Dudaku Ternyata Miliarder Tampan

Dudaku Ternyata Miliarder Tampan
Sangat Bahagia


__ADS_3

Di ruang persalinan, semua keluarga sudah berkumpul. Mereka semua larut dalam kebahagiaan menatap bayi mungil yang kini tidur di ranjang bayi, yang khusus dibeli Faris untuk putrinya, ruang perawatan itu juga merupakan ruangan perawatan yang spesial yang sudah disiapkan oleh Faris sebelumnya.


Seminggu sebelumnya, ia sudah meminta dokter untuk menyiapkan beberapa keperluannya di ruangan itu, baik ranjang bayi dan juga kebutuhan bayi lainnya yang sudah disusun rapi, begitu juga dengan perlengkapan Nia. Ia ingin Nia merasakan berada di kamar sendiri saat berada di ruangan itu dan ingin yang terbaik untuk Nia.


"Lihat, matanya sangat mirip dengan Faris," ucap Agatha yang sedang menatap bayi itu dengan penuh kasih sayang.


"Iya, tapi bibirnya sangat mirip dengan Nia," ucap Intan membuat mereka pun mengangguk, baik Dita maupun Agatha membenarkan jika bibir bayi kecil itu memang milik Nia, sedangkan matanya adalah milik Faris.


Semua merasa senang saat melihat bayi menguap dan tersenyum.


Malam hari Nia sudah tertidur, Faris terus membuka mata dan seolah melihat dunia yang baru saja dilihatnya. Faris terus menatap putrinya, sesekali ia mengusap pipinya membuat bayi kecil mungil itu menoleh ke arah di mana Faris menyentuh.


"Apa dia belum tidur?" tanya Agatha membuat Faris ingin melihat ke arah ibunya dan menggeleng.

__ADS_1


"Aku sangat senang malam ini, Bu. Aku sangat sangat," ucap Faris kembali melihat putri kecilnya.


Agatha yang berjalan menghampiri Faris, mengusap punggung putranya. "Jaga anak dan istrimu baik-baik, jangan biarkan mereka pergi darimu, berikan kebahagiaan untuk mereka," ucap Agatha membuat Faris hanya mengangguk, di mana Faris juga sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga keduanya dengan penuh kasih sayang.


Malam ini Agatha dan Intan ikut menginap di rumah sakit dan kini mereka sudah tertidur pulas di ranjang tambahan yang telah disiapkan pihak rumah sakit, begitu juga dengan Nia. Ia kembali tertidur pulas setelah memberikan ASI kepada bayinya, walau air ASInya tak banyak. Namun, bayi itu terlihat tenang setelah menyusu pada Nia.


Tapi, tidak dengan Faris. Ia masih betah menatap putri kecilnya, membiarkan bayi itu menggenggam tangannya dan ia lakukan itu hingga menjelang subuh.


Agatha terbangun dan melihat Faris masih memandang putrinya yang masih terlelap.


"Aku tak bisa tidur, Bu. Mataku tak bisa terhindar dari putriku, aku sangat bersyukur masih bisa diberi kesempatan memiliki dan merasakan cinta ini," ucapnya lihat ke arah ibunya dengan senyum di wajahnya, membuat Agatha pun ikut senang melihatnya.


"Ibu tahu kau merasa senang dan merasa sangat bahagia, tapi kamu juga ingat harus menjaga kesehatanmu. Jika kamu sakit, siapa yang akan merawat istri dan anakmu, sudah sana istirahatlah walau sebentar, biar Ibu yang menjaganya," ucap Agatha.

__ADS_1


"Nanti saja, Bu. Istirahatnya, nanggung ini juga sebentar lagi mau salat subuh, Ibu siap-siap saja untuk salat subuh, lagian pagi ini kata dokternya sudah boleh pulang, aku istirahatnya di rumah saja," Agatha tahu bagaimana putranya itu jika dia sudah menyayangi sesuatu dia akan menyayanginya dengan sepenuh hati, begitupun yang dilakukan pada Raya dulu. Ia sangat menyayangi mantan istrinya itu, memberikan apa saja yang Raya inginkan, tak pernah mencurigai Raya sedikitpun jika Raya memiliki hubungan dengan pria lain, kepercayaan dan cinta diberikan Faris pada Raya. Namun, kenyataan jika Raya ternyata berselingkuh dan bahkan bayi yang dilahirkannya bukanlah darah daging Faris, membuat itu semua menjadi pukulan yang begitu hebat bagi putranya Agatha. Bahkan, ia pernah berpikir jika Faris tak akan bisa dan tak akan mau membuka hatinya lagi untuk orang wanita karena luka yang ditinggalkan Raya di hati putranya itu. Namun, melihat perlakuan pada anak dan istrinya itu, Agatha yakin jika cinta kembali di hati Faris, cinta kedua itulah yang dia rasakan Faris saat ini dan semoga saja itu berlangsung hingga mereka menua nanti.


Saat mereka tengah berbincang, ia terbangun batuk-batuk membuat Faris pun langsung menghampiri Nia dengan memberi segelas air minum.


"Mas, aku dingin," ucap Nia yang menggigil, membuat Faris menjadi khawatir.


"Ya ampun, Nia. Kamu demam," ucap Faris menempelkan tangannya ke dahi Nia.


Mendengar itu, Agatha pun langsung memberi selimut. Intan yang baru terbangun langsung menghampiri putrinya dan memegang keningnya yang memang terasa hangat.


"Sebaiknya kita panggil dokter," ucap Agatha membuat Intan langsung menekan tombol untuk memanggil dokter dan tak lama kemudian dokter pun datang.


"Dokter, ada apa dengannya?" tanya Faris saat dokter sudah selesai memeriksa.

__ADS_1


"Bapak nggak usah khawatir, kami sudah memberikan obat penurun demam, ini nggak apa-apa, Pak. Istri Bapak baik-baik saja kok," jawab dokter tersebut membuat Faris pun bernafas lega. Namun, ia tetap merasa khawatir melihat kondisi Nia yang terlihat kedinginan dan menggigil dengan suhu tubuh yang panas.


__ADS_2