga tampak lebih gemuk. Raefal sangat memanjakannya. Pria itu tidak ingin melihat istrinya lelah. Jika dia melihat Trissya menyeka keringat, maka seketika Raefal berubah jadi wartawan dan penasehat.


Kamu nyapu lagi, ya?


Cuciannya kasih ke laundry aja.


Tugas kamu sekarang cuma istirahat.


Kenapa gak manggil aku kalo butuh bantuan?


Aku gak kemana-mana, kenapa gak nyuruh aku aja?


Nyiram bunga sama nyapu jadi tugas aku sekarang.


Setidaknya itu kalimat yang sering dia dengar dari Raefal. Sungguh suami yang baik.


Raefal itu bisa konyol dan romantis. Trissya sangat beruntung memilikimu Raefal. Seandainya mereka sama-sama manusia, mungkin kehidupan mereka akan mendekati kata sempurna.


Namun, Trissya bersyukur karena kehidupannya yang keras bisa berubah lebih baik setelah bersama Raefal.


Drucless tampan yang menggodanya.


Trissya tertawa kecil. Lipatan terakhir. Kaos kaki itu disimpannya ke keranjang. Ketika dia akan bangkit, tangan kekar itu terulur. Trissya mendongkak menatap Raefal.


Trissya memberikan keranjang tersebut pada Raefal. Pria itu menyimpannya. Trissya menatap punggung suaminya.


"Kamu udah makan siang?" Tanya Trissya. Raefal menoleh kemudian mengangguk. Pria itu duduk di sofa sambil memperhatikan istrinya.


"Kamu makin cantik aja pas hamil," kata Raefal. Trissya tersenyum, "Kamu sering bilang itu, emm... hampir setiap hari."


Trissya mendekat. Raefal sedikit menggeser tempat duduknya. Wanita itu duduk di samping Raefal. Ketika dia akan melelapkan kepalanya ke bahu Raefal, pria itu bangun. Trissya heran dengan sikap Raefal.


"Aku lupa sesuatu di bawah," ucap Raefal sembari menunjuk pintu. Pria itu tersenyum kaku kemudian berlalu. Trissya tampak berpikir. Dia bangkit dan menyusul suaminya yang menuruni tangga. Wanita itu tidak melihat kemana Raefal pergi. Seseorang menepuk bahunya. Trissya tersentak dan menoleh.


Raefal tampak bingung melihat Trissya yang juga heran. Wanita itu melihat Raefal dari atas ke bawah. Pria itu juga melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Raefal. Trissya menyentuh lengan suaminya. Pria itu semakin heran dengan tingkat Trissya.


"Kapan kamu ganti baju?" Tanya Trissya. Raefal mengernyit, "Dari tadi aku pake baju ini, kok."


Lalu, yang tadi? Trissya membatin.


"Kamu gapapa? Kamu yakin?" Tanya Raefal. Trissya mengangguk.


~


Daeriel mendengus pelan. Baru saja dia mendatangi Trissya. Pria itu ingin sekali melihat keadaan wanita itu. Dia terkejut mengetahui bahwa Trissya sedang mengandung anaknya Raefal.


Daeriel melangkah menaiki tangga. Dia melihat pintu kamar Trissya sedikit terbuka. Lewat celah pintu, dia memperhatikan Trissya yang sedang melipat pakaian bayi. Yang membuat pria itu terkejut adalah perut Trissya yang membuncit.


Wanita itu sedang mengandung.


Ada rasa sakit dan cemburu yang mengganjal di hati Daeriel. Pria itu tidak mau membayangkan berapa kali Raefal melakukannya, sampai-sampai Trissya mengandung benih adiknya itu.


"Jika Trissya mengandung, itu artinya Raefal sudah menanam segel drucless pada tubuh Trissya," gumam Daeriel.


Trissya bangkit dari duduknya, Daeriel berpindah dengan cepat ke sisi Trissya. Pria itu mengubah wajahnya menyerupai Raefal. Dia mengulurkan tangannya pada Trissya. Wanita itu mendongkak menatapnya. Pandangan mereka bertemu.


Daeriel sangat merindukan mata itu. Untuk pertama kalinya mereka saling menatap selama itu. Kedua mata Daeriel bergetar. Pria itu mengalihkan pandangannya lebih dulu. Dia mengambil keranjang pakaian dari tangan Trissya dan menyimpannya.


"Kamu makin cantik aja pas hamil," kata Daeriel jujur. Trissya tersenyum, "Kamu sering bilang itu, emm... hampir setiap hari."


