
Selama sebulan ini, Faris dan Nia tinggal di apartemen, mereka bolak-balik ke perusahaan. Faris lebih nyaman dengan apa yang dilakukannya saat ini, Agatha sudah memintanya untuk pulang, tapi Faris masih tak ingin. Faris memang orangnya sangat jarang marah, tapi jika sudah marah akan sangat sulit untuk membujuknya.
Agatha tahu jika Faris kecewa pada mereka semua, tentang apa yang terjadi sebulan yang lalu. Tapi, ini sudah sebulan lamanya, Agatha juga khawatir jika Nia akan melahirkan dan seorang diri di apartemen, terkadang Faris meninggalkannya saat ia sedang ada pekerjaan penting yang tak bisa ditinggalkannya atau diwakilinya, seperti saat ini. Nia sedang sendiri di apartemennya, hanya ada satu bibi.
Tadinya ia ingin ikut. Namun, ia merasa ingin di apartemen saja, Faris tak bisa meninggalkan rapatnya tersebut, memberanikan diri untuk pergi dan berjanji akan cepat pulang.
Tak lupa Faris mewanti-wati asisten rumah tangganya untuk menenami Nia.
Tak lama setelah Faris pergi, Nia yang sedang beristirahat di kamar. Tiba-tiba ia merasakan sakit di perutnya, Nia yang sudah banyak mempelajari tentang tanda-tanda proses persalinan tahu jika saat ini dia sedang dalam tahap kontraksi, hal yang pertama yang dilakukannya adalah menghubungi ibunya.
"Bu, perutku sakit, Ibu di mana?" tanya Nia meringis menahan Sakit.
"Ibu ada di rumah, Nak. Kamu sekarang di mana?" tanya ibu balik.
"Nia di apartemen sendiri, Bu. Ibu datang ya, aku takut Mas Faris belum datang," ucap Nia.
"Ya sudah, coba sekarang kamu hubungi Faris, Ibu dan Dita langsung ke sana sekarang juga," ucap ibu yang sudah langsung bersiap untuk pergi.
"Iya, Bu. Aku matikan ya, aku langsung menghubungi Mas Faris," ucap Nia. Ia masih terdengar santai, Nia tahu jika jarak kontraksi antara pembuka pembukaan awal dan pembukaan lengkap sebelum melahirkan itu memiliki jarak waktu yang lumayan lama, ia banyak mempelajarinya dari dokter yang selama ini menanganinya. Nia selalu bertanya hal-hal tentang mengenai persalinan semenjak usia kandungannya memasuki usia 9 bulan.
Setelah menelpon mamanya, Nia langsung kembali menelpon Faris. Namun, setelah dua kali panggilan Faris juga tak menjawab panggilannya. Nia akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan mengatakan jika perutnya sedang sakit, ia sudah menghubungi ibu dan ibu akan segera datang.
__ADS_1
Setelah mengirim pesannya, Nia kembali menelpon ibu mertuanya, di mana Agatha pernah mengatakan jika ia sudah merasakan sakit akan tanda- tanda persalinan langsung menelponnya.
Deringan pertama, Agatha langsung ngangkatnya, walau Nia selama ini tinggal di apartemen. Namun, hubungannya dengan ibu mertuanya sangat baik dan semakin baik setiap harinya. Agatha selalu datang menemani Nia saat ia ada kesempatan. Namun, tetap saja ia tak bisa menemani Nia di setiap harinya, mengingat ada banyak pekerjaan yang juga harus dilakukannya.
"Halo, Nia. Ada apa, Nak?" tanya Agatha yang tak biasanya Nia menelponnya di malam-malam seperti itu.
Faris memiliki rekan bisnis dari luar negeri dan harus pulang malam itu juga, membuat ia memajukan rapatnya yang harus seharusnya dilaksanakan besok pagi, dimajukan menjadi malam ini. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam.
"Bu, perut Nia sakit dan sekarang Mas Faris sedang ada pekerjaan di luar, Nia sudah menelpon ibu dan Kak Dita, mereka sudah akan datang ke sini. Katanya sebentar lagi akan sampai," ucap Nia membuat Agatha yang mendengarnya juga langsung terdengar panik, walaupun Nia masih santai mengabarkan hal itu.
