
Di hari kepulangan Nia, Raya benar-benar menghampiri kediaman mantan suaminya itu. Namun ia tak keluar dari mobil mereka, mereka memarkir mobilnya di depan pintu gerbang, menunggu sampai mobil Faris datang. Menurut kabar dari Tita, Nia belum juga datang dan masih dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.
Tita melihat mobil ibunya di luar pintu gerbang, ia pun langsung keluar menghampirinya dan membuka pintu gerbang.
"Ibu, Ibu ngapain di sini? Kenapa nggak masuk?" tanya Tita, sejak beberapa hari lalu ibunya terus menanyakan kabar tentang Nia, membuat Tita berpikir mungkin saja ibunya ingin menjenguk mama tirinya itu setwlah pulang dari rumah sakit.
"Enggak, Ibu di sini saja menunggu mereka datang," tolak Raya.
"Ya udah, Ibu parkirnya di dalam saja ya. jika memang Ibu nggak mau keluar dari mobil menemui papa, nggak apa-apa. Ayo, Bu. Aku bukakan pintu gerbang," ucap Tita membuat Raya pun melihat ke arah Yuni. Yuni pun mengangguk.
"Sudah, kita masuk saja. Nanti kamu nggak usah turun dari mobil, biar aku yang bicara dengan Faris, jika kamu takut ancaman Faris waktu itu," ucap Yuni. Raya akhirnya menurut, ia juga sebenarnya sangat ingin minta maaf secara langsung pada Faris. Namun, ancaman Faris sangat membuatnya takut, masa depan anak-anaknya jauh lebih penting dari kesengsaraan hidupnya selama ini.
Tita, putrinya pun mulai membuka pintu gerbang tersebut. Tita membiarkan mobil ibunya masuk.
Baru saja Raya memarkirkan mobilnya di garasi, tiba-tiba mobil Faris dan dua mobil lainnya pun tiba.
"Itu ayah datang, Bu," ucap Tita yang langsung menghampiri neneknya yang menggendong seorang bayi. Selama di rumah sakit mereka semua dilarang untuk mengunjungi Nia dan menunggu saja di rumah.
Naina dan Tita pun langsung menghampiri bayi kecil itu.
"Ya ampun, lucunya. Sangat mirip dengan mama," ucap Tita saat melihat wajah adik tirinya.
"Tita, itu mobil ibumu, ya?" ucap Faris melihat ke arah mobil Raya yang terparkir di garasi mereka, saat ia baru turun dari mobil dan membantu Nia untuk turun dengan hati-hati.
"Iya, mungkin Ibu mau menjenguk Mama juga, tapi aku sudah mengajak Ibu turun tetap saja Ibu tak mau," ucap Tita, Faris melihat ke arah mobil Raya.
"Emangnya kenapa Ibumu tak mau turun?" ucapnya membuat Tita pun mengangkat bahunya saat ia tak ada yang mendekati.
__ADS_1
Saat Tita ingin melangkah menuju mamanya, Yuni keluar dari mobil dan berjalan menghampiri mereka. Faris yang sudah mengenali Yuni menatap tajam pada wanita itu yang terlihat berjalan dengan ragu-ragu menghampirinya.
Agatha dan yang lainnya sudah masuk ke dalam dan tersisa hanya Nia dan juga Faris di teras rumah, menyambut Yuni yang menghampirinya, sedangkan Raya masih tetap di dalam mobil, melihat mereka dari tempat duduknya. Ia merasa khawatir akankah tindakannya ini juga masih termasuk tindakan mengganggu Faris maka akan berdampak pada kedua anaknya. Namun, ia akan mencoba untuk meminta maaf walaupun itu dari mulut Yuni.
"Nia, masuklah," dulu ucap Faris saat Yuni sudah berdiri tepat di hadapannya.
Nia awalnya tak ingin masuk. Namun, Faris kembali memberi isyarat agar Nia masuk. Nia pun mengangguk dan masuk, saat terhalan masuk, ia masih melihat ke arah belakang. Kami sama sekali tak mengenal siapa wanita yang bersama dengan suaminya, Nia pun masuk. Namun, Nia tak langsung ke kamar, Nia berdiri di belakang pintu ingin mendengar apa pembicaraan mereka.
