Dudaku Ternyata Miliarder Tampan

Dudaku Ternyata Miliarder Tampan
Amarah Faris


__ADS_3

Begitu sampai di bandara, Faris langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah. Sebenarnya ia masih ada rapat yang harus dikerjakan siang ini, rencananya selepas dari bandara ia langsung akan pergi ke kantor. Namun, rasa rindunya pada Nia dan juga Shanum membuatnya membatalkan rapat tersebut, belum lagi kejadian bersama dengan Yuni yang cukup membuatnya takut akan kehilangan Nia.


Begitu sampai di rumah, ia sudah melihat Nia menyambutnya di teras rumah. Sebelumnya, dia memang sudah mengabarkan jika dia sudah menuju ke rumah saat tiba di bandara.


Faris bisa melihat senyum bahagia di wajah sang istri, Nia langsung menghampiri Faris dan memeluknya sambil menggendong Shanum. Faris langsung mengambil Shanum dan membalas pelukan sang istri, dia juga mengusap perut Nia yang masih rata.


"Aku sangat merindukanmu, Mas," ucap Nia membuat Faris pun mengecupnya.


"Iya, aku juga sangat merindukanmu," ucap Faris kemudian Nia pun merangkul tangan Faris yang sudah menggendong Shanum berjalan masuk ke dalam.


"Dua malam yang lalu aku bermimpi buruk," ucap Nia membuat Faris melihat ke arahnya.


"Mimpi apa?" tanyanya.


"Aku bermimpi ada yang ingin mengambilmu dariku, tapi untunglah kamu segera berlari dan menghindarinya," ucap Nia membuat Faris berpikir akan hal yang dilaluinya dengan Yuni. Ia pun menarik kepala Nia dan mengecupnya.


"Aku tak akan pergi darimu dan tak akan membiarkan siapapun membuatku jauh darimu," ucapnya.


Mendengar apa yang dikatakan Faris, Nia sangat senang dan semakin mencintai sosok pria yang sudah menjadi suaminya itu, pria yang sudah memberinya kebahagiaan selama pernikahan mereka.

__ADS_1


Sementara itu, di perusahaan keluarga Diva, ayah Diva sangat kelimpungan saat beberapa rekan bisnis tiba-tiba memutuskan hubungan kerjasama mereka. Walau harus membayar denda mahal. Namun, beberapa dari mereka tetap menginginkan hubungan kerjasama mereka berakhir tanpa memberi alasan yang jelas mengapa mereka mengakhiri kerja sama yang sudah berjalan cukup lama..


Kondisi itu membuat keadaan perusahaannya menjadi goyah, harga sahamnya langsung melonjak turun dan sudah di oastikan akan terancam bangkrut.


Diva yang melihat kondisi ayahnya hanya bisa terdiam, ia tahu jika semua ini pasti ada sangkut pautnya dengan hubungan kerjasamanya dengan Raya. Namun, ia tak akan memberitahu hal itu kepada ayahnya, Diva langsung menelpon Raya dan mengatakan apa yang terjadi padanya.


"Itu bukan urusanku lagi, kamu tak mengerjakan sesuai dengan yang aku perintahkan. Jika kau melakukan apa yang aku perintahkan dan tak melakukan sesuatu yang tak kuizinkan, aku tak akan menanggung akibat dari semuanya, tapi nyatanya kamu memilih untuk jalan sendiri kan? Jadi urus sendiri akibat dari perbuatanmu, jangan membawaku dalam urusan kalian. Aku sudah memperingatkanmu untuk berhati-hati kan? Faris bukanlah orang sembarangan dan aku rasa kamu juga tahu akan hal itu tanpa aku beritahu," kesal Raya yang merasa waktunya terbuang percuma dengan berurusan dengan Diva.


"Tapi, Tante. Bagaimana sekarang, kondisi perusahaan ayahku benar-benar goyah bahkan terancam bangkrut," ucap Siva menjadi sengat khawatir, jika perusahaan papanya bangkrut tentu saja itu juga akan berdampak pada dirinya. Diva tak mau hidup susah.


"Itu bukan urusanku," ucap Raya kemudian mematikan panggilannya. Namun, baru saja dia mematikan panggilannya, ia langsung dipanggil oleh atasnya juga.


"Ada apa, Pak?" tanya Raya menghampiri bosnya.