"Tapi, kamu nggak papa kan, Nak?" tanya Agatha sambil membereskan beberapa keperluannya dan dimasukkan ke dalam tas tangannya.
"Iya, Bu. Tenang saja, ini masih kontraksi awal, sekarang rasa sakitnya sudah nggak lagi. Ini Nia lagi menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah sakit, ibu sudah menjelaskan apa-apa yang harus Nia bawa," jawab Nia berusaha untuk tak membuat mereka semua panik.
"Ada kok, Bu. Ada Bibi di sini, jadi Ibu tenang saja, Nia baik-baik saja, Bibi bilang juga ini baru kontraksi awal," ucap Nia menjelaskan, membuat Agatha sedikit lebih tenang.
Tak lama kemudian, Intan dan juga Dita pun datang, dia sudah siap akan menuju ke rumah sakit.
"Bu, Nia sudah menelpon Ibu mertua Nia, katanya dia juga mau datang. Apa kita minta ketemu di rumah sakit saja ya, Bu?" ucap Nia yang kembali merasakan sakit dan meminta ibunya untuk segera membawanya ke rumah sakit saat ini juga.
"Faris belum datang?" tanya Intan.
__ADS_1
"Belum, Bu. Sepertinya Mas Faris tak mendengar panggilanku, sejak tadi aku sudah menelponnya, tapi tak diangkat."
Baru saja Nia mengatakan itu, ponselnya bentuk dering dan itu telepon dari Faris.
"Maaf, Nia. Aku baru melihat panggilanmu, tadi ponselku tertinggal di kamar mandi dan baru menyadarinya saat ada yang membawakannya untukku. Sekarang aku sudah menuju ke rumah, sebentar lagi aku akan sampai. Kamu di mana sekarang?" tanya Faris.
"Mas Faris pelan-pelan saja ya, bawa mobilnya. Nia baik-baik saja kok, di sini ada ibu ada Dita, ada Bibi juga kan. Lagian rasa sakitnya juga masih ada jedanya, Ibu Agatha juga sudah dalam perjalanan, aku akan menunggu Mas kemudian kita akan ke rumah sakit bersama-sama, ini juga lagi nggak sakit kok, aku lagi makan disuruh makan dulu sama Ibu," jawab Nia membuat Faris sedikit bernafas lega mendengar suara istrinya dan mendengar jika ibu mertuanya sudah ada di sana.
"Ya sudah, tunggu Mas. Mas segera datang," ucap Faris kembali meminta supir untuk menambah kelajuan mobilnya.
Tak lama kemudian, Agatha juga datang, ia terlihat panik. Namun, saat melihat Nia terlihat masih santai dan masih makan membuat ia lebih tenang.
"Apa sudah nggak sakit lagi, Nak?" tanya Agatha menghampiri Nia sambil mengusap perutnya.
"Enggak, Bu. Ini sudah baikan, kita tunggu mas Faris dulu baru ke rumah sakit," ucap Nia yang sudah selesai makan dan menghabiskan segelas air.
Saat Nia akan berdiri, tiba-tiba rasa sakitnya kembali datang. Ia pun meringis dan kembali duduk, Intan hanya mengelus bagian belakang Nia begitupun dengan Agatha, menelus-elus perut Nia.
"Memang rasanya akan sangat sakit, tapi Ibu yakin kamu pasti bisa melewatinya," ucap Agatha membuat Nia pun menggangguk.
"Iya, Bu. Aku pasti bisa," jawab Nia, walau ia merasa sangat sakit, ia berusaha untuk membuat mereka semua tak panik. Nia yakin bisa melalui semua ini dan melahirkan bayinya dengan selamat.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Faris pun datang. Ia langsung menghampiri Nia yang kebetulan Nia sedang menahan sakitnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya," ucap Faris membuat Nia pun menggangguk. Faris langsung mengangkat Nia dan membawanya keluar, supir sudah menunggu dan mereka pun langsung menuju ke rumah sakit dengan ditemani oleh Intan dan juga Agatha di mobil yang sama, dengan yang dinaiki oleh Nia dan Faris. Sementara Dita dan satu Bibi yang bekerja di rumah Nia ikut di mobil Dita.