Dudaku Ternyata Miliarder Tampan

Dudaku Ternyata Miliarder Tampan
Minta Maaf


__ADS_3

Faris lebih tenang di kantor itu bersama Nia, daripada meninggalkannya di rumah. Apalagi semenjak kejadian kemarin. Ia jadi takut untuk meninggalkan Nia, ia merasa tak ada yang menyayangi Nia lebih darinya. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada Nia.


Rasa kesal masih menyelimuti hatinya, walau ia harus mencoba untuk menutupi semua itu. Ia sadar ia tak bisa memaksa semua orang untuk menyayangi Nia, sama bagaimana ia menyayangi istrinya. Namun, setidaknya mereka tak boleh bersikap seperti itu, ia masih merasa kesal akan hal itu. Namun, ia berusaha untuk fokus pada pekerjaannya.


Image Faris yang selalu tegas dalam pekerjaannya membuat mereka semua selalu mengerjakan pekerjaannya dengan sangat teliti, begitu pula dengan rapat kali ini. Walau banyak yang mereka bahas, semua selesai dengan cepat karena tak ada pembahasan yang diulang-ulang, semua sesuai dengan keinginan Faris. Terutama orang-orang yang sudah bekerja puluhan tahun di sana, mereka sudah tahu seperti apa gaya bekerja dari bosnya itu. Tak ingin terlalu banyak membuang waktu dan ingin bersifat simple dan tepat sasaran.


Setelah Faris selesai dengan rapatnya, ia langsung kembali menuju ke ruangannya dan langsung menghampiri Nia di kamar, ternyata Nia masih asik tertawa sambil menonton drama favoritnya.


"Sudah selesai rapatnya?" tanya Nia yang melihat Faris berjalan menghampirinya. Faris mengangguk dan ikut bergabung dengan Nia, melihat Nia dan melihat film yang ditontonnya.


"Udah, kok. Kamu lama ya nunggunya?" tanya Faris membuat Nia pun mengangguk dan langsung menyandarkan kepalanya si dada bidang sang suami. Nia ingin membahas untuk mengembalikan kartu mereka. Namun, ia juga ragu untuk ikut campur, itu mungkin sudah keputusan yang diambil oleh Faris, pasti dia sudah memikirkannya untuk melakukan hal itu, mengingat bukan satu atau dua tahun mereka memberikan kartu itu padanya, tapi sudah sangat lama.


"Ada apa? Apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Faris yang sejak tadi Nia hanya terus terdiam, tak seperti biasanya yang selalu cerewet.


Nia menegakkan tubuhnya dan menatap Faris. "Ada apa?" tanya Faris merapikan hijab Nia yang berantakan.


"Aku lapar, belum makan," tanya Nia memegang perutnya, Faris langsung menepuk jidatnya. Ia lupa jika mereka belum makan dan sekarang sudah melewatkan makan siang, sekarang jam sudah menunjukkan jam 02.00 siang dan mereka belum makan sama sekali, di ruangan itu juga tak ada makanan.


"Maaf ya, aku lupa. Kamu mau makan di sini atau kita ke restoran depan?"


"Aku lelah, kita pesan aja ya dan makan di sini," ucap Nia membuat Faris pun langsung merogos sakunya dan memesan makanan untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Mas, boleh nggak setiap hari aku ikut di kantor?" pinta Nia yang merwsa lebih nyaman tinggal di kantor daripada harus terkurung di rumah.


Di rumah itu memang banyak anak-anak yang bisa menemaninya. Namun, usia kandungannya yang sudah memasuki 9 bulan dan sudah lebih besar, membuatnya malas untuk bergerak. Ia lebih suka untuk duduk atau berbaring sambil menonton drama favoritnya.


"Tentu saja boleh, bagaimana kalau kita kembali tinggal di apartemen? Jaraknya lebih dekat dari kantor ini," usul Faris membuat Nia hanya menggangguk.


"Iya, boleh," jawab Nia.


"Tapi, apakah ibu mengizinkan?" tanya Nia lagi.


"Kalau masalah itu, biar aku yang urus. Ibu pasti mengizinkan," ucap Faris.


