Dudaku Ternyata Miliarder Tampan

Dudaku Ternyata Miliarder Tampan
Kehadiran Diva


__ADS_3

Tiga bulan kini telah berlalu, Raya sudah kembali bekerja di tempat yang semestinya, di sebuah pelosok desa yang sangat jauh dari kota. Sangat jauh dari kehidupan Raya yang dulu, sedangkan saat ini Nia sedang asyik mengasuh bayi kecilnya yang sudah mulai lincah merespon dan menanggapi apa yang diberitahu padanya, semakin hari anak Nia semakin menggemaskan.


"Mas, usia Shanum udah tiga bulan, boleh ya aku mengajaknya main keluar," pinta Nia, di mana selama ini Faris tak mengizinkan putrinya itu keluar dari rumah. Baginya, usianya sangat kecil untuk dibawa keluar, lagian bermain di rumah dengan banyak permainan dan juga halaman yang luas menurut Faris itu sudah cukup untuk Shanum, putri semata wayangnya itu.


"Emangnya kamu mau ke mana?" tanya Faris sambil mangancing lengan baju kemejanya. Pagi ini, Faris akan pergi ke luar kota, tadinya ia ingin mengajak Shanum dan juga Nia, tapi terlalu beresiko mengajak mereka, karena ia harus berpindah dari satu kota ke kota lainnya hanya dalam sehari, membuat ia pun mengurungkan niatnya.


"Nggak jauh-jauh kok, Mas. Paling cuma dibawa ke taman bermain, walau bagaimanapun anak seusia Shanum pasti senang jika melihat teman-teman yang seusianya, itu juga bisa melatih agar dia bisa bermain bersama dengan teman-teman seusianya, Mas," ucap Nia agak mendekat ke arah Faris.


"Apa gadis kecil Ayah ini ingin bermain?" goda Faris menggelitik perut putrinya, membuat putrinya itu pun tertawa sebagai respon dari apa yang Faris dilakukan padanya.


"Ini juga saran dari Mama kok, katanya nggak baik anak-anak terus main sendiri, mereka akan canggung jika dipertemukan dengan anak-anak lainnya dan itu benar Mas, saat kemarin waktu melakukan imunisasi dia terlihat takut saat orang-orang datang yang baru dikenalnya, ia juga tak bisa berinteraksi dengan anak bayi lainnya," ucap Nia.


Kemarin adalah jadwal ia mendapatkan imunisasi di rumah sakit. Nia mencoba berbaur dengan ibu-ibu lainnya yang juga membawa anak-anak mereka. Namun, ia sangat terkejut melihat respon anaknya yang ketakutan dan juga tak mau berinteraksi dengan bayi-bayi lainnya, tak seperti bayi pada umumnya dan dokter mengatakan anak itu tak pernah dibiarkan bermain di situasi dan teman baru, oleh orang-orang baru dan hanya bermain dengan orang yang sama di setiap harinya.


Mendengar penjelasan dokter, Nia pun bertanya kepada kedua ibunya, ibu kandung dan ibu mertuanya. Mereka memberi penjelasan jika memang anak-anak sesekali harus dibawa keluar untuk bermain dan berinteraksi.


"Tapi, kamu sendiri tahu kan, Sayang. Aku lagi sangat sibuk, tunggu aku ya, jila aku tak sibuk aku akan menemani kalian. Jika aku tidak sedang sibuk kita bawa Shanum untuk berjalan-jalan," ucap Faris lagi. Namun, Nia pun terus mendekatkan Shanum pada Faris.


"Ada Bibi kok yang menemani kami, lagian kami juga hanya bermain di taman di dekat rumah kita, di depan kompleks ini. Kami baik-baik saja kok, boleh ya, rencananya kami mau pergi sore nanti," ucap Nia di mana dia sudah mengecek tempat itu, tempatnya aman dan di saat sore hari ada banyak bayi-bayi yang berjalan di sana. Ada yang bermain di rumput, ada yang hanya didorong dengan kereta bayinya, ada yang sengaja untuk duduk di tikar piknik yang mereka bawa.

__ADS_1


Faris berpikir sejenak, ia menatap putrinya. Memang dulu Raya selalu membawa anak-anaknya untuk berjalan-jalan, bahkan saat usianya masih 1 bulan, Raya sering membawanya berjalan-jalan bersama dengan asisten rumah tangganya dan juga pengasuhnya. Sekarang Shanum sudah berusia 3 bulan, Faris berpikir memang tak ada salahnya untuk ia memperkenalkannya dengan orang-orang baru, dia juga melihat Nia yang begitu antusias ingin jalan-jalan, pasti ia juga punya rasa bosan selalu berada di rumah dan ingin bersenang- senang.


"Ya udah, boleh. Tapi ajak ibu, jika ibu sibuk kamu bisa ajak tante Tari atau Indira."


"Iya, Mas. Aku akan mengajak mereka," ucap Nia merasa senang karena mendapat izin dari Faris.


