
Kebahagiaan demi kebahagiaan terus saja Nia rasakan, semenjak ia memutuskan untuk menikah dengan Faris hingga saat ini.
Hari ini kebahagiaan terbesar kembali telah dipersiapkannya untuk keluarga kecilnya. Hari ini Nia dan Faris sudah ada dirumah sakit, bersama Shanum dan Agatha. Dimana saat ini dia sudah berada di ruang persalinan untuk menjalankan proses persalinan keduanya.
Kali ini, proses persalinan bagi Nia tak begitu menakutkan lagi, tak seperti di saat ia melahirkan bayi pertamanya, Shanum.
Saat ini Nia sudah tahu bagaimana cara mengejan agar bayi cepat keluar dan bagaimana rasa sakit saat akan melahirkan, sehingga ia bisa mempersiapkan diri untuk melewati rasa sakit tersebut.
Saat ini Shanum juga ada di rumah sakit, dia juga ikut menunggu Nia di ruangannya. Saat ini Nia masih berjuang untuk mencapai pembukaan lengkapnya, ia terus berjalan bolak-balik dan masih bisa membuat Shanum tertawa karena tingkahnya.
"Ini berapa lama lagi, Dok?" tanya Faris pada dokter yang ada di ruangan itu, Faris mengusap pinggul Nia sambil menggendong Shanum yang tak mau lepas darinya saat Nia kembali meringis.
"Sabar, ya, Pak! Kita tunggu pembukaan lengkap dulu, sebentar lagi."
"Ini masih belum ya, Sayang?"
"Nggak tahu juga sih, tapi aku baik-baik saja kok. Ini sakitnya masih bisa aku tahan," ucapnya yang tahu rasa sakit itu masih sekedar kontraksi biasa, masih belum sakit yang mendera menjelang persalinan. Salah satu keuntungan melahirkan kedua yaitu sang ibu sudah tahu apa dan bagaimana perasaan jika sudah akan melahirkan, tak menebak-nebak lagi seperti saat melahirkan bayi pertama, juga rasa takut di hatinya kini tak takut saat melahirkan bayi pertamanya.
Faris terus berada di samping Nia hingga Nia bisa merasakan jika ia sudah ingin mengejan dengan sendirinya, yang berarti jika kemungkinan pembukaannya sudah lengkap.
"Dokter, sepertinya aku sudah mau melahirkan," ucapnya pada dokter yang sejak tadi menunggu Nia yang terus berjalan ke kiri dan ke kanan. Nia tak ingin berbaring dengan tenang dan menunggu pembukaannya, sedari tadi ia terus berjalan ke kiri dan ke kanan dan melakukan berapa gerakan yang ia ketahui dapat memperlancar proses persalinan.
"Ya sudah, Bu. Silahkan naik, kita periksa dulu," ucap dokter dan benar saja begitu dokter mengecek jalan lahir bayi Nia, pembukaannya sudah lengkap, bahkan bayinya sudah terlihat di posisi yang tepat.
"Ya sudah, Bu. Bayi ini sudah akan keluar, Ibu mengejan dengan kuat ya, Bu," ucap Dokter tersebut membuat Nia pun mengejan walau tanpa arahan dari dokter seperti saat pertama melahirkan, Nia sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Nia menarik nafas dengan perlahan dan menghembuskannya, menunggu rasa sakit menderanya kemudian mengejan dengan kuat.
__ADS_1
"Iya, Bu. Pintar sekali, bayi sudah semakin terdorong keluar," ucapnya.
Faris juga ikut melihat bagaimana perjuangan anak dan istrinya itu melalui proses persalinan yang sedang terjadi, Shanum yang tak mau berpisah dari ayahnya kini mulai berpindah ke gendongan ke tangan Agatha walaupun sedikit memaksa dan Agatha yang sudah melihat Nia akan melahirkan memilih untuk membawa Shanum keluar dari ruang persalinan itu, ia mengizinkan Shanum untuk menonton ponsel atau memakan es krim.
Hari ini Shanum melakukan semuanya, memakan es krim sambil menonton ponsel, melihat film-film favoritnya di sana dan itu berhasil membuat ia tenang. Padahal kedua hal itu sangat di larang bagi Shanum. Tapi, bagi Agatha asalkan cucunya diam dulu saat ini sampai adiknya lahir.
"Ayo, Bu. Sekali lagi," ucap dokter membuat Nia pun mengangguk-ngangguk paham. Ia kembali melakukan apa yang tadi dilakukannya, mencoba menahan rasa sakit dan mengatur nafasnya. Nia mengejan dengan sangat kuat sambil mencengkram erat tangan Faris dengan gemetar, kuku-kukunya menancap di tangan Faris dan mendorong bayinya dengan kuat, dengan Faris yang mencoba mengangkat sedikit kepala Nia agar bisa melihat ke area perutnya. Nia mengejan sampai wajahnya benar-benar memerah dan kehabisan nafas dan suara bayi pun terdengar.
"Alhamdulillah," ucap Faris dan Nia secara bersamaan saat mendengar suara tangis bayi yang begitu nyaring di telinga mereka, memenuhi ruangan bayi. Bukan hanya Faris dan Nia yang mengucapkan syukur, begitupun dokter dan perawat yang ada di dalam ruangan itu dan juga para keluarga yang menunggu di luar ruang persalinan, termasuk Agatha yang sedang menyuapi cucunya itu es krim.