"Oh ya, Mas. Satu lagi, kenapa kulkasnya tak terisi makanan sedikit pun? Bahkan air minum saja tak ada di sana?" tunjuk Nia pada kulkas yang berukuran besar yang ada di sudut ruangan itu.


"Baiklah, besok aku akan meminta ob untuk mengisi makanan, minuman dan juga buah-buahan, serta beberapa cemilan agar jika kamu menungguku disini kamu nggak kelaparan." Faris menunduk mendekat pada bayinya. "Maaf ya, Papa sudah membuatmu kelaparan," ucap Faris menunduk mengecup perut Nia, membuat Nia mengelus kepala Faris yang menunduk, seolah berbicara adalah putri mereka.


Mereka terus berbincang dan sebuah pesan masuk di ponsel Faris yang menyatakan jika makanan pesanannya sudah datang. Faris pun keluar dan mempersilahkan OB untuk membawa masuk makanan pesanannya.


Sepertinya ia sudah dipindahkannya ke dalam piring, OB tersebut mendorong masuk troli makanan.


"Terima kasih, ya," ucap Nia pada OB tersebut, membuat OB itu hanya menggangguk sopan.

__ADS_1


"Saya permisi dulu ya, Bu," ucapnya membuat Nia hanya membalasnya dengan senyuman. OB itupun keluar, Faris menghampiri Nia dan mulai memberikan makanan apa yang diinginkan oleh Nia, mereka pun makan bersama-sama.


Sejak hari itu, Faris dan Nia tak pernah pulang lagi ke kediaman keluarga besar mereka. Faris akan bolak-balik apartemen dan kantor, ia juga lebih senang tinggal di kantor membuat anak-anak merasa semakin bersalah dan menganggap Faris marah pada mereka, begitu juga dengan Tita dan juga Farah.


Pagi hari, di mana besok mereka semua harus kembali ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan mereka, libur mereka telah selesai. Semuanya pun mendatangi kantor Faris.


Saat ini, Iqbal, Farah, Rara dan Tiara serta Naina dan Tita, mereka semua sudah berdiri di depan meja kerja Faris dengan Faris yang duduk di kursi kerjanya. Faris menatap mereka semua dengan tatapan kekesalannya.


"Sebenarnya, aku tak ingin melakukan semua ini, pada kalian. Namun, apa yang kalian lakukan itu, sangatlah keterlaluan. Hanya sebuah es krim dan itu bisa membahayakan nyawa Nia dan bayiku. Apa kalian tak berpikir sampai sejauh itu? Permainan kalian bisa kalian hentikan dan lanjutkan setelah membelikan Nia es krim," ucap Faris membuat mereka hanya menunduk.


"Maaf, kami tak akan melakukannya lagi," ucap Tiara, mereka bahkan kini sudah terisak, merasa takut dan bersalah.


Faris menghembuskan nafas kesal. Ia mengambil ponsel dan menelpon orang yang selama ini mengurus masalah kartu mereka, orang itu pun langsung datang menghampiri mereka semua.


"Aktifkan kembali kartu mereka. Namun, beri batasan," ucap Faris membuat mereka pun bernafas lega.


"Baik, Pak."


Walau akan ada batasan dari uang yang akan mereka gunakan, itu lebih baik dibanding mereka tak mendapat uang jajan dari Faris.


Nia hanya duduk di sofa dan mendengarkan mereka semua. Ia tak ingin ikut campur masalah mereka.

__ADS_1


Sama seperti Faris, sebenarnya Nia hari itu juga sangat kesal. Ia sudah meminta mereka kepada mereka berkali-kali. Namun, mereka seolah mengabaikannya, rasa sakit hati dan juga rasa keinginannya untuk memakan es krim sudah tak bisa tertahan, membuatnya nekat untuk pergi membelinya sendiri.


Malam hari barulah ia berpikir bagaimana jika terjadi sesuatu padanya dan bayinya mengingat waktu itu sudah sangat lama ia tak mengendarai motor. Ia juga lupa meminta izin pada Faris untuk keluar rumah. Ia telah melakukan kesalahan dan sangat bersyukur hari itu Faris tak marah padanya.


__ADS_2