Trissya mendekat. Daeriel yang sedang menyamar menjadi Raefal sedikit menggeser tempat duduknya. Dia tidak ingin bersentuhan langsung dengan Trissya, atau segel Raefal akan bereaksi padanya.


Wanita itu duduk di samping Daeriel. Ketika dia akan melelapkan kepalanya ke bahu Daeriel, pria itu bangun. Trissya heran dengan sikap Raefal.


"Aku lupa sesuatu di bawah," ucap Daeriel sembari menunjuk pintu. Pria itu tersenyum kaku kemudian berlalu. Trissya tampak berpikir. Dia bangkit dan menyusul pria itu. Trissya tidak melihat kemana pria itu pergi. Seseorang menepuk bahunya. Trissya tersentak dan menoleh.


Raefal tampak bingung melihat Trissya yang juga heran. Wanita itu melihat Raefal dari atas ke bawah. Pria itu juga melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri.


Tanpa mereka sadari, Daeriel sedang memperhatikan mereka di balik tembok.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Raefal. Trissya menyentuh lengan suaminya. Pria itu semakin heran dengan tingkat Trissya.


Daeriel yang melihat itu segera mengalihkan pandangannya. Dia tidak senang melihat sikap romantis mereka.


"Kapan kamu ganti baju?" Tanya Trissya. Raefal mengernyit, "Dari tadi aku pake baju ini, kok."


Daeriel memijat pelipisnya yang terasa nyeri, "Kenapa juga perempuan jenis manusia itu bisa bikin aku jatuh cinta?" Gumam Daeriel.


Sementara itu, Laureen sedang tertidur lelap di kamarnya. Saking lelapnya, gadis kecil itu tidak menyadari ada bayangan gelap yang masuk ke kamarnya lewat jendela yang terbuka lebar.


Gaun putih panjang itu menyapu lantai kamar. Wanita itu menatap Laureen sejenak. Terdengar suara mendecih yang lolos dari bibirnya.

__ADS_1


Wanita itu adalah Qwella. Dia mengambil belati dari balik gaunnya. Wanita yang sudah kehilangan akal itu akan membunuh anaknya sendiri.


Ketika Qwella mengayunkan tangannya yang membawa pisau, angin semilir membuat niatnya urung. Wanita itu melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada dirinya dan Laureen di kamar itu.


Namun, dia merasakan kehadiran sosok yang tidak bisa dilihatnya.


Mendadak bulu kuduknya merinding.


~


Daeriel melangkah menuju kamarnya untuk beristirahat. Tangannya bergerak membuka pintu. Namun, tiba-tiba dia mendengar suara jeritan perempuan dari kamar Laureen. Dengan secepat kilat, Daeriel menuju ke kamar putrinya.


Pria itu melihat jendela terbuka lebar. Angin masuk dari sana dan mengobrak-abrik isi kamar Laureen. Daeriel menghalangi wajahnya dengan satu tangan. Dia masuk dan melihat keadaan putrinya.


Tidak ada siapa-siapa di kamar tersebut selain putrinya yang sedang tertidur pulas. Pria itu heran karena mendengar suara jeritan perempuan tadi. Namun, dia tidak ingin banyak berpikir.


Daeriel segera menutup jendela istana. Angin pun tidak masuk lagi. Hanya ada semilir hembusan yang tersisa di kamar itu. Daeriel menaikkan selimut Laureen yang mungkin saja tersingkap angin.


Pria itu menggerakkan tangannya untuk menghidupkan semua lilin di kamar itu dengan pengendalian api miliknya. Namun, apinya tidak mau menyala karena di ruangan tersebut masih ada hembusan angin.


Daeriel hanya menggeleng pelan mengingat kekuatan putrinya yang aneh. Mengapa putrinya bisa memiliki kemampuan mengendalikan angin, sementara dirinya dan Qwella tidak memiliki kemampuan tersebut.


Apakah kekuatan itu termasuk kutukan si peramal tua?


Daeriel memilih duduk di sofa dan memperhatikan putrinya. Dia tidak ingin ada sesuatu yang mengganggu Laureen ketika tertidur.


Pandangan pria itu tertuju pada benda mengkilap di lantai. Daeriel mengira itu adalah diamond milik drucless. Namun, ketika dia mendekat dan melihatnya lebih jelas, itu adalah pisau belati.


Daeriel terkejut. Jadi, ada seseorang yang berniat membunuh putrinya ketika tidur. Namun, beruntung angin kencang tadi menyelamatkan Laureen.