Intan dan Dita yang baru saja datang mendengar apa yang mereka ucapkan. Ia pun langsung menghampiri salah satu dari mereka.
"Apa Nia sudah melahirkan?" tanyanya saat mereka semua mengucapkan syukur alhamdulillah.
Sesuai yang diinginkan oleh dan Nia dan Faris. Anak kedua mereka berjenis kelamin laki-laki, membuat Faris sangat bangga akan hal itu.
Faris yang melihat rasa sakit dan juga penderitaannya istrinya saat melahirkan bayinya, membuat ia yang dulunya bercita-cita ingin memiliki banyak anak, kini merasa dua anak itu sudah cukup. Ia sudah memiliki seorang putri dan juga putra yang akan meneruskan segala bisnisnya kelak.
Setelah Nia dibersihkan dan Faris mengadzankan putranya, mereka pun dipindahkan ke ruang perawatan. Semua keluarga menyambut kehadiran bayi laki-laki yang menjadi kebanggaan mereka semua itu, mereka semua berdoa semoga bayi tersebut akan lebih sukses dari ayahnya, dapat menjaga dan melindungi ibu dan kakak perempuannya.
"Wah Nia, sepertinya bayimu kali ini sangat mirip denganmu," ucap Dita yang melihat ponakannya sangat mirip dengan Nia, jika Shanum sangat mirip dengan Faris, ayahnya. Justru anak laki-laki yang baru saja dilahirkan Nia sangat mirip dengan Nia sendiri, dari mata, hidung, bibir, semua menyerupai Nia walau dia seorang laki-laki.
"Eh iya ya, bayinya bener-bener mirip Nia," ucap Intan yang baru memperhatikan wajah cucunya.
"Bukankah memang seperti itu pada umumnya, anak perempuan akan mirip dengan ayahnya, begitupun dengan kedekatannya. Ia akan lebih dekat dengan ayahnya, sedangkan anak laki-laki akan lebih mirip dengan wajah ibunya, begitupun sikapnya. Iya 'kan?" ucap Intan membuat mereka pun membenarkan apa yang dikatakan Intan, terbukti dari wajah kedua anak Faris yang kini duduk di depan mereka. Faris sengaja memperkenalkan putranya pada Shanum. Awalnya Shanum tak mau melepaskan gendongan Faris dan melihat ke arah adiknya. Namun, setelah Faris menjelaskan anak itu pun mengerti jika bayi kecil yang ada di depannya adalah adiknya. Ia awalnya hanya memegang tangan adiknya. Namun, lama-lama entah gemas ataupun sudah merasa bosan, Shanum langsung memukul perut adiknya, beruntung pukulannya tak terlalu keras dan saat ingin kembali memukul Faris langsung mencegahnya.
__ADS_1
"Shanum nggak boleh gitu, ini itu adiknya Shanum," jelas Faris dengan hati-hati, entahlah anak itu mengerti atau tidak yang jelas Shanum masih perlu pengawasan 100%. Usianya masih belum cukup untuk mengerti dengan apa yang terjadi.
Kabar bahagia dari Nia juga didengarkan oleh Raya dan juga Yuni, mereka hanya bisa terlihat iri dengan kebahagiaan wanita yang pernah dicoba untuk menghancurkannya itu.
Bukannya berhasil dan mencapai apa yang mereka inginkan, keduanya justru makin terpuruk. Usaha yang dikembangkannya terus saja merosot turun, bahkan saat ini mereka pusing untuk mencari modal tambahan karena modal yang mereka seharusnya jadikan modal usaha kembali membeli barang-barang, mereka pakai untuk membeli makanan, membuat toko mereka semakin hari semakin sepi pelanggan saja karena barang yang kutang lengkap.
"Raya, coba kamu telepon putrimu, kapan ia akan pulang dari rumah sakit?" ucap Yuni pada Raya saat Raya sedang duduk termenung di meja kasirnya. Hari ini tak ada satupun pelanggan yang datang, hari ini toko mereka sangat sepi, tak ada satu barang pun yang laku terjual.
Raya yang benar-benar malas dan frustasi hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Yuni. Ia langsung mengambil ponsel dan mencari nomor Tita di sana.
"Halo Tita, ini Ibu. Kamu apa kabar, Nak?" tanya Raya saat Tita mengangkat panggilannya.
"Aku baik-baik saja kok, Bu. Ada apa Ibu menelpon? Tita sedang ada di sekolah," jawab Tita.
"Nia sudah melahirkan ya? Kapan mereka akan pulang dari rumah sakit?" tanya Raya lagi.
"Iya, Bu. Mama Nia sudah melahirkan dan kata ayah sih mereka akan pulang sore nanti," jawab Tita membuat Yuni pun mengangguk-angguk, di mana ia bisa mendengarkan percakapan mereka."
"Ya sudah, Nak. Ibi matikan dulu, Ibu hanya mau tau kabar kamu dan keadaan Nia."
"Iya, Bu." Mereka pun mengakhiri panggilan mereka.
"Kamu sudah dengar sendiri kan, kapan Nia pulang? Emangnya kamu mau apa?" tanya Raya.
"Kita tak bisa begitu terus, Raya. Jika seperti ini terus, kita tidak akan bisa berhasil dan tak bisa makan. Aku akan coba menemui Faris, ini adalah hari bahagianya semoga saja kita beruntung dan mendapat maaf dari Faris atau dia bisa membantu kita untuk keluar dari masalah ini," ucap Yuni.
__ADS_1