"Ada apa?" tanya Faris melihat Yuni dengan tatapan tajamnya.
"Aku tahu selama ini yang terjadi padaku dan Raya adalah karena perbuatan kami. Faris, kami sudah mengakui kesalahan kami, kami sudah menyadarinya, tolong hentikan semuanya! Kami mencoba memulai dari awal, jika kamu terus menghalangi kami, kami tak akan bisa berbuat apa-apa. Jangankan untuk menghasilkan uang memenuhi kebutuhan kami, makan saja kami sudah sangat susah," ucap Yuni mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan penuh memohon menatap Faris dengan mata berkaca-kaca.
Yuni sudah sangat lelah dengan kehidupannya selama beberapa bulan ini, ia bahkan sampai berbagi makanan dengan Raya, karena tak punya makanan lagi.
Hanya mobil itu harta mereka satu-satunya, perhiasan, tas, baju-baju mahal, semua sudah mereka jual dan pilihan terakhir mereka adalah akan menjual mobil itu jika memang sampai toko mereka bangkrut dan membutuhkan dana.
Mendengar ucapan Yuni, Faris hanya tertawa kecil. "Aku sama sekali tak ada urusannya dengan kalian lagi, jadi apa yang terjadi pada kalian itu bukanlah karena aku, tapi karena perbuatan kalian sendiri. Mungkin kalian harus lebih berusaha lagi untuk bisa membuat usaha kalian berhasil."
Raya juga tak ragu-ragu untuk ikut berlutut di hadapan Faris. "Faris, aku tahu aku banyak salah, tapi aku mohon maafkanlah kami. Kami tak akan melakukannya lagi, aku mohon aku benar-benar menyadari apa kesalahanku, jika aku kembali mengulanginya lagi nyawaku taruhannya, kau bisa langsung membunuhku."
"Ibu, apa yang Ibu katakan?" ucap Tita menghampiri ibunya yang berlutut di hadapan ayahnya, sejak tadi Tita yang berdiri di balik pintu juga ikut mendengar pembicaraan mereka.
"Tita, jangan ikut campur urusan Ibu, sana masuklah," ucap Raya yang tak ingin jika sampai Faris betul-betul tak mau lagi barusan dengan Tita dan juga Farah, mengingat keduanya itu tak ikatan darah apapun dengannya selain ikatan kasih sayang.
"Ibu, Ayah. Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Tita yang sudah menangis saat melihat ibunya terus bersimpuh sambil meneteskan air mata, begitu juga wanita yang ada di sampingnya. Tita bingung dengan situasi yang terjadi saat ini di sana, Nia juga keluar dan menghampiri Faris.
"Maaf, sebenarnya ada apa ini? Mengapa Mbak Raya sampai berlutut seperti ini?" ucap Nia, jiwa kebaikan Nia tak bisa membiarkan apa yang terjadi di depannya itu.
__ADS_1
Saat ini, ia tak ingin menodai kebahagiaannya dengan melihat apa yang sedang dilakukan Raya dan juga temannya di hadapan suaminya itu.
Faris menghela nafas saat ternyata Nia juga mendengar semua pembicaraan mereka. Faris tak ingin istrinya berpikir jika dia adalah pria sekejam itu, membuat Faris memutuskan untuk menceritakan apa yang dilakukan oleh Raya dan juga Yuni.
Nia sangat tercengang akan hal itu, ia juga ikut marah, kesal dan kecewa. Hampir saja rumah tangganya hancur karena perbuatan mereka berdua, khususnya Raya. Bahkan ia hampir saja masuk ke jebakan Diva saat itu, mempercayai Diva dengan tulus.
"Jadi, ini yang Mbak katakan jika aku telah merebut kebahagiaan Mbak? Enggak! Nia sama sekali nggak pernah merebut kebahagiaan siapapun. Nia mendapatkan kebahagiaan ini karena memang Nia pantas untuk mendapatkannya, Nia selalu berusaha untuk membahagiakan Mas Faris, apakah Mbak pernah melakukan hal itu?" tanya Nia dengan tatapan kesalnya pada wanita yang masih berlutut di hadapan mereka itu.
