
Faris yang tadinya ingin langsung ke hotel berhenti sejenak saat melihat Yuni, ia tak mungkin pergi begitu saja saat melihat Yuni yang terlihat sedang tak baik-baik saja di tepi jalan.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Yuni?" tanya Faris. Yuni berpura-pura terkejut saat melihat Faris menyapanya, padahal semua itu sudah diaturnya dengam sangat matang.
"Pak Faris?" ucap Yuni saat Faris menghampirinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Faris lagi yang melihat wajah Yuni yang terlihat sembab.
"Iya, Pak. Aku baik-baik saja," jawab Yuni masih dengan menunduk, lebih tepatnya berpura-pura terlihat sedih.
Faris melihat di sekitarnya. "Kamu bersama dengan siapa di sini?" tanya Faris lagi yang tak melihat rekan bisnis yang kemarin bersama dengan Yuni.
"Saya hanya sendiri, Pak! Saya nggak apa-apa. Saya hanya lagi bingung ingin menginap di mana, saya mau mencari hotel sekitaran sini. Tapi, saat ini saya masih ingin sendiri dulu. Saya hanya sedang menenangkan diri saja sekarang disini, Pak. Bapak silakan lanjutkan saja perjalanan Bapak," ucap Yuni.
"Aku juga ingin ke hotel, jika memang kamu ingin menginap di hotel, ayo ikut dengan saya saja, berbahaya jika kamu disini seorang diri," ucap Faris menawarkan tumpangan.
"Apa tak merepotkan, Pak?" tanya Yuni menolak secara halus.
"Enggak, kok. Ayo mari, saya juga kebetulan mau ke hotal, jadi sama sekali tak ada masalah," ucap Faris mengambil koper Yuni dan membawanya ke mobilnya, keduanya pun melajukan kembali mobil menuju ke hotel di mana dimana Faris selama ini menginap.
Senyum terbit dari bibir Yuni. Rencananya sejauh ini masih berhasil untuk menuju rencananya intinya malam nanti.
Yuni sudah tahu di mana kamar Faris, membuat dia sengaja memesan nomor kamar yang dekat dengannya, lebih tepatnya ia memang sudah merencanakan dan meminta petugas hotel untuk memberikan kamar yang tepat berada di depan kamar Faris sebelumnya.
Mereka pun bersama-sama menuju ke kamar hotel mereka masing-masing, saat akan masuk ke kamar hotel, Yuni tiba-tiba terjatuh membuat Faris yang panik dengan langsung membawanya masuk ke kamarnya.
"Yuni, kamu tak apa-apa?" ucap Faris saat Yuni tersadar dari pingsannya.
__ADS_1
Setelah beberapa lama Yuni pun terbangun dan melihat ke arah Faris dan melihat sekelilingnya, ia sudah berada di kamar Faris di atas kasur yang memang sudah menjadi incarannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Faris terlihat khawatir, membuat Yuni pun menggeleng pelan. Karena itu hanya berpura-pura.
"Maaf ya, Pak. Mungkin saya kelaparan, jadi badan saya sangat lemas, saya stress, dari pagi pacar sayameninggalkan saya tanpa memberi uang sepeserpun. Saya hanya menggunakan uang priabadi yang saya miliki, saya tidak begitu paham dengan negara ini."
"Ya sudah, istirahatlah sebentar," ucap Faris memberikan air putih yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya, kemudian Faris pun mengambil ponsel dan memesan makanan.
Setelah makanan datang, Yuni pun memakan makanan yang disediakan oleh Faris. Mereka duduk bersama di sofa yang ada di rungan itu, sementara Faris sendiri hanya memesan kopi untuk mereka.
Saat sedang makan, lagi-lagi Yuni sengaja mencipratkan bumbu makanan ke kemeja Faris.
"Aduh, maaf Pak. Saya nggak sengaja," ucapnya mencoba membersihkan kemeja Faris dari sedikit noda. Namun, tangannya yang kotor malah membuat kemeja Faris semakin kotor.
"Iya, nggak papa. Kamu habiskan saja. Kamu lanjutkam saja makan makananmu, aku ganti pakaian dulu," ucap Faris yang melihat pakaiannya yang benar-benar kotor, mau tak mau ia harus menggantinya. Faris mengambil kemeja lainnya, kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, kesempatan itu digunakan oleh Yuni untuk memasukkan sesuatu ke dalam kopi milik Faris.
"Aku yakin malam ini kamu akan menjadi milikku, kau tau selama ini aku tak pernah gagal begitupun dengan malam ini," ucap Yuni mengaduk kopi Faris agar tercampur dengan bubuk yang baru saja dimasukkan ke dalam kopinya, saat melihat pintu kamar mandi mulai terbuka, ia pun berpura-pura kembali makan.
Yuni tak langsung pergi, ia kembali duduk dan berbincang.
"Terima kasih ya, Pak. Jika tak bertemu dengan Bapak entah apa yang terjadi denganku," ucap Yuni yang duduk kembali di depan Faris.