Daeriel mengambil belati tersebut dan menghirupnya sesaat.


Tidak memerlukan pemeriksaan sidik jari. Pria itu sudah mengetahui siapa pemilik belati tersebut lewat bau yang tercium.


Qwella.


Jadi, perempuan yang tadi menjerit itu adalah Qwella.


"Wanita itu harus dimusnahkan dari dunia ini," geram Daeriel.


Setelah kejadian itu, Daeriel memperketat penjagaan di istana. Dia bahkan tidur di sofa di kamar putrinya untuk mengawasinya secara langsung.


Laureen yang belum mengerti apa-apa merasa kasihan melihat ayahnya kesusahan. Gadis kecil itu selalu meminta sang ayah untuk tidur di kamarnya sendiri. Bukan tanpa alasan. Ketika bangun tidur di sofa, Daeriel akan mengeluh sakit punggung.


Laureen yang masih sangat polos itu meyakinkan ayahnya, kalau dia baik-baik saja.


Selama penjagaan itu pula, Qwella selalu datang diam-diam dan berusaha untuk membunuh Laureen. Namun, semua usahanya selalu gagal. Seperti ada sesuatu yang melindungi tubuh kecil Laureen darinya.


Qwella tidak tahu. Daeriel juga tidak tahu. Apakah penulis tahu? Sepertinya pembaca lebih tahu.


Qwella melihat pantulan wajahnya dari permukaan air di sungai suci. Dia menghela napas panjang.


"Kamu adalah wanita tercantik di dunia drucless. Tidak ada yang bisa menyaingi kecantikanmu. Para pria akan tunduk dan saling membunuh untuk mendapatkan dirimu."


Suara asing itu membisik ke telingan Qwella. Entah suara siapa itu.


"Namun, sepertinya sekarang kamu sudah tua. Kecantikanmu tidak ada gunanya lagi. Laureen putrimu yang tercantik sekarang."


Qwella mengepalkan tangannya kesal. Dia membenci suara misterius itu.


"Bahkan putrimu jauh lebih kuat darimu. Dia berada di atasmu. Belasan kali kamu mencoba membunuhnya. Tapi, tidak berhasil. Itu karena dia memang terlahir sempurna sebagai drucless."


"Diam!!!" Teriak Qwella sambil memukul permukaan air hingga air tersebut terciprat kemana-mana.


"Aku gak mau tahu! Dia harus mati! Hanya aku wanita tercantik di dunia drucless!" Qwella bangkit dan menghilang dari tempat itu.


Sepertinya Qwella sudah melupakan niatnya untuk memiliki Raefal. Ambisinya yang sekarang adalah membunuh Laureen, putrinya sendiri.


Gila.


~


Malam yang sunyi di dunia drucless. Laureen sedang bermain dengan ikan-ikan kecil di dalam wadah. Daeriel memberikan ikan itu sebagai pengganti ikan yang mati sebelumnya karena di makan kucing.


Gadis kecil itu memang sangat menyukai hewan. Dia tidak memiliki teman untuk diajak berbicara. Hewan-hewan itu adalah teman bermainnya.


Para pelayan tidak ada yang mau menemani putri Laureen. Mereka semua takut dengan kemampuan yang dimiliki gadis kecil itu. Apalagi mereka mendengar isu kutukan yang tertanam dalam tubuh Laureen.


Laureen memasukkan makanan ke dalam wadah tersebut. Ikan-ikan kecil itu berebut makanan darinya.


"Jangan lebutan, Laueen masih punya banyak." Gadis kecil itu bangkit mengambil makanan lagi dan memberikannya pada mereka.


Tiba-tiba jendela kamarnya di gedor-gedor dengan cukup keras dari luar. Laureen terkejut. Dia menoleh ke jendela. Gedoran terdengar dan semakin keras. Tampaknya ada seseorang diluar yang ingin masuk.


Laureen gemetar ketakutan. Dia bersembunyi di balik tempat tidurnya sambil memeluk wadah berisi ikan itu.


Daeriel sudah memastikan jendela itu tidak akan bisa dibuka dari luar. Tentu saja dia harus membangun jendela yang kokoh untuk melindungi putri tunggalnya.


Gedoran di jendela mulai melemah dan menghilang. Laureen menolehkan kepalanya untuk melihat ke jendela. Dia melihat ada bayangan yang berdiri di luar jendela. Jadi, seseorang itu yang sedari tadi menggedor.


Laureen semakin ketakutan. Dia kembali bersembunyi dan menangis dalam diam. Hanya terdengar suara isak tangisnya di ruangan itu.