"Aku sangat tulus mencintai Mas Faris, tidak seperti Mbak yang sama sekali tak ada bersyukurnya menjadi istri dari seorang Faris, aku sudah tahu semuanya, jika Mbak bukan wanita yang baik untuk Mas Faris. Aku telah merusak kebahagiaan Mbak dengan merebut Mas Faris dari Mbak? Mbak itu salah! Pikiran Mbak itu sangat sempit, justru Mbak sendiri lah yang meninggalkan Faris, jadi salahkan diri Mbak sendiri atas apa yang Mbak alami saat ini, jangan menyalahkanku. Ayo Mas, kita masuk," ucap Nia mencoba menarik Faris untuk masuk ke dalam dan tak ingin jika suaminya itu berurusan lagi dengan mantan istrinya itu.
"Nia, aku mohon maafkan aku. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi, aku mohon ya," ucap Raya yang kini menarik tangan Nia. Namun, Nia langsung menepisnya.
"Maaf, Mbak. Sepertinya beribu maaf pun diberikan kepada Mbak, Mbak tak akan merubah."
"Jika Mbak pikir semua yang terjadi pada Mbak selama ini adalah ulah Mas Faris, aku pastikan mulai hari ini Mas Faris tak akan lagi mengurusi urusan Mbak, jadi jangan pernah menuduh suamiku lagi di balik semua kegagalan yang Mbak lakukan. Silahkan pergi dari sini, Mbak. ku nggak mau melihat wajah kalian," ucap Nia yang masih merasa kesal kepada mereka berdua, khususnya Yuni. setelah tahu apa yang telah ia lakukan pada suaminya. Nia langsung menarik Faris untuk masuk ke dalam meninggalkan Raya dan juga Yuni yang masih berlutut dengan Tita yang terus menangis di samping ibunya.
"Bu, sebaiknya Ibu pulang. Mama Nia sudah bilang kan jika ayah tak mengganggu Ibu."
"Tita, jika ayah mengusirmu itu semua karena Ibu. Ayah sudah mengatakan jika Ibu tak boleh menemuinya lagi, jika tidak ayah tak akan menganggapmu dan Farah sebagai anaknya dan kali ini Ibu tak tahan dan kembali menemuinya, jadi," ucap Raya tak meneruskan kalimatnya.
"Bu, ayah bukanlah pria seperti itu. Ayah itu orang baik, ayah melakukan semua ini pada Ibu dan Tante bukanlah karena ayah jahat, tapi karena ayah hanya ingin melindungi apa yang seharusnya ayah lindungi, Bu. Anggap saja apa yang dilakukan ayah ini untuk mengajarkan Ibu agar bersyukur dengan apa yang Ibu miliki dan menghargai semua apa yang ada pada Ibu.
"Tita ibu, harap Ibu kedepannya jauh lebih baik agar aku bisa bangga memanggil Ibu dengan sebutan Ibu, jangan seperti ini, Bu," ucap Tita yang juga kecewa setelah mendengar apa yang ayahnya katakan mengenai rencana ibunya setahun yang lalu.
"Baiklah, Nak. Kamu pulang dulu, kamu jangan marah ya sama Ibu, Ibu janji akan berubah lebih baik lagi, merubah diri Ibu jadi Ibu yang pantas untuk kalian berdua," ucap Raya membuat Tita pun mengangguk.
Raya dan Yuni pun berjalan gontai menuju ke mobilnya, melajukan mobilnya itu meninggalkan Tita yang hanya berdiri mematung melihat ibunya yang semakin menjauh.
__ADS_1
Raya hanya bisa berdoa semoga anak-anaknya kelak bisa bahagia. Sementara wanita yang ada di dalam mobil itu, hanya merasa lesu, rencana mereka gagal, tapi syukurlah Faris tak akan mengganggu mereka lagi.
Semoga saja apa yang dikatakan Nia benar, jika dia memastikan Faris tak akan berurusan lagi dengan mereka, setidaknya mereka bisa mencari pekerjaan di beberapa perusahaan atau mulai membangun kembali usaha mereka dan tentu saja harus menjual mobil yang selama ini mereka pakai.