
Matahari sudah menampakkan cahayanya, burung-burung pun berkicauan kesana kemari. seorang gadis msih begitu nyman dengan mendekap guling dan selimutnya, Karna cuaca di sana lumyn dingin kalo subuh. wajar saja ia sedang datang bulan, makanya ia dengan santainya mendekap guling, dan melanjutkan tidurnya. padahal hari ini acara resepsi Wati, dan jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi kurang.
"Safira sayang ayok bangun, kamu mau molor atau pergi acara resepsi Wati?" tanya sang ayah, yang sudah siap dan rapi dengan pakaiannya .
"hahhhhhh ayah ko ga bangunin Ira sih" ia lngsung bangun dan menuju kamar mandi.
" habisnya kamu ayah bangun-bangunin malah makin nyenyak tidurmu " ujar sang ayah
"heee maaf ya yah habisnya enak tidur" ucap Safira
"yasudah cepetan kamu mandi dan bersiap, ayah duluan ya kebawah" kata sang ayah
"ayah ko perasaan Safira ga enak ya, tiba-tiba kepikiran ibu " ucap Safira yang terlihat cemas.
"mungkin kamu hanya terlalu merindukan ibu mu, cepatlah mandi, kalau bisa besok kita pulang" ujar sang ayah menenangkan Safira.
"tapi ini perasaannya beda yah, padahal malam tadi baru saja telponan" ucapnya lagi
__ADS_1
"berdoa saja semoga ibu ku disana baik-baik saja, ayah tunggu dibawah " pak Reza keluar dari kamar meninggalkan Safira yang masih duduk termenung diatas kasur, ia menepis pikiran buruk, dan berpikir positif terhadap ibu nya, Safira langsung mandi dan memakai pakaian yang kemarin di beri oleh wati
***************************************************************
" bang kemarin aku ketemu temen baru Lo, dan ternyata dia udah sepupunya Wati" ujar Amanda yang kini dengan santainya duduk di kasur Ferro, ia sudah terbiasa melihat Ferro tak menggunakan baju, hanya celana boxer saja.
"hmm udah tau" iya selalu memasang wajah datar dan cuek
" ishh Abang nyebelin, kok udah tau, emang Abang ketemu diamana?" tanya Amanda
"waktu dia datang kemari, pas dibandara Abang jemput dia Sama ayahnya.
hanya deheman yang didengar Amanda. iya kesal jika berbicara dengan abangnya itu. ia turun dan mulai bersiap.
gila kali kalo bilang dia itu jelek, orang cantik pake bangaeeeuutt gitu,batinnya dalam hati.
Amanda berteriak-riak memanggil Ferro untuk segera bersiap, Ferro yang mendengar itupun langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"eh kira-kira dia udah Blas chat ku tadi malam gak ya" ia berpikir sendiri, dan beranjak untuk bersiap.
dikediaman Safira ( Kalimantan)
"huhh sepi juga ya bi ga ada Safira" ujar Bu Rani
"iya nyonya, biasanya nona muda yang bikin heboh ini rumah" bi Marni tersenyum jika mengingat tingkah laku anak majikannya itu.
" nanti kalo mereka punya pasangan, dan punya anak bisa rame ini rumah" tambah lagi bi Marni
" iya bi, saya juga berharap mereka berdua cepat mendapat jodoh, karena umur kan gaada yang tau, lagi pula saya juga pengin sudah nimang cucu " ujr Bu Rani
" iya Nyona, seru kalo punya cucu mah, saya aja dulu waktu anak saya habis lahiran sering kewalahan ngurusin cucu saya" ujar Bi Marni
" hmm yasudah Bu, saya berangkat dulu ya" ia berlalu dan memanggil mang Asep. "mang anterin saya ke RS ya, saya lagi pengin di antar " ucap Bu Rani. padahal dalam hati Bu Rani ia sedikit gelisah dan khawatir, entah mengapa fellingnya mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk akan terjadi manimpanya.
Mang Asep mengangguki dan segera menyiapkan mobil. mang Asep juga orang kepercayaan kelurahan Safira, karna itu mereka terlihat akrab, bahkan sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Namun, sebuah musibah menimpa Bu Rani dan mang Asep.
__ADS_1
***TBC***