"Ya sudah, aku berangkat bekerja dulu, ya," ucapnya, ia pun berangkat ke luar kota, sementara itu Nia sibuk menyiapkan keperluan anaknya yang akan dibawa keluar untuk pertama kalinya. Ia ingin membawa Shanum bermain di taman dan mengenalkan orang-orang yang ada di sana. Nia sudah sangat antusias membawa putrinya itu berjalan-jalan, pasti sangat menyenangkan pikirnya.


Sore hari pun tiba dan benar saja Nia membawa Shanum untuk berjalan-jalan bersama dengan satu orang bibi dan juga mengajak ibu mertua dan Indira.


Mereka yang sudah sampai di taman masih berjalan-jalan, awalnya Shanum sangat takut saat melihat orang-orang baru yang dilihatnya. Namun, ibu mertua terus mengajaknya bercanda dan sengaja membawanya ke anak-anak yang sedang bermain dan ternyata usaha ibunya berhasil. Shanum sudah tak menangis lagi dan dia malah terlihat bahagia melihat yang lainnya bermain. Ia terlihat bahagia melihat teman-temannya bermain, berlarian ke sana kemari, terlihat ia sangat juga ingin turun dari gendongan neneknya dan berlari bersama dengan yang lainnya.


Setelah leleh, Agatha pun memberikan Shanum pada Nia.


"Nia!" panggil seseorang saat Nia sedang menggendong bayinya, bermain bersama Shanum yang sejak tadi tertawa gembira.


"Diva?" jawab Nia saat melihat siapa yang datang.


"Kamu kok nggak pernah jawab pesanku sih, mentang-mentang kamu sudah menikah dengan duda kaya dan tampan, kamu jadi lupain kita deh," ucap Diva duduk di samping Nia yang duduk di bangku taman bersama dengan Shanum di pangkuan.

__ADS_1


"Iya, maaf. Aku sudah mengganti nomor itu. Kamu tahu sendiri kan, aku hanya beberapa bulan saja menikah dan hamil, sekarang lihatlah bayiku masih sangat kecil, mana mungkin aku bisa menghampiri kalian semua di perusahaan," ucap Nia.


"Iya, aku ngerti ko."


"Ya beginilah kehidupanku sekaran."


"Ya ampun, putri kamu cantik sekali. Namanya siapa?" tanya Diva berbasa-basi, padahal ia sama sekali tak tertarik dengan bayi kecil yang dipangku Nia.


"Namanya Shanum," jawab Nia.


"Oh ya, kamu nggak ada rencana mau balik kerja lagi?" tanya Diva yang mulai melancarkan aksinya untuk mendekatkan diri pada Nia, sudah lama ia menunggu Nia untuk keluar dan memiliki waktu luang. Ia biasanya keluar hanya untuk membeli sesuatu keperluan, baru saja ia ingin menghampirinya, Nia sudah langsung pergi. Namun, tadi ia mendapat informasi dari orang yang biasa dimintai untuk mengawasinya Nia. Nia sedang bersantai di taman membuat Diva langsung mengarah ke taman tersebut. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan sedikitpun untuk menjalankan rencananya dan juga Raya.


"Aku keluar rumah saja susah, bagaimana mungkin aku mau bekerja," jawab Nia jujur apa adanya, karena memang seperti itulah kehidupan Nia sekarang, sikap posesif Faris membuatnya tak bisa berbuat apa-apa, terlebih lagi Shanum yang masih kecil. Mungkin beda ceritanya nanti jika Shanum sudah besar nantinya.


"Boleh aku minta nomor ponselmu? Yang lama sudah tidak aktif ya?" ucap Diva memberikan ponselnya. Nia pun langsung mengambil ponsel Diva dan mengetik nomornya di sana.


"Iya, maaf. Yang lama sudah nggak aktif, waktu itu ponselku nggak sengaja jatuh dan Mas Faris langsung memberikan yang baru dengan nomor baru. Mas Faris juga nggak suka di dalam kontak aku terlalu banyak nomor pria, maklumlah namanya juga kita sudah menikah kan harus nurut apa kata suami," ucap Nia sedikit tertawa kecil begitu juga dengan Diva.


Mereka pun mulai mengakrabkan diri kembali setelah beberapa waktu lalu tak saling berkomunikasi. Dulu juga mereka sebenarnya tak begitu akrab. Namun, karena rencana yang diminta oleh Raya membuat Diva mau tak mau harus akrab kepadanya dan menunggu rencana Raya selanjutnya.

__ADS_1


"Nia, kita pulang sekarang ya, ini sudah mau magrib," ucap Agatha membuat Nia pun pamit pada Diva dan mereka pun pulang. Diva melihat Nia yang berjalan bersama mertua dan juga Indira adik dari Agatha.


"Bersenang-senanglah Nia, aku akan segera merebut kebahagiaanmu itu, aku akan menempati posisimu menjadi istri kesayangan dari Faris," ucap Diva dengan senyum semeringah di wajahnya.


__ADS_2