Mereka berbincang sambil menikmati kopi mereka masing-masing, Yuni masih dengan triknya bersikap seperti wanita yang elegan dan sama sekali tak tertarik dengan Faris dan lagi-lagi triknya berhasil. Faris terlihat nyaman terus berbincang dengannya, bahkan hingga kopi yang ada di depan pria itu pun habis
"Maaf, sepertinya saya perlu istirahat," ucap Faris melap keringatnya dan melonggarkan kancing baju kemejanya.
Melihat hal itu, Yuni tersenyum puas. Sepertinya obat yang berada di kopi Faris sudah berfungsi.
__ADS_1
"Ya sudah, Pak. Kalau begitu aku permisi dulu," ucap Yuni berpura-pura berjalan menuju ke pintu dan keluar dari pintunya dengan capet. Ia terus mengawasi Faris yang berjalan menuju ke tempat tidur Faris membuka baju dan berbaring di tempat tidur, lama ia menunggu hingga ia pun masuk kembali
"Tidurlah, sambil menunggu obat itu semakin bereaksi," gumam Yuni di mana obat yang dimasukkan ke dalam minuman Faris adalah yang akan membuat Faris mengantuk. Namun, jika mendapat sentuhan, ia akan menginginkan sentuhan itu dan ingin meminta lebih.
Obat itu hanya akan berfungsi saat ada yang memicunya.
Yuni yang sangat yakin jika obatnya itu sudah berfungsi, mulai menyiapkan kamera di dua. Mencari posisi yang tepat agar kameranya bisa mengambil gambar mereka nantinya.
Setelah dirasa cukup, Yuni pun mulai melancarkan aksinya, melepaskan pakaiannya tanpa tersisa satupun dan menghampiri Faris yang hanya memakai pakaian tersisa atasannya saja.
Faris yang merasakan sentuhan Yuni pun terbangun, dan mengikuti apa yang Yuni inginkan, hingga tanpa sadar yuni terbawa dengan permainannya sendiri.
****
Pagi hari, Yuni terbangun dan tak melihat Faris yang ada di sampingnya. "Ke mana dia?" gumam Yuni memijat kepalanya yang terasa pusing, ia mencoba mengingat kejadian-kejadian semalam. Namun, ia sama sekali tak mengingat apapun. Yuni melihat tubuhnya, ia yakin jika semalam ia telah melakukan rencananya, ia pun beranjak dari tempat tidur dengan melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya, menghampiri kamera yang masih berada di tempatnya dan dengan cepat Yuni melihat video tersebut, berharap semalam ia mendapatkan gambar yang bagus. Namun belum juga ia memutarnya ponselnya mati. Yuni pun memutuskan mengisi dayanya.
Mengapa ia sampai lupa untuk mengirim video itu semalam pada raya dan membiarkan kameranya masih di sana sampai pagi. Yuni takut jika sampai Faris menghapus video apa yang mereka lakukan semalam. Namun, masih ada video si sana.
Yuni bernafas lega saat melihat ada sebuah video yang tersimpan di galerinya. "Tapi, di mana Faris?" ucapnya merasa aneh. Mengapa Faris tak menghapus video itu, dia bukanlah orang bodoh yang akan membiarkan video mereka.
"Terselahlah dia mau kana, yang terpenting aku mendapatkan videonya. Yuni yang masih penasaran memeriksa barang-barang Faris, sudah tak ada satupun barang Faris di sana, dia juga memeriksa kamar mandi mungkin saja Faris ada di kamar mandi, tapi tak ada. Yuni pun memutuskan untuk mandi dan mengenakan kembali pakaiannya, ia mengambil ponsel kemudian mengaktifkannya dan langsung mengirim video itu kepada Raya.
"Ternyata tak sesulit yang aku bayangkan," gumamnya kemudian ia pun berjalan keluar dari kamar hotel itu dan masuk ke kamar hotel yang ada di depan kamar hotel Faris. Kamar hotel yang semalam memang disewa untuknya.
Yuni merebahkan tubuhnya di kasur, ia merasa sangat lelah. Ternyata permainan Faris semalam sungguh membuatnya kewalahan, ia belum pernah merasakan permainan yang sehebat itu, bahkan ia sampai kelelahan dan tertidur hingga pagi.
Deringan ponsel terdengar dari ponselnya, dengan senyum di wajahnya Yuni pun mengangkat panggilan saat melihat panggilan itu dari Raya.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kamu puas dengan videonya?" tanya Yuni masih dengan senyum di wajahnya
"Yuni! Kamu jangan main-main denganku, video apa yang kamu kirim? Aku memintamu mengirimkan video kamu bersama dengan Faris, bukan bersama dua pria yang menjijikkan seperti yang kamu kirimkan padaku!" kesal Raya kemudian mematikan panggilannya, membuat Yuni tak mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Dengan cepat ia membuka galeri di ponselnya, memutar video yang tadi dikirim ke nomor Raya dan alangkah terkejutnya dia, saat melihat video yang dikirimnya. Ia tak bermain bersama dengan Faris. Namun, dia bersama dengan dua orang pria lain.