Gedoran itu terdengar lagi. Kali ini semakin kencang. Laureen menjerit ketakutan. Dia memanggil Daeriel.


"Ayaaah! Ayaaaah! Laueen takuut!"


Entah kemana pria itu. Biasanya dia akan berada di kamar putrinya. Namun, malam itu Daeriel tidak ada.


Suara tawa wanita di luar sana membuat Laureen menangis semakin kencang. Dia mengusap air matanya sembari merapatkan tubuhnya ke dinding.


"Laureen, buka jendelanya." Itu suara Qwella yang membentak.


Laureen menutup telinga dengan kedua tangan mungilnya. Dia tidak mau mendengar suara apa pun.


"Laureen!" Teriak Qwella.


Gadis kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Laureen sayang, ini Ibu, nak." Suara Qwella berubah lembut.


Laureen berhenti menangis. Sejenak dia berpikir.


"Laureen, kamu gak mau ketemu Ibu?" Tanya Qwella yang mempertahankan nada bicaranya.


Perlahan Lauren keluar dari tempat persembunyiannya. Dia melihat ke jendela. Bayangan itu masih ada disana. Ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Namun, dia ingin sekali bertemu dengan ibunya.


Laureen ingin melihat ibunya. Wanita selama ini dia mimpikan. Gadis kecil itu ingin mendapatkan pelukan dari ibunya.


Laureen bangkit dari lantai. Dia meletakkan wadah itu ke meja. Gadis kecil itu melangkah mendekati jendela dan membukanya. Tiba-tiba air masuk dan membanjiri seisi ruangan kamar. Laureen terkejut. Wadah itu jatuh. Ikannya berenang keluar menyusuri air yang baru saja masuk.


Laureen melihat wajah Qwella begitu mengerikan dengan rambut berantakan dan wajah yang menua. Wanita itu yang mengendalikan air agar masuk ke kamar putrinya.


Laureen pernah bertemu wanita itu di hutan saat bersama Daeriel. Laureen menggerakkan kedua kakinya ketika air mulai meninggi. Kedua kaki mungilnya sudah tidak menyentuh lantai. Gadis kecil yang malang itu tidak bisa berengan.


Qwella masuk dan dia mampu berdiri di atas permukaan air.


Mustahil!


"Laureen Sayang, ini ibu kamu, nak." Qwella menyeringai mengerikan.


"Kamu bukan Ibu! Ibu aku cantik! Kamu jelek dan menakutkan!" Teriak Laureen. Qwella sangat marah, "Beraninya kamu mengatakan aku jelek! Jika aku jelek, pamanmu dan ayahmu tidak akan mau tidur denganku! Gadis bodoh!"


Air semakin penuh di ruangan itu. Qwella berusaha menenggelamkan Laureen. Gadis kecil itu tenggelam dan kelabakan di dalam air. Batas air hampir menyentuh langit-langit kamar.


Qwella tersenyum penuh kemenangan. Tiba-tiba pintu kamar di buka. Air itu lolos lewat sana. Rantai kokoh itu melilit tubuh Laureen dan membawanya ke pelukan Daeriel. Ya, itu adalah rantai milik Daeriel.


Pria itu berdiri di ambang pintu dengan tatapan tertuju pada Qwella. Daeriel menujukkan ekspresi murka kepada Qwella. Wanita itu sedikit takut melihat ekspresi Daeriel.


Daeriel melihat Laureen baik-baik saja. Gadis kecil itu hanya terbatuk-batuk. Dia menurunkan tubuh Laureen. Rantai itu masuk kembali ke punggungnya. Sementara air masih berhamburan keluar lewat pintu dan membanjiri ruangan istana. Ikan-ikan kecil itu juga ikut lolos berenang di lantai.


Sebelum Daeriel mengamuk, Qwella segera menghilang. Namun, Daeriel tidak akan membiarkannya lolos kali ini.


Wanita itu sudah benar-benar keterlaluan.


Para tabib dan pelayan menolong putri Laureen. Mereka memberikan penanganan yang baik. Sebagian dari mereka menangkap ikan yang lolos itu dan memasukkannya ke dalam wadah. Sebagian lagi membuang air dan membersihkan lantai dengan baik.

__ADS_1


Sementara itu, Qwella jatuh terduduk ke tanah. Napasnya tidak teratur. Wanita itu bangkit mendekati pohon kehidupan. Dia menyentuh pohon tersebut. Keriput di tubuhnya menghilang. Wanita itu kembali muda.


Peramal tua memperhatikan Qwella, "Apa yang terjadi? Kamu dari mana?"