Bos Raya tersebut langsung melemparkan dua amplop gaji untuk bulan ini dan juga pesangonnya. "Kamu dipecat! Mulai hari ini kamu tak bekerja di perusahaan ini lagi," ucap Bos tersebut.


"Apa? Saya dipecat? Tapi, alasannya apa, Pak?" tanya Raya tak terima ia langsung dipecat secara tiba-tiba, selama ini ia selalu mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik.


"Tak ada alasan, itu sudah perintah dari atasan. Jadi, maaf walau aku tahu kau bekerja dengan baik selama bekerja di sini, aku tak punya wewenang untuk mempertahankanmu, jika memang atasan sudah meminta untuk memecatmu," ucap bosnya lagi membuat Raya pun hanya menghela nafas, jika perusahaan sebesar perusahaan ayah Diva saja bisa digoyahkan oleh Faris, bukan perkara mudah untuk meminta dirinya dipecat dari perusahaan itu yang memang adalah milik.

__ADS_1


Raya pun berjalan keluar dari perusahaan itu dengan membawa 2 amplop gaji bulannya hari ini dan juga gaji pesangonnya. Ia melihat kedua amplop tersebut, sekarang dia harus bekerja di mana lagi, uang itu hanya cukup untuk 2 sampai 3 bulan ke depan itu pun hanya untuk dirinya sendiri, sedangakan dia punya dua anak yang masih sekolah dan sudah pasti membutuhkan biaya besar.


"Semoga saja Faris tetap mau membiayai Farah dan juga Tita," ucap Raya menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya, ia telah salah menjadikan Faris sebagai rivalnya.


"Sebaiknya aku kembali ke kota," ucap Raya bertekad akan mencari pekerjaan lain di kota dan meninggalkan tempat kumuh itu, ia dengan cepat membereskan barang-barangnya.


Saat akan berangakat satu panggilan kembali masuk di ponselnya dan saat melihat itu adalah panggilan dari Yuni.


Raya ragu untuk mengangkatnya, apakah setelah Diva mendapat hukuman dari Faris, begitu juga dengan dirinya. Apakah Yuni juga mendapatkan hukuman, ponselnya terus berdering dengan terpaksa ia pun mengangkat panggilan dari Yuni. Ia juga penasaran mengapa Yuni kembali menghubunginya.


"Halo, Raya. Aku nggak mau tahu, kamu harus bicara pada Faris untuk tak menggangguku, berhenti mencampuri urusanku dengan para klienku. Karena ulah Faris aku sampai di labrak oleh istri dari selingkuhanku dan sekarang dia sudah memutuskan ku. Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus bicara sama Faris untuk berhenti mencampuri ikut campur dan jangan nengacaukan hidupku, kamu yang memintaku untuk melakukan semua itu, jika tidak aku tak akan mau bersinggungan dengannya."


"Tapi, kamu sendiri menyetujui rencana kita kan, aku tak memaksamu," ucap Raya.


"Aku nggak mau tau, jika tidak, tunggu saja aku akan meminta pertanggungjawaban darimu. Aku tak mau sampai hidup terlunta-lunta karena tak ada lagi yang menginginkanku," ucap Yuni dari balik telepon, di mana tak ada satu pelanggan pun yang mau membookingnya lagi, khususnya dari para konglomerat yang selama ini menjadi sumber uanganya, semua yang telah membookingnya telah mengcancel dan mengalihkannya kepada orang lain.


Yuni mematikan panggilannya saat Raya masih ingin berbicara, mana mungkin ia berbicara dengan Faris setelah Faris mengetahui semua yang terjadi adalah ulahnya. Faris bisa membunuhnya saat itu juga jika ia muncul di hadapannya.


Sekarang apa yang aku lakukan, Faris sudah pasti tahu jika semua jika aku yang merencanakan, mengenai kehadiran Diva dan juga Yuni. Itulah sebabnya dia mengusik mereka," ucap Raya menggigit kukunya dan berjalan bolak-balik mencari ide untuk meloloskan diri dari kemarahan Faris.

__ADS_1


Raya sangat tahu seperti apa emosi Faris. Ia tak akan diam hanya memberi hukuman seperti yang saat ini mereka dapatkan, Faris pasti memberikan hukuman yang lebih menyakitkan lagi dari apa yqng saat ini mereka dapatkan.


__ADS_2