
Safira terbangun karena merasa perutnya keroncongan, soale dari pulang balik dia gak makan dengan bener, dia cuma makan roti dan ciki-cikian.
ia bangun dan mendekati bik Marni yang sedang menata piring.
"bik" Ira menepuk pundak bik Marni
"eh Nobita, baru aja bibik mau bangunin, udah bangun sendiri aja ternyata" Safira tersenyum dan berjalan menuju ibunya.
"ibu , ayah" kata Safira
"eh Ira udah bangun, tadi baru aja ayah suruh bik Marni buat bangunin kamu" kata pak Reza
"ayok kita makan yah, Ira laper banget, lihat nih cacing Ira udah demo, heheee" ujar Ira sambil cengengesan .
" yasudah , Bu kita makan dulu ya" Bu Rani mengangguk , ia sudah makan tadi sekaligus minum obat. sedangkan, Ira dan pak Reza belum makan mulai datang tadi.
terdengar langkah seseorang, dan ceklek.
"ibu" ujar bang Kabir
"bang abirrrr" sorak Ira
"Abang? kok pulang" tanya Bu Rani
"iya, Abang kepikiran terus sama ibu, makanya Abir usahain buat pulang dulu sebentar, Abang izin 2 hri cuma mau nengokin ibu" ujar bang Kabir
__ADS_1
"bang, ayok sini duduk, kita makan bareng" kata pak Reza, Kabir duduk disamping Ira,karena ia juga sedang kelaparan,
"ya ampun nak, maapin ibu ya, gara-gara ibu kamu harus ninggalin pekerjaan kamu" ujar Bu Rani
" ibu gak usah minta maaf , nanti aja ya minta maafnya, Abang makan dulu, laper banget soalnya" ia tertawa, begitu juga Ira .
Dikediaman Ferro
"Bun aku mau pergi dulu ya, mau ke acara sama temen" ia meminta izin kepada ibunya.
"ia, jangan pulang sampai larut malam ya" ujar Bu Salwa.
"bang ikut dong" ujar Amanda yang mendengar Ferro akan pergi
"ishh , bun tuh liat bang Ferro nggak mau bawa aku" Amanda berpura-pura merajuk, baginya merajuk adalah jalan ninjanya, agar ibunya percaya.
"Ferro ,coba kamu bawa adek mu, akur dong sekali-kali" ujar Bu Salwa
"ngak bisa Bun, ini khusus acara cowok, cewek mana boleh ikut" kata Ferro
"tuh kan ada aja alasannya, bilang aja gak boleh ikut" kata Amanda yang sedikit kesal
"nah itu tau" kata Ferro ia mencium tangan ibu nya dan langsung ke mobil, tancap gas.
" dek kamu dirumah aja ya, gabaik anak gadis keluar malem, kecuali sama ibu" ujar Bu Salwa, ia tersenyum melihat wajah Amanda yang ditekuk, ia tau Ferro dan Amanda anak kembar yang kadang memiliki perasaan yang sama, jika yang satu sedang bahagia maka yang satunya lagi akan ikut bahagia Namun, jika yang satu merasa sedih. maka yang satunya lagi pun akan ikut bersedih, dan seterusnya.
__ADS_1
ia merasa baru saja kemarin melahirkan mereka berdua, dan sekarang ia melihat langsung pertengkaran mereka, kadang bersenda gurau, tertawa bersama.
"Bun ayah mana?" ia mengambil buah pir dan duduk disamping ibunya yang sedang menonton tv.
"ibu suruh beli nasgor, ibu lagi pingin tadi," ujar Bu Salwa
"ibu ngidam?" ia mengernyitkan dahi
"ya enggak lah, ibu pingin bukan berarti ngidam mandaaaa" ujar Bu Salwa,ia menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang sungguh polos.
" ohh tak kirain bakal punya adek lagi" ia senyum-senyum membayangkan dirinya yang sudah 24 tahun memiliki seorang adik.
"heh emang kamu mau punya adek, seharunya itu ibu gak perlu lagi punya anak, ibu perlunya punya cucu." ujar Bu Salwa.
"hmmm , kalo masalah cucu kan udah ada bang rizvan bu" ujar Amanda
"itu kan Abang mu, lah kamu sama Ferro belum" kata Bu Salwa
"huahhhh kayanya Manda ngantuk nih Bun, duluan yah" ujar nya seraya beranjak dari sofa
"huhh dimintai cucu aja pergi, dasar anak muda"
tak lama kemudian ayahnya Ferro datang membawa nasi goreng pesanan Bu Salwa, ia juga membeli berlebih untuk Amanda. Amanda yang mencium harumnya nasi goreng turun kebawah dan ikut makan bersama kedua orang tuanya
maaf ya kak, ceritanya membosankan
__ADS_1