Qwella menoleh sejenak lalu menggeleng. Peramal tua menghampirinya.


"Kamu memakai kekuatan terbesarmu sampai-sampai tubuhmu menua. Apa kamu habis bertarung?" Tanya peramal itu.


"Aku harus istirahat," ucap Qwella kemudian berlalu. Peramal tua tidak mau bertanya lagi. Dia juga berlalu.


Qwella melangkah cepat. Namun, rantai itu melilit kakinya. Wanita itu tersungkur. Tidak sampai disitu, rantai Daeriel menyeret tubuh Qwella. Wanita itu menjerit kesakitan saat tubuhnya bergesekan dengan rerumputan liar.


Dia menoleh pada Daeriel yang masih tampak murka.


"Lepaskan kakiku! Aku sudah gak ada urusan sama kamu!" Bentak Qwella.


"Setelah apa yang kamu lakukan, kamu gak merasa bersalah sama sekali?!" Teriak Daeriel.


Peramal tua dan beberapa muridnya terkejut mendengar suara percekcokan itu. Mereka keluar dan melihat apa yang terjadi.


"Aku mengerti sekarang. Kutukan itu bukan ada pada putriku yang polos. Tapi, kutukan itu ada pada kecantikan kamu! Itulah sebabnya peramal tua itu menyuruhmu menjaga kecantikanmu!" Bentak Daeriel sambil menunjuk wajah Qwella.


Peramal tua tampak ketakutan, begitupun dengan para muridnya.


"Kalian semua mengatakan bahwa aku adalah raja yang kejam, kan? Sekarang aku akan membuktikan seberapa kejamnya diriku!" Geram Daeriel. Dia menatap pohon kehidupan itu.


Dengan kemarahan penuh, Daeriel mengarahkan telapak tangannya. Api keluar dan membakar pohon itu.


Seketika semua orang di depannya berteriak kepanasan, termasuk Qwella.


Pohon kehidupan adalah nyawa mereka. Jadi, jika pohon itu terbakar, maka mereka juga ikut terbakar.


~


 


 


Trissya menuangkan air ke dalam gelas. Setelah gelas itu terisi penuh, wanita itu meminumnya.


 


 


Teriakan Raefal membuatnya terkejut. Wanita itu melangkah pelan-pelan menuju tangga. Dia memasuki kamar dan melihat Raefal berteriak keras sembari menepuk-nepuk seluruh tubuhnya.


 


 


"Panasss!" Teriak Raefal.


 


 


Trissya yang panik segera mengambil air suci dari kamar mandi. Dia mengguyur tubuh Raefal dengan air tersebut. Namun, itu tetap tidak membantu. Raefal masih berteriak kepanasan.


 


 


Bahkan Trissya bisa melihat luka bakar yang tiba-tiba muncul di seluruh tubuh Raefal.


 


 


"Sayang, kamu kenapa?" Trissya mendekat. Namun, Raefal menjauh.


 


 


"Jangan dekati aku, ini berbahaya. Kamu tunggu sebentar... aku akan kembali." Setelah mengatakan itu, Raefal menghilang. Trissya tampak cemas. Dia menggigit kuku tangannya.


 


 


Sementara itu, Raefal sudah tiba di dunia drucless. Pria itu berjalan terhuyung sembari memakai jubah biru gelapnya.


 


 


Raefal berusaha berjalan cepat meskipun tubuhnya sudah memiliki banyak luka bakar.


 


 


Pria itu menghentikan langkahnya. Dia melihat pohon kehidupan terbakar api. Orang-orang di sana juga terbakar dan mati. Ada Daeriel dan Qwella di sana.


 


 


Qwella juga berteriak kepanasan meskipun wanita itu tidak terbakar seperti orang-orang yang ada di sana.


 


 


Raefal menyentuh dadanya yang sakit. Pria itu melangkah mendekati mereka. Daeriel menoleh pada adiknya.


 


 


"Ngapain lu bakar pohon itu!" Teriak Raefal. Daeriel tersenyum, "Ada efeknya ke lo juga, ya? Baguslah. Kenapa lo ke sini? Lo ninggalin istri lo yang lagi hamil?"


 


 


Raefal jatuh terduduk. Darah mengalir dari hidungnya. Pria itu benar-benar tidak tahan lagi.


 


 


Daeriel mengangguk dan menghilang dari tempat itu.


 


 


♥♥♥


 


 


9.53 : 28 September 2019


By Ucu Irna Marhamah


 


 



 

__ADS_1


 


